NovelToon NovelToon
Sistem Istri Ideal Untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek

Sistem Istri Ideal Untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Bagaimana kalau istri kedua yang diracun… justru mendapat sistem yang membuatnya mustahil diinjak lagi?

Sumarni seharusnya mati sebagai istri kedua yang bodoh, penurut, dan tak pernah dianggap ada.

Namun, setelah Ratna Dewi, seorang editor dari tahun 2026 bereinkarnasi ke tubuhnya, semuanya berubah.

Dengan bantuan Sistem Istri Ideal, Sumarni bisa mendapatkan poin dari setiap penghinaan yang berhasil ia balas dengan elegan.

Poin itu bisa ditukar dengan skill, informasi masa depan, bahkan antidot racun.

Sedikit demi sedikit, Sumarni merebut perhatian, uang, koneksi, bahkan hati pria yang dulu tak pernah melihatnya.

Tapi semakin ia bersinar, semakin berbahaya permainan yang harus ia hadapi.

Karena di rumah itu… hanya ada satu perempuan yang boleh menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Obsesi Ringan

Aroma debu tebal dan kayu jati lembap langsung menyergap penciuman Sumarni. Udara di dalam gudang belakang paviliun itu terasa sangat pengap.

Ia mendorong pintu kayu besar itu dengan kedua telapak tangannya. Engsel besi yang berkarat menjerit nyaring dan memecah kesunyian pagi.

Rasa pening sisa penukaran poin semalam masih berdenyut pelan di pelipisnya. Namun, jemari tangannya terasa gatal. Ada energi asing yang mendesak untuk segera disalurkan.

Memori tentang pola batik klasik dan racikan pewarna alami berputar tajam di kepalanya.

"Nyonya Marni, semua barang pesanan Tuan Harjono sudah kami bawa."

Suara berat seorang pekerja pabrik membuyarkan fokus Sumarni. Dua pria berbadan tegap melangkah masuk membawa gulungan kain mori putih bersih.

Mereka meletakkan kompor minyak kecil, wajan tembaga seukuran telapak tangan, dan sekotak malam batik yang sudah padat.

"Terima kasih, Pak," jawab Sumarni ramah.

Ia mengusap permukaan kain mori itu perlahan. Tekstur serat katunnya terasa dingin dan kasar di ujung jari.

Setelah para pekerja pergi, gudang itu kembali sunyi. Sumarni segera mengunci pintu kayu dari dalam. Ia tidak ingin mata-mata Sulastri mencuri pandang ke tempat ini.

Sumarni mendengar suara langkah kaki mengendap-endap di luar jendela gudang. Bayangan tubuh Ningsih terlihat samar dari celah papan kayu.

Pelayan setia Sulastri itu pasti sedang mencari celah untuk melaporkan kegiatannya. Sumarni tersenyum dingin.

Ia sengaja menggeser meja kayu agar menghalangi sudut pandang dari celah jendela tersebut. Terdengar gerutuan pelan dari luar, disusul langkah kaki yang menjauh.

Layar transparan berkedip di depan wajah Sumarni.

[Sistem Istri Ideal Era Aktif.]

[Status: Aman dari pantauan musuh.]

[Saran Sistem: Mulailah memanaskan malam batik. Suhu ideal adalah tujuh puluh derajat Celcius.]

Sumarni menyalakan korek api kayu. Bau belerang yang menyengat segera tergantikan oleh aroma minyak tanah yang terbakar. Api biru kecil menjilat dasar wajan tembaga.

Ia memasukkan bongkahan malam ke dalam wajan. Bongkahan padat itu meleleh menjadi cairan cokelat keemasan. Aroma harum lilin lebah, getah pinus, dan kendal menguar memenuhi ruangan.

Sumarni mengambil sebuah canting kuningan berukir dari dalam kotak kayu peninggalan Almarhum ibu Harjono. Gagang kayunya terasa pas dan hangat di genggaman.

Berbekal insting dari masa depan dan memori sistem, ia mulai menorehkan cairan malam ke atas kain mori putih. Tetesan malam panas itu meluncur mulus dari cucuk canting.

Sumarni tidak menggambar pola motif Parang atau Kawung biasa. Otak editornya bekerja cepat meramu desain yang elegan dan eksklusif.

Ia menggabungkan motif truntum klasik dengan siluet bunga malam yang mekar sempurna. Polanya rapat dan rumit. Desain ini memancarkan kesan mewah yang tidak tertandingi oleh batik cap buatan pabrik mana pun.

Keringat mulai menetes dari dahi Sumarni. Hawa panas dari kompor kecil membuat lehernya terasa lengket.

Ia menggigit bibir bawahnya keras-keras hingga terasa kebas. Matanya menatap tajam ke arah wajan tembaga.

"Ini bukan sekadar kain," gumam Sumarni lirih. "Ini adalah tiket kebebasanku. Merek ini akan bernama Sekar Malam."

Tok, tok, tok!

Ketukan berat di pintu gudang membuat bahu Sumarni tersentak. Ia buru-buru meletakkan canting di atas tatakan.

"Siapa?" tanya Sumarni sambil menahan napas.

"Ini aku, Marni."

Suara bariton Harjono membuat Sumarni sedikit mengendurkan rahangnya. Ia membuka kunci selot besi dan menarik pintu ke dalam.

Harjono berdiri di ambang pintu mengenakan kemeja safari rapi. Pria itu bersiap berangkat ke pabrik rokok miliknya. Aroma tajam tembakau cengkeh dan minyak rambut lidah buaya langsung menyapa indra penciuman Sumarni.

Mata elang Harjono menelusuri ruangan gudang yang kini tertata rapi. Pandangannya berhenti pada wajan tembaga yang mengepulkan asap tipis.

"Kamu benar-benar serius dengan hobi ini," kata Harjono datar. Namun, ujung matanya memperhatikan lekuk motif di atas meja.

"Hanya untuk mengisi waktu luang, Mas," jawab Sumarni merendah. Ia sengaja menundukkan pandangan untuk mempertahankan peran istri penurut.

Harjono melangkah masuk dan mengabaikan debu yang menempel di sepatu kulit mahalnya. Pria itu mendekati meja kayu tempat kain mori terbentang.

Jari besar Harjono terulur, nyaris menyentuh pola malam yang belum sepenuhnya kering.

"Hati-hati, Mas. Malamnya masih panas," cegah Sumarni cepat.

Tangannya tanpa sengaja menggenggam jemari Harjono. Kulit mereka bersentuhan langsung. Sumarni bisa merasakan telapak tangan Harjono yang kasar dan tebal.

Harjono terdiam menatap tangan mungil istrinya yang menahan lengannya. Detak jantung Sumarni berpacu saat Harjono tidak kunjung menarik tangannya. Suhu udara di gudang itu mendadak terasa lebih panas.

Harjono menatap leher Sumarni yang mengkilap oleh keringat. Pria itu menelan ludah, merasakan tenggorokannya mendadak kering.

"Motif yang aneh," komentar Harjono. Ia melepaskan tangan Sumarni dengan gerakan lambat. "Aku belum pernah melihat pola seperti ini di pasar Beringharjo."

"Ini desain buatan saya sendiri, Mas," jawab Sumarni tenang. Ia menata kembali napasnya. "Saya harap Mas Harjono tidak keberatan."

Harjono mendengus pelan. Pria itu merogoh saku kemeja safarinya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal. Ia meletakkan amplop itu di atas meja kayu dengan suara berdebuk pelan.

"Gunakan ini untuk membeli bahan pewarna atau apa pun yang kamu butuhkan," kata Harjono tegas. "Anggap saja ini modal awal. Istri dari Harjono tidak boleh memakai bahan murahan."

Sumarni tertegun menatap amplop itu. Ketebalannya melebihi uang belanja bulanan yang biasa ia terima dari tangan Sulastri.

"Mas, ini terlalu banyak," ucap Sumarni dengan suara dibuat ragu.

"Ambil saja," potong Harjono cepat. "Pastikan Dimas tidak menghirup asap malam ini. Jaga kesehatanmu juga."

Tanpa menunggu jawaban, Harjono membalikkan badan dan melangkah keluar. Namun, sebelum melewati pintu, ia menoleh sekilas.

"Pola bunga itu, terlihat indah, Marni."

Setelah sosok tegap Harjono menghilang di balik pintu, layar sistem kembali menyala terang.

[Target pria menunjukkan tanda investasi finansial dan obsesi ringan.]

[Perolehan Poin: 200 Poin.]

Sumarni menggenggam amplop cokelat itu erat-erat. Ujung kuku jarinya memutih saking kuatnya ia menekan kertas tersebut. Dadanya bergemuruh oleh rasa puas. Modal pertamanya sudah turun.

Sepanjang siang hingga sore hari, Sumarni mengurung diri di dalam gudang. Ia mencelup kain mori itu ke dalam campuran pewarna alami dari ekstrak kulit manggis dan daun tarum.

Tangannya kebas karena terus-menerus memeras kain di dalam ember kayu. Bau asam dan tanah basah mendominasi udara. Otot punggungnya terasa kaku, tetapi Sumarni menolak untuk berhenti.

Menjelang Magrib, lembaran kain batik pertama bermotif Sekar Malam akhirnya selesai. Warna biru gelap berpadu dengan cokelat kemerahan menciptakan gradasi tajam. Motif truntum dan bunga malam tampak mencolok di atas kain.

Sumarni mengusap kain basah itu dengan napas memburu. Kualitasnya jauh melampaui standar pabrik di kota ini.

Namun, ia butuh pembeli elit yang punya uang dan bisa tutup mulut. Ia harus menjualnya tanpa tercium oleh Sulastri.

Tepat saat matahari tenggelam, notifikasi merah dari sistem mendadak berkedip dengan suara peringatan berdenging.

[Misi Baru Terbuka!]

[Target: Istri Walikota akan mengadakan acara arisan tertutup besok siang.]

[Tugas: Susupkan kain Sekar Malam ke dalam acara tersebut dan dapatkan pesanan pertama.]

[Hadiah Keberhasilan: 1000 Poin dan Skill Negosiasi Tingkat Tinggi.]

[Penalti Kegagalan: Identitas bisnis Anda terbongkar total oleh pihak Sulastri.]

Sumarni merasakan hawa dingin seketika merayap naik dari ujung kakinya ke tengkuk. Jantungnya berdetak keras memukul tulang rusuk.

Menyusup ke arisan istri Walikota bukan perkara mudah bagi seorang istri kedua. Jika ia meleset sedikit saja, Sulastri akan menggunakan kesempatan ini untuk menghancurkannya kembali.

1
𝐀⃝🥀Weny
cemburu ni ye😂
sukensri hardiati
untuk ukuran pengusaha harjono ni sukses....untuk ukuran suami..?...payaaah...
sukensri hardiati
harjono ni pengusaha batik sekaligus rokok ya....?
𝐀⃝🥀Weny
perlahan² harjono mulai menyukai Sumarni😁 lanjut lagi thor
gina altira
lanjutt
gina altira
Diracun lagiii
Titi Liana
menarik
gina altira
Wah Sulastri bikin fitnah kayaknya
gina altira
hati" Sumarni
gina altira
Lanjuttt thorrr
𝐀⃝🥀Weny
lanjut thor
Anne Soraya
lanjut
Dwi Agustina
Semangat semangat💪💪💪
gina altira
seruu, ceritanya berbeda nih ada sistem nya
𝐀⃝🥀Weny
lanjut up thor
𝐀⃝🥀Weny
tambah up lagi thor😂
irena
harusnya emasnya nanti tersimpan di tasnya Sulastri.. pas saat menuduh si Marni jadi senjata makan tuan.. klo perlu pas ada suaminya.. supaya kelakuan Sulastri ketahuan selama ini suka menindas
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
gina altira
ada" aja
gina altira
Harjono begoo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!