Laura, seorang gadis kota yang mandiri, menemukan belahan jiwanya pada Arka ketika mereka bekerja di tempat yang sama. Cinta mereka yang kuat membawa keduanya ke jenjang pernikahan. Namun, kebahagiaan itu mulai terkikis saat Laura setuju untuk ikut Arka pindah dan tinggal di kampung halamannya.Sejak hari pertama, kehidupan Laura berubah menjadi penuh air mata. Ibu mertuanya, Rohaya, tidak pernah menyukainya. Rohaya selalu mencari-cari kesalahan Laura, mulai dari cara memasak, mengurus rumah, hingga hal-hal kecil lainnya. Laura tidak pernah tahu alasan di balik kebencian mendalam ibu mertuanya tersebut. Di sisi lain, Arka adalah suami yang setia. Arka selalu pasang badan dan mati-matian membela Laura setiap kali Rohaya menyudutkan istrinya.Di balik sifat ketat dan kejamnya, Rohaya menyimpan trauma dan dendam masa lalu yang kelam terhadap "orang kota". Saat Rohaya sedang hamil dulu, suaminya yang bernama Arman berselingkuh dengan seorang wanita kota bernama Sinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ellin Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketegangan dan Pagi yang cerah
......................
Ekspresi wajah Rohaya dan Arman seketika berubah jadi terkejut bahagia lalu Rohaya pun berdiri pelan sambil melihat kearah Laura
Ia mendekati Laura lalu memeluknya dengan rasa penuh kasih sayang dan air mata itu mengalir sementara Laura membalas pelukan itu
Arka dan Arman yang melihat itu pun ikutan tersenyum sedangkan Bela, ia bahkan tidak ingin melihat itu
"selamat ya Laura, sekali lagi maafin ibu selama ini sudah bikin kamu merasa tidak aman dirumah ini" ucap Rohaya dengan melepaskan pelukannya lalu memegang erat tangan Laura
"makasih ibu, mari kita lupakan masa-masa itu dan sekarang kita buka lembaran baru" jawab Laura sambil membalas genggaman tangan Rohaya
kedamaian itu membuat Bela merasa terasingkan, ia hanya bisa menunduk dan mengepalkan tangan lalu ia pun pergi dari ruang makan tanpa mengucap satu kata pun
ibunya, Rohaya memanggil Bela untuk tetap duduk dan menghabiskan makanannya terlebih dahulu, tetapi gadis itu sama sekali tidak menoleh.
Langkahnya justru semakin cepat meninggalkan ruang makan.
Brak!
Suara pintu kamar yang tertutup keras membuat suasana kembali hening.
Senyuman di wajah Rohaya perlahan memudar.
Laura yang menyadari perubahan ekspresi wanita itu hanya bisa menunduk.
"Ibu..." panggil Laura pelan.
Rohaya menggeleng.
"Ini salah ibu." ucap Rohaya
Arman menghela napas panjang lalu menarik kursi dan duduk kembali.
Kebahagiaan yang baru saja mereka rasakan seolah langsung menghilang.
Di lantai atas, Bela menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur.
Air matanya kembali mengalir.
Ia menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.
Tadi ia berharap ibunya akan mengejarnya.
Tadi ia berharap seseorang akan menyadari bahwa dirinya juga terluka.
Namun yang ia lihat justru pelukan hangat untuk Laura.
Bela tidak membenci Laura.
Ia tahu Laura tidak bersalah.
Yang membuatnya sakit adalah kenyataan bahwa orang tuanya selalu bisa menunjukkan kasih sayang mereka kepada orang lain, tetapi tidak pernah kepadanya.
Saat itulah suara gemuruh terdengar dari luar.
Grrr...
Langit yang sejak sore mendung akhirnya menurunkan hujan.
Angin kencang menerpa jendela kamar hingga tirai bergoyang pelan.
Tak lama kemudian hujan turun semakin deras.
Bela bangkit lalu berjalan mendekati jendela.
Ia memandang tetesan air yang membasahi kaca.
Setelah makan malam itu selesai, Arka dan Laura beranjak pergi ke kamarnya karena hujan diluar sangat deras membuat cuaca lebih dingin dari biasanya.
Sementara Arman dan Rohaya masih berada di ruang makan. Bukan untuk makan tapi untuk saling mengobrol tentang masalah mereka
Rohaya mengatakan bahwa ia memilih untuk berdamai dengan masalalunya yang membuat ia merasa sakit, Arman yang mendengar itu langsung mendekat ke Rohaya dan tidak menyangka bahwa Rohaya akan memaafkannya.
"aku maafin kamu Arman, tapi dengan 1 syarat" ucap Rohaya
"apa?" tanya Arman sambil memegang tangan Rohaya dengan pelan tapi Rohaya menolaknya
"selesaikan dulu urusanmu dengan Sinta!" ucap Rohaya sambil berdiri dari duduknya
Arman pun menyetujui syarat dari Rohaya demi menjaga keutuhan rumah tangganya. Rohaya pun menarik kursinya dan kembali duduk
Sementara Arka yang ada didalam kamar hanya melihat hujan yang turun dari jendela nya memikirkan kakaknya, Bela yang masih belum bisa berdamai dengan istrinya.
Laura yang melihat Arka dari tempat tidurnya, ia pun langsung berdiri dan menghampiri Arka.
"ada yang kamu pikirkan, Arka?" tanya Laura dengan memegang pundak Arka lalu Arka pun menoleh ke Laura dengan menganggukkan kepalanya
"ini mungkin sudah saatnya aku bicara dengan kak Bela" ucap Arka lalu melihat kearah hujan
"bukan saatnya, kak Bela saat ini mungkin lagi butuh waktu untuk sendiri" Laura mencoba meyakinkan Arka
Arka membuang napasnya yang terasa sesak dan menoleh ke arah Laura sambil memegang kepala Laura dengan pelan
"baiklah, mungkin aku akan bicara dengan kak Bela besok"
Lalu Arka ingin mengambil minuman didapur, ia menutup pintunya pelan dan pergi ke dapur.
Laura yang melihat langkah Arka itu hanya tersenyum kecil lalu kembali duduk di tepi ranjang.
Sementara itu Arka menuruni tangga menuju dapur.
Suasana rumah sudah jauh lebih tenang dibandingkan beberapa jam yang lalu. Hanya suara hujan yang masih terdengar dari luar rumah.
Saat mengambil segelas air, tanpa sengaja Arka mendengar suara percakapan dari ruang makan yang letaknya tidak jauh dari dapur.
"kamu yakin besok mau nganter ibu?" tanya Rohaya pelan.
Arka yang hendak kembali ke kamarnya menghentikan langkahnya.
"Apa salahnya?" jawab Arman.
"Tapi biasanya ibu berangkat sendiri."
"Tidak apa-apa. Lagi pula arisannya tidak jauh. Sekalian aku juga ingin jalan sebentar." jawab Arman
Rohaya terkekeh kecil.
Arka yang berdiri di dekat dapur ikut tersenyum tanpa sadar.
Sudah lama ia tidak mendengar kedua orang tuanya berbicara setenang itu.
Beberapa bulan terakhir, hubungan mereka sering dipenuhi perdebatan dan kesalahpahaman. Bahkan terkadang mereka lebih banyak diam daripada berbicara.
Namun malam ini berbeda.
Meski masalah keluarga mereka belum selesai, setidaknya ada satu hal yang mulai membaik.
"kamu jemput aku setelah arisan selesai?" tanya Rohaya.
"Iya. Jadi ibu tidak perlu buru-buru pulang."
"Baiklah."
Mendengar jawaban itu, Arka merasa dadanya sedikit lebih lega.
Ia menoleh ke arah ruang makan.
Dari celah pintu, ia bisa melihat ayah dan ibunya duduk berhadapan sambil menikmati teh hangat.
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada suara tinggi.
Hanya percakapan sederhana yang terasa hangat.
Arka tersenyum kecil.
"Mungkin semuanya memang bisa diperbaiki," gumamnya pelan.
Namun senyuman itu perlahan memudar saat ia kembali mengingat Bela.
Hubungan ayah dan ibunya mungkin mulai membaik.
Laura juga sudah diterima kembali dengan baik.
Tapi ada satu orang yang lukanya masih belum sembuh.
Kakaknya.
Arka menatap tangga menuju lantai atas.
Lampu kamar Bela masih menyala.
Ia menghela napas panjang.
"Besok..." bisiknya.
"Besok aku akan bicara dengan Kak Bela."
Dengan pikiran itu, Arka kembali menaiki tangga, sementara hujan di luar perlahan mulai mereda, meninggalkan malam yang jauh lebih tenang daripada sebelumnya.
Hari itu semakin larut, Laura dan Arka tertidur pulas hari itu berharap esok pagi tidak ada masalah yang terjadi lagi.
......................
Pagi yang cerah menyelimuti desa itu. Sinar matahari perlahan muncul dari balik perbukitan, menerangi hamparan sawah yang masih basah oleh embun. Udara terasa sejuk, sementara suara ayam berkokok dan kicauan burung saling bersahutan menyambut hari yang baru.
Laura yang sudah terbangun itu sedang menatap awan lewat jendela kamarnya sambil tersenyum tipis, ia sangat menyukai awan itu yang terlihat cantik
Pagi itu datang dengan suasana yang jauh lebih tenang. Hari libur membuat Arka tidak perlu berangkat ke kantor, sementara Laura juga tidak disibukkan dengan pekerjaan rumahnya. Namun meski cuaca cerah, ketegangan yang terjadi semalam masih terasa di dalam rumah mereka.
Arka terbangun dari tidurnya, ia menoleh kearah Laura yang sedang duduk di dekat jendela, melihat kearah luar.
Ia pun menghampiri Laura dengan mengucap selamat pagi untuk istrinya, Laura.
Bersambung ....
Coba tebak ada apa dihari libur ini?