NovelToon NovelToon
The Broken Lens

The Broken Lens

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:272
Nilai: 5
Nama Author: Vian's

Sinopsis: The Broken Lens

Bagi Savya, bidikan kamera analog dan kedamaian di Thalassa Coffee adalah pelarian terbaik dari masa lalu. Namun, dunianya yang tenang mendadak retak saat Katya kembali hadir—membawa intimidasi dan ancaman yang siap menghancurkan sisa hidupnya.

Di tengah kepungan panik yang nyaris membuat Savya runtuh, Valerius datang mengintervensi. Pria misterius itu hadir sebagai perisai yang tak tergoyahkan, siap pasang badan dan menjadi fokus baru yang menyatukan kembali kepingan hidup Savya.

Saat masa lalu menolak pergi, mampukah Savya bertahan? Ataukah lensa kehidupannya akan hancur sepenuhnya sebelum Valerius sempat mendekapnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vian's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22: Mencari Alasan pada Pintu Kaca

Matahari sore mulai condong ke barat, memayungi pertokoan dengan cahaya keemasan yang hangat. Di dalam Thalassa Coffee, alunan musik bossanova mengalun santai, menemani beberapa pelanggan yang sedang asyik dengan laptop mereka. Namun, ketenangan itu sama sekali tidak menular pada sang pemilik kedai.

Di balik meja bar, Savya sedang memegang botol sirup vanilla dengan pandangan kosong. Matanya lurus menatap pintu kaca depan kedai, seolah-olah pintu itu adalah objek paling menarik di dunia.

Ting!

Denting lonceng kuningan berbunyi saat seorang kurir paket mendorong pintu masuk. Bahu Savya yang sempat menegak seketika merosot turun begitu melihat siapa yang datang. Ia menghela napas pendek, lalu buru-buru menunduk untuk menyembunyikan kekecewaannya.

Tingkah laku itu tentu saja tidak luput dari pengamatan empat pasang mata di sudut lain bar. Sila menyenggol lengan Farel yang sedang menata cangkir. "Farel, ini sudah keterlaluan. Sedari siang tadi setelah jam makan siang selesai, mata Mbak Savya lengket terus ke pintu kaca. Kayak lagi nungguin tagihan bank."

Farel melirik sekilas, lalu menggelengkan kepala pasrah. "Bukan cuma memperhatikan kaca, Sila. Tadi dia salah memasukkan gula cair ke americano pesanan meja nomor empat. Untung belum sempat ku antar."

Arka yang baru muncul dari ruang penyimpanan sambil membawa sekotak tisu, langsung ikut nimbrung dengan wajah penuh kemenangan. "Wah, parah, parah! Mbak Bos kita resmi terserang penyakit 'Rindu Kronis'. Sedari siang kerjaannya cuma melirik pintu, padahal biasanya dia yang paling fokus."

Mika yang sedang memotong kue di dekat mereka ikut menghentikan pisaunya. Ia menoleh perlahan ke arah Savya, lalu menatap Arka dengan wajah polosnya. "Arka, menurutku Mbak Savya bukan sedang malas kerja. Dia itu sepertinya sedang menghitung... berapa kali angin meniup pintu kaca dari siang tadi."

"Bukan menghitung angin, Mik! Mbak Bos lagi nungguin Pangeran Es kesayangannya!" bisik Arka gemas, yang langsung disambut tawa tertahan dari Sila.

Tidak tahan melihat bos mereka yang biasanya elegan kini terlihat linglung, Sila akhirnya berinisiatif berjalan mendekati Savya. Ia berpura-pura mengambil kain lap di dekat wastafel.

"Mbak Savya," panggil Sila dengan nada lembut, mencoba memancing perhatian.

Savya sedikit tersentak, hampir menjatuhkan botol sirup di tangannya. "Eh? Iya, Sila? Ada apa? Ada pesanan baru?"

Sila menahan senyumnya kuat-kuat. "Enggak ada, Mbak. Cuma mau tanya... Mbak Savya ya dari siang tadi kenapa sih matanya ke pintu depan terus? Lap yang Mbak pegang itu bahkan sudah kering karena dipakai mengelap meja yang sama sebanyak lima kali."

Wajah Savya seketika merona merah. Ia buru-buru menaruh botol sirup dan berusaha mencari alasan yang paling masuk akal demi menyelamatkan harga dirinya.

"A-aku cuma lagi kurang fokus, Sila. Sepertinya aku agak kelelahan," ucap Savya, mencoba membuat suaranya terdengar seprofesional mungkin. "Science kita meluncurkan menu cake baru kan kita harus selalu bangun lebih awal setiap pagi untuk menyiapkan segalanya dari nol. Otakku jadi agak lambat hari ini karena kurang istirahat."

Arka yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelah Sila langsung memotong dengan gaya menyelidik yang usil. "Oh, karena cake baru ya, Mbak? Jadi bukan karena ucapan 'sampai bertemu besok' dari Mas Valerius semalam? Tapi aneh ya, lelahnya kok bikin mata segar setiap kali ada lonceng pintu berbunyi?"

"Arka! Siapa juga yang memikirkan dia!" seru Savya cepat dengan nada memburu, membelalakkan matanya yang justru membuat anak-anak kedai semakin yakin dengan tebakan mereka.

Farel yang biasanya paling tenang akhirnya ikut bersuara dari balik mesin espresso. "Mbak Savya, kalau memang lelah karena menu baru, lebih baik Mbak duduk saja di meja tengah sambil istirahat. Biar bar kami yang pegang. Daripada Mbak memaksakan diri tapi pikiran melayang, nanti malah bikin salah resep lagi."

"Iya, Mbak. Lagipula Mas Valerius itu kan datangnya tidak tentu jam berapa. Kadang sore, kadang pas kita mau closing," tambah Sila penuh perhatian, mencoba menenangkan kegundahan hati sang bos yang salah tingkah. "Disimpan dulu energinya, Mbak Savya ya."

Mika ikut mengangguk setuju dari sudut meja kue, mengelap tangannya santai pada apron. "Benar kata Sila, Mbak Savya. Mending Mbak duduk saja dulu. Nanti kalau mobil Mas Valerius kelihatan parkir di depan, aku janji langsung teriak paling kencang buat kasih tahu Mbak."

"Mika, jangan aneh-aneh!" potong Savya pasrah, menutupi wajahnya yang kini sudah terasa sangat panas dengan kedua telapak tangan. Tawa Arka dan Sila akhirnya pecah, membuat atmosfer kedai sore itu terasa begitu hangat dan akrab.

Savya akhirnya menyerah. Ia melangkah keluar dari area bar dan memilih duduk di salah satu kursi kosong yang menghadap ke luar jendela jalanan utama. Sambil menopang dagunya dengan sebelah tangan, ia meratapi dirinya sendiri di dalam hati.

Kenapa aku jadi seperti ini? pikirnya jengkel. Alasan lelah karena kue baru itu memang nyata, tapi ia tidak bisa menipu dirinya sendiri kalau debaran di dadanya saat ini murni karena menanti kehadiran satu orang. Hanya karena satu kalimat sederhana pasca-hujan semalam, pertahanan dirinya seolah runtuh begitu saja. Ia yang biasanya tidak pernah memedulikan kehadiran orang lain, kini justru menjelma menjadi seorang gadis yang begitu mendamba sebuah pertemuan.

Waktu terus merambat naik, mengubah langit sore yang cerah menjadi semburat oranye kemerahan yang pekat. Dan di tengah penantian yang melelahkan namun manis itu, Savya kembali mengunci pandangannya pada jalanan di luar, berharap siluet mobil hitam yang familier itu segera menepi di depan pintu kacanya.

Semburat oranye di langit akhirnya tersapu habis oleh pekatnya malam. Jarum jam dinding di atas meja kasir bergerak merambat, melewati angka setengah tujuh malam. Jam operasional Thalassa Coffee sebenarnya masih tersisa dua jam lagi sebelum tutup pukul 21.00 WIB, namun suasana kedai saat ini sedang lengang setelah ditinggal gelombang pelanggan sore.

Sila dan Farel sedang sibuk mengelap area meja bar, sementara Arka merapikan beberapa kursi di sudut lain. Savya sendiri masih bergeming di kursinya, menatap cangkir teh Chamomile yang sudah mendingin tanpa sempat ia minum. Harapan yang sempat membubung sejak siang tadi perlahan mulai surut, berganti rasa lesu yang membuat dadanya sedikit sesak.

Mungkin dia memang tidak datang hari ini, bisik batin Savya pasrah.

Tepat pada pukul 19.00 malam, saat Savya hendak berdiri dan menyerah, sepasang lampu sorot mobil memotong kegelapan jalanan dari arah kanan. Sebuah sedan hitam yang sangat familier bergerak pelan, lalu berbelok mulus memasuki area parkir tepat di depan jendela kaca. Jantung Savya mendadak melompat. Matanya melebar memperhatikan pintu kemudi mobil itu terbuka.

Sesosok pria bertubuh tegap melangkah keluar dari sana. Valerius tidak mengenakan jas formalnya malam ini; mantel panjangnya dibiarkan terbuka, dan kemeja putih di dalamnya tampak sedikit kusut dengan dasi yang sudah dilonggarkan. Gurat kelelahan setelah seharian bertempur di dunia kerja tercetak jelas di wajahnya yang tegas. Namun, sepasang matanya langsung mengunci posisi Savya di balik kaca begitu dia melangkah mendekati pintu masuk.

Ting!

Denting lonceng kuningan berbunyi nyaring, memecah kesunyian kedai di jam tujuh malam itu.

"Mas Valerius!" seru Arka refleks dari sudut ruangan, yang langsung disusul senggolan siku peringatan dari Sila di balik bar.

Valerius hanya mengangguk pelan pada anak-anak kedai sebagai sapaan, lalu langkah kakinya yang mantap langsung membawanya berjalan lurus menuju meja tempat Savya berada. Ia berhenti tepat satu langkah di hadapan wanita itu, membawa aroma maskulin yang bercampur dengan dinginnya angin malam ke dalam penciuman Savya.

"Maaf," ucap Valerius, suara beratnya terdengar sedikit serak karena kelelahan. "Pekerjaan di kantor sedikit kacau hari ini. Aku terpaksa lembur dan baru bisa lepas menjelang jam tujuh malam tadi."

Savya terpaku selama beberapa detik, mengamati lingkaran hitam tipis dan rahang tegas Valerius yang tampak lelah. Rasa lesu karena menunggu sejak siang mendadak menguap tanpa sisa, digantikan oleh debaran hangat yang memenuhi rongga dadanya. Penantian panjangnya hari ini akhirnya terbayar lunas.

"Tidak apa-apa, Vale," sahut Savya lembut, mencoba menata suaranya yang hampir bergetar. "Aku... aku kira kamu tidak akan datang malam ini."

Valerius menatap lurus ke dalam netra Savya. Sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk seulas senyum tipis yang sangat jarang ia perlihatkan pada orang lain. Senyuman hangat yang seketika mencairkan kesan sedingin es yang selama ini melekat padanya.

Ia memajukan tubuhnya satu senti lebih dekat, lalu menunduk sedikit untuk menatap Savya yang terlihat kelelahan dengan lingkaran hitam tipis di bawah matanya—efek dari kurang tidur semalam.

"Aku sudah berjanji semalam, Savya," bisik Valerius dengan nada rendah yang begitu intens. "Dan aku tidak akan membiarkanmu menungguku seharian tanpa kepastian."

Savya seketika menahan napasnya. Jantungnya berdegup begitu kencang mendengar pengakuan spontan itu. Ternyata, Valerius tahu atau setidaknya bisa merasakan kalau Savya sedang menantinya sejak tadi.

Sebelum Savya sempat menguasai rasa salah tingkahnya, Valerius tiba-tiba mengulurkan tangannya perlahan. Jarinya yang hangat bergerak menyelipkan sehelai rambut Savya yang berantakan ke balik daun telinganya. Gestur yang teramat intim, membuat Savya membeku di tempat.

Valerius menatap lekat kelopak mata Savya yang tampak berat. "Tapi melihat caramu menatapku sekarang... sepertinya kalimatku semalam benar-benar menyita waktu tidurmu, ya?"

Savya membelalakkan matanya kecil, lidahnya mendadak kelu, dan pipinya seketika memanas sempurna di bawah tatapan intens Valerius yang seolah mengunci seluruh dunianya malam itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!