NovelToon NovelToon
Fake Lines

Fake Lines

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Angst
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di bawah pendar lampu Los Angeles, hidup Lux Victoria hancur dalam semalam. Maksud hati hanya memeriksa kesehatan, hasil tes justru menyatakan dirinya hamil. Padahal, Lux bersumpah belum pernah tersentuh pria mana pun.

Demi membuktikan kebenarannya, Lux Nekat membeli tes Kehamilan di larut malam.

Takdir konyol justru mempertemukannya dengan Braxton Valerio Desmon, putra kedua dari pengusaha kaya keluarga Desmon.

Demi memenangkan taruhan konyol bersama teman-temannya, Braxton nekat mencium Lux di depan apotek.

Sial bagi mereka, keluarga Lux yang menguntitnya mendapati situasi tersebut dan salah paham.

Kejadian beruntun itu menyeret Lux dan Braxton ke dalam jerat kesalahpahaman, di mana pernikahan paksa menjadi satu-satunya jalan keluar yang disiapkan kedua orang tua Lux.

Happy reading 🌷🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

##16

Pendar lampu kamar utama Penthouse telah diredupkan menjadi remang keemasan, menciptakan suasana hangat yang begitu intim dan tenang. Di luar jendela besar, pemandangan malam Los Angeles membentang bagaikan hamparan berlian di atas kain beludru hitam.

Braxton berdiri di samping ranjang berukuran king-size. Pria itu sudah membalut tubuhnya dengan celana kain santai berwarna abu-abu gelap tanpa mengenakan atasan. Dada bidangnya yang kokoh serta perutnya yang terbentuk sempurna terpampang nyata, sedikit berkilat oleh sisa kehangatan udara malam.

Dengan perasaan membuncah dan senyum yang tak berhenti terukir di wajah tampannya, Braxton sibuk membereskan sprei dan menata bantal-bantal empuk di atas tempat tidur. Bayangan tentang janji "nanti malam" yang diucapkan Lux sore tadi terus berputar di kepalanya, memicu detak jantung yang liar di dalam dadanya.

Ting!

Suara denting halus notifikasi pesan masuk memecah keheningan kamar.

Braxton menoleh ke arah nakas di sebelah tempat tidur. Ponsel pintar milik Lux tergeletak di sana dengan layar yang mendadak menyala terang.

Secara refleks, pandangan mata cokelat Braxton menyapu layar yang menampilkan pratinjau pesan baru.

Nama pengirim di layar itu tertera: Rachel.

Braxton tidak tau siapa Rachel. Mungkin salah satu kawan terdekat Lux di Fakultas Seni. Namun, yang menarik perhatian Braxton bukanlah nama pengirimnya, melainkan potongan kalimat dramatis yang terpampang jelas di layar ponsel tersebut:

“Dia benar-benar tidak mencintaiku, Lux. Dia lari dari tanggung jawabnya. Dia pria pengecut.”

Braxton menaikkan sebelah alisnya. Matanya yang tajam menatap barisan kalimat itu selama beberapa detik.

Tak sengaja, jemarinya yang hendak mengambil bantal sempat berhenti di udara saat pandangannya beralih menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat, di mana suara kucuran air baru saja berhenti sepuluh menit yang lalu.

Braxton menyunggingkan senyum tipis seraya menggelengkan kepalanya pelan. Logikanya yang cepat langsung menyimpulkan jalan cerita dari pesan singkat tersebut.

Pasti sahabatnya sedang curhat konyol, batin Braxton santai.

Dalam benak pria itu, wanita bernama Rachel ini kemungkinan besar sedang menangis histeris karena hamil di luar nikah dan kekasih konyolnya melarikan diri dari tanggung jawab.

Braxton memaklumi hal itu; kehidupan mahasiswi di kota besar seperti Los Angeles memang kerap kali diwarnai skandal romansa yang rumit.

Tanpa niat sedikit pun untuk menginvasi privasi istrinya lebih jauh, Braxton meletakkan ponsel itu kembali ke atas nakas dengan posisi telungkup. Urusan curhat sahabat Lux bukanlah prioritasnya malam ini. Ada hal yang jutaan kali lebih penting yang sedang menunggunya di balik pintu kamar mandi itu.

Braxton merapikan sisa tatanan bantal, lalu melangkah santai mendekati pintu kamar mandi. Pria narsis itu melipat kedua tangannya di dada, menyandarkan bahunya yang kekar di bingkai pintu kayu mahoni tersebut.

Tok! Tok! Tok!

Braxton mengetuk pintu kamar mandi dengan ketukan berirama santai.

"Nyonya Desmon..." panggil Braxton dengan suara berat, seksi, dan dipenuhi nada menggoda yang kental. "Kau sedang memproduksi sabun di dalam sana, ya? Ini sudah lewat lima belas menit. Apa perlu suamimu ini masuk untuk membantumu membilas?"

Di dalam kamar mandi berlantai marmer putih yang dilapisi uap hangat, Lux berdiri mematung di depan cermin besar.

Pipi mulusnya merona merah padam—merah paling pekat yang pernah ada dalam sembilan belas tahun hidupnya. Napasnya terengah halus, dan dadanya naik-turun memburu akibat gejolak rasa malu yang membakar seluruh tubuhnya.

Dalam jarak close-up di cermin, Lux menatap pantulan dirinya sendiri.

Sebuah lingerie seksi berbahan renda transparan berwarna hitam pekat membalut tubuh mulusnya secara sempurna. Potongan dadanya amat rendah, bertali amat tipis, dan bahannya yang transparan mengekspos bentuk tubuhnya serta ukiran tato-tato liar yang melilit di sepanjang bahu, pinggang, hingga pahanya yang putih bersih.

Pakaian itu bukan sekadar minim—ini adalah pakaian paling berani yang pernah Lux kenakan seumur hidupnya, sengaja dipakainya untuk menepati janji malam ini.

Namun, keberanian yang biasanya meledak-ledak saat ia mengenakan baju berani di luar rumah, kini melenyap tanpa sisa di depan Braxton. Menghadapi fakta bahwa ia akan keluar dan menyerahkan seluruh jiwanya pada pria di balik pintu itu membuat lutut Lux terasa lemas oleh rasa canggung yang luar biasa.

Gedoran pintu dan suara godaan Braxton yang terdengar santai di luar sana mendadak membuat Lux panik setengah mati.

"Bisakah kau bersabar sebentar, Brengsek?!" teriak Lux melengking dari dalam kamar mandi. Suaranya melengking tinggi, berusaha keras menutupi getaran malu dan kepanikannya yang membuncah.

Di luar pintu, Braxton terkekeh renyah—sebuah tawa dalam yang amat tampan dan menggoda. Pria itu makin gatal untuk memancing emosi manis istrinya. Ia mendekatkan wajahnya sedikit ke daun pintu, membalas teriakan Lux dengan nada tengil yang amat memikat.

"Sabar?" balas Braxton tertawa kecil, suara tengilnya bergema begitu jelas menembus pintu. "Bagaimana aku bisa sabar, Sayang? Aku sudah menantikan pendaratan gaya helikopter kita sejak sore tadi!"

Deg!

Kata "helikopter" yang terlontar mulus dari bibir tengil Braxton seketika membuat otak Lux mendadak korslet.

"Braxton Desmon!! Mulutmu benar-benar tidak berpendidikan!!" jerit Lux dari dalam, menutup wajahnya yang terbakar hebat dengan kedua telapak tangannya. Rona merah di wajahnya kini merembes hingga ke leher dan dadanya.

"Aku serius, Lux!" goda Braxton lagi, mengetuk pintu dua kali dengan ujung jarinya. "Jika kau tidak keluar dalam hitungan tiga, aku akan mendobrak pintu ini dan mengangkatmu langsung ke ranjang. Satu... dua..."

"Iya, iya! Aku keluar, Pria Mesum!" potong Lux cepat, tak berani mengambil risiko jika Braxton benar-benar mendobrak pintu tersebut.

Lux menarik napas panjang, berusaha menguasai detak jantungnya yang berdegup segila-gilanya. Dengan jemari yang gemetar halus, ia memutar gagang pintu kamar mandi.

KLIK.

Pintu marmer itu perlahan terbuka.

Uap hangat meluncur keluar dari dalam kamar mandi, membawa aroma wangi sabun vanila dan bunga mawar. Dan di balik uap tipis itu, Lux melangkah keluar secara perlahan.

Braxton, yang tadinya berdiri menyandar dengan senyum tengil di wajahnya, seketika mematung total.

Seluruh kata-kata godaan yang sudah disusun di dalam kepalanya melenyap tanpa sisa. Sepasang mata cokelat Braxton membelalak kecil, menatap sosok istrinya yang berdiri di hadapannya.

Lingerie renda hitam tipis yang melekat rapat di kulit putih mulus Lux, kontras tatonya yang eksotis, rambut panjangnya yang sedikit basah terurai di bahu, serta wajah galaknya yang kini menunduk pasrah dengan rona merah membara di kedua pipinya—pemandangan itu adalah mahakarya paling indah dan paling seksi yang pernah dilihat Braxton seumur hidupnya.

Atmosfer di dalam kamar mendadak berubah menjadi begitu tegang, panas, dan pekat oleh gairah yang membakar.

Braxton menelan ludah yang terasa menyumbat tenggorokannya. Otot-otot di dadanya mengeras, dan aliran darahnya mendadak berdesir liar. Pria narsis yang biasanya pandai bersilat lidah itu kini benar-benar dibungkam oleh pesona istrinya sendiri.

Lux, yang menyadari tatapan mata Braxton yang begitu dalam dan lapar menyapu seluruh tubuhnya, semakin salah tingkah. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada, mencoba menutupi area lingerie-nya meski hal itu sama sekali tak berguna.

"J-Jangan menatapku seperti itu, Braxton..." bisik Lux lirih, mata abu-abunya bergerak gelisah, tidak berani bertatapan langsung dengan mata cokelat suaminya. Suara galaknya melenyap sepenuhnya, berganti menjadi bisikan halus yang amat manis dan rapuh. "Kau... kau membuatku risih."

Braxton tidak menjawab dengan kata-kata.

Pria itu melangkah maju satu tahap. Pergerakannya begitu tenang, anggun, namun memancarkan dominasi murni yang mengunci ruang gerak Lux.

Lux refleks memundurkan langkahnya satu senti, namun punggung mulusnya langsung menabrak dinding kamar mandi di belakangnya.

Braxton memangkas sisa jarak di antara mereka. Kedua lengan kekarnya terangkat, menumpu di dinding di kiri dan kanan kepala Lux, mengurung wanita itu secara utuh di dalam jangkauannya. Aroma maskulin khas kayu cendana dari tubuh Braxton yang hangat melingkupi indera penciuman Lux, membuat dada gadis itu kian bergemuruh hebat.

Braxton menundukkan kepalanya, menyapukan hembusan napas hangatnya yang terengah di garis rahang Lux yang halus.

"Kau..." bisik Braxton, suaranya kini begitu dalam, berat, dan serak—kehilangan nada tengilnya, berganti menjadi ketulusan dan gairah murni. "...kau benar-benar ingin membunuhku malam ini, Nyonya Desmon."

Lux menahan napasnya, merasakan kehangatan kulit dada telanjang Braxton yang hampir menyentuh ujung lingerie-nya. Rona merah di pipinya kian merebak manis.

"Kau... kau yang memintaku bersiap, kan?" bisik Lux gagap, jemarinya secara perlahan terangkat, mencengkeram pinggang celana kain Braxton untuk mencari pegangan karena lututnya yang kian lemas. "Kenapa sekarang kau malah diam?"

Braxton menyunggingkan senyum hangat—sebuah senyum yang sarat akan rasa cinta dan kepemilikan yang amat mendalam. Ia mengangkat satu tangannya, menyentuh pipi mulus Lux yang hangat dengan punggung jarinya, mengusapnya secara lembut.

"Aku diam karena aku sedang bersyukur pada Tuhan, Lux," bisik Braxton tepat di depan bibir merona istrinya. "Terima kasih... karena sudah memberiku kesempatan untuk menjadi satu-satunya pria yang memiliki hatimu."

Kata-kata tulus dari Braxton menghancurkan sisa-sisa rasa malu dan canggung di dalam dada Lux. Mata abu-abu Lux perlahan terangkat, menatap langsung ke dalam sepasang mata cokelat suaminya yang berkilat hangat.

Lux menyunggingkan senyum tipisnya yang amat manis—sebuah senyuman pasrah yang penuh dengan rasa percaya.

"Jangan banyak bicara lagi, Tuan Desmon," bisik Lux lembut, menaikkan sedikit tubuhnya dan mendaratkan kecupan singkat yang hangat di bibir Braxton. "Buktikan padaku bahwa aku tidak salah memilih suami."

Sentuhan bibir Lux yang berani itu menjadi penyulut api terakhir yang meluluhlantakkan sisa pertahanan Braxton.

Braxton mengerang halus di tenggorokannya. Tanpa membuang waktu satu detik pun, lengan kekarnya langsung merengkuh pinggang dan paha Lux, mengangkat tubuh tipis istrinya secara utuh ke dalam pelukannya.

Lux tersentak pelan, refleks melingkarkan kedua kaki mulusnya di pinggul kokoh Braxton dan memeluk leher suaminya erat-erat.

Braxton membawa Lux melangkah lebar menuju tempat tidur, membaringkan tubuh istrinya dengan begitu lembut di atas kasur empuk yang hangat.

Di bawah temaram pendar lampu keemasan Penthouse, dua jiwa yang dulunya terikat oleh kesalahan medis dan prasangka buruk kini telah sepenuhnya menyatu. Tidak ada lagi benteng ketakutan, tidak ada lagi kata perceraian, dan tidak ada lagi sandiwara.

1
Mita Paramita
😍😍😍😍😍
Rosdianah 🌷: ma'aciww komentar nya kak 🥰🥰🥰
total 1 replies
Hennyy exo
pengen deh cowok yg kaya braxton🤭
Rosdianah 🌷: hihi🤭
total 1 replies
Hennyy exo
ihh makin suka thor🤭
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak 🫶
total 1 replies
Hennyy exo
wow alurnya menarik dan penulisannya bagus
Hennyy exo
ihh greget banget ama braxton🤭
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
nayla tsaqif
Istri AJ / mommy braxy zephir,, knp jd cherry,, 😌??
Rosdianah 🌷: huhuhu author typo 🙏🏻🙏🏻😭😭
total 2 replies
nayla tsaqif
Emg kak, soalnya daddy mommy braxton dulu king dan queen drama,, 😌
Rosdianah 🌷: wkkwk🤣
total 1 replies
Nita Kurniawati
yampun, part ini bikin AQ mewek 😭
semangat ya bang, buat meluluhkan hati Lux
Rosdianah 🌷: huhu ma'aciww komentar nya kak🫶
total 1 replies
Mia Camelia
batu ketemu batu ini mah🤣sama2 keras kepala🤔
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤣
total 1 replies
Feni sang penulis novel
kakak maaf ya tadi aku salah menyebutin novel judul aku maksud aku seperti ini judulnya adalah jalan menuju masa depan itu yang asli judulku
Feni sang penulis novel
assalamualaikum kak maaf ya aku kurang sopan aku izin berkomentar aku sudah membaca semuanya alurnya Saya suka dan saya ingin memberikan bintang 5 kalau boleh kalau kakak mengizinkan saya ingin sekaligus promosi juga di sini Saya mempunyai novel yang berjudul menuju jalan masa depan semoga kakak suka dan babnya juga ada 9 bab terima kasih
Mita Paramita
king drama nih Braxton 🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: wkwkwk Braxton Sama Braxley anak Daddy AJ ya kak. jangan lupa baca Cerita Braxley dijudul.sebelah🤭
total 1 replies
Mita Paramita
🔥🔥🔥
Rosdianah 🌷: Happy reading kak 🥳
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!