Dua putri kembar lahir, namun nasib memisahkan mereka.
Xiao Ning kecil diculik oleh beberapa orang Penjahat, berganti nama menjadi Luna, dan tumbuh keras di dunia kejahatan. Sementara kakaknya, Xiao Ling, dibesarkan dengan penuh cinta, sehingga menjadi gadis yang lembut, baik hati dan penyayang.
Wajah mereka sama, namun takdir diantara keduanya berbeda. Pada akhirnya takdir itu kembali mempertemukan si kembar, dan identitas pun mulai terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB XII
Setelah beberapa hari penuh tawa dan kesenangan yang mereka lalui bersama, tiba-tiba suasana yang damai itu berubah seketika. Dari kejauhan, sosok seorang wanita muda berjalan mendekat dengan langkah tegap dan penuh wibawa. Ia adalah Putri Yanxi, kakak kandung Haoran. Aura yang dipancarkannya begitu kuat, tajam, dan menekan, membuat siapa saja yang melihatnya merasa segan dan takut.
Begitu berada tepat di depan Haoran, tanpa kata-kata atau sapaan sedikit pun, Putri Yanxi langsung menendang adiknya itu dengan keras.
Bruk! Tanpa sempat menghindar, tubuh Haoran terjatuh ke tanah.
“Ampun, Kakak… ampun!” Haoran segera menundukkan kepalanya, tubuhnya ketakutan, sama sekali tak berani melawan atau menatap wajah kakaknya. Ia cepat-cepat bangkit lalu bersembunyi di belakang tubuh Dafi, mencengkeram ujung baju sahabatnya itu sambil berbisik panik. “Dafi… ini kakakku, Putri Yanxi. Lihatlah wanita jahat ini datang, pasti dia mau memaksaku untuk pulang! Dafi, tolong aku, lindungi aku!”
Melihat keadaan itu, Dafi hanya menatap datar, lalu berkata dengan nada dingin dan acuh tak acuh kepada sang Putri. “Ini urusan keluargamu, aku tak mau ikut campur. Ini adikmu, bawa saja dia pulang kalau itu maumu.”
Mendengar itu, Haoran makin panik dan menggeleng kuat dari belakang punggung Dafi. “Tidak! Aku tidak mau kembali! Aku belum mau pulang! Aku masih harus mencarinya, aku belum menemukan gadis yang selama ini aku cari (Luna)! Aku tidak akan pulang, tidak sebelum aku menemukannya!”
Namun Putri Yanxi sama sekali tak peduli dengan ucapan atau keinginan adiknya. Ia maju selangkah, tangannya yang kuat mencengkeram kerah baju Haoran, lalu menyeretnya dengan kasar seolah sedang menarik karung goni, tak peduli Haoran meronta atau memohon.
“Tunggu… tunggu sebentar!” teriak Haoran tersengal-sengal, lalu tiba-tiba ia berteriak lagi, “Biarkan mereka berdua ikut bersama kita!”
Putri Yanxi menoleh tajam, hendak menolak, namun Dafi sudah lebih dulu berkata tegas. “Tidak perlu. Kami tak mau ikut, kau saja yang pergi dengan kakakmu.”
Namun Haoran tak mau dilepaskan, ia langsung menggenggam tangan Dafi erat sekali, matanya menatap memelas namun juga tegas. “Kau harus ikut! Kita sudah bersahabat, susah senang kita harus bersama, tidak boleh berpisah begitu saja!”
Karena tak tega melihat Haoran yang begitu memohon, serta takut jika ditinggal nanti hal buruk akan menimpanya, akhirnya Dafi menghela napas pasrah dan mengangguk. Ia pun menggandeng tangan Lili, lalu mereka berdua pun ikut berjalan bersama menaiki kereta kuda, menemani Haoran pulang kembali ke tempat asalnya, di bawah tatapan dingin dan mengintimidasi Putri Yanxi yang duduk di depan mereka.
Setelah perjalanan panjang yang memakan waktu berjam-jam di dalam kereta kuda, akhirnya mereka tiba di depan gerbang besar yang menjulang tinggi, dihiasi ukiran emas dan lambang kerajaan yang megah dan gagah. Di sana, tertera jelas tulisan Western Kingdom (Kerajaan Barat).
Melihat pemandangan di hadapannya, mata Dafi dan Lili terbelalak tak percaya, mulut mereka hampir terbuka karena takjub sekaligus kaget. Dafi segera mendekatkan mulutnya ke telinga Haoran, berbisik pelan namun penuh rasa ingin tahu dan kaget.
“Haoran… apa sebenarnya kau ini seorang Pangeran?”
Haoran hanya menoleh sekilas, lalu menjawab singkat dan mendengus kesal. “Bukan.” Ia melirik ke arah Putri Yanxi yang duduk di depannya dengan wajah dingin dan angkuh, lalu melanjutkan dengan nada jengkel. “Wanita jahat ini yang sudah gila, biarkan saja. Nanti kau akan mengerti semuanya sendiri.”
Mereka pun terus melangkah masuk, melewati halaman yang luas dan indah, hingga sampai ke dalam Aula Utama Istana yang begitu megah, luas, dan berkilauan. Baru saja kaki mereka melangkah masuk, sesosok wanita yang wajahnya sudah mulai menampakkan kerutan usia namun memancarkan kelembutan dan kasih sayang yang luar biasa, segera bergegas menghampiri. Ia adalah Permaisuri, ibu kandung Haoran.
Tanpa memedulikan tata krama maupun aturan istana, Permaisuri langsung merangkul dan memeluk Haoran erat-erat, seolah takut putra kesayangannya itu akan hilang kembali dari hadapannya.
“Nak… ke mana saja kau pergi selama ini? Kau tahu betapa cemasnya Ibu, sampai Ibu mencari ke segenap penjuru negeri demi menemukanmu,” ucapnya dengan suara bergetar, penuh rasa lega dan bahagia yang tak terkira.
Belum sempat Haoran menjawab, Putri Yanxi yang berdiri di samping langsung menyahut dengan nada ketus, tajam, dan penuh kekesalan.
“Untuk apa ditanya lagi Ibu? Tentu saja dia pergi mencari gadis itu! Anak gila ini, sudah berapa tahun berlalu tapi masih saja keras kepala ingin mencarinya kemana-mana! Ibu menyuruhku membawanya pulang, sudah kulakukan, tapi sungguh aku sudah sangat lelah mengurus tingkah laku konyol anak ini!” sambil menunjuk-nunjuk Haoran.
Setelah melontarkan kata-kata itu dengan kasar, Putri Yanxi langsung membalikkan badan, melangkah pergi dengan langkah tegap dan angkuh meninggalkan mereka semua di sana, tak peduli lagi.
Dafi dan Lili yang berdiri hanya bisa diam terpaku, saling pandang satu sama lain dengan wajah masih penuh kebingungan dan keterkejutan. Mereka sama sekali tak menyangka sahabat yang baru mereka kenal beberapa hari ini ternyata berasal dari keluarga kerajaan.
Setelah puas memeluk dan menumpahkan segala rasa rindunya, Permaisuri perlahan melepaskan pelukannya. Saat itulah pandangannya jatuh pada dua sosok asing yang berdiri agak di belakang, menunduk hormat dengan wajah yang masih tampak kaget dan canggung.
“Wah, ternyata kau membawa temanmu juga,” ucap Permaisuri lembut, sementara matanya yang teduh menatap mereka berdua dengan penuh keramahan.
Segera Dafi dan Lili melangkah maju, lalu membungkukkan badan dengan sopan.
“Hamba Dafi, Yang Mulia. Dan ini adik hamba, Lili. Kami berdua hanya rakyat biasa yang berkenalan dengan Haoran… eh, maksud hamba dengan Pangeran Haoran secara kebetulan saat di perjalanan,” kata Dafi dengan hati-hati.
Permaisuri tersenyum lebar, senyum yang begitu hangat dan tulus hingga membuat rasa gugup mereka perlahan hilang.
“Jangan panggil dengan sebutan itu, panggil saja Ibu seperti Haoran. Tidak perlu sungkan atau takut di sini,” ucapnya lembut. Matanya kembali menatap putranya, ada sinar bahagia yang terlihat jelas. “Ini pertama kalinya selama bertahun-tahun, anakku ini mau membawa temannya ke istana. Biasanya Haoran selalu pulang sendirian, tak pernah mau mengajak siapa pun bersamanya. Berarti kalian adalah orang yang sangat istimewa baginya.”
Mendengar itu, wajah Haoran sedikit memerah, ia hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum malu.
Permaisuri pun segera menoleh kepada pelayan yang berdiri di sisi ruangan.
“Segera siapkan makanan untuk mereka, dan antarkan mereka ke kamar tamu, pastikan mereka beristirahat dengan tenang dan tidak kekurangan apa pun. Layani mereka dengan baik.” ucap Permaisuri.
Lalu ia kembali menatap Dafi dan Lili dengan tatapan penuh kasih sayang.
“Kalian anggap saja rumah sendiri, jangan merasa sungkan. Aku sangat senang sekali Haoran akhirnya punya teman yang bisa menemaninya.”
Di Ruang Makan..
Mereka bertiga duduk mengelilingi satu meja besar yang penuh dengan hidangan istimewa, semuanya tampak lezat dan disajikan dengan sangat rapi. Di tengah suasana makan yang tenang, Dafi yang sudah lama penasaran akhirnya membuka suara.
“Haoran, jujur saja aku sungguh tidak mengerti,” ucap Dafi pelan namun tegas, sementara Lili di sampingnya juga menatap penuh rasa ingin tahu. “Kehidupan di sini begitu mewah, segala kebutuhan tersedia tanpa perlu kau susah payah mencarinya, dan ini adalah tempat yang diimpikan oleh hampir semua orang. Kenapa kau malah rela pergi, meninggalkan semuanya dan memilih hidup mengembara yang penuh ketidakpastian?”
Haoran menghentikan kunyahannya sejenak, menatap makanan di depannya dengan tatapan yang sedikit redup dan kosong.
“Bagimu dan orang lain mungkin ini adalah surga, tapi bagiku, istana ini rasanya sama saja seperti penjara,” jawabnya perlahan. “Ke mana pun aku melangkah, selalu ada pelayan yang mengikuti, selalu ada pengawal yang mengawasi. Setiap gerak-gerikku diatur dan diawasi, aku benar-benar merasa terkekang dan tak punya kebebasan sedikit pun disini. Belum lagi… meskipun hidup nyaman dan berkecukupan, hatiku di sini selalu merasa sepi.”
Ia menghela napas panjang, lalu melanjutkan dengan nada yang terdengar getir. “Kau lihat sendiri bagaimana sikap Kak Yanxi padaku? Dia kakak kandungku sendiri, tapi sejak aku masih kecil hingga sekarang, pandangannya padaku tak pernah berubah. Di matanya aku seolah musuh, ia selalu dingin, kasar, dan seolah membawa dendam yang besar kepadaku. Satu-satunya orang di sini yang benar-benar menyayangiku tanpa syarat hanyalah Kak Haoyu (Putra Mahkota). Tapi sayang sekali, sekarang ia sedang ditugaskan menjaga perbatasan kerajaan yang jauh di sana, dan entah sampai kapan ia baru bisa pulang kembali menemuiku.”
Mendengar penuturan yang begitu menyedihkan itu, Dafi dan Lili seketika terdiam. Mereka sama sekali tak menyangka di balik kemegahan dan gelar Pangeran yang tampak mulia itu, tersimpan rasa sakit dan kesepian yang begitu berat.
Namun tak lama kemudian Dafi kembali bersuara, menatap Haoran dengan pandangan yang tak setuju dan sedikit bingung. “Tapi bukankah Putri Yanxi itu kakak kandungmu? Bagaimana mungkin seorang kakak bisa membenci adiknya sedemikian rupa tanpa alasan yang jelas? Menurutku perkataanmu ini kurang masuk akal. Tidak mungkin kebencian itu muncul begitu saja tanpa sebab. Pasti ada sesuatu yang terjadi, atau ada hal yang belum kau ketahui. Coba bicaralah baik-baik padanya, cari tahu masalahnya, jangan langsung beranggapan buruk dan mengira dia membencimu begitu saja.”
Haoran hanya menggeleng pelan, senyum pahit tersungging di bibirnya. Ia menatap Dafi dengan pandangan kecewa seolah ada dinding tinggi yang memisahkan pemahaman mereka berdua saat ini.
“Kau tidak paham, Dafi… kau belum mengerti apa-apa,” ucapnya pelan dan berat. “Suatu hari nanti, mungkin saat kau berada di posisiku, barulah kau akan mengerti apa maksud perkataanku ini.”
Setelah itu, tak ada lagi kata-kata yang terucap. Suasana meja makan kembali hening, namun kali ini terasa berat dan penuh dengan pertanyaan besar yang menggantung di benak mereka masing-masing.