NovelToon NovelToon
GIGOLO TAMPAN ITU TERNYATA ORANG TERKAYA DI MEXICO

GIGOLO TAMPAN ITU TERNYATA ORANG TERKAYA DI MEXICO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Moms Celina

Valerie bertemu Mario, pria tampan yang dikiranya gigolo di klub malam. Ia jatuh hati pada sosok sederhana itu, hingga kebenaran terungkap: Mario adalah orang terkaya dan paling berkuasa di Meksiko yang menyamar mencari cinta tulus. Dikhianati oleh kebohongan, Valerie ragu memberi maaf. Di tengah bahaya dan intrik kekuasaan, Mario berjuang membuktikan ketulusannya. Kini, keduanya harus memilih: melepaskan, atau mempertahankan cinta yang lahir dari kesalahpahaman di tengah kemewahan dan risiko nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms Celina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Topeng di Balik Kemegahan

Matahari pagi di Kota Meksiko bersinar terik, menembus celah-celah tirai sutra tebal di kamar tidur yang sangat luas dan mewah. Ruangan itu beraroma kayu cendana segar dan bunga melati yang diletakkan dalam vas kristal berukir indah. Di atas tempat tidur berukuran raja dengan seprai berwarna krem selembut awan, Mario Whashington terbangun perlahan. Ia meregangkan otot-otot tubuhnya yang kekar, napasnya teratur dan tenang, namun di balik ketenangan itu, pikirannya sudah melayang jauh—kembali ke malam sebelumnya, kembali ke sepasang mata cokelat tajam dan bibir yang sering kali mengatup rapat seolah menyembunyikan ribuan pertanyaan.

Satu tahun lamanya ia menjalani kehidupan ganda itu. Di malam hari, ia adalah sosok yang berbeda: pria sederhana, pendamping bayaran yang dicari banyak wanita, orang yang tidak punya apa-apa selain pesona dan kemampuan berbicara. Namun saat matahari terbit, topeng itu dilepas. Mario yang sekarang bangun adalah Mario Whashington sejati—pewaris tunggal kerajaan bisnis Whashington, pemilik tanah, gedung, saham, dan aset yang nilainya bahkan sulit dihitung dengan angka, orang terkaya dan paling berkuasa di seluruh Meksiko, dan mungkin salah satu yang terkaya di benua Amerika.

Ia duduk di pinggir tempat tidur, menatap pantulan dirinya di cermin besar berbingkai emas di seberang ruangan. Wajah yang sama—tampan, tegas, memikat—namun tatapannya kini berbeda. Tidak ada senyum menggoda, tidak ada keramahan yang dipaksakan. Yang ada hanyalah sorot mata dingin, cerdas, dan penuh kendali. Selama ini, semua wanita yang mendekatinya—sejak ia masih remaja hingga ia memegang kendali penuh atas kekayaan keluarganya—selalu melihat harta, nama besar, dan kekuasaannya. Tidak ada yang benar-benar melihat Mario sebagai manusia biasa. Tidak ada yang peduli pada siapa dirinya di balik kemewahan, di balik beban tanggung jawab yang berat itu.

Pengalaman pahit bersama Elena Santoro, wanita yang pernah sangat ia cintai dan hampir ia nikahi, telah mengubah pandangannya selamanya. Saat itu, Mario masih muda, naif, dan percaya bahwa cinta bisa mengatasi segalanya. Namun, ia kemudian mengetahui bahwa setiap kata manis, setiap pelukan hangat, dan setiap janji setia Elena hanyalah sandiwara belaka. Wanita itu bersamanya hanya karena ia ingin menjadi Nyonya Whashington, hanya karena ia menginginkan gaya hidup mewah dan pengaruh sosial yang dibawa nama besar itu. Saat Mario sempat mengalami krisis bisnis yang hebat beberapa tahun lalu—sebuah rencana licik yang ternyata diatur oleh ayah Elena sendiri—wanita itu pergi begitu saja tanpa ragu sedikit pun, meninggalkannya saat ia sedang jatuh paling dalam.

Sejak hari itu, Mario bersumpah pada dirinya sendiri: ia tidak akan pernah lagi percaya pada cinta yang datang bersama kekayaan. Ia ingin dicintai apa adanya, sebagai manusia biasa, sebagai pria yang mungkin tidak punya apa-apa selain dirinya sendiri. Maka lahirlah ide gila itu: menyamar. Menjadi orang lain. Menjadi Mario yang sederhana, yang bekerja keras, yang dijual jasanya untuk menemani wanita-wanita kaya dan kesepian. Ia ingin menemukan seseorang yang akan tetap tinggal, yang akan tetap melihatnya berharga, meski ia tidak punya uang sepeser pun, tidak punya kekuasaan, dan tidak punya nama besar.

Dan malam itu, di tengah keramaian Club Vela Nera, ia bertemu Valerie Smith. Wanita itu berbeda dari siapa pun yang pernah ia temui selama masa penyamarannya. Wanita-wanita lain yang datang ke sana biasanya penuh dengan tawa palsu, kemewahan yang dipamerkan, dan keinginan untuk diperlakukan seperti ratu. Valerie justru sebaliknya. Ia datang sendirian, duduk di sudut yang gelap, tampak tegang, waspada, dan seolah sedang bersembunyi dari dunia. Tatapannya tajam, cerdas, dan kritis. Saat Mario mendekat, ia tidak langsung melemparkan senyum menggoda atau mengundang percakapan. Ia menilai. Ia mempertanyakan. Dan yang paling penting: ia tidak terkesan sedikit pun.

Bagi Mario, itu adalah hal yang paling menyegarkan sekaligus paling menantang. Valerie mengira ia hanyalah gigolo biasa, pekerja rendahan yang menjual pesonanya. Ia bahkan sempat meremehkan pekerjaan itu secara halus. Namun, saat mereka berbicara berjam-jam lamanya, Mario melihat sesuatu yang lain di mata wanita itu: ketulusan. Valerie berbicara tentang hidupnya, tentang tekanan pekerjaannya, tentang rasa kesepian yang mendalam, bukan untuk mencari simpati, tapi seolah ia sedang melepaskan beban yang sudah terlalu lama dipikulnya. Ia berbicara dengan akal sehat, dengan prinsip yang kokoh, dan dengan hati yang meski terluka, tetap berusaha bersikap tegas dan kuat.

“Tuan Mario?”

Suara ketukan pintu dan panggilan lembut dari luar ruangan memecah lamunannya. Camila Reyes, sekretaris pribadinya yang setia, masuk membawa berkas-berkas penting dan secangkir kopi hitam panas. Wanita muda itu cerdas, efisien, dan sangat tertutup—satu-satunya orang, selain Ricardo, yang tahu kebenaran tentang penyamaran majikannya. Camila selalu tidak setuju dengan rencana gila itu, menganggapnya membuang-buang waktu dan membahayakan posisi Mario, namun ia tetap setia menjalankan perintah tuannya tanpa banyak bertanya.

“Rapat dengan dewan direksi pukul sembilan pagi, Tuan. Setelah itu, Tuan Ricardo menunggu di ruang kerja untuk membahas proyek investasi baru di sektor properti,” lapor Camila dengan nada datar, meletakkan barang-barang di atas meja samping tempat tidur. Ia melirik Mario sekilas, matanya menangkap ekspresi yang belum pernah ia lihat sebelumnya—sedikit keraguan, sedikit kegelisahan. “Ada sesuatu yang mengganggu pikiran Tuan?”

Mario bangkit berdiri, berjalan menuju lemari pakaiannya yang berisi ratusan kemeja, jas, dan setelan mahal buatan perancang terkenal dunia. Ia mulai mengenakan pakaian kerjanya, mengubah penampilannya sepenuhnya dari pria santai menjadi pengusaha paling berkuasa di negeri itu.

“Aku bertemu seseorang semalam, Camila,” jawab Mario pelan, suaranya berat namun jelas. “Seorang wanita.”

Camila mengangkat satu alisnya, tidak terkejut sama sekali. “Selama setahun ini, Tuan bertemu ratusan wanita. Ada apa dengan yang satu ini?”

Mario berhenti bergerak sejenak, bayangan wajah Valerie kembali melintas di kepalanya. “Dia berbeda. Dia tidak tahu siapa aku. Dia mengira aku miskin, tidak berpendidikan tinggi, dan hanya ada untuk menghibur wanita kaya. Dan anehnya… justru karena dia menganggapku rendah, dia bersikap jujur padaku. Dia berbicara denganku sebagai sesama manusia, bukan sebagai dompet berjalan atau patung berharga.”

Camila menghela napas pelan, mendekat sedikit. “Tuan Mario, tolong ingat kembali tujuan kita. Kita melakukan ini untuk mencari seseorang yang mencintai Tuan apa adanya, bukan seseorang yang menganggap Tuan tidak berharga. Jika dia menganggap pekerjaan Tuan saat ini rendah, bagaimana dia akan menerima Tuan jika kebenaran terungkap? Bagaimana jika dia hanya bersimpati atau kasihan? Itu bukan cinta, Tuan.”

Mario tersenyum tipis, mengikat dasi sutra berwarna biru tua dengan gerakan terampil dan presisi. “Kamu salah, Camila. Kasihan dan hormat itu beda jauh. Valerie… dia tidak mengasihaniku. Dia menghargaiku. Dia mendengarkan pendapatku, dia tertawa pada leluconku, dia marah jika aku berbicara sembarangan, dan dia menatap mataku seolah dia bisa melihat jauh ke dalam diriku, meski dia mengira aku hanyalah pria biasa. Itu yang membuatnya berbeda. Dia melihat kemanusiaanku, sesuatu yang sudah lama hilang dari pandangan orang-orang di sekelilingku.”

Ia berbalik menatap sekretarisnya, tatapannya kembali tajam dan penuh tekad.

“Siapa dia? Valerie Smith. Cari tahu segalanya tentang dia. Di mana dia bekerja, di mana dia tinggal, siapa keluarganya, apa kegiatannya. Aku ingin tahu setiap detail kecil.”

Camila mengangguk patuh, meski di hatinya ia merasa ini adalah awal dari masalah besar. “Baik, Tuan. Akan saya urus segera.”

 

Sementara itu, di sisi lain kota, Valerie Smith tiba di kantor hukum tempatnya bekerja. Gedung pencakar langit yang megah itu berdiri di tengah kawasan bisnis utama, kaca-kaca jendelanya memantulkan sinar matahari dengan kilauan dingin dan kaku. Valerie berjalan masuk dengan langkah cepat, mengenakan setelan jas kerja yang rapi dan formal, rambutnya diikat rapi ke belakang, dan wajahnya kembali dipasang ekspresi serius dan tidak tersentuh—topeng yang biasa ia pakai setiap hari. Namun, di balik penampilan profesionalnya yang sempurna itu, pikirannya berantakan total.

Sepanjang malam, ia tidak bisa tidur nyenyak. Bayangan Mario terus-menerus menghantuinya. Wajah tampan itu, senyum misteriusnya, suaranya yang dalam dan menenangkan, serta segala hal yang mereka bicarakan semalam—semua itu berputar terus di kepalanya. Bagaimana mungkin seorang pria yang bekerja sebagai pendamping bayaran memiliki wawasan yang begitu luas? Bagaimana mungkin dia memiliki sopan santun yang setingkat bangsawan? Bagaimana mungkin dia membuat Valerie merasa lebih nyaman, lebih dipahami, dan lebih hidup hanya dalam beberapa jam, dibandingkan semua mantan kekasihnya yang berpendidikan tinggi dan kaya raya selama bertahun-tahun?

Valerie menggelengkan kepalanya saat duduk di kursi kerjanya, mencoba menumpahkan fokusnya ke tumpukan berkas hukum yang menggunung di meja. Dia hanya pekerja bayaran, tegur dirinya sendiri dengan keras. Dia terlatih. Dia ahli dalam membuat wanita merasa spesial. Itu keahliannya, Valerie. Jangan bodoh sampai jatuh hati pada pria yang pekerjaannya adalah menggoda wanita demi uang. Kamu terlalu cerdas untuk itu.

Namun, nasihat akal sehat itu seolah tenggelam di bawah rasa penasaran yang semakin besar. Ada sesuatu yang tidak beres. Ada celah-celah kecil dalam cerita hidup Mario yang ia ceritakan semalam—atau lebih tepatnya, yang tidak ia ceritakan—yang terasa janggal. Saat Valerie bertanya dari mana asalnya, Mario hanya menjawab samar: “Dari tempat yang jauh, tempat yang penuh kenangan yang lebih baik dilupakan.” Saat ditanya mengapa ia memilih pekerjaan ini, jawabannya pun penuh teka-teki: “Karena di sini, aku bisa menjadi siapa saja yang aku inginkan. Tidak ada masa lalu, tidak ada masa depan. Hanya saat ini.”

Pintu ruang kerjanya diketuk pelan, dan Javier Ruiz—rekan kerja sekaligus teman baiknya—masuk membawa dua cangkir kopi. Pria muda yang ramah dan ceria itu adalah satu-satunya orang di kantor yang bisa membuat Valerie sedikit tersenyum di tengah tekanan pekerjaan.

“Kopi hitam pahit seperti seleramu, Nona Pengacara,” kata Javier sambil meletakkan cangkir di meja, lalu duduk di kursi seberang. Ia menatap wajah Valerie dengan pandangan teliti. “Kamu kelihatan beda hari ini. Mata kamu bengkak, tapi ada semacam… semangat baru yang aneh. Ada apa? Kamu bertemu seseorang?”

Valerie langsung meraih cangkir kopinya, meminumnya sedikit untuk menyembunyikan kegugupannya. “Jangan ngaco. Aku cuma kurang tidur. Banyak pikiran.”

Javier tertawa kecil, tidak percaya sama sekali. “Val, aku sudah kenal kamu lima tahun. Aku tahu benar kapan kamu sedang memikirkan pekerjaan dan kapan kamu sedang memikirkan pria. Dan ekspresi wajahmu ini… ini jelas-jelas ekspresi wanita yang baru saja pulang dari pertemuan yang mengubah hidupnya. Cerita dong. Siapa dia? Rekan pengacara? Klien? Atau… jangan bilang, kamu akhirnya menyerah dan mencoba aplikasi kencan?”

Valerie menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia tahu ia tidak bisa menyembunyikan apa pun dari Javier. Namun, menceritakan bahwa ia menghabiskan malam bersama seorang gigolo? Itu terlalu memalukan, terlalu berisiko, dan terlalu rumit untuk dijelaskan.

“Aku pergi ke Club Vela Nera semalam,” akui Valerie pelan, membuat mata Javier terbelalak kaget.

“Vela Nera? Itu kan tempat… tempat di mana wanita kaya pergi mencari kesenangan malam? Kamu serius? Valerie Smith yang selalu kaku dan taat aturan pergi ke sana? Sendirian?” Javier hampir berteriak kaget, namun langsung mengecilkan suaranya saat Valerie melotot. “Maaf, lanjutkan. Apa yang terjadi di sana?”

“Aku bertemu seseorang. Namanya Mario. Dia… dia salah satu pendamping di sana.” Valerie berbicara pelan, memilih kata-kata dengan hati-hati. “Awalnya aku cuma mau iseng, mau lari dari kenyataan sebentar. Tapi… dia… dia aneh, Javier. Dia tidak seperti yang aku bayangkan. Dia cerdas, sopan, berwawasan luas. Dia berbicara seolah dia pernah melihat dunia, seolah dia orang berpendidikan tinggi. Tapi dia bekerja di sana, melayani wanita yang membayar mahal. Aku tidak paham.”

Javier mengerutkan keningnya, menyimak dengan serius. “Mungkin dia memang berpendidikan tapi sedang jatuh miskin? Atau mungkin dia pandai bersandiwara? Ingat, Val, itu pekerjaan mereka. Mereka dibayar mahal untuk tampil sempurna, untuk menjadi pria impian setiap wanita. Mereka belajar cara bicara, cara bergerak, cara membuat wanita merasa dicintai. Jangan sampai kamu terjebak dalam permainan itu, Val. Hati kamu terlalu berharga untuk disakiti oleh pria yang hanya menginginkan uang atau sekadar bersenang-senang.”

“Aku tahu,” jawab Valerie, namun suaranya tidak seyakin yang ia harapkan. “Aku tahu itu. Tapi… ada sesuatu tentang dia, Jav. Sesuatu yang terasa nyata. Sesuatu yang membuatku merasa… dia juga sedang menyembunyikan sesuatu. Seolah dia bukan benar-benar bagian dari tempat itu, dia cuma sedang singgah.”

Pembicaraan mereka terhenti saat telepon di meja Valerie berdering. Sekretaris di lobi memberitahu bahwa ada kiriman khusus untuknya. Beberapa saat kemudian, seorang kurir masuk membawa sekeranjang bunga mawar putih yang sangat indah dan besar, dihiasi pita sutra halus. Di sela-sela kelopak bunga, terselip secarik kartu kecil berwarna emas.

Valerie mengambil kartu itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Tulisan tangan yang indah, tegak, dan jelas tertulis di sana:

“Untuk wanita yang membuat malam biasa menjadi magis. Terima kasih sudah berbagi ceritamu. Sampai bertemu lagi, Valerie Smith. – M.W.”

Javier mengintip dari samping, matanya melebar. “M.W.? Mario? Dia mengirim ini ke kantor? Dia tahu siapa nama lengkapmu dan di mana kamu bekerja?”

Valerie menatap tulisan itu berulang kali. Jantungnya berdebar kencang—bukan karena takut, tapi karena rasa kagum dan rasa ingin tahu yang semakin membara. Mario tahu nama lengkapnya, tahu di mana ia bekerja, dan bisa mengirimkan bunga ke sini dengan begitu mudahnya? Padahal semalam Valerie yakin ia tidak menyebutkan nama kantornya, apalagi alamat persisnya. Bagaimana dia bisa tahu?

Pertanyaan itu kembali muncul, lebih keras dari sebelumnya: Siapa sebenarnya Mario Whashington?

 

Sore harinya, di sebuah ruangan kerja yang sangat luas dan megah di gedung pusat bisnis milik keluarga Whashington, Mario duduk di balik meja kerjanya yang besar terbuat dari kayu mahoni murni berukir indah. Ruangan itu beraroma kekuasaan dan sejarah, dinding-dindingnya dihiasi lukisan bernilai miliaran rupiah dan rak buku yang berisi koleksi langka. Di hadapannya, Ricardo De La Vega sedang duduk santai sambil memutar-mutar gelas berisi minuman keras berwarna ambar.

Ricardo baru saja selesai melaporkan perkembangan bisnis, namun pembicaraan kini beralih ke topik lain yang lebih pribadi. Camila sudah menyerahkan berkas lengkap tentang Valerie Smith—riwayat hidup, pendidikan, karier, keluarga, bahkan kebiasaan-kebiasaan kecilnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!