NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Terjerat Gairah Liar Alter Ego Suamiku

Transmigrasi: Terjerat Gairah Liar Alter Ego Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: namice

"Dua sisi kegelapan, satu raga, dan satu candu yang mematikan: diriku."

​Zaviar, penguasa dingin yang sebelumnya mati rasa, mendadak meledak gairahnya saat Arumi—sang macan bar-bar yang bertransmigrasi ke tubuh istrinya antagonis—menghapus riasan badutnya.

Perubahan drastis ini tak hanya membangkitkan Zaviar, tapi juga monster di dalamnya: Varian.
​Varian, alter ego gelap, obsesif, dan haus gairah, bangkit tanpa kendali, matanya memancarkan kedalaman yang menakutkan dengan mata merahnya.

Terkunci di dalam sangkar emas kamar utama, Arumi terjebak dalam kecemburuan Calista istri kedua sekaligus pemeran utama wanita dan pusaran hukuman ganda: kelembutan menuntut Zaviar, dan keganasan tanpa lelah Varian. Keduanya menginginkannya dengan cara yang paling mengerikan.

Varian menyeringai gelap​, manik merahnya mengunci pergerakan arumi. "Kau membuat monster dalam diriku terbangun, Sayang. Bersiaplah untuk tidak bisa berjalan besok pagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Racun Cemburu dan Posesif Varian

Aumi melangkah keluar dari ruang rapat, mengabaikan tatapan tunduk penuh rasa hormat dari para karyawan yang ia lewati di koridor.

‎Udara siang kota J yang agak terik menerpa wajah Arumi begitu ia keluar dari lobi utama gedung Razetha Group. Ia berjalan santai menyeberangi zebra cross menuju sebuah kafe bergaya kolonial dengan dinding kaca besar bertuliskan The Heritage Glass. Suasana di dalam kafe itu cukup tenang, didominasi oleh alunan musik jazz instrumen yang lembut dan aroma biji kopi panggang yang menenangkan.

‎Begitu pintu kaca kafe itu berdering pelan karena dorongan tangan Arumi, sepasang mata dari sudut ruangan dekat jendela besar langsung terkunci pada sosoknya. Di sana, duduk dua orang yang sangat akrab di dalam memori raga ini.

Yang pertama adalah seorang pria muda berwajah tampan dengan senyuman hangat, mengenakan kemeja kasual berwarna biru muda yang lengannya digulung hingga ke siku. Dialah Gavin Pradipta, kekasih masa kecil Arumi asli yang baru saja menyelesaikan studi bisnisnya di London. Di sebelah Gavin, duduk seorang wanita muda berwajah modis dengan rambut pendek sebahu dan mata bulat yang memancarkan binar kecemasan. Wanita itu adalah Sherly, sahabat karib Arumi sejak bangku sekolah menengah yang selalu menyayangi dan membela Arumi, bahkan di saat seluruh dunia menghujat sifat manja Arumi dahulu.

"Arumi!" Sherly menjadi orang pertama yang melompat dari kursinya. Tanpa memedulikan tatapan pengunjung kafe lainnya, Sherly langsung berlari kecil dan memeluk tubuh Arumi dengan sangat erat.

"Astaga, Ru! Lu ke mana aja, sih?! Gue nyariin lu ke mansion kaku itu tapi diusir sama anjing-anjing pengawal suamimu!" cerocos Sherly, suaranya bergetar menahan tangis. Ia melepaskan pelukannya, memegang kedua bahu Arumi, lalu meneliti tubuh sahabatnya dari atas sampai bawah. "Lu kurusan ya? Muka lu... eh, kok muka lu bersih banget? Make-up badut lu mana? Tapi lu kagak diapa-apain kan sama si psikopat dingin itu?"

Arumi tersenyum kecil, merasakan kehangatan tulus yang mengalir dari sosok Sherly. Sifat bar-bar-nya mendadak melembut menghadapi sahabat yang begitu setia ini. "Gue aman, Sher. Santai aja, tulang gue masih utuh. Malah baru habis gue pakai buat ngehajar orang tadi."

Gavin berdiri dari kursinya, melangkah mendekat dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa bersalah sekaligus rindu yang mendalam. "Arumi... maafkan aku. Aku terlambat kembali. Harusnya aku tidak meninggalkanmu menikah dengan pria kejam itu."

"Duduk dulu, Gav, Sher. Pegal kaki gue kalau berdiri terus," ucap Arumi ceplas-ceplos, langsung melipir ke arah meja mereka dan menarik kursi kayu dengan santai.

Mereka bertiga duduk melingkari meja bundar kecil. Sherly langsung memesankan jus alpukat kesukaan Arumi dan secangkir kopi hitam untuk mereka. Suasana di antara mereka bertiga perlahan melambat, memicu atmosfer percakapan yang mendalam.

"Ru, cerita sama gue. Kenapa lu bisa dikurung di bawah tanah? Si Calista bermuka dua itu bikin ulah lagi, kan?" tanya Sherly dengan wajah berapi-api. Ia mengepalkan tangan kecilnya di atas meja. "Gue udah bilang dari dulu, si Calista itu rubah berbulu domba! Dia sengaja manfaatin kebodohan lu biar Tuan Muda Zaviar makin benci sama lu!"

"Ya, begitulah. Tapi tenang aja, Arumi yang lama udah mati di sel itu. Arumi yang sekarang kagak bakal bisa diinjek-injek lagi," jawab Arumi penuh arti sembari menyesap jus alpukat yang baru diantarkan pelayan.

Gavin menatap Arumi dengan intens, memperhatikan setiap lekuk wajah Arumi yang kini tanpa riasan tebal. Keindahan murni yang selama ini disembunyikan Arumi membuat jantung Gavin berdegup kencang. Namun, saat tatapan mata Gavin turun ke arah leher Arumi, fokus pria itu mendadak terhenti pada syal sutra merah marun yang melingkar di sana.

Angin dari pendingin ruangan kafe mendadak berembus agak kencang, membuat ujung syal sutra itu bergeser beberapa sentimeter, mengekspos bagian leher samping Arumi yang tidak tertutup sempurna oleh concealer.

Di sana, sebuah tanda bercak keunguan yang pekat terpampang dengan sangat jelas. Sebagai pria dewasa, Gavin tahu persis tanda apa itu. Itu adalah tanda kepemilikan, sebuah bekas gigitan dan hisapan yang intens yang hanya dibuat di atas ranjang penuh gairah.

Deg!

Wajah Gavin mendadak menegang kaku, tangannya yang memegang cangkir kopi bergetar kecil hingga air di dalamnya bergelombang. Rasa cemburu yang luar biasa panas bergolak di dalam dadanya, membakar seluruh akal sehatnya dalam sekejap.

"Arumi..." Suara Gavin mendadak berubah menjadi rendah dan bergetar menahan amarah. Matanya menunjuk ke arah leher Arumi. "Apa... apa itu?"

Sherly ikut menoleh ke arah pandangan Gavin. Begitu melihat tanda keunguan yang kontras di kulit putih pualam Arumi, Sherly langsung menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan, matanya membelalak syok. "Astaga, Ru... Si kaku Zaviar itu... dia memaksamu?!"

Arumi refleks menyentuh lehernya, memperbaiki posisi syal sutranya dengan wajah lempeng tanpa dosa. "Ah, ini? Biasa, semalam ada nyamuk gede banget yang kelaparan di kamar. Kagak usah dipikirin."

"Nyamuk?! Itu bekas gigitan pria, Arumi!" Gavin memotong dengan nada suara yang meninggi, membuat beberapa pengunjung kafe menoleh ke arah mereka. Gavin mencengkeram tepi meja dengan erat, matanya memerah karena terbakar api cemburu buta. "Zaviar... pria impoten yang katanya tidak menyentuh wanita mana pun itu, dia berani menjamahmu sekasar ini?!"

"Gavin, kecilin suara lu! Ini tempat umum!" tegur Sherly sambil menyenggol lengan Gavin, meskipun dirinya sendiri masih syok dengan fakta tersebut.

"Aku tidak bisa diam saja, Sherly!" Gavin berdiri dari kursinya, dadanya naik turun memburu karena amarah yang memuncak. "Arumi adalah milikku sejak awal! Zaviar membelinya dari keluarga Calista hanya karena perjanjian bisnis! Aku punya koneksi bisnis di London, aku bisa menghancurkan Ravindra Holdings! Aku bersumpah akan merebutmu kembali dari bajingan itu, Ru!"

Arumi mendongak, menatap Gavin dengan pandangan yang datar. Sifat bar-bar-nya merasa agak terganggu dengan drama kepemilikan ini. "Gav, duduk dulu. Lu mau ngelawan Zaviar? Lu pikir dia cuma pengusaha biasa? Dia itu penguasa distrik ini, bekingannya di mana-mana. Lu maju tanpa rencana sama aja bunuh diri."

"Aku tidak takut pada Zaviar yang dingin itu, Arumi! Aku rela mempertaruhkan segalanya demi kamu!" tegas Gavin dengan penuh keyakinan. Di dalam benaknya, Zaviar hanyalah pria kaku yang sakit-sakitan dan tidak memiliki gairah hidup. Gavin merasa kekuatan finansial dan fisiknya yang terlatih di klub tinju London lebih dari cukup untuk menumbangkan sang penguasa.

Arumi menghela napas panjang. Ia ingin menjelaskan bahwa musuh sesungguhnya yang harus ditakuti bukan Zaviar, melainkan alter ego pria itu, Varian. Zaviar yang dingin mungkin bisa dihadapi dengan logika bisnis atau kekuatan hukum, tetapi jika Varian—sang iblis penuh hasrat dan kejam—yang bangkit, maka seluruh kekuatan Gavin tidak akan ada artinya selain menjadi abu gosok di tangan pria itu.

Tiba-tiba, suasana di dalam kafe mendadak berubah drastis. Alunan musik jazz mendadak mati total, digantikan oleh keheningan yang mencekam. Suara obrolan dari pengunjung lain berangsur-angsur lenyap, menyisakan ketegangan instan yang merayap di udara.

Krieeek...

Pintu kaca kafe terbuka perlahan. Dua baris pria berjas hitam dengan tubuh tegap melangkah masuk terlebih dahulu, membuat barikade di sepanjang jalan masuk kafe menuju ke arah meja Arumi. Aura dominasi yang dibawa oleh kedatangan mereka begitu pekat, menekan atmosfer ruangan hingga ke titik paling nadir.

Di ujung barikade itu, melangkah masuk sesosok pria dengan postur tubuh yang luar biasa tinggi dan tegap. Ia mengenakan setelan jas formal hitam kustom tanpa dasi, dengan mantel panjang sewarna malam yang berkibar pelan mengikuti langkah kakinya yang konstan dan berat.

Pria itu adalah Zaviar Ravindra. Namun, ada yang salah dengan penampilannya siang ini.

Rambut hitamnya yang biasanya tersisir rapi bergaya klimis, kini tampak sedikit berantakan dan jatuh di dahi, memberikan impresi liar yang berbahaya. Kancing kemeja atasnya terbuka tiga buah, menampilkan otot dada atasnya yang kuat. Dan yang paling mengerikan adalah sepasang matanya. Manik mata merah pekat tidak lagi memancarkan kedataran dingin seperti es, melainkan telah melebar sempurna, merah menyala tanpa menyisakan bagian putih yang berarti. Sorot matanya memancarkan kegilaan, obsesi, dan kepemilikan yang murni merusak kewarasan.

Varian telah mengambil alih kesadaran raga itu sepenuhnya di siang hari bolong. Ia datang setelah mata-matanya melaporkan bahwa Arumi sedang bertemu dengan cinta masa kecilnya di kafe ini.

Deg!

Sherly yang duduk di sebelah Arumi

‎langsung gemetar hebat, seluruh tubuhnya mendadak kaku ketakutan hanya karena merasakan aura membunuh yang dipancarkan oleh pria yang baru masuk itu.

"A-Arumi... itu... suami lu..." bisik Sherly dengan suara yang hampir habis karena ketakutan.

Arumi menghentikan cangkir jusnya, matanya menyipit menatap kedatangan Varian. Sialan, nih monster kenapa bisa bangun siang-siang begini?! batin Arumi waspada, insting pesilatnya langsung membunyikan alarm bahaya tingkat tinggi.

Varian melangkah perlahan menuju meja mereka. Setiap ketukan pantofel mahalnya di atas lantai kayu terdengar seperti hitungan mundur menuju kematian. Tatapan matanya mengunci sepenuhnya pada sosok Arumi, sebelum akhirnya bergeser melirik ke arah Gavin yang masih berdiri dengan pose menantang.

Gavin yang awalnya berapi-api ingin menghancurkan Zaviar, mendadak merasakan seluruh pasokan oksigen di paru-parunya lenyap seketika begitu manik mata kegelapan milik Varian menatapnya. Gelombang tekanan mental, aura kekejaman murni, dan dominasi fisik dari Varian meremukkan seluruh nyali Gavin dalam hitungan detik.

‎Gavin mendadak merasa seperti seekor kelinci kecil yang sedang berhadapan langsung dengan seekor naga hitam raksasa yang siap menelannya hidup-hidup. Lutut Gavin bergetar halus, wajahnya yang semula memerah karena cemburu mendadak memucat seputih kertas. Ia kicep murni, membeku di tempat tanpa bisa mengeluarkan satu kata ancaman pun yang tadi ia banggakan di depan Arumi.

Varian berhenti tepat di depan meja mereka, mengabaikan Gavin sepenuhnya seolah pria muda itu hanyalah sebutir debu yang tidak berharga. Varian menundukkan tubuhnya, menumpu kedua tangan kekarnya di atas meja, mendekatkan wajah tampannya yang penuh kegilaan tepat di depan wajah Arumi.

"Pulang, Sayang," suara Varian terdengar begitu rendah, parau, dan sarat akan getaran gairah yang tertahan, mengirimkan sensasi dingin sekaligus mendebarkan ke sepanjang tulang belakang seisi kafe. "Atau aku harus menghancurkan tempat ini dan menyeretmu di depan teman-teman kecilmu ini, hm?"

Arumi menahan napasnya, mencoba mempertahankan wajah bar-bar-nya yang lempeng meskipun jarak mereka begitu dekat hingga ia bisa merasakan kehangatan tubuh Varian yang membara akibat racun cemburu buta.

"Zaviar—maksud gue Varian, lu jangan malu-maluin di tempat umum, ya! Gue lagi ngomongin bisnis mampir ke sini!"

Varian mengeluarkan tawa rendah yang terdengar begitu seksi sekaligus mengerikan. Jari tangannya yang kasar bergerak naik secara agresif, menarik syal sutra di leher Arumi dengan satu sentakan lembut namun bertenaga, memamerkan kembali tanda merah pekat buatan semalam ke hadapan Gavin dan Sherly.

"Bisnis?" Varian berbisik serak, jemarinya mengusap tanda memar kemerahan di leher Arumi dengan penuh kepemilikan, membuat tubuh Arumi refleks bergetar kecil karena sensitivitas kulitnya.

‎"Tubuhmu ini... masih penuh dengan tandaku, Sayang. Dan kau berani memamerkannya pada pria lain di siang hari?"

Varian mendongak, melirik Gavin dengan tatapan mata yang begitu dingin dan mematikan, membuat Gavin refleks mengambil satu langkah mundur karena ketakutan yang teramat sangat. Nyali Gavin benar-benar habis, ia membeku di tempat seperti patung lilin tanpa berani mengangkat wajahnya lagi.

Varian kembali menatap Arumi, lalu tanpa memberikan celah bagi wanita bar-bar itu untuk membantah, Varian melingkarkan tangan kanannya yang kokoh di sekeliling pinggang ramping Arumi, mengangkat tubuh wanita itu dalam satu sentakan dominan ke dalam dekapannya.

"Rapat bisnismu sudah selesai, Istriku. Sekarang... waktunya kau memberikan jatah siangku yang tertunda," bisik Varian penuh dengan nada posesif yang mutlak di balik rungu Arumi, sebelum akhirnya ia berbalik dan membawa Arumi keluar dari kafe dengan langkah dominan, meninggalkan keheningan yang mencekam dan keputusasaan yang mendalam di belakang mereka.

Contoh Visual

1
yuningsih titin
aku mampir kak... lanjutkan👍👍
namice: 😘😘😘, terimakasih banyak ya kak sudah mampir 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
Sulati Cus
kok bulu angsa🤔lbh bagus bulu rubah klu nggak bulu serigala biar keren😅
namice: 👍😁😁😁😘😘🌹🌹🌹
total 5 replies
arsyila putri
dek Calista 🤣
namice: 🤣🤣, terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
arsyila putri
ceritanya kereeen👍
namice: 😘😘😘, terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku dan suka😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
Rani Saraswaty
kebolak balik😄😄😄😄
Rani Saraswaty
namanya bikin pusing
namice: 🙏🙏🙏, maaf nanti aku revisi kembali
total 1 replies
Sulati Cus
😅ini sih di hajar habis2an namanya😅
namice: 🤣🤣.. terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
Rani Saraswaty
tunggu tunggu knp jd calista?
namice: iya kak namanya Arumi Razetha... maaf salah typo nanti aku revisi 🙏🙏
total 1 replies
Rani Saraswaty
namanya calista ato clarisa sih? ada 2 org ato 1 calis claris?
namice: Calista kak, maaf typo kak... nanti aku revisi kembali🙏🙏.. terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku 😘😘😘🌹🌹🌹
total 1 replies
Bela Viona
hihihi kok aku latah ya, baca ny mlh pke aksen betawi 🤭
namice: 🤣🤣... 😘😘😘 terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
Bela Viona
ok thor mampir dsini.
kek nya seru nih. aku juga sering uring² thor klo baca novel yg mc ny cinta buta + tulul.
namice: 😘😘😘, terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 2 replies
Noul
suka visualnya thor,, 😍😍
namice: 😘😘😘, terimakasih banyak ya kak... love you sekebon untukmu kak 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
Noul
hahaha langsung kicep tu mulut ,terpesona,,aku terpesonaaaa...🤣🤣
namice: 🤣🤣🤣, terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
Noul
awal yg bagus, lanjut thor 💪😍
namice: 😘😘😘, iya kak setiap hari aku update dan aku usahakan double update kak.. terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
CaH KangKung,
langsung bukti nyata....sat set.....gavin
namice: 😁😁, terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
aku
mantan lu rum, astaga omdong bgt 🤣🤣
namice: 😘😘💪💪.. terimakasih banyak supportnya kak😘😘😘
total 3 replies
aku
alamak klo arumi imyuuut mode bgni siapa yg gk klepek2??? 🤩🤩
namice: 😘😘😘, terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku 😘😘🌹🌹🌹🌹🌹😘
total 1 replies
CaH KangKung,
🫣🫣
namice: 😁😁😘😘, terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
CaH KangKung,
bar bar gini nie....mantappp
namice: 😁😁😘😘, terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
kenapa aku boleh rasa 🍯 itu
namice: 😘😘😘, terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!