NovelToon NovelToon
Angkringan Dewa Api Serba Bakar

Angkringan Dewa Api Serba Bakar

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:536
Nilai: 5
Nama Author: Sugesti

Lin Mo adalah seorang penjual angkringan dengan bakat tersembunyi yang amat sangat luar biasa, yaitu kendali api tingkat mistik untuk memanggag sate kikil dan usus hingga sempurna. Sayangnya, sebuah ledakan tabung gas nyasar mengakhiri hidupnya dan melempar jiwanya ke dunia fantasi sebagai Dewa Api Pengelana bersama Sistem Angkringan Ilahi. Kini berbekal gerobak terbang dan jurus sate ajaib, Lin Mo harus menjelajahi Kerajaan Aethelgard yang penuh intrik politik demi mengumpulkan Poin Arang, membuka cabang angkringan baru, dan menyelesaikan konflik kuno di negeri tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sugesti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan Menuju Hutan Abadi & Penyergapan Iblis Bayangan

Wushhh!

Angin pagi yang sejuk menyapu dedaunan hijau raksasa di sepanjang jalur Hutan Purba.

Iring-iringan perjalanan menuju Kerajaan Hutan Abadi tampak sangat kontras namun harmonis.

Di bagian depan, melaju kereta kuda mewah berukir sutra keemasan yang ditarik oleh empat ekor kuda bersayap Pegasus putih bersih. Di sekeliling kereta itu, sepuluh prajurit Elf berzirah daun sihir terbang melayang dengan anggun.

Namun, tepat di sebelah kereta mewah Sang Putri Elf, melayang sebuah gerobak kayu tua berasap yang dipenuhi aroma bumbu kacang dan kecap karamel.

Lin Mo duduk bersila di bagian depan gerobaknya, memutar-mutar kipas bambu di tangan kanannya sambil menikmati secangkir teh melati hangat.

"Ah, pemandangan Hutan Purba ini memang tiada duanya," gumam Lin Mo santai sambil menyesap tehnya. "Udaranya sangat lembap, cocok untuk menjaga kesegaran daging sebelum dipanggang."

Lilia yang duduk di samping Lin Mo terus menggerak-gerakkan telinga kelincinya dengan waspada.

"Tuan Lin Mo, Hutan Purba ini adalah perbatasan netral. Banyak monster liar dan jebakan sihir kuno di sini, kita harus tetap berhati-hati," ingat Lilia sambil mendekap busur panahnya.

Di bagian belakang gerobak, Komandan Vex yang kini bertelanjang dada tengah sibuk membelah gelondongan kayu keras menggunakan belati hitamnya.

Trang! Kreek!

"Nona Kelinci tidak perlu panik! Selama ada Vex si Penebang Kayu Arang, tidak ada satu monster pun yang berani mengganggu gerobak suci Master Lin Mo!" seru Vex dengan keringat mengucur deras di dahinya yang memerah.

Meskipun mantan ketua mafia, Vex kini tampak sangat menikmati profesi barunya sebagai asisten pemotong kayu.

Dari dalam kereta Pegasus, jendela berlapis emas terbuka perlahan. Wajah cantik Putri Aethelgardia muncul dengan senyuman yang sangat anggun.

"Master Lin Mo, jika Anda butuh istirahat, kita bisa berhenti di mata air suci di depan sana," tawar Putri Elf itu dengan nada suara merdu.

"Mata air itu memiliki air murni yang mungkin cocok untuk kaldu masakan Anda," tambahnya antusias.

Mata Lin Mo langsung berbinar-binar.

"Wah, mata air suci?! Pasti bagus banget buat bikin kuah kaldu sate celup atau merebus usus naga biar makin kenyal!" seru Lin Mo bersemangat.

Namun, sebelum Lin Mo sempat mengarahkan gerobaknya menuju lokasi yang ditunjuk Sang Putri, sebuah anomali mengerikan terjadi.

Sreeeeet!

Sinar matahari yang tadinya menembus celah-celah daun raksasa mendadak lenyap ditelan kegelapan pekat.

Langit di atas Hutan Purba berubah menjadi warna ungu gelap kemerahan. Suhu udara anjlok drastis, membuat napas setiap orang mengeluarkan uap es putih.

Sebuah kubah sihir hitam raksasa telah mengurung rombongan itu dalam radius satu kilometer!

Hiiiyyyeeeghhh!

Keempat kuda Pegasus putih panik dan meringkik histeris. Sayap-sayap mereka mengepak tak beraturan, memaksa kereta Putri Aethelgardia berhenti mendadak di tengah jalan tanah berlumpur.

"Formasi bertahan! Lindungi Yang Mulia Putri!" teriak Komandan Elron, pemimpin pasukan pengawal Elf, sambil menarik pedang peraknya yang memancarkan cahaya hijau.

Kesepuluh prajurit Elf langsung membentuk lingkaran pelindung di sekeliling kereta kuda.

Dari balik bayang-bayang pohon raksasa yang menggelap, bermunculan puluhan sosok mengerikan bermata merah menyala.

Mereka adalah Iblis Bayangan makhluk kutukan yang tubuhnya terbuat dari kabut hitam pekat dan dipersenjatai cakar-cakar tajam beracun.

Di tengah kepungan puluhan Iblis Bayangan itu, melangkah maju seorang pria berdarah campuran manusia dan iblis.

Ia memiliki sepasang tanduk hitam melengkung di dahinya dan mengenakan jubah kulit berwarna merah darah.

"Hahaha! Selamat datang di Area Kematian, Yang Mulia Putri Aethelgardia," tawa pria bertanduk hitam itu dengan suara bergaung yang sangat menusuk telinga.

"Namaku Kaelen, Utusan Bayangan dari Lord Malakor! Hari ini, nyawa Sang Putri dan Gerobak Kayu itu akan menjadi persembahan bagi penguasa pasar gelap kami!" seru Kaelen menunjuk ke arah Lin Mo dengan angkuh.

Lilia langsung menarik tali busurnya hingga melengkung tegang.

"Sekte Bintang Gelap dan Mafia Pasar Gelap bekerja sama?! Kalian benar-benar sampah yang tidak tahu malu!" teriak Lilia penuh amarah.

Komandan Elron mendengus dingin. "Prajurit Hutan Abadi, jangan biarkan makhluk kotor ini menyentuh Sang Putri! Serang!"

Wush! Wush! Wush!

Puluhan anak panah berlapis sihir elemen angin melesat deras dari busur para pengawal Elf menuju gerombolan Iblis Bayangan.

Namun kejadian mengerikan pun terjadi.

Bloop! Bloop!

Begitu anak panah sihir itu menyentuh tubuh Iblis Bayangan, cahayanya langsung padam dan tertelan begitu saja ke dalam kabut hitam pelindung mereka!

"Apa?!" Komandan Elron terbelalak tidak percaya. "Sihir alam kita diserap habis oleh mereka?!"

Kaelen tertawa makin keras hingga memegangi perutnya.

"Bodoh! Iblis Bayangan memakan energi kehidupan dan elemen alam! Semakin kalian menggunakan sihir, semakin kuat mereka!" ejek Kaelen menyeringai lebar.

"Habisi para Elf bergeming itu, dan tangkap pemuda penjual sate hidup-hidup!" perintah Kaelen mengibaskan tangannya.

Grraarrghhh!

Puluhan Iblis Bayangan melompat menerjang maju bagaikan gelombang tsunami hitam yang siap menelan segalanya.

Putri Aethelgardia yang berada di dalam kereta memejamkan mata, bersiap melepaskan sihir es terlarangnya untuk melindungi rombongannya.

Namun, sebelum Sang Putri atau para pengawal Elf bisa bertindak lebih jauh, terdengar suara helaan napas panjang yang sangat malas dari arah gerobak kayu.

"Haaaah..."

Lin Mo memukul-mukul bahunya yang agak kaku dengan gagang kipas bambunya.

"Aduh, Paman Bertanduk... Kalian ini kenapa suka sekali bikin kubah sihir yang gelap-gelapan sih?" keluh Lin Mo dengan wajah sangat bosan.

"Paman tahu tidak, kelembapan udara yang tiba-tiba turun ini bisa merusak tekstur kekenyalan usus ayam apiku yang sedang dimarinasi!" omel Lin Mo menunjuk-nunjuk gerobaknya.

Kaelen dan puluhan Iblis Bayangannya mendadak menghentikan langkah mereka karena tertegun mendengar omelan absurd tersebut.

"B-Bocah gila! Di saat nyawamu di ujung tanduk, kamu masih memikirkan usus ayam?!" bentak Kaelen dengan urat menonjol di dahinya.

"Tentu saja! Kehormatan seorang penjual angkringan terletak pada kesegaran bahan bakunya!" balas Lin Mo mantap.

PING!

[Sistem Angkringan Ilahi: Analisis Musuh Terdeteksi]

[Target: Iblis Bayangan (Elemen Kutukan & Kegelapan Murni)]

[Kelemahan Ekstrem: Hawa Panas Ekstrem + Aroma Suci Pedas Menusuk]

[Saran Solusi: Gunakan Kombinasi 'Sambal Petir Mistik' dengan 'Asap Arang Langsung']

Lin Mo menyeringai lebar membaca layar biru Sistem di depannya.

"Vex! Buka penutup Panggangan Otomatis sekarang!" perintah Lin Mo tanpa menoleh ke belakang.

"Siap Laksanakan, Master!" teriak Vex langsung menarik tuas besi di samping gerobak.

Klang!

Tutup panggangan besi berukir naga terbuka lebar, menampilkan tumpukan bara api arang kayu yang menyala merah membara bagaikan inti gunung berapi.

Lin Mo merogoh laci gerobaknya dan mengeluarkan sekantong penuh [Cabai Rawit Petir Mistik] utuh yang masih memancarkan percikan listrik merah.

Tanpa basa-basi, Lin Mo melemparkan tiga genggam penuh cabai petir itu langsung ke atas bara api arang yang menyala!

Cusssssss! BZZZTTTTT!

Ledakan dahsyat terjadi di atas panggangan Lin Mo!

"Jurus Angkringan: Pengasapan Dapur Suci Level Maksimal! Bom Asap Sambal Petir!" teriak Lin Mo sambil mengayunkan kipas bambunya dengan kecepatan gila.

Fwoooshhh!!!

Gumpalan asap merah tebal keemasan meledak keluar dari gerobak Lin Mo bagaikan badai topan berkecepatan tinggi!

Asap merah yang mengandung uap cabai petir murni itu melesat menerjang gelombang Iblis Bayangan dalam hitungan detik.

Dan apa yang terjadi selanjutnya adalah pembantaian kuliner yang belum pernah ada dalam sejarah peperangan benua.

"Gyaaargghhh!"

"P-Panas! Mataku! Mataku perih sekali!"

"Hidungku terbakar! Kabut hitamku meleleh!"

Puluhan Iblis Bayangan yang tadinya kebal terhadap sihir pedang dan panah Elf, kini bergulingan di atas tanah berlumpur sambil menjerit-jerit histeris!

Asap pedas suci dari [Cabai Rawit Petir Mistik] tidak hanya membuat mereka batuk-batuk, tetapi juga memurnikan energi kegelapan di tubuh mereka secara paksa!

Tssssttt!

Satu per satu, tubuh kabut hitam Iblis Bayangan itu menguap dan hancur menjadi partikel debu keemasan yang tak berbahaya, lenyap disapu angin hutan.

Hanya dalam waktu sepuluh detik, seluruh pasukan Iblis Bayangan musnah tanpa sisa!

Komandan Elron dan kesepuluh prajurit Elf menjatuhkan senjata mereka ke tanah dengan mulut ternganga lebar hingga rahang mereka nyaris lepas.

"M-Mustahil... Pasukan bayangan yang kebal sihir alam... dimusnahkan hanya dengan asap dari sebuah gerobak kayu?!" gumam Elron menggigil ketakutan sekaligus kagum.

Putri Aethelgardia menutupi mulutnya dengan kedua tangan dari balik jendela kereta, matanya berbinar-binar memuja sosok Lin Mo yang berdiri santai di balik kepulan asap.

Kaelen si pria bertanduk yang tersisa sendirian di tengah jalan, kini berlutut di tanah dengan air mata dan ingus mengalir deras dari wajahnya akibat terkena sisa-sisa asap pedas.

"U-Uhukk! Uhukkk! A-Apa ini?! Kenapa asap ini sangat pedas tapi wangi?! Uhukk!" tangis Kaelen tersedak-sedak memegangi lehernya.

Lin Mo melompat turun dari gerobaknya, memegang piring kayu kecil yang berisi dua tusuk [Sate Usus Ayam Api] yang baru saja matang dan dilumuri [Sambal Petir Mistik] tebal.

Ia berjalan mendekati Kaelen dengan senyuman yang sangat ramah. Terlalu ramah hingga membuat bulu kuduk berdiri.

"Paman Bertanduk, karena kalian sudah merusak mood memasak saya hari ini, ada biayanya lho," kata Lin Mo berjongkok di depan Kaelen.

"M-Menjauh dariku, Iblis Kuliner!" jerit Kaelen panik merangkak mundur.

Namun sebelum Kaelen bisa melarikan diri, Lilia dan Vex sudah melompat mengunci pergerakan pria setengah iblis itu.

"Tahan dia Nona Kelinci! Jangan sampai pelanggan kita kabur sebelum makan!" seru Vex penuh semangat menekan bahu Kaelen.

"Siap Paman Vex!" Lilia menekan punggung Kaelen dengan lututnya.

Lin Mo mencapit dagu Kaelen dan langsung memasukkan satu tusuk sate usus pedas itu ke dalam mulut Kaelen secara paksa.

"Makan yang pintar ya," ujar Lin Mo.

Nyuttt! Bzzzt!

Mata Kaelen melotot maksimal, urat-urat di lehernya bermunculan hebat!

Sensasi usus ayam api yang kenyal dan juicy meledak di mulutnya, disusul oleh hantaman rasa pedas tingkat dewa yang menyengat langsung ke inti jiwanya.

"Uwooooogh!"

Kaelen meraung dengan suara ganda! Suara iblis dan suara manusianya menjerit bersamaan!

Energi panas suci dari makanan Lin Mo menjalar ke seluruh aliran darah Kaelen. Perlahan namun pasti, tanduk hitam di dahi Kaelen mulai menyusut dan retak.

Krak!

Tanduk iblis itu hancur menjadi debu! Kulit Kaelen yang tadinya kemerahan pucat berubah menjadi warna kulit manusia normal.

Cairan hitam berbau busuk keluar dari pori-porinya dan langsung menguap disapu aroma rempah murni.

Bummm!

Kaelen jatuh terkulai di tanah. Ia tidak lagi memiliki aura iblis. Ia kini sepenuhnya kembali menjadi manusia biasa.

Rasa pedas ekstrem di lidahnya membuatnya menangis sesenggukan, namun rasa lezat dari sate usus itu membuat hatinya dipenuhi kedamaian yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

"E-Enak... Masakan ini sangat enak... Aku merasa jiwaku yang kotor telah dibasuh oleh air suci surgawi..." isak Kaelen berlutut di depan kaki Lin Mo.

"Tuan Lin Mo! Ampuni hamba! Hamba tidak ingin kembali ke pasar gelap! Hamba ingin mengabdi pada Tuan!" jerit Kaelen memohon dengan tulus.

Lin Mo menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu menoleh ke arah Vex.

"Vex, angkringan kita butuh tukang cuci piring tidak?" tanya Lin Mo santai.

"Sangat butuh Master! Kemarin piring-piring pualam kita belum sempat dicuci semua karena terlalu ramai!" jawab Vex bersemangat.

Lin Mo menepuk bahu Kaelen pelan. "Bagus! Kalau begitu Paman Kaelen sekarang resmi jadi Kepala Tukang Cuci Piring Angkringan Dewa Mo ya."

Kaelen menangis bahagia sambil bersujud berkali-kali. "Terima kasih Tuan! Hamba akan mencuci setiap piring hingga berkilau bagaikan cermin!"

PING!

[Sistem Angkringan Ilahi: Penyergapan Berhasil Diatasi!]

[Menerima Status Baru Karyawan: Kaelen (Kepala Pencuci Piring Level 1)]

[Misi Sampingan 'Pemurnian Hutan Purba' - Selesai!]

[Hadiah Diterima: 3.000 Poin Arang & Resep Spesial 'Bumbu Celup Mata Air Elf']

[Total Poin Arang Saat Ini: 9.950 Poin]

Kubah sihir hitam raksasa di atas mereka mendadak hancur berkeping-keping, kembali menampakkan langit pagi Hutan Purba yang cerah dan hangat.

Para prajurit Elf langsung bersorak gembira mengelu-elukan nama Lin Mo.

"Hidup Master Lin Mo! Sang Pahlawan Pemurni!" teriak Komandan Elron mengangkat pedangnya ke udara.

Putri Aethelgardia melangkah keluar dari keretanya dan berjalan anggun menghampiri gerobak Lin Mo.

"Master Lin Mo, sekali lagi Anda menyelamatkan nyawa saya dan kehormatan kerajaan," ucap Sang Putri menunduk hormat dengan pipi merona.

"Kekuatan kuliner Anda sungguh di luar akal sehat sihir di dunia ini," tambahnya penuh kekaguman.

Lin Mo tertawa kecil sambil merapikan sisa-sisa cabai di atas panggangan otomatisnya.

"Ah, Nona Putri terlalu memuji. Ini cuma urusan bumbu dan suhu yang pas kok," jawab Lin Mo rendah hati. "Ngomong-ngomong, kita masih mau mampir ke mata air suci itu tidak? Saya baru dapat inspirasi resep bumbu celup baru nih!"

Putri Aethelgardia tersenyum lebar. "Tentu saja Master Lin Mo! Mari kita lanjutkan perjalanan."

Dengan tambahan satu karyawan baru yang sangat rajin mencuci piring di bagian belakang gerobak, rombongan iring-iringan itu kembali bergerak maju.

Kaelen dan Vex kini duduk berdampingan di belakang gerobak. Vex mengasah belati pemotong kayunya, sementara Kaelen mengelap piring-pualam menggunakan kain lap dengan wajah berseri-seri penuh kedamaian.

"Hei Anak Baru, kerjamu lumayan cepat juga," puji Vex menepuk punggung Kaelen.

"Terima kasih Senior Vex! Saya tidak akan mengecewakan Master Lin Mo!" jawab Kaelen penuh semangat.

Lilia yang melihat pemandangan itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum geli.

"Tuan Lin Mo benar-benar ajaib. Siapa pun musuh mengerikan yang datang, akhirnya pasti jadi pegawai angkringannya," batin Lilia.

Beberapa jam kemudian, rombongan akhirnya berhasil keluar dari lebatnya pepohonan Hutan Purba.

Di hadapan mereka, terhampar sebuah lembah raksasa yang sangat memukau.

Di tengah lembah itu, berdiri sebuah Pohon Raksasa bercahaya hijau kebiruan yang menjulang tinggi menembus awan itulah [Pohon Kehidupan], pusat dari Ibu Kota Kerajaan Hutan Abadi.

Bangunan-bangunan indah yang terbuat dari kristal dan sulur tanaman raksasa melingkari pangkal pohon tersebut, memancarkan aura kedamaian dan sihir alam purba yang sangat kental.

"Selamat datang di Kerajaan Hutan Abadi, Master Lin Mo," kata Putri Aethelgardia melangkah ke samping gerobak.

Lin Mo berdiri di atas meja gerobaknya, menatap takjub kemegahan kota Elf di depannya.

"Wah... luar biasa. Tempat yang sempurna untuk buka cabang baru!" seru Lin Mo mengepalkan tangannya penuh semangat.

Namun, di atas salah satu dahan raksasa Pohon Kehidupan, beberapa tetua Elf berwajah keras dan sinis tengah mengawasi kedatangan rombongan Putri Aethelgardia dari jauh menggunakan cermin sihir.

"Tuan Putri benar-benar membawa seorang pedagang kaki lima manusia masuk ke kota suci kita?" dengus seorang Tetua Elf berjubah perak dengan tatapan menghina.

"Kita akan lihat, apakah masakan sampahnya itu sanggup melewati Ujian Roh Hutan besok," desis tetua lainnya dengan senyuman licik.

Lin Mo yang tidak menyadari tatapan sinis dari atas sana hanya tersenyum lebar sambil mengelus kipas bambunya. Petualangan kulinernya di Kerajaan Elf baru saja akan dimulai!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!