NovelToon NovelToon
Asisten Tak Terduga

Asisten Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Romansa
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Abil_

"Menjadi asisten pribadi seorang CEO paling dingin di ibu kota bukanlah rencana awal hidupku."

Bagi Kenzo, perfeksionisme adalah segalanya. Baginya, asisten bukan sekadar pembantu, tapi mesin yang harus bekerja 24/7 tanpa celah. Namun, kedatangan asisten barunya yang "tak terduga" mulai mengacaukan ritme hidupnya yang kaku.

Ia tidak menyangka bahwa di balik kopi yang selalu pas suhunya dan jadwal yang tertata rapi, asistennya menyimpan rahasia besar yang bisa menjungkirbalikkan dunia bisnisnya. Setiap babak baru dalam hubungan mereka hanyalah awal dari lapisan misteri dan percikan rasa yang lebih dalam.

Akankah hubungan profesional ini tetap pada jalurnya, atau justru terjebak dalam permainan perasaan yang tak berujung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabut di Sarang Serigala

Perjalanan menuju kawasan Puncak, Bogor, siang itu terasa berbeda dari biasanya. Alih-alih pakai mobil mewah dengan pengawalan ketat, Kenzo milih buat nyetir sendiri mobil SUV hitam biasa yang kelihatan pasaran. Di sampingnya, Nabila duduk sambil sesekali ngeliat ke arah kaca spion, memastikan kalau emang nggak ada "ekor" yang ngikutin mereka sesuai perintah sang kakek.

Makin naik ke atas, jalanan makin berliku dan udara berubah jadi dingin. Kabut tebal khas pegunungan mulai turun, menyelimuti jalanan aspal seolah-olah mau menyembunyikan sesuatu yang misterius di depan sana. Jarak pandang pun jadi makin pendek, bikin suasana di dalam mobil kerasa makin intens.

Kenzo fokus nyetir dengan satu tangan di kemudi, sementara tangan kirinya terulur ke samping, nggenggam erat tangan Nabila yang terasa agak dingin.

"Takut, Bil?" tanya Kenzo tanpa nengok, suaranya kedengeran berat dan menenangkan di tengah kesunyian.

Nabila nengok ke arah suaminya, lalu menggeleng pelan sambil mempererat genggaman tangan mereka. "Nggak takut kalau ada kamu. Aku cuma ngerasa aneh aja, kenapa kakek kamu milih tempat terpencil kayak gini buat ketemuan. Kesannya kayak kita mau ketemu ketua mafia."

Kenzo senyum miring, senyuman sinis yang khas. "Bagi dunia bisnis, Wijaya Aditama itu emang mafia, Bil. Dia nggak bakal ragu buat ngehancurin siapa pun yang ngalangin jalannya, termasuk darah dagingnya sendiri kalau dianggap nggak becus. Tapi tenang aja, selama gue masih napas, nggak akan ada satu pun orang yang bisa nyentuh lo."

Kenzo ngangkat tangan Nabila, lalu ngecup punggung tangannya dengan lembut. Perlakuan manis di tengah suasana mencekam itu selalu berhasil bikin jantung Nabila marathon lagi.

Setelah dua jam menembus kabut dan jalanan berbatu yang makin menyempit, mobil akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang besi tua yang tertutup rapat. Di balik gerbang itu, berdiri sebuah vila megah berarsitektur kolonial Belanda kuno. Kesannya angker tapi mewah, dikelilingi oleh pohon-pohon pinus yang tinggi menjulang.

KLAK.

Gerbang besi itu terbuka sendiri secara otomatis tanpa ada penjaga yang kelihatan. Kenzo nginjek gas lagi, masuk ke halaman vila yang luas sampai berhenti tepat di depan pintu utama yang terbuat dari kayu jati tebal.

Begitu mesin mobil dimatikan, suasana langsung berubah jadi sepi senyap. Cuma ada suara angin yang berhembus kencang di antara pepohonan.

"Tetap di belakang gue, Bil," bisik Kenzo pas mereka berdua turun dari mobil. Dia langsung menarik Nabila ke dalam jangkauan lengannya, mode protektifnya langsung aktif seratus persen.

Pintu utama vila terbuka perlahan sebelum mereka sempat mengetuknya. Di balik pintu, berdiri seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi dan rambut yang udah memutih di pelipisnya. Pria itu menunduk hormat.

"Selamat datang, Tuan Muda Kenzo dan Nyonya Nabila. Saya Hadi, asisten pribadi Tuan Besar Wijaya. Beliau sudah menunggu Anda berdua di ruang dalam," ucap pria bernama Hadi itu dengan nada suara yang sangat sopan tapi datar tanpa ekspresi.

Kenzo nggak membalas sapaan itu. Dia cuma natap Hadi dengan pandangan mata yang dingin, lalu nuntun Nabila masuk melewati lorong-lorong vila yang dipenuhi oleh lukisan-lukisan tua keluarga Aditama.

Hadi menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu ganda berukiran emas. "Silakan masuk. Tuan Besar hanya ingin berbicara dengan Anda berdua."

Kenzo ngebuka pintu itu dengan mantap. Di dalam ruangan yang luas dengan perapian yang menyala hangat, duduk seorang pria tua di atas kursi roda mewah menghadap ke arah jendela luar. Meskipun rambutnya udah putih semua dan wajahnya dipenuhi kerutan, aura kepemimpinan dan kekuasaan dari pria tua itu masih kerasa sangat kuat dan mengintimidasi. Dia adalah Wijaya Aditama.

Mendengar suara pintu terbuka, kursi roda itu berputar pelan. Pria tua itu natap Kenzo dan Nabila bergantian, lalu sebuah senyuman tipis muncul di wajah keriputnya.

"Tepat waktu. Persis seperti ayahmu dulu," suara Wijaya terdengar serak tapi berwibawa, menggema di dalam ruangan yang sunyi itu. "Dan kamu... Nabila. Pilihan yang sangat berani dari seorang Kenzo. Anak dari pria yang pernah dituduh menghancurkan keluarga kita."

Kenzo melangkah maju satu langkah, menutupi sebagian tubuh Nabila di belakangnya. "Nggak usah banyak basa-basi, Kek. Gue datang ke sini bukan buat dengerin nostalgia masa lalu. Lo udah ngerusak malem pertama gue, bikin saham perusahaan gue turun, dan nyusup ke kamar pribadi gue. Sekarang, mau lo apa?"

Wijaya terkekeh pelan, sebuah tawa yang terdengar sangat dingin. "Mauku? Aku cuma mau memastikan kalau takhta Aditama Group tidak jatuh ke tangan orang yang lemah, Kenzo. Dan siaran pers palsu kemarin itu cuma pemanasan. Tantangan sesungguhnya baru saja dimulai."

Wijaya menekan sebuah tombol di kursi rodanya, dan seketika layar monitor besar di dinding ruangan menyala, nampilin sebuah grafik pergerakan dana asing skala raksasa yang masuk ke pasar saham Indonesia.

"Seseorang sedang mencoba membeli paksa seluruh saham Aditama Group dari bursa internasional malam ini menggunakan identitas gelap, Kenzo. Dan jika kamu tidak bisa menghentikannya dalam waktu dua puluh empat jam... besok pagi, kamu bukan lagi pemilik dari Aditama Group. Kamu akan kehilangan segalanya, termasuk istrimu yang cantik ini," ucap Wijaya dengan sorot mata yang penuh tantangan.

Kenzo langsung ngeras gerahamnya mengeras. Tua bangka ini bener-bener gak main-main dalam menguji dirinya. Permainan catur ini ternyata bukan cuma soal status, tapi soal kelangsungan hidup kerajaan bisnis yang udah dia bela mati-matian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!