Sebuah pernikahan yang berdiri di atas pilar rasa utang budi, bukan cinta. Nindya menerima lamaran Haris karena takdir mempertemukan mereka dalam tragedi berdarah yang hampir merenggut nyawa Haris—dimana Nindya bertaruh nyawa untuk menyelamatkannya. Namun, setelah bertahun-tahun berlalu dan dikaruniai seorang putra yang menggemaskan, Nindya harus menelan kenyataan pahit: rasa terima kasih Haris tidak pernah berubah menjadi cinta. Di balik dinding rumah tangga mereka yang dingin, Haris masih menyimpan bayang-bayang masa lalunya bersama wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perangkap Cantik Dilantai Dua
Saat jam istirahat tiba, Nindya membawa cangkir teh hangatnya menuju balkon lantai atas toko perhiasan eksklusif tersebut. Dari ketinggian balkon lantai dua yang menghadap langsung ke lobby utama mall, matanya yang tajam menatap ke bawah. Langkahnya seketika terhenti.
Di bawah sana, tampak dua sosok yang sangat ia kenali sedang berjalan berdampingan. Haris, dengan setelan jas kerjanya, dan Siska yang bergaun merah ketat, berjalan mesra menuju pintu masuk toko emas tempatnya bekerja. Siska menggamit lengan Haris dengan manja, sementara Haris tersenyum lebar sembari sesekali mengusap punggung wanita itu.
Nindya menyunggingkan senyum dingin. Jadi, ini alasan Haris berjanji akan menyuruh salon datang ke rumah dan menjemputnya sore nanti—pria itu memanfaatkan waktu istirahat siangnya untuk menyenangkan selingkuhannya terlebih dahulu.
Tanpa membuang waktu, Nindya langsung turun ke ruang staf. Ia menghampiri Maya, salah satu teman sejawatnya di shift siang.
"Maya, bisa tolong tukar shift denganku sebentar? Nanti aku yang gantikan tugasmu di lantai bawah. Ada klien istimewa yang ingin kulayani sendiri dengan pendekatan berbeda," minta Nindya dengan raut tenang.
Maya yang sangat menghormati profesionalitas Nindya langsung mengangguk setuju. "Tentu saja, Bu Nindya. Silakan."
Nindya tidak mengenakan seragam blazer toko seperti biasa. Ia segera melepas pin namanya, mengganti pakaiannya dengan gaun hitam elegan koleksi pribadinya yang tersimpan di loker, memoles lipstik merah tua yang berani di bibirnya, serta mengenakan kacamata berbingkai emas yang memberikan kesan misterius sekaligus sangat berkelas. Nindya memosisikan dirinya bukan lagi sebagai staf biasa, melainkan sebagai kawan dekat sang pemilik toko yang sedang memantau pelayanan VIP.
Di lantai bawah, Haris dan Siska sibuk melihat-lihat etalase. Siska tampak merajuk manja, menunjuk sebuah set perhiasan berlian dengan potongan emerald yang amat berkilau.
"Mas Haris, aku mau yang ini! Ini cantik banget buat kupakai ke acara gala dinner nanti malam," bujuk Siska dengan suara desah yang dibuat-buat.
Haris menatap label harga asli perhiasan itu—tiga ratus juta rupiah. Nilai yang cukup fantastis, namun demi menyenangkan Siska dan menjaga gengsinya, Haris bersiap mengangguk.
Pada saat itulah, Nindya melangkah anggun mendekati etalase tempat mereka berdiri. Suara tumit sepatu tingginya berketuk tegas di atas lantai marmer.
"Pilihan yang sangat luar biasa, Nona," sapa Nindya dengan nada suara yang ditinggikan, sedikit diubah, dan dipenuhi keanggunan seorang pakar. "Perhiasan ini adalah koleksi Limited Edition impor dari Italia."
Haris dan Siska refleks menoleh. Saat matanya beradu dengan Nindya, dada Haris mendadak berdegup kencang. Wajah wanita di hadapannya sangat mirip dengan Nindya, namun gaya berpakaian, kacamata mahal, dan aura percaya diri yang memancar membuat Haris ragu seketika. Mungkinkah ini istrinya? Tapi bagaimana mungkin Nindya ada di toko emas mewah ini dan bertindak seperti pemilik tempat?
Melihat keraguan dan riak ketakutan di mata Haris, Nindya sengaja mengukir senyum misterius. Ia mengambil kotak perhiasan tersebut dengan sarung tangan kain putih, lalu membukanya di depan Siska.
"Set berlian ini diproduksi khusus dan harganya baru saja disesuaikan untuk klien VIP," lanjut Nindya dengan tatapan lurus menembus mata Haris yang makin panik. "Harganya saat ini adalah tujuh ratus lima puluh juta rupiah."
Nindya sengaja menaikkan harganya lebih dari dua kali lipat!
"Apa?! Tujuh ratus lima puluh juta?!" Siska terperanjat kaget, matanya melotot. Ia langsung menatap Haris dengan tatapan menuntut. "Mas Haris... kamu beliin aku ini, kan?"
Keringat dingin mulai membasahi pelipis Haris. Pria itu terus menatap Nindya dengan cemas, mencoba mengenali apakah wanita berkelas di hadapannya ini benar-benar Nindya atau hanya kembarannya. Haris terjebak di antara gengsinya sebagai pengusaha sukses di depan selingkuhannya, dan rasa takut luar biasa jika wanita ini benar-benar Nindya yang sedang menguji dan memeras kantongnya secara halus!