GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)
"Hayu siapa yang penasaran sama kisah Aruna, gadis malang yang terpaksa menyerahkan hidupnya jadi milik seorang pria yang sangat tampan, kaya raya, tapi dikenal sangat kejam dan berhati dingin? 😯💔
Dipaksa menikah cuma demi bertahan hidup, dihina, diremehkan, dan dianggap cuma barang milik semata. Namun Aruna berjanji dalam hatinya, dia bakal buktikan kalau dia juga punya harga diri yang tak boleh diinjak. Apakah dia sanggup hadapi sifat angkuh dan kejam Aris Baskara? Bagaimana nasibnya hidup di antara kemewahan yang ternyata penuh dengan penghinaan dan rasa sakit? 🤔
Baca yuk ceritanya! Kisah cinta penuh luka, amarah, air mata, dan takdir yang bikin hati campur aduk. Dijamin bikin penasaran dari bab pertama sampai akhir 📖🔥
📖 Judul: GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)
(Penulis: Lestari Visa)"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lestari visa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Antara Cinta dan Ikatan Darah
Pelukan hangat itu masih terasa nyata. Rasa lega, rasa sakit, dan rasa bahagia bercampur jadi satu, membuat air mata Luna terus mengalir tanpa bisa dia tahan lagi. Selama dua puluh tahun hidupnya, dia selalu merasa seperti orang asing di mana pun dia berada, selalu merasa tidak punya tempat pulang. Tapi hari ini, di pelukan Aditya, dia akhirnya merasa lengkap. Dia punya keluarga. Dia punya darah daging yang sama. Dia punya tempat untuk berlabuh.
Namun, di tengah rasa bahagia yang meluap-luap itu, ada satu rasa lain yang menyelinap masuk ke dalam hati Luna, rasa yang menyakitkan dan membuat dadanya terasa sesak napas. Cinta yang selama ini dia sembunyikan mati-matian, rasa yang perlahan tumbuh dan mekar di hatinya untuk Aditya... ternyata tidak boleh ada. Aditya adalah sepupunya. Aditya adalah keluarga sedarahnya. Dan cinta seperti itu adalah hal yang mustahil, hal yang terlarang, dan hal yang tidak akan pernah bisa diterima oleh siapa pun.
Perlahan tapi pasti, Luna melepaskan pelukannya. Dia menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan raut wajah yang berubah sedih dan kecewa. Ternyata, takdir memang selucu itu. Saat dia mulai berani berharap, saat dia mulai merasa mungkin ada jalan bagi mereka berdua... takdir malah melempar kenyataan yang memisahkan mereka lebih kuat dari apa pun: ikatan darah.
Aditya seolah bisa merasakan perubahan suasana hati Luna. Dia juga melepaskan pelukannya, tangannya masih terasa berat untuk menjauh dari gadis itu. Di dalam hatinya, badai yang jauh lebih dahsyat sedang berkecamuk. Dia baru saja mengakui perasaannya, baru saja berani membuka hatinya, baru saja mau bilang kalau dia tidak bisa hidup tanpa Luna... dan sekarang kenyataan ini datang menghantamnya sekeras batu.
Sepupu. Keluarga. Darah daging.
Kata-kata itu berputar terus di dalam kepalanya, menyakiti hatinya berkali-kali lipat lebih parah daripada rasa sakit apa pun yang pernah dia rasakan seumur hidupnya. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa wanita yang dia cintai, wanita yang membuat dunianya berwarna, wanita yang satu-satunya yang mengerti dia... ternyata adalah keponakan dari ibunya sendiri? Ternyata bagian dari keluarganya sendiri?
Pak Herman dan Bu Rina hanya diam mematung, merasakan suasana yang berubah menjadi berat dan penuh ketegangan yang tak terucapkan. Mereka sadar, ada perasaan yang tumbuh di antara dua pemuda-pemudi itu, dan kebenaran ini pasti menghancurkan hati keduanya.
"Jadi... semuanya benar ya, Pak?" tanya Luna pelan, suaranya masih terdengar serak karena habis menangis. Dia menatap Pak Herman dengan pandangan yang penuh harap sekaligus takut. "Saya benar-benar cucu dari keluarga Pratama? Ibu saya yang sudah meninggal... dia benar-benar adik kembar dari Ibu Tuan Aditya?"
Pak Herman mengangguk mantap sambil tersenyum tipis penuh haru. "Benar sekali, Nona Luna. Hasil tes DNA yang saya ambil diam-diam dari sikat gigi dan barang-barang kalian beberapa bulan yang lalu sudah keluar hasilnya. Kecocokannya sempurna, sembilan puluh sembilan komparasi persen. Kamu memang darah daging keluarga Pratama. Ibumu, Laras, adalah adik kembar Ibu Aditya yang hilang saat usia lima tahun akibat perbuatan orang jahat yang ingin menghancurkan keluarga ini. Dia tumbuh besar dengan nama lain, menikah, dan melahirkan kamu. Sayangnya, dia dan suaminya menjadi korban kejahatan yang sama, karena orang itu tahu kalau keberadaan kamu adalah ancaman besar bagi rencana jahatnya."
Mendengar penjelasan itu, gumpalan rasa sakit di dada Luna makin membesar. Jadi, kemiskinan yang dia alami, penderitaan yang dia rasakan, kehilangan orang tua yang dia cintai... semuanya bukan sekadar nasib buruk, melainkan akibat dari kejahatan orang yang berhati iblis. Dan orang itu masih hidup, bahkan mungkin masih berkeliaran dengan bebas.
"Terus... siapa orang itu, Pak Herman?" potong Aditya dengan suara yang rendah namun penuh dengan amarah yang terpendam. Tangannya mengepal erat hingga buku jarinya memutih. Matanya memancarkan api kemarahan yang belum pernah dilihat orang lain sebelumnya. "Siapa orang yang sudah merencanakan semua kejahatan ini? Yang membunuh orang tua saya, yang memisahkan keluarga, yang membuat Luna menderita seumur hidupnya? Katakan padaku siapa dia! Saya akan pastikan dia membayar semuanya dengan mahal!"
Pak Herman menatap Aditya dengan tatapan yang berat dan penuh peringatan, seolah takut menyebut nama itu. Dia melirik sekilas ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada orang lain yang mendengar. Lalu dia mendekatkan tubuhnya, dan berbisik dengan suara yang tegas namun bergetar.
"Orang itu adalah... Bapak Surya. Dia teman akrab almarhum Ayahmu, orang yang selama ini kamu anggap seperti paman sendiri, orang yang duduk di kursi komisaris utama perusahaan kita. Dialah dalang dari semua bencana yang menimpa keluarga Pratama."
Dua nama itu membuat Aditya dan Luna terbelalak kaget. Napas mereka seakan terhenti di tenggorokan.
Bapak Surya? Paman Surya?
Aditya mengenal pria itu seumur hidupnya. Pria yang selalu tersenyum ramah, yang selalu ada di saat susah maupun senang, yang selalu membantu mengurus perusahaan, yang selalu dianggapnya sebagai keluarga sendiri. Dia tidak pernah menyangka, tidak pernah sekalipun membayangkan kalau orang yang paling dia percaya itu ternyata adalah musuh terbesar mereka. Orang yang selama ini berusaha menghancurkan mereka, orang yang mengambil segalanya darinya.
"Itu tidak mungkin..." gumam Aditya, rasanya kepalanya mau pecah. "Paman Surya orang baik, Pak. Dia selalu membantu Ayah, dia selalu menjaga saya... bagaimana mungkin dia melakukan hal sejahat itu?"
"Karena dia menginginkan segalanya, Aditya," jawab Pak Herman tegas, matanya menatap tajam. "Dia menginginkan kekayaan, kekuasaan, dan posisi yang dimiliki oleh kakekmu dan ayahmu. Dia iri, dia dengki, dan dia rela melakukan apa saja demi ambisinya yang gila itu. Dia memisahkan anak-anak, dia merencanakan kecelakaan, dia menghabisi siapa saja yang menghalangi jalannya. Dan sekarang... dia sedang berusaha menjebak kamu juga. Dia ingin mengambil alih seluruh saham perusahaan dan mengusir nama Pratama dari tempat yang seharusnya menjadi milik kalian."
Dada Aditya terasa seperti dihantam benda berat berkali-kali. Rasa percaya yang dia miliki selama ini hancur lebur menjadi debu. Kebohongan yang begitu rapi, kepalsuan yang begitu indah, ternyata menyembunyikan niat jahat yang begitu mengerikan. Dan sekarang, dia tahu satu hal yang pasti: dia tidak bisa lagi menjadi orang yang sama seperti dulu. Dia harus berubah. Dia harus kuat. Dia harus berani melawan, demi membalas dendam orang tuanya, demi melindungi Luna, dan demi mengembalikan nama baik keluarga Pratama.
Aditya menoleh ke arah Luna, gadis yang sekarang sudah bukan lagi pembantu rendahan, melainkan Nona Besar keluarga Pratama, pewaris sah yang juga menjadi target empuk musuh mereka. Dia melihat ketakutan dan kebingungan yang terlukis jelas di wajah cantik itu. Dia tahu, bahaya sudah mengintai di mana-mana. Kalau Bapak Surya tahu kalau Luna sudah ditemukan dan identitasnya sudah terungkap, maka nyawa Luna akan berada dalam bahaya yang sangat besar.
Aditya menarik napas panjang, berusaha menenangkan amarah dan kekacauan di dalam pikirannya. Dia berjalan mendekat ke arah Luna, lalu menggenggam kedua tangan gadis itu dengan erat. Tatapannya yang tadinya penuh kerinduan dan cinta, sekarang berubah menjadi tatapan yang penuh ketegasan dan tekad.
"Dengar aku, Luna," ucap Aditya pelan namun tegas, matanya menatap lekat tepat ke dalam manik mata bening itu. "Mulai detik ini, kamu tidak boleh kemana-mana sendirian. Kamu tidak boleh percaya sama siapa pun kecuali orang yang ada di sini, dan orang yang sudah kita percayai sepenuhnya. Nyawamu sedang terancam besar. Bapak Surya tidak akan diam saja kalau dia tahu kamu sudah ada di sini dan identitasmu sudah terungkap. Dia akan berusaha mencelakai kamu dengan cara apa pun."
Luna mengangguk pelan, rasa takut mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia tahu betapa mengerikan musuh yang sedang mereka hadapi. Musuh yang berpura-pura menjadi teman, musuh yang tahu segala hal tentang diri mereka.
"Terus... apa yang harus kita lakukan, Mas... eh, Tuan Aditya?" tanya Luna tergagap, hampir saja dia memanggil nama panggilan yang sudah ada di ujung lidahnya. Jantungnya berdebar kencang saat dia sadar, dia tidak boleh lagi memanggil Aditya dengan sebutan yang terlalu akrab, apalagi dengan perasaan yang dulu pernah dia miliki. Ada tembok tebal bernama 'hubungan keluarga' yang kini berdiri kokoh di antara mereka.
Aditya tersenyum tipis, namun senyum itu terasa pahit dan berat. Dia tahu betul apa yang sedang dipikirkan oleh Luna. Dia juga merasakan hal yang sama. Rasa cinta yang harus dikubur dalam-dalam, rasa ingin memiliki yang harus ditahan mati-matian, karena mereka sekarang adalah saudara sedarah.
"Panggil aku Aditya saja, Luna. Seperti yang aku minta tadi," ucapnya lembut, namun ada nada sedih yang samar terdengar. "Kita akan menyembunyikan identitasmu dulu. Sampai waktu yang tepat tiba, sampai kita punya bukti yang cukup kuat untuk menjatuhkan Bapak Surya ke penjara selamanya, kamu akan tetap dianggap sebagai pembantu di rumah ini. Kita tidak boleh memberi tahu siapa pun—termasuk orang-orang yang bekerja di sini—siapa jati dirimu yang sebenarnya. Itu satu-satunya cara supaya kamu aman."
Luna tertegun sejenak, lalu kembali mengangguk patuh. "Baiklah, Aditya. Aku akan melakukan apa pun yang kamu katakan. Aku percaya sama kamu."
Kata-kata itu terdengar begitu sederhana, namun maknanya begitu dalam. Kepercayaan yang tulus, rasa sayang yang berubah menjadi kasih sayang saudara, dan ikatan persaudaraan yang kini mengikat mereka erat selamanya. Namun, jauh di dalam hati masing-masing, ada rasa kehilangan yang begitu besar, rasa sakit karena cinta yang belum sempat mekar sudah harus layu dan mati.
Pak Herman menghela napas lega melihat kedewasaan dan ketegasan yang ditunjukkan oleh kedua pemuda itu. "Bagus sekali. Rencanaku sama dengan rencanamu, Aditya. Kita akan bergerak pelan tapi pasti. Kita akan mengumpulkan bukti-bukti yang hilang, mengungkap semua kejahatan yang dia lakukan selama puluhan tahun, dan saat semua sudah siap... kita akan menghantamnya sampai dia tidak punya jalan keluar lagi."
Aditya menoleh kembali menatap Pak Herman dengan sorot mata yang tajam dan penuh tekad. "Terima kasih, Pak. Terima kasih sudah menjaga rahasia ini dan sudah berusaha mencari Luna selama ini. Sekarang, biar saya yang memimpin langkah selanjutnya. Saya tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti keluarga saya lagi. Saya akan pastikan, keadilan akan ditegakkan, dan semua orang yang berbuat jahat akan mendapatkan balasan yang setimpal."
Sore itu, di teras belakang rumah yang indah namun kini terasa berat oleh beban rahasia dan bahaya yang mengintai, takdir baru mulai terukir. Hubungan antara Aditya dan Luna sudah berubah total. Bukan lagi majikan dan bawahan, bukan lagi orang asing yang saling benci, bukan pula dua orang yang saling mencintai... melainkan dua saudara yang terpisah lama dan kini bersatu kembali untuk melawan musuh yang sama.
Namun, siapa yang tahu? Di balik ikatan persaudaraan yang baru saja terjalin itu, apakah perasaan cinta yang dulu ada benar-benar bisa hilang begitu saja? Apakah hati benar-benar bisa diajar untuk berhenti mencintai hanya karena alasan ikatan darah? Dan apakah mereka akan sanggup menghadapi semua bahaya dan rintangan yang ada di depan mata tanpa melukai hati masing-masing?
Perjalanan mereka masih sangat panjang, dan pertarungan yang sebenarnya baru saja dimulai.
(BERSAMBUNG)
📖 SAMPAI JUMPA DI BAB SELANJUTNYA! 🤗🩷
Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini! Semoga kalian menikmati setiap halaman dan setiap momen kebahagiaan, tawa, bahkan emosi yang terasa dalam setiap babnya ya. 🥰
Jangan lupa tinggalkan komentar dan berikan suka pada setiap bab yang kalian baca, ya! Jika kalian menyukai ceritaku, silakan tuliskan pendapat kalian — misalnya "Lanjutkan dong, ceritanya keren banget!" atau "Ceritanya bagus dan menyentuh hati!" — karena setiap kata dukungan dari kalian akan menjadi semangat terbesarku untuk terus menulis dengan lebih baik lagi. 🩷
Sekali lagi terima kasih banyak atas perhatian dan dukungannya. Sampai jumpa lagi di bab selanjutnya ya! Selamat membaca dan sampai bertemu kembali! 👋👋🤗🌷