NovelToon NovelToon
Ratu Di Antara Tiga Kaisar

Ratu Di Antara Tiga Kaisar

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Istana/Kuno / Fantasi Isekai
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Hz. ceria

Amel adalah seorang mahasiswi jurusan seni yang akan melakukan penelitian di sebuah pulau. hingga sebuah tragedi besar tragedi, Amel yang berniat menolong sahabatnya yang mengalami kram saat sedang bermain air justru tenggelam.

ketika dia membuka matanya lagi, yang mengejutkan dia sudah berada di sebuah tempat aneh dan kuno.

Amel ternyata melakukan transmigrasi dan memasuki tubuh seorang ratu yang terkenal kejam, di benci rakyat dan berdarah dingin. dunia ini dipimpin oleh seorang wanita, dan seorang pria hanya boleh menyenangkan wanita, memasak, anggun dan menawan.

tidak boleh belajar, berbicara kasar pada wanita, dan hanya boleh diam di rumah dan merawat anak-anak mereka. sedangkan wanita mencari nafkah, ikut perang, menjabat di istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hz. ceria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Pangeran di Antara Jelata

Keesokan paginya, udara di Gudang Utara No. 4 terasa lebih segar daripada biasanya. Sinar matahari pagi menerobos celah-celah atap yang bocor, menciptakan pilar-pilar cahaya debu yang menari-nari di atas lantai kayu yang telah dibersihkan.

Arsen berdiri di ambang pintu, mengenakan tunik sederhana berwarna cokelat—bukan jubah sutra kebesarannya, bukan juga seragam tahanan. Dia merasa aneh. Gelisah. Tangannya gemetar sedikit saat memegang buku catatan kosong yang diberikan Julian kepadanya.

Di dalam ruangan, lima anak laki-laki sudah duduk rapi. Lira, Tomi (yang kini bertindak sebagai asisten guru), dan tiga anak yatim lainnya menatap Arsen dengan rasa ingin tahu yang polos namun menusuk. Bagi mereka, Arsen bukan Pangeran Aethelgard. Dia hanya "orang asing tinggi" yang diajak Julian.

Julian berdiri di depan papan tulis, membersihkan kacamata bundarnya dengan kain sutra. Dia menoleh pada Arsen, ekspresinya datar.

"Kau datang," kata Julian. Itu bukan pertanyaan. Itu pernyataan fakta.

"Aku... aku tidak punya hal lain untuk dilakukan," jawab Arsen, mencoba terdengar santai, meski jantungnya berdebar kencang. "Dan kau bilang aku bisa membantu."

Julian memasang kembali kacamatanya. "Benar. Tapi ingat aturannya. Di sini, gelarmu tidak berlaku. Kau bukan Pangeran. Kau bukan tahanan. Kau adalah 'Asisten Guru'. Jika mereka memanggilmu 'Yang Mulia', koreksi mereka. Jika mereka takut padamu, itu kegagalanmu."

Arsen menelan ludah. "Bagaimana jika mereka membenciku?"

"Mereka tidak peduli siapa kamu," potong Julian tajam. "Mereka peduli apakah kamu bisa membuat pelajaran ini menarik. Sekarang, duduk."

Arsen melangkah masuk. Kursi-kursi kayu itu keras dan tidak nyaman dibandingkan kursi beludru di istana, tapi Arsen memaksakan diri untuk duduk tegak. Dia merasa kecil. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia berada di posisi di mana nama besarnya tidak membuka pintu. Dia harus bekerja untuk mendapatkan respek.

Tomi, pria paruh baya dengan tangan kapalan bekas tukang besi, tersenyum canggung pada Arsen. "Selamat pagi, Tuan... eh, Asisten."

"Pagi, Tomi," balas Arsen, suaranya terdengar kaku.

Julian mengetuk papan tulis. "Hari ini, kita akan membahas logika dasar. Bukan sekadar angka, tapi sebab-akibat. Mengapa hujan turun? Mengapa roti mengeras jika dibiarkan? Dunia ini berjalan karena aturan, dan aturan itu bisa dipahami."

Dia menoleh pada Arsen. "Asisten. Jelaskan kepada mereka konsep 'strategi'. Gunakan analogi yang mereka pahami."

Arsen terpaku. Semua mata tertuju padanya. Lima pasang mata yang menunggu. Dia merasa keringat dingin mengalir di punggungnya. Di Aethelgard, dia biasa berpidato di depan ribuan orang, tapi itu adalah pertunjukan kekuasaan. Ini berbeda. Ini adalah koneksi manusia.

Dia menarik napas dalam. Dia memikirkan permainan catur yang sering dimainkan dengan ayahnya dulu.

"Bayangkan..." mulai Arsen, suaranya ragu-ragu. "Bayangkan kalian memiliki lima buah apel. Dan ada lima teman yang ingin mengambilnya. Jika kalian memberikan semua apel sekaligus, apa yang terjadi?"

Lira, si anak paling cerdas, mengangkat tangan. "Kita tidak punya apel lagi?"

"Tepat," kata Arsen, merasa sedikit lebih percaya diri. "Tapi, jika kalian memberikan satu apel pada satu teman, lalu meminta bantuan teman itu untuk menjaga apel sisanya... apa yang terjadi?"

Tomi mengerutkan kening. "Kita punya sekutu?"

"Ya," kata Arsen, matanya berbinar. "Strategi bukan tentang kekuatan terbesar. Itu tentang menggunakan apa yang kamu miliki—apel, atau informasi, atau posisi—untuk menciptakan keuntungan bersama. Di medan perang... maksudku, dalam kehidupan, orang yang kuat sendirian akan kalah terhadap kelompok yang bekerja sama."

Hening sejenak. Lalu, salah satu anak kecil bernama Ren, yang biasanya pendiam, bertanya, "Jadi, kalau aku lemah, aku masih bisa menang kalau aku pintar?"

Arsen menatap Ren. Pertanyaan itu sederhana, tapi dalamnya menyentuh inti dari seluruh penderitaan kaum pria di benua ini.

"Ya," jawab Arsen lembut. "Kepintaran adalah senjata yang tidak bisa dirampas. Tidak seperti pedang. Tidak seperti uang."

Senyum tipis muncul di wajah Ren. Untuk pertama kalinya, Arsen melihat harapan nyata di mata seorang anak. Bukan harapan palsu dari janji politisi, tapi harapan yang dibangun dari pemahaman.

Julian mengamati dari samping. Wajahnya tetap datar, tapi ada kilatan persetujuan di matanya. Arsen tidak mengajar dengan arogansi bangsawan. Dia mengajar dengan empati seseorang yang pernah kehilangan segalanya.

Setelah sesi pelajaran selesai, anak-anak berlarian keluar untuk istirahat. Arsen tetap duduk, merasa lelah mental yang luar biasa, tapi juga puas.

Julian mendekat, meletakkan secangkir teh hangat di meja Arsen.

"Tidak buruk," komentar Julian singkat.

Arsen menatap cangkir itu. "Terima kasih."

"Jangan tersanjung. Kau masih terlalu formal. Suara tremormu terlihat jelas saat Ren bertanya," kritik Julian tanpa ampun. "Tapi... substansinya benar. Kau berhasil menghubungkan konsep abstrak dengan realitas mereka."

Arsen menyesap teh. Rasanya pahit, tapi hangat. "Julian, mengapa kau melakukan ini? Mengapa kau, seorang penyihir elit, menghabiskan waktumu mengajar anak-anak jalanan?"

Julian diam sejenak. Dia menatap keluar jendela, ke arah jalanan kotor di luar.

"Karena dunia ini sakit, Arsen," kata Julian pelan. "Ibuku, Lord Vane, dan bangsawan lainnya percaya bahwa ketertiban dijaga dengan ketakutan. Mereka percaya bahwa pria harus bodoh agar mudah dikendalikan wanita, dan wanita harus keras agar bisa bertahan hidup pria."

Julian menoleh, menatap Arsen lurus-lurus.

"Floren ingin membuktikan sebaliknya. Bahwa pendidikan menciptakan stabilitas. Bahwa pria yang cerdas tidak perlu ditakuti, karena mereka menjadi mitra, bukan ancaman. Aku di sini karena aku percaya pada visi itu. Bukan karena aku mencintai Floren secara buta. Tapi karena aku percaya pada logika reformasinya."

Arsen terdiam. Kata-kata Julian memberinya perspektif baru. Floren bukan sekadar tiran yang mengambil alih takhta. Dia adalah arsitek yang sedang membangun fondasi baru. Dan Arsen... dia menyadari bahwa dia ingin menjadi bagian dari pembangunan itu.

"Aku ingin kembali besok," kata Arsen tiba-tiba.

Julian mengangkat alis. "Oh? Pangeran buangan sekarang tertarik menjadi guru?"

"Arsen," koreksi Arsen tegas. "Panggil saja Arsen. Dan ya. Aku ingin kembali."

Julian tersenyum, kali ini senyum yang hampir hangat. "Selamat datang di kelas, Arsen. Besok, kita akan membahas etika. Siapkan argumenmu. Anak-anak ini lebih kritis daripada Dewan Senat Aethelgard."

Arsen tertawa kecil. Untuk pertama kalinya sejak kabur dari istana ibunya, dia merasa ringan. Beban gelar pangeran telah terlepas, digantikan oleh tanggung jawab baru yang lebih bermakna.

Di luar, suara tawa anak-anak terdengar. Arsen menutup matanya, mendengarkan musik kehidupan yang sederhana itu. Dia mungkin telah kehilangan kerajaannya, tapi di gudang tua ini, dia menemukan sesuatu yang lebih berharga: tujuan.

1
Musim
Menarik dan menginspirasi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!