NovelToon NovelToon
Setelah Taksi Itu Berlalu

Setelah Taksi Itu Berlalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Perjodohan / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: Selie Noris

Diabaikan oleh Arka—suaminya yang dingin—Kirana terbiasa menelan rasa sakit sendirian. Namun, sebuah kecelakaan tragis yang merenggut janinnya mengubah segalanya. Kirana yang manja dan cengeng mati di hari itu, berganti menjadi sosok wanita dingin dan mandiri yang membangun usahanya sendiri dari nol.

Saat Kirana mengembalikan fasilitas rumah tangga dan mengajukan perceraian, Arka baru tersadar dari kesalahannya. Pria yang dulu acuh kini harus meruntuhkan egonya dan mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan kembali maaf serta cinta dari sang istri.




#NikahPaksa
#Penyesalansuami
#WanitaMandiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 : Menu Spesial Hari Jadi

Hari-hari yang dilewati di dalam rumah besar keluarga Pratama terasa semakin pekat oleh keheningan yang kaku. Sejak pertengkaran hebat akibat kunjungan Kirana ke toko bayi beberapa waktu lalu, Arka semakin membatasi interaksinya. Pria itu lebih sering menghabiskan waktu di kantor hingga larut malam atau mengunci diri di ruang kerja lantai atas, seolah sengaja menghindari ketegangan dingin yang kini mengalir di antara mereka berdua.

Namun, di balik dinding kamar tamu lantai bawah, dunia Kirana justru berputar dengan ritme yang jauh lebih tenang dan penuh keteguhan. Usia kandungannya kini telah memasuki bulan ketiga—masa-masa di mana janin di dalam rahimnya mulai menguat, dan rasa mual di pagi hari perlahan-lahan mulai mereda. Perut ratanya kini mulai memperlihatkan sedikit lengkungan lembut yang tersembunyi di balik pakaian longgar. Setiap kali Kirana meraba perutnya, ada kekuatan luar biasa yang mengalir ke dalam jiwa mudanya, menjadikannya wanita yang jauh lebih mandiri, sabar, dan tidak mudah goyah.

Hari ini, tanggal 20 Mei.

Sebuah tanggal yang terukir di atas kertas dokumen pernikahan mereka, namun tidak pernah dirayakan atau bahkan diingat dalam arti yang sesungguhnya. Besok adalah hari *anniversary* pernikahan pertama mereka—satu tahun resmi ikatan suci yang diwarnai oleh keterpaksaan, pengabaian, dan benteng es yang dibangun oleh Arka.

Di tengah situasi yang begitu dingin, Kirana membuat keputusan yang mengejutkan dirinya sendiri.

Ia tidak ingin merayakan hari jadi itu dengan menuntut hadiah mewah, makan malam di restoran mahal, atau meminta pengakuan dari suaminya. Sebaliknya, Kirana ingin melakukan sesuatu yang murni berasal dari ketulusan hatinya yang paling dalam—sesuatu yang merangkkum seluruh perjalanan emosionalnya selama setahun terakhir. Ia memutuskan untuk memasak makanan kesukaan Arka dengan kedua tangannya sendiri.

---

Sejak pagi-pagi sekali, diam-diam saat rumah masih sepi, Kirana melangkah keluar bersama Bi Inah menuju pasar swalayan tradisional terdekat.

Meskipun jari-jari telunjuk dan tengahnya masih menyisakan beberapa bekas plester kecil dari kelas memasak rahasianya beberapa waktu lalu, gerakan tangan Kirana kini jauh lebih cekatan dan percaya diri. Ia memilih sendiri bahan-bahan segar terbaik: daging sapi pilihan berkualitas tinggi untuk membuat *goulash* daging sapi berempah pekat—hidangan favorit Arka yang sering dipesan pria itu di restoran mewah—serta rempah-rempah segar dan sayuran organik.

Bi Inah sempat merasa khawatir melihat sang nyonya muda mondar-mandir menyiapkan semuanya di dapur.

"Nyonya, tidak usah memaksakan diri seperti ini," bisik Bi Inah cemas sambil membantu membawakan keranjang belanjaan. "Kalau Tuan Arka tahu, beliau mungkin—"

"Tuan Arka tidak perlu tahu, Bi," potong Kirana lembut dengan seulas senyuman tipis di bibirnya. "Aku ingin melakukannya sendiri. Ini bukan untuk mencari perhatiannya atau memaksanya merayakan sesuatu. Ini adalah bentuk penutupan perjalananku sebagai seorang istri di tahun pertama ini... sebelum aku melangkah ke babak baru dalam hidupku."

Bi Inah menatap sorot mata Kirana yang begitu tenang dan dalam. Ada ketegasan yang menyayat hati sekaligus mengagumkan di sana. Wanita tua itu akhirnya mengangguk pasrah, siap membantu apa pun yang diperlukan tanpa banyak bicara.

---

Dapur besar keluarga Pratama berubah menjadi arena perjuangan yang sunyi sepanjang siang hari itu.

Kirana mengenakan *apron* katun putih sederhana. Rambut panjangnya dicepol rapi ke belakang agar tidak mengganggu pandangannya. Di hadapannya, kompor menyala dengan api sedang, memanaskan panci sup besar yang mengeluarkan aroma harum rempah-rempah dan daging empuk.

Proses memasak itu tidaklah mudah. Beberapa kali Kirana harus berhenti sejenak untuk mengatur napas ketika sedikit rasa pusing sisa trimester pertama mendera kepalanya. Tangannya yang sempat terluka kini bekerja dengan penuh kehati-hatian, memotong sayuran dengan presisi, menumis bumbu hingga matang sempurna, dan mencicipi rasanya berulang-ulang untuk memastikan hidangan tersebut memiliki kualitas terbaik yang setara dengan hidangan chef profesional.

Setiap irisan pisau, setiap adukan sendok sayur, dan setiap tetes keringat yang membasahi pelipisnya diiringi oleh bisikan-bisikan doa di dalam hati Kirana.

*Mas Arka mungkin membenciku,* batin Kirana lirih sambil mengaduk kuah sup yang mengepulkan uap hangat. *Dia mungkin menganggapku beban, menganggapku wanita manja yang tidak berguna. Tapi hari ini, sebelum aku siap membuka lembaran baru demi bayi yang ada di dalam rahimku, aku ingin mempersembahkan satu hal yang tulus. Aku ingin menjadi seorang istri yang menunaikan tugasnya hingga titik penghabisan.*

Waktu berjalan tanpa terasa. Menjelang pukul lima sore, seluruh rangkaian menu spesial itu akhirnya selesai disiapkan dengan sempurna.

Di atas meja makan utama yang dialasi taplak meja kain putih bersih, Kirana menata hidangan tersebut dengan sangat rapi. Ada semangkuk besar sup daging sapi berempah hangat, sepiring nasi pulen harum, serta hidangan penutup berupa *panna cotta* stroberi buatan tangannya sendiri yang didinginkan di dalam lemari es. Tidak lupa, ia menyalakan sebatang lilin aromaterapi berukuran sedang di tengah meja, menciptakan suasana temaram yang hangat dan menenangkan di tengah luasnya ruang makan rumah besar yang biasanya terasa dingin.

Kirana menatap meja makan itu sejenak. Penataannya begitu cantik, sederhana, namun sarat akan ketulusan.

Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul enam sore. Arka biasanya baru akan pulang pukul delapan malam. Masih ada waktu dua jam bagi Kirana untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.

Namun, sebelum ia beranjak meninggalkan dapur, sebuah debaran halus tiba-tiba bergelung di dadanya. Apakah Arka akan menghargai usaha ini? Apakah pria itu akan duduk dan mencicipi masakannya, ataukah ia akan mencibir dingin, menuduhnya mencari perhatian, lalu meninggalkan meja makan begitu saja tanpa menyentuh makanannya sedikit pun?

Kirana menarik napas dalam-dalam, menepis segala keraguan di kepalanya. Ia tidak boleh berharap terlalu tinggi. Apപ്പാuser

apun reaksi Arka nanti, itu sudah berada di luar kendalinya. Yang terpenting, ia telah menepati niat tulusnya sebagai seorang istri menjelang hari jadi pernikahan pertama mereka.

---

Pukul delapan malam tepat, deru mesin mobil sedan mewah memasuki pekarangan rumah. Lampu garasi menyala, disusul suara langkah kaki tegap yang melintasi teras depan.

Di dalam kamar tamunya di lantai bawah, Kirana duduk tenang di atas tepi tempat tidur. Ia mengenakan *midi dress* lengan panjang berwarna biru *navy* yang sederhana namun anggun, dengan rambut terurai rapi. Wajahnya dipulas riasan tipis natural. Ia tidak menunggu di depan pintu atau menyambut suaminya dengan rengekan seperti dulu; ia menunggu dengan kesabaran yang dingin dan tertata.

Pintu depan terbuka. Langkah kaki Arka terdengar memasuki ruang tamu, terdengar sedikit lelah dan berat. Pria itu melempar tas kerjanya ke atas sofa, lalu mencopot dasi kantornya dengan gerakan longgar.

Saat Arka melangkah melewati lorong menuju lantai atas, hidungnya tanpa sengaja menangkap aroma masakan yang sangat khas—aroma rempah gurih bercampur daging panggang lembut yang memenuhi udara sekitar ruang makan.

Arka menghentikan langkahnya. Dahinya mengernyit dalam.

Ia membalikkan badan, melangkah perlahan menuju area ruang makan terbuka di dekat dapur. Begitu ia mencapai ambang pintu ruang makan, langkahnya langsung terpaku di tempat.

Pemandangan di hadapannya berhasil membuatnya tertegun hebat.

Meja makan utama, yang selama setahun ini selalu kosong, gelap, dan tidak pernah tersentuh selain oleh debu atau hidangan katering formal, kini tertata sangat rapi. Ada lilin aromaterapi yang menyala lembut di tengah meja, memantulkan cahaya temaram ke atas piring-piring porselen putih. Di atas meja tersebut tersaji hidangan lengkap—sup daging sapi berempah hangat, nasi harum, dan hidangan penutup yang tampak manis—disiapkan dengan ketelitian tinggi yang jelas-jelas bukan hasil kerja staf katering luar.

Tepat pada saat itu, Kirana melangkah keluar dari arah koridor dapur, berjalan mendekati meja makan untuk merapikan letak sendok dan garpu.

Melihat kehadiran istrinya di sana, Arka merasakan hantaman kebingungan yang luar biasa bercampur rasa curiga di dalam dadanya.

"Apa-apaan ini?" suara Arka meluncur dingin, memecah keheningan ruangan dengan nada tajam yang khas.

Kirana menghentikan gerakannya. Ia mendongak, menatap Arka tepat di dalam manik mata pria itu dengan tatapan yang sangat tenang, tanpa ada binar gugup atau takut sedikit pun.

"Selamat malam, Mas," ucap Kirana dengan suara datar yang lembut. "Ini makan malam untuk kita."

Arka melangkah mendekati meja, matanya memindai hidangan di atas meja lalu kembali menatap tajam ke arah Kirana. Sudut bibirnya terangkat dalam senyuman sinis yang penuh prasangka.

"Makan malam?" Arka mendengus pelan, suaranya sarat akan cemoohan. "Kamu sengaja memasak semua ini? Apa lagi drama yang sedang kamu rencanakan, Kirana? Mencari perhatian? Meminta dikasihani karena besok adalah tanggal pernikahan kita yang tidak penting itu?"

Kata-kata tajam itu meluncur begitu mudah, menghujam langsung ke udara di antara mereka.

Bagi Arka, segala bentuk usaha manis dari wanita yang dianggapnya manja itu pasti memiliki udang di balik batu—sebuah trik kekanak-kanakan untuk menarik simpati atau menuntut kemewahan.

Namun, reaksi Kirana di luar dugaan. Gadis itu tidak marah, tidak menangis, dan tidak pula membentak balik seperti dulu. Kirana justru menarik kursi kayu di seberang meja dengan tenang, lalu duduk perlahan dengan postur tubuh yang tegak dan anggun.

"Kamu tidak perlu curiga berlebihan, Mas," jawab Kirana dengan suara yang begitu tenang, begitu dingin, hingga membuat Arka merasa suaranya sendiri terdengar kekanak-kanakan. "Hari ini, tanggal 20 Mei. Besok adalah tepat satu tahun pernikahan kita. Aku memasak makanan ini bukan untuk memohon kasih sayangmu, bukan pula untuk menuntutmu merayakan sesuatu yang memang tidak pernah ada di antara kita."

Arka tertegun. Sorot mata Kirana yang begitu kosong dari tuntutan emosional justru membuatnya merasa tidak nyaman.

"Lalu untuk apa?" desis Arka tajam.

Kirana mendongak, menatap lurus mata suaminya dengan senyuman tipis yang menyayat hati.

"Ini adalah makan malam perpisahan sekaligus penutupan," ucap Kirana tenang. "Aku memasak makanan kesukaanmu dengan tanganku sendiri, sebagai bentuk kewajiban terakhirku sebagai seorang istri yang sah di tahun pertama ini. Setelah malam ini... aku ingin kita sama-sama tahu bahwa aku sudah berusaha menunaikan tugasku sebaik mungkin, tanpa ada lagi beban di antara kita."

Degupan jantung Arka mendadak terasa tertahan di dalam dadanya. Ada sesuatu yang salah—sesuatu yang sangat besar dan mengerikan merayap naik dari kalimat Kirana, menyisakan sensasi dingin yang mencengkeram tenggorokannya.

"Apa maksud ucapanmu itu?" suara Arka berubah sedikit serak, ketus namun menyembunyikan kebingungan yang mendalam.

Kirana tidak menjawab pertanyaan itu. Ia menuangkan sedikit air ke dalam gelasnya, lalu menatap Arka dengan sorot mata yang memancarkan keteguhan mutlak seorang wanita yang telah menemukan dunianya sendiri di balik rahasia besar dalam perutnya.

"Makanannya masih hangat, Mas," ucap Kirana lembut, mengabaikan ketegangan di antara mereka. "Silakan dinikmati. Setelah itu... kita bisa menjalani hidup kita masing-masing dengan cara kita sendiri."

1
putmelyana
semangat thor 💪
Selie Noris: Kak, terima kasih ya.... ♥️
total 1 replies
Selie Noris
♥️♥️♥️
Sulicungliieee
ડɑ𝗍υ ƙɑ𝗍ɑ υ𐓣𝗍υƙოυ ɑ𝗋ƙɑ.......ડυ𝗈𝗈ƙ𝗈𝗋𝗋𝗋𝗋𝗋.....
Selie Noris: Kak, makasih sudah mampir....
total 1 replies
Yusria Mumba
seorang wanita kalau sudah sakit hatiny, susah d, obati,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 1 replies
Yusria Mumba
nyesalkan sudah terlambat,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 1 replies
Yusria Mumba
ti galon ajasumi kaya gitu,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!