Selama sepuluh tahun, Nana tumbuh sebagai manusia di desa nelayan — tanpa tahu bahwa dirinya adalah putri mahkota kerajaan Siren Aequoria. Setiap malam, ia mendengar lagu misterius dari dasar laut, memanggilnya dengan nama.
Jeno, Siren penjaga perairan selatan, telah mengawasinya sejak bayi. Tugasnya sederhana: lindungi Nana sampai waktunya kembali. Tapi sepuluh tahun mengamati dari kejauhan membuatnya jatuh cinta pada lagu dalam darah Nana — dan pada Nana sendiri.
Ketika Nana berubah menjadi Siren untuk pertama kalinya, tak ada jalan kembali. Ia harus belajar mengendalikan kekuatannya, menghadapi bibinya yang merebut takhta, dan memilih antara dunia yang ia kenal — atau cinta yang selama ini menunggu di dasar laut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keivanya Huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Serangan Fajar
Jeno belum sadar ketika fajar tiba.
Nana tidak tidur semalaman. Ia duduk di samping tempat tidur Jeno, menggenggam tangannya, sesekali membisikkan kata-kata yang tidak bisa ia ucapkan di siang hari.
"Kau keras kepala," bisiknya. "Aku suruh bangun, malah tambah nyenyak."
Tidak ada jawaban.
"Aku akan marah kalau kau tidur terus."
Masih tidak ada jawaban.
"Baik. Aku akan makan sup rumput lautmu sendirian."
Jari Jeno bergerak — sedikit. Seperti protes.
Nana tersenyum. "Aku tahu kau dengar."
Dari luar, terdengar suara teriakan.
Bukan teriakan kegirangan. Tapi teriakan peringatan.
Nana berdiri. Jantung Aequoria di dadanya berdenyut cepat — bukan takut, tapi waspada.
Zara masuk ke ruangan dengan wajah pucat.
"Yang Mulia, pasukan Kael kembali!"
"Apa? Tapi Kael sudah—"
"Bukan Kael. Pasukannya. Yang kemarin kau bebaskan dari sihir hitam... mereka kembali. Tapi tidak seperti kemarin. Mereka seperti... kesurupan."
Nana berenang ke luar istana.
Di gerbang kota, puluhan Siren — mantan pasukan bayangan Kael — berenang mondar-mandir dengan mata kosong. Mulut mereka bergerak-gerak, tapi tidak ada suara yang keluar. Tubuh mereka bergerak seperti boneka yang talinya ditarik seseorang.
"Apa yang terjadi pada mereka?" tanya Nana.
"Aku tidak tahu," jawab Zara. "Tadi malam mereka tidur nyenyak. Tiba-tiba pagi ini mereka bangun seperti ini."
Lira berenang mendekat. "Yang Mulia, ini sihir Palung Hitam. Tapi bukan Kael yang mengendalikan mereka. Kael sudah pergi ke Utara bersama Theron. Ini... ini sisa sihir yang tertinggal di tubuh mereka."
"Bisakah kita menyembuhkan mereka?"
"Aku tidak tahu. Tapi kalau kita tidak melakukan sesuatu, mereka akan menyerang. Bukan karena mereka ingin. Tapi karena sihir itu memaksa mereka."
Nana menatap para Siren yang kesurupan itu.
Mereka dulu adalah Siren biasa — nelayan, petani, perajin. Bukan tentara. Bukan pembunuh. Tapi sihir hitam mengubah mereka menjadi mesin perang.
"Jangan lukai mereka," kata Nana. "Mereka korban, bukan musuh."
"Tapi Yang Mulia—"
"Lumpuhkan saja. Jangan bunuh."
Pertempuran fajar itu aneh.
Para Siren Aequoria tidak menyerang dengan keras. Mereka hanya bertahan — memblokir serangan, menghindari tebasan, mencoba melumpuhkan lawan tanpa melukai parah.
Tapi para korban sihir hitam tidak kenal ampun. Mereka menyerang dengan brutal — menggigit, mencakar, menusuk dengan trisula yang tajam.
Beberapa Siren Aequoria terluka.
"Yang Mulia, kita tidak bisa terus begini!" teriak Lira. "Mereka akan membunuh kita!"
Nana menggigit bibirnya.
Ia tidak ingin melukai mereka. Tapi ia juga tidak bisa membiarkan rakyatnya mati.
"Coba panggil Jeno?" bisik Zara putus asa.
"Jeno masih tidur."
"Bangunkan dia!"
"Aku sudah coba. Dia tidak—"
Dari balik mereka, suara gemericik.
Bukan suara ombak. Tapi suara air bergerak — cepat, terarah, seperti seseorang yang berenang dengan kecepatan luar biasa.
Nana menoleh.
Jeno.
Ia keluar dari istana dengan mata masih sayu, rambut masih kusut, tapi trisula sudah di tangannya.
"Jeno?"
"Kau berisik," katanya. Suaranya serak — baru bangun tidur. "Aku tidak bisa tidur."
Nana hampir tertawa. "Kau sadar!"
"Aku sadar. Tapi kepalaku pusing. Dan ada yang berteriak-teriak minta tolong."
Ia menatap ke arah pertempuran.
"Oh," katanya. "Perang lagi?"
"Bukan perang. Pasukan Kael kesurupan."
"Sama saja."
Jeno menggerakkan bahunya — sedikit kaku, karena terlalu lama tidur.
"Kau istirahat," katanya pada Nana. "Aku yang urus."
"Kau baru bangun tidur—"
"Aku butuh gerak. Badanku pegel."
Dan tanpa menunggu jawaban, Jeno melesat ke medan pertempuran.
Jeno bertarung seperti mimpi.
Gerakannya tidak secepat biasanya — karena baru bangun tidur. Tapi setiap tebasan trisulanya tepat sasaran — melumpuhkan, bukan membunuh.
Satu Siren kesurupan terjatuh setelah kakinya dipukul dari samping.
Lainnya terjatuh setelah trisula Jeno menekan bagian belakang lehernya — tepat di titik saraf yang membuat Siren pingsan.
Dalam beberapa menit, lima Siren kesurupan sudah tergeletak di pasir — tidak mati, hanya pingsan.
Para Siren Aequoria bersorak.
"Kepala Penjaga bangun!"
"Jeno! Jeno! Jeno!"
Jeno tidak balas bersorak. Ia hanya berenang kembali ke sisi Nana, wajahnya masih sayu.
"Kepalaku pusing," keluhnya.
"Kau baru bangun," kata Nana. "Harusnya istirahat."
"Tadi kau yang teriak-teriak minta tolong."
"Aku tidak teriak-teriak. Aku hanya... berpikir keras."
Jeno tersenyum tipis. "Kalau kau berpikir keras, seluruh Aequoria bisa dengar."
Nana meninju bahunya pelan.
Tapi di dalam hati, ia lega.
Jeno bangun.
Jeno kembali.
Dan semuanya akan baik-baik saja.