Setelah menikah selama tujuh tahun, Edward tetap saja begitu dingin, Clara hanya bisa menghadapinya dengan tersenyum. Semua karena dia sangat mencintainya. Dia juga percaya suatu hari nanti, dia bisa melelehkan es di dalam hatinya. Akan tetapi pada akhirnya Edward malah jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap cewek lain. Clara tetap bersikeras menjaga rumah tangganya. Hingga di hari ulang tahunnya, putrinya yang baru saja pulang dari luar negeri, dibawa oleh Edward untuk menemani cewek itu, meninggalkannya sendirian di rumah kosong. Dia akhirnya putus asa. Melihat putri yang dibesarkannya sendiri akan menjadi anak dari cewek lain, Clara tidak merasa sedih lagi. Dia menyiapkan surat cerai, menyerahkan hak asuh anaknya, dan pergi dengan gagah, tidak pernah menanyakan kabar Edward dan anaknya lagi, hanya menunggu proses perceraian selesai. Dia menyerah atas rumah tangganya, kembal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saskiah Khairani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Sekitar jam 9 malam, Edward dan putrinya pun pulang. Elsa memegang ujung pakaian Edward, dan turun dari mobil dengan perlahan.
Karena ibunya ada di rumah, malam ini dia sebenarnya tidak mau pulang.
Tapi Tante Vanesa bilang ibunya itu pulang secara khusus untuk menemani dia dan ayahnya, jadi kalau mereka tidak pulang, ibunya bisa sedih.
Ayah bilang kalau malam ini mereka tidak pulang, besok ibunya pasti akan ikut mereka ke pantai.
Jadi dia terpaksa setuju pulang.
Tapi dia tetap khawatir, dan bertanya dengan sedih.
"Ayah, gimana kalau ibu besok memaksa mau ikut kita keluar?"
"Nggak akan." Edward menjawab dengan yakin.
Selama menikah, Clara memang selalu ingin mendekatinya.
Tapi dia masih paham situasi, asalkan dia terlihat tidak senang, Clara langsung tidak akan berani membuatnya marah.
Dalam ingatannya Elsa, Clara selalu patuh pada Edward.
Kalau dia bilang tidak akan, berarti memang tidak akan.
Elsa akhirnya bisa tenang.
Suasana hatinya pun membaik, mukanya yang tadi cemberut langsung berubah, dia masuk sambil melompat riang, dan mengatakan pada bibi sari bahwa dia mau mandi .
"Oke deh." Bibi sari langsung menjawab. Tiba-tiba dia teringat perkataan Clara, dan memberikan amplop itu pada Edward.
"Pak Edward, Bu Clara suruh aku berikan ini pada Anda."
Edward menerimanya, lalu bertanya. "Di mana dia?"
"Emm... Sore tadi Bu Clara beresin barang dan sudah pulang ke Negeri marola, Anda nggak tahu?"
Edward yang barusan mau beranjak ke lantai atas langsung tertegun, lalu menoleh.
"Pulang?"
"Iyaa."
Bahkan, Edward belum sempat mendengar alasan kenapa Clara mendadak datang ke negara Latvin.
Tapi dia tidak peduli. Setelah tahu Clara sudah pulang, dia tidak memedulikannya.
Elsa hanya agak terkejut.
Saat mendengarnya, hatinya agak kecewa.
Awalnya dia mengira, kalau ibunya besok tidak ikut dia dan ayahnya bermain di pantai, malamnya dia bisa di temani ibunya, rasanya lumayan juga.
Apalagi, saat memoles kulit kerang tangan nya pasti sakit, jadi dia ingin minta ibunya bantu dia selesaikan!
Edward dan Clara sudah beberapa bulan tidak ketemu, Clara akhirnya ada waktu untuk datang, tapi dia bahkan tidak bertemu Edward sama sekali, jadi teringat wajah Clara tampak muram saat dia beranjak pergi, bibi sari tidak tahan dan mengingatkan.
"Pak Edward, saat Bu Clara pergi, raut wajahnya nggak bagus, sepertinya dia marah."
Sebelumnya bibi sari mengira bahwa Clara ada urusan mendadak makanya mendadak pulang.
Tapi sekarang setelah tahu Edward sama sekali tidak tahu Clara sudah pulang, dia baru menyadari ada yang tidak beres.
"Marah?"
Di depan Edward, clara selalu terlihat baik dan toleran.
Ternyata dia juga bisa marah? Ini menarik.
Edward tersenyum acuh tak acuh, lalu dengan tenang menjawab bibi sari dan naik ke lantai atas.
Ketika kembali ke kamarnya, dia hendak membuka amplop pemberian Clara, tapi, Vanesa tiba-tiba meneleponnya Edward pun mengangkat telpon, melempar amplop itu dengan asal-asalan lalu keluar dari rumah.
Beberapa saat kemudian, amplop itu jatuh dari tempat tidur ke lantai.
Pada malam itu, Edward tidak pulang ke rumah.
Keesokan harinya, bibi sari naik ke atas untuk bersih-bersih, tapi dia melihat amplop di lantai, dan sadar bahwa itu adalah amplop yang ingin diberikan Clara pada Edward.
Dia mengira Edward sudah melihatnya, jadi dia simpan amplop itu di dalam laci.
Setelah turun dari pesawat dan tiba di rumah, dia langsung pergi ke lantai atas untuk membereskan barangnya.
Karena sudah 6 tahun bersama, di kamar ini ada banyak barang miliknya.
Tapi dia hanya membawa pergi beberapa helai baju, dia set kebutuhan sehari-hari dan beberapa buku profesional.
Setelah nikah, setiap bulan Edward akan memberi biaya hidup untuk dia dan anaknya.
Keduanya terbagi menjadi dua kartu. satu miliknya, dan satu lagi milik anaknya.
Tapi Clara biasanya selalu pakai uangnya sendiri untuk membeli kebutuhan sehari-hari.
Jadi kartu anaknya tidak terpakai sama sekali.
Bahkan, karena cintanya pada Edward, setiap berbelanja dan melihat baju, sepatu, kancing manset, dasi, dan sebagainya. dia selalu tidak tahan dan membelinya.
Sementara dirinya sendiri, Karena pekerjaannya, pengeluarannya tidaklah tinggi, apalagi dia sangat menyayangi suami dan anaknya, ingin memberikan yang terbaik untuk mereka. jadi, biaya hidup yang diberikan Edward, sebagian besar dipakai untuk membeli barang suami dan anaknya.
Oleh karena itu, sisa uang di dalam kartu itu seharusnya sudah tidak banyak lagi.
Tapi, dalam satu tahun ini, karena anaknya ikut ke negara latvin bersama Edward, dia jadi jalan beli barang untuk mereka.
Menjadi dalam kartu ini masih ada sisa 6 jutaan.
Uang gini bukanlah apa-apa bagi Edward, tapi baginya itu bukan uang kecil.
Karena itu memang miliknya, Clara tidak segan lagi, dia langsung mengambil uang itu.
Kemudian, dia meninggalkan kaku itu dan pergi sambil menarik kopernya, sama sekali tidak menoleh lagi.
Dia punya sebuah rumah di dekat perusahaan tempatnya bekerja.
Memang tidak besar, lebih dari 100 meter persegi.
4 tahun lalu, dia membeli rumah ini demi membantu karir temannya yang kabur dari rumah, tapi tempat ini tidak pernah dia tinggali.
Sekarang airnya bisa terpakai.
Sebelumnya rumah ini selalu dibersihkan orang setiap waktu tertentu. jadi tidak kotor, bisa ditinggali setelah dibersihkan sedikit.
Setelah seharian capek, pada pukul 10.00 malam, selesai mandi Clara pun istirahat di kamar.
"Ting ting, Ting Ting, ting ting ---"
Sebuah suara yang keras terdengar membangunkan clara dari tidurnya.
Karena mendadak terbangun, Clara agak melamun.
Setelah kesadarannya memulih, dia baru teringat muncul jam 01.00 malam, ya itu sekitar jam 07.00 pagi di negara Latvin tempat Edward dan anaknya berada.
Edward dan anaknya biasanya sarapan di jam ini.
Sejak putrinya ikut Edward ke negara latvin, dia selalu menelepon putrinya dijam ini.
Hanya saja, biasanya dia kelelahan udah kerja jadi terbiasa tidur cepat, tapi karena takut melewatkan waktu untuk mengobrol dengan putrinya, jadi dia mengatur alarm ini.
Saat awal ikut Edward ke negara Latvin, putrinya tidak terbiasa dan sangat merindukannya, bahkan sering menelponnya.
Tapi seiringnya waktu berlalu, setiap kali ditelepon fotonya yang awalnya rindu padanya berubah menjadi tidak sabar.
Alarm ini pun, sebenarnya sudah tidak diperlukan sejak awal.
Tapi dia sendiri yang tidak rela. Setelah memikirkan ini Clara tersenyum getir.
Setelah memikirkan beberapa saat, Clara menghapus alarm ini mematikan ponsel dan tidur.
Di sisi lain, Edward dan Elsa hampir selesai. Meski Edward tahu bahwa setiap hari Clara selalu telepon anaknya, dia juga jarang berada di rumah jadi tidak begitu peduli.
Hari ini dia sadar Clara tidak menelepon. tapi, dia tidak peduli setelah sarapan dia naik ke lantai atas untuk mengganti baju.
Sementara Elsa merasa lara semakin ribut, jadi dia makin membenci mendengar teleponnya.
Jadi saat melihat Clara tidak meneleponnya sampai sekarang, dia merasa mungkin kakak sedang ada urusan.
Dia memutar bola matanya, mengambil tasnya dan berlari keluar.
Bibi sari yang melihatnya, langsung mengejarnya. "Nona Elsa, ini masih pagi perginya agak siang pun masih sempat kok."
Elsa tidak mau mendengar, langsung berlari menuju mobil dengan riang.
Enak saja, jarang-jarang ibu hari ini ada urusannya tidak menelepon.
Kalau dia tidak segera keluar, nanti kalau ibunya telepon dia pasti harus mengobrol dengannya lagi, dia tentu tidak mau.
.......
Setelah nikah, Clara pun mulai bekerja di anggasta Group.
Dulu dia masuk ke anggasta Group juga demi Edward.
Tapi sekarang dia sudah mau cerai, tidak perlu lanjut bekerja di anggasta Group lagi.
Keesokan paginya, begitu tiba di kantor lara langsung memberikan surat pengunduran diri pada farel Timothy.