NovelToon NovelToon
Return Apocalypse Zombie

Return Apocalypse Zombie

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Time Travel / Hari Kiamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Alu feed

Rian seorang pemuda yang bertahan hidup di kiamat zombie di khianati oleh temannya yang selalu dia percayai , ketika tiba-tiba dia kembali ke masalalu.

dengan kekuatan dan pengetahuan dari masa depan ,aku ,akan membalas perlakuan semuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alu feed, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KESALAH PAHAMAN YANG TERJADI..

Tentu. Berikut versi yang lebih halus, natural, dan konsisten dengan perkembangan karakter serta hubungan Rian dan Indah.

---

Rian menatap cincin emas di jari manisnya.

Senyum tipis muncul di wajahnya.

"Cincin yang kupakai ini adalah artefak tingkat Epic."

"Selain memiliki ruang penyimpanan yang luas, ada satu kemampuan yang membuatnya sangat berharga."

Rian mengangkat tangan kirinya.

"Biasanya, waktu di dalam cincin spasial tetap berjalan. Makanan yang disimpan akan membusuk, air bisa menguap, dan bahan obat perlahan kehilangan khasiatnya."

"Tapi cincin ini berbeda."

"Waktu di dalamnya berhenti sepenuhnya."

Tatapan Rian menjadi semakin dalam.

Di dunia kiamat, kemampuan seperti itu hampir tidak ternilai harganya.

"Aku tidak tahu kenapa ular peringkat legenda bisa muncul di alam bawah."

"Makhluk seperti itu seharusnya hidup di alam yang jauh lebih tinggi."

"Tapi apa pun alasannya, sekarang semua ini menjadi milikku."

Setelah memastikan seluruh harta telah tersimpan, Rian berbalik dan meninggalkan mulut ular raksasa itu.

---

Di luar bangkai ular.

Indah duduk di bawah pohon sambil menunggu.

Awalnya ia masih tenang.

Namun semakin lama waktu berlalu, semakin gelisah perasaannya.

"Kenapa lama sekali..."

"Apa terjadi sesuatu di dalam sana?"

Indah berdiri dan menatap mulut ular yang gelap.

Sesaat ia bahkan berpikir untuk masuk.

Tepat saat itu, sebuah bayangan muncul dari dalam kegelapan.

Mata Indah langsung berbinar.

"Rian!"

Ia berlari menghampiri.

Namun saat sudah dekat, ia tiba-tiba menghentikan langkahnya.

Baru sekarang ia sadar dirinya terlalu khawatir.

Rian tertawa kecil.

"Kenapa?"

"Tadi terlihat seperti mau masuk menyelamatkanku."

Wajah Indah sedikit memerah.

"Aku hanya takut kamu kenapa-kenapa."

"Oh?"

Rian mengangkat alis.

"Padahal baru ditinggal sebentar."

Indah langsung memukul lengannya pelan.

"Berhenti mengejek."

Melihat reaksinya, Rian hanya tersenyum.

---

"Ngomong-ngomong."

"Aku menemukan sesuatu."

Cahaya lembut muncul dari cincin di jari Rian.

Lima senjata perlahan melayang keluar.

Tiga pedang.

Dua pisau.

Semuanya memancarkan aura yang berbeda.

Mata Indah membelalak.

"Itu..."

"Semua dari dalam ular tadi?"

Rian mengangguk.

"Pilih satu."

Indah memperhatikan kelima senjata itu.

Ada pedang beratribut api.

Pedang es.

Pedang tumbuhan.

Serta dua pisau dengan aura yang berbeda.

Pada akhirnya pandangannya berhenti pada pedang berwarna biru muda.

Saat tangannya menyentuh gagang pedang itu, hawa dingin langsung menyebar ke sekeliling.

Pedang tersebut bergetar pelan.

Seolah menyambut pemilik barunya.

"Indah sekali..."

Indah tersenyum kagum.

Ia mencoba mengayunkannya perlahan.

Whoosh!

Udara dingin langsung menyapu area sekitar.

Lapisan es tipis terbentuk di tanah.

Mata Indah membesar.

Namun sebelum sempat berkata apa-apa, wajahnya mendadak pucat.

Tubuhnya kehilangan keseimbangan.

"Eh...?"

Rian bergerak cepat dan menahan tubuhnya.

"Kau menghabiskan terlalu banyak energi."

Pedang itu jelas bukan senjata yang bisa digunakan sembarangan oleh pemula.

Indah mengangguk lemah sebelum akhirnya tertidur karena kelelahan.

Rian menyandarkannya ke pohon.

"Benar-benar ceroboh."

Meski berkata demikian, ia tetap berjaga di dekatnya.

---

Tiga jam kemudian.

Cahaya teleportasi kembali muncul.

Rian perlahan membuka mata.

Ia langsung menghitung jumlah orang yang berhasil bertahan hidup.

"Satu... dua... tiga..."

"Hanya sepuluh orang."

Tatapannya menjadi serius.

Jumlah ini jauh lebih sedikit dibanding yang ia harapkan.

Bruk!

Tiba-tiba seseorang jatuh berlutut.

Itu adalah Xuan Long.

Wajahnya pucat dan napasnya tidak teratur.

Pak Kim segera menghampiri.

"Xuan Long, kamu baik-baik saja?"

"Aku masih hidup, Pak."

Xuan Long tersenyum lemah.

Lalu ia mengeluarkan sebuah kristal hitam dari sakunya.

Di dalam kristal itu terlihat bayangan seekor ular kecil.

"Aku mendapatkannya di dungeon."

"Nyaris mati sebelum berhasil mengambilnya."

Rian langsung mengenali benda tersebut.

Kristal Roh.

Dan roh yang tersegel di dalamnya bukan roh biasa.

"Itu Roh Ular Air Hitam..."

gumam Rian dalam hati.

Xuan Long melanjutkan ceritanya.

"Aku dikejar monster."

"Lalu melompat ke jurang."

"Di dasar jurang itulah aku menemukan benda ini."

Cahaya hitam samar keluar dari kristal.

Luka-luka di tubuhnya mulai pulih perlahan.

Long Zheng yang melihat itu langsung tertawa.

"Itu karena kau belum menyatu dengannya."

Xuan Long menoleh.

"Menyatu?"

Long Zheng mengangkat tangan kirinya.

Bulu-bulu hitam muncul di lengannya.

Dalam hitungan detik, sebagian lengannya berubah menyerupai sayap burung.

Semua orang langsung terkejut.

"Mustahil..."

"Dia sudah menyatu dengan roh itu?"

Long Zheng tersenyum bangga.

"Begitulah."

"Kalau berhasil menyatu, kemampuan roh akan keluar lebih sempurna."

Rian diam-diam mengamati semuanya.

Di kehidupan sebelumnya, hanya Budi yang memperoleh Kristal Roh.

Namun sekarang semuanya berubah.

Butterfly effect mulai menunjukkan pengaruhnya.

Tak lama kemudian Andreas mengeluarkan Kristal Roh Ular Api.

Budi menunjukkan Kristal Roh Harimau Api.

Sementara Long Zheng memiliki Roh Burung Angin.

Satu per satu mereka menjelaskan bagaimana memperoleh keberuntungan masing-masing.

Pada akhirnya semua mata tertuju pada Rian.

"Kalau kamu bagaimana?"

tanya Budi.

Rian tersenyum.

Ia mengangkat telapak tangannya.

Gumpalan cahaya hijau perlahan muncul.

Aura yang dipancarkannya jauh lebih murni dibanding Kristal Roh biasa.

Xuan Long langsung membelalakkan mata.

"Itu berbeda."

"Kenapa tidak berbentuk kristal?"

Long Zheng juga ikut mengamati.

"Lihat auranya."

"Aku yakin levelnya jauh di atas milik kita."

Sebelum mereka sempat bertanya lebih jauh, Budi tiba-tiba menunjuk ke arah lain.

"Tunggu dulu."

"Bukankah ada sesuatu yang lebih menarik?"

Semua orang mengikuti arah jarinya.

Dan langsung terdiam.

Indah masih tertidur.

Kepalanya bersandar di bahu Rian.

Suasana langsung menjadi aneh.

Andreas menyeringai.

"Aku tidak menyangka perkembanganmu secepat ini."

Long Zheng mengangguk serius.

"Benar."

"Ini bahkan lebih mengejutkan daripada roh milikmu."

Rian hampir tersedak.

"Kalian salah paham."

Namun tidak ada seorang pun yang terlihat percaya.

Tepat saat itu, Indah perlahan membuka mata.

"Hmm..."

Ia mengucek matanya dengan bingung.

Lalu melihat Rian.

"Terima kasih."

"Kalau bukan karena pedang yang kamu berikan, aku mungkin tidak akan bisa bertahan."

Seketika suasana menjadi semakin sunyi.

Kemudian seluruh ruangan meledak oleh tatapan aneh.

Rian memejamkan mata.

Selesai sudah.

Tidak ada lagi yang bisa ia jelaskan.

Karena semakin dijelaskan, semuanya justru akan terdengar lebih mencurigakan.

1
Yofu
pendek banget babnya
Alu feed: tapi bagusan di panjangin apa nggak kak , kasih aku saran 😁
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!