"Jika dunia menginginkanku mati, maka aku akan memastikan dunia hancur bersamaku!"
Terlahir dengan energi sihir yang disegel, Han-Seol dibuang dan dianggap sebagai aib keluarga. Demi bertahan hidup, ia kabur bersama Seol-Ah, seorang pemindah jiwa yang menjadi buronan paling dicari.
Di bawah bimbingan Master Lee yang legendaris, segel kekuatan kuno dalam tubuh Han-Seol mulai bangkit. Satu per satu rahasia kejam sang ayah terungkap, memicu perang besar yang akan melanda Cheon-gi Won.
Di tengah kepungan bahaya dan takdir yang rumit, mampukah Han-Seol melindungi wanita yang dicintainya dan menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Siasat Pelarian dan Janji di Dermaga
Cahaya yang Redup di Kamar Hukuman
Kamar hukuman itu terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Cahaya bulan menyelinap malu-malu melalui celah ventilasi kecil, jatuh tepat di atas tubuh Han Seol yang meringkuk di atas ranjang kayu keras. Ia berbaring menyamping, memunggungi pintu, seolah ingin memisahkan diri dari dunia luar.
Di dekat pintu, Seol-Ah berdiri dengan gurat kecemasan yang mendalam. Ia baru saja menjelaskan kondisi Han Seol yang mengkhawatirkan kepada Do Hyun dan Master Baek yang datang menjenguk.
"Dia tidak menyentuh makanannya. Dia juga tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak kembali dari aula," bisik Seol-Ah, suaranya parau.
Master Baek menghela napas panjang, menatap punggung Han Seol yang tak bergerak. "Hati yang terluka memang lebih sulit diobati daripada luka akibat sihir."
Do Hyun hanya bisa terdiam, rasa bangganya terhadap Han Seol tadi pagi kini berganti menjadi rasa iba yang menyesakkan. Menyadari kehadiran mereka justru membuat suasana semakin berat, mereka bertiga memutuskan untuk keluar, memberikan Han Seol ruang yang ia butuhkan.
****
Amanat Sang Pendekar
Di halaman yang sunyi, Seo Jun melangkah mendekati Seol-Ah. Di tangannya, ia mendekap erat pedang milik mendiang Han Gyeol. Dengan gerakan perlahan, ia menyodorkan pusaka itu kepada Seol-Ah.
"Pegang ini," ucap Seo Jun dengan nada rendah. "Aku tahu kau sering kali membahayakan nyawanya dengan rencana-rencana nekatmu. Tapi aku juga tahu, hanya kau yang bisa melindunginya saat ini."
Seo Jun menatap pintu kamar hukuman dengan pandangan rumit. "Lagipula, Han Seol telah mendapatkan apa yang ia inginkan. Ia telah membuktikan dirinya bisa mencabut pedang itu, meski harganya sangat mahal."
Seol-Ah menerima pedang itu. Berat logamnya seolah menambah beban di pundaknya. Setelah Seo Jun pergi, ia menarik napas panjang dan kembali masuk ke dalam sel.
"Cukup, Han Seol!" Seol-Ah berteriak, suaranya menggema di ruangan sempit itu. Kesabarannya habis. "Sampai kapan kau mau meringkuk seperti bangkai? Kau sudah berhasil menghunus pedang ini! Kau sudah menang!"
Han Seol tidak bergerak. Ia tetap membelakangi Seol-Ah, suaranya keluar pelan namun dingin. "Menang? Untuk apa? Agar Paman kembali menghinaku? Agar semua orang melihatku sebagai monster yang tak bisa mengendalikan tangannya sendiri?"
"Itu hanya butuh latihan!" balas Seol-Ah sengit.
Han Seol tiba-tiba berbalik, matanya merah dan kosong. "Aku berhenti, Seol-Ah. Aku tidak mau lagi menjadi penyihir. Aku tidak mau lagi menjadi seperti Han Gyeol. Biarkan aku menjadi orang biasa yang tidak berguna."
Ia kembali berbaring, menarik selimut tipisnya hingga menutupi kepala, benar-benar mengabaikan keberadaan Seol-Ah.
Seol-Ah berdiri mematung. Dadanya sesak oleh rasa kecewa yang luar biasa. Ia menatap pedang di tangannya, lalu menatap sosok yang kini menyerah pada takdir. "Kau pengecut, Han Seol," bisiknya getir sebelum melangkah keluar dengan hentakan kaki yang penuh amarah.
****
Udara di Myeong-gyeong Gak terasa mencekam. Seol-Ah, bersama Do Hyun dan Master Baek, berdiri di hadapan Jin Wu. Pria itu duduk santai, menyesap tehnya seolah-olah penderitaan Han Seol hanyalah hiburan sore baginya.
"Kau memanfaatkan kesalahan kecil anak itu untuk menghancurkan masa depannya!" geram Master Baek, wajahnya merah padam menahan murka. "Menjebaknya dalam situasi di mana energinya tidak stabil, lalu menghukumnya di depan seluruh tetua? Sungguh kelakuan yang licik, Jin Wu!"
Jin Wu meletakkan cangkir porselennya perlahan, lalu tersenyum tipis yang terkesan meremehkan. "Kesalahan kecil, Master Baek? Anda terlalu mementingkan perasaan pribadi daripada hukum. Han Seol melukai pamannya sendiri, pemimpin Cheon-gi Won, di aula suci menggunakan pedang mendiang ayahnya. Itu bukan sekadar kesalahan. Itu adalah penghinaan besar bagi Cheonbugwan dan seluruh penyihir."
"Kau tahu jelas bahwa dia belum bisa mengendalikan energinya!" Master Baek melangkah maju, memukul meja kayu di hadapan Jin Wu hingga cangkir tehnya bergetar. "Dia baru saja membuka sumbat energinya, dan kau langsung memprovokasinya untuk menghunus pedang pusaka. Kau sengaja memojokkannya agar punya alasan untuk membuangnya!"
"Saya hanya menguji kemampuannya, sebagaimana layaknya seorang penerus keluarga penyihir besar," jawab Jin Wu tenang, matanya berkilat dingin. "Jika dia terluka atau mengamuk, itu membuktikan bahwa dia memang tidak ditakdirkan memiliki energi tersebut. Mengapa Anda begitu repot membela pemuda cacat yang bahkan ditolak oleh keluarganya sendiri? Apakah Cheon-gi Won sekarang menjadi tempat penampungan bagi orang-orang yang tidak berguna?"
"Mulutmu sungguh berbisa!" bentak Master Baek, napasnya memburu. "Kau tidak berubah sejak dulu. Selalu mencari celah untuk menjatuhkan nama baik Cheon-gi Won demi menaikkan posisi Cheonbugwan di mata keluarga kerajaan!"
Jin Wu terkekeh pelan, menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Hati-hati dengan ucapan Anda, Master Baek. Di sini, saya adalah wakil pemimpin gwanju. Hukum tetaplah hukum. Jika pemuda itu tidak dihukum mati, dia harus dikurung selamanya agar tidak menjadi monster yang membahayakan kita semua."
"Kalau begitu, mari kita selesaikan secara adil," sela Seol-Ah tiba-tiba. Ia melangkah maju dari balik tubuh Master Baek, menatap Jin Wu dengan pandangan yang berani dan tajam tanpa rasa takut sedikit pun.
Jin Wu mengalihkan pandangannya pada Seol-Ah, menaikkan sebelah alisnya. "Seorang pelayan berani bicara di ruangan ini?"
"Saya bicara bukan sebagai pelayan, melainkan sebagai orang yang tahu bahwa Cheonbugwan sangat menyukai taruhan yang menguntungkan," balas Seol-Ah tegas. "Tantang Han Seol dalam duel ulang melawan Putra Mahkota di hadapan semua orang. Jika Han Seol menang, bersihkan namanya dan bebaskan dia dari semua hukuman. Biarkan dia kembali ke Cheon-gi Won."
Jin Wu menyeringai lebar, menemukan hiburan baru dari kelancangan gadis di hadapannya. "Tantangan yang menarik. Melawan Putra Mahkota yang merupakan penyihir jenius tingkat tinggi? Han Seol bahkan tidak bisa memegang pedang dengan benar saat ini."
"Jika Anda begitu yakin dia akan kalah, mengapa harus takut menerima taruhan ini?" tantang Seol-Ah lagi, memprovokasi harga diri Jin Wu.
Jin Wu tertawa kecil, lalu tatapannya berubah menjadi sangat dingin dan mengancam. "Baiklah. Aku terima. Sampaikan pada tuanmu yang malang itu. Tapi ingat, jika dia gagal lagi atau melarikan diri, jangan harap dia bisa melihat matahari dari luar sel penjara bawah tanah istana. Dan kau, pelayan kecil... kau juga akan membusuk bersamanya."
****
Rencana Rahasia
Keesokan harinya, Putra Mahkota datang ke Cheon-gi Won untuk menyampaikan tantangan resminya. Didampingi Kasim Kim yang tampak pucat dan pengawalnya, mereka memaksa Penyihir Do untuk menyetujui duel tersebut. Penyihir Do tak punya pilihan; menolak perintah Putra Mahkota sama saja dengan menyeret Han Seol ke penjara istana yang jauh lebih kejam.
Namun, di balik tembok sel, sebuah rencana lain tengah berjalan.
"Kita harus pergi sekarang, Seol," bisik Do Hyun saat ia dan Seo Jun berhasil menyelinap masuk. "Duel itu hanya jebakan Jin Wu. Seol-Ah akan membawamu ke tempat ia dibesarkan untuk melatih sihirmu."
Han Seol mendongak, matanya masih tampak redup. "Untuk apa? Aku sudah bilang aku berhenti."
"Berhenti dan biarkan Jin Wu menang?" tanya Seo Jun tegas. "Ji Hoon sudah berjaga di luar. Dia siap menjadi tameng jika Paman Do murka. Jangan sia-siakan keberaniannya."
****
Perpisahan di Dermaga Sunyi
Di dermaga tersembunyi, sebuah perahu nelayan kecil bergoyang pelan mengikuti arus sungai yang luas. Seol-Ah berdiri di sana, dengan kotak besar berisi perbekalan terikat erat di punggungnya.
"Terima kasih banyak," ucap Seol-Ah kepada Do Hyun dan Seo Jun. "Aku akan memastikan dia kembali sebagai penyihir yang sebenarnya."
"Hati-hati di jalan. Kami akan segera menjemput kalian saat keadaan sudah aman," sahut Do Hyun sambil melambaikan tangan, mencoba menutupi rasa cemasnya.
Han Seol menaiki perahu dengan langkah berat, namun saat ia melihat tekad di mata Seol-Ah, ia mengembuskan napas panjang. "Guruku yang gila ini benar-benar tidak akan membiarkanku istirahat," gumamnya pelan.
"Tentu saja tidak! Karena kita harus berlatih sampai kau bisa melampaui mereka semua!" seru Seol-Ah bersemangat saat perahu mulai menjauh, membelah kabut sungai yang tebal.
****
Aula Cheon-gi Won: Sel yang Kosong
"Bawa Han Seol ke sini segera!" perintah Penyihir Do kepada pengawalnya di aula utama. Putra Mahkota sudah menunggu dengan tidak sabar.
Tak lama, pengawal itu kembali dengan wajah pucat dan membisikkan sesuatu yang membuat Penyihir Do terlonjak. Ia segera berlari menuju ruang hukuman. Begitu pintu dibuka, jantungnya serasa berhenti. Sel itu kosong.
Penyihir Do berbalik dan mendapati Park Ji Hoon berdiri tenang di halaman. "Dimana mereka, Ji Hoon? Katakan padaku!"
Ji Hoon hanya menunduk, memasang wajah polos yang dibuat-buat. "Saya tidak tahu, Paman. Saya hanya sedang menikmati udara segar di sini."
"Jangan berbohong! Kau sahabat terdekat mereka!" teriak Penyihir Do menggelegar.
"Jika Paman ingin menghukum seseorang, hukumlah saya," ucap Ji Hoon mantap, menatap mata pamannya tanpa rasa takut. "Saya siap menerima hukuman apa pun, tapi saya benar-benar tidak tahu kemana mereka pergi."
Penyihir Do mengepalkan tangan, menyadari bahwa ia telah kalah langkah oleh keberanian anak-anak muda itu.