Bianca, seorang gadis asal Indonesia yang hidup dengan prinsip "hidup santai, otak agak miring," tidak pernah menyangka liburan murahannya ke Italia akan berakhir dengan bencana kosmik. Saat sedang asyik memakan gelato di depan gereja kuno, Bianca tersandung kaki sendiri dan menabrak Lorenzo De Luca, sulung dari tiga raja mafia kembar yang paling ditakuti di Eropa.
Sebuah kutukan kuno dari artefak yang mereka bawa aktif, mengakibatkan jiwa Bianca tertukar ke dalam tubuh Lorenzo yang kekar dan bertato. Bianca yang "semprul" kini harus memimpin organisasi kriminal kelas kakap, sementara Lorenzo yang dingin harus belajar memakai skincare dan menghadapi drama teman-teman kos Bianca.
Kekacauan semakin memuncak ketika dua kembar lainnya—Valerio yang gila senjata dan Dante yang manipulatif—mulai mencurigai "kakak" mereka yang tiba-tiba suka joget TikTok di tengah rapat strategi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jiwa yang Tertukar di Palazzo De Luca
Mobil Maserati hitam itu melesat membelah jalanan Roma dengan kecepatan yang sanggup membuat jantung copot, namun bagi Bianca—yang kini menghuni tubuh perkasa Lorenzo De Luca—pengalaman ini lebih seru daripada naik kincir ria di Dufan. Ia duduk di kursi belakang, menyandarkan punggungnya yang tegap, dan sesekali mengelus bisep lengannya sendiri dengan takjub.
"Gila, ini otot asli apa hasil rakitan? Keras banget kayak beton," gumam Bianca dengan suara berat Lorenzo yang bergema di dalam kabin mobil yang kedap suara.
Di sampingnya, "Bianca" (yang sebenarnya adalah jiwa Lorenzo yang sedang merana dalam balutan daster bunga matahari) duduk dengan punggung tegak kaku. Wajah cantiknya terlihat sangat masam, seolah-olah ia baru saja dipaksa menelan satu ton lemon mentah. Ia menatap tangannya yang mungil dan lentik dengan tatapan horor.
"Ini penghinaan!" desis Lorenzo melalui pita suara Bianca yang melengking. "Guarda ini! Kuku-kuku ini... kenapa ada sisa warna kutek yang sudah terkelupas? Dan kenapa tubuh ini terasa sangat... ringkih? Aku merasa jika aku bersin terlalu keras, tulang rusukku bisa patah!"
Bianca tertawa terbahak-bahak, suara tawanya menggelegar, membuat Valerio yang sedang menyetir dan Dante di kursi depan saling bertukar pandangan penuh kecurigaan melalui spion tengah.
"Santai saja, Mas Lorenzo. Itu namanya seni alami," balas Bianca santai. "Dan jangan panggil saya 'Nona' atau 'perempuan gila' lagi. Sekarang saya ini Bos Besar. Panggil saya 'Capo' atau 'Yang Mulia' juga boleh."
"Aku akan memanggilmu Stupida sampai kau mengembalikan tubuhku!" bentak Lorenzo.
Mobil akhirnya memasuki sebuah gerbang besi raksasa yang dijaga oleh pria-pria berjas hitam dengan senapan mesin di tangan. Mereka semua membungkuk hormat saat mobil lewat. Inilah Palazzo De Luca, sebuah kompleks istana abad ke-18 yang telah disulap menjadi benteng paling canggih sekaligus termewah di Italia.
"Wah, Mas... rumahmu atau lapangan bola ini? Gede bener!" Bianca menempelkan wajahnya (wajah Lorenzo yang sangat tampan itu) ke kaca mobil dengan norak. "Kalau di Jakarta, ini sudah bisa jadi mal atau setidaknya sepuluh klaster perumahan subsidi."
Valerio menghentikan mobil dengan mendadak. Ia turun dan membukakan pintu untuk "kakaknya". "Lorenzo, kita sudah sampai. Dan tolong, berhentilah bertingkah seperti turis kampungan. Kau membuat para penjaga bingung."
Bianca turun dari mobil dengan gaya yang jauh dari kata elegan. Ia melompat keluar, nyaris tersandung kakinya sendiri yang panjang, lalu melakukan peregangan tubuh hingga jas mahalnya berderit. Sementara itu, Lorenzo (dalam tubuh Bianca) turun dengan sangat anggun meski memakai daster. Ia berjalan dengan dagu terangkat, mencoba mempertahankan martabat seorang raja mafia meski ia harus menjinjing pinggiran dasternya agar tidak menginjak kotoran burung.
"Dante," panggil Bianca, meniru gaya bicara bos di film-film yang pernah ia tonton. "Suruh semua orang bubar. Saya mau bicara empat mata dengan... eh, asisten pribadi baru saya ini." Ia menunjuk tubuhnya sendiri.
Dante menyipitkan mata. "Asisten? Kau bilang tadi dia wanita yang menabrakmu. Sekarang dia asistenmu?"
"Iya! Dia punya keahlian khusus... um... keahlian dalam bidang mistis dan... kuliner sambal terasi! Penting untuk ekspansi bisnis kita!" Bianca nyengir lebar.
Dante menghela napas panjang. "Terserah kau saja. Tapi ingat, kita punya pertemuan dengan klan penguasa dari Utara malam ini. Jangan sampai kau bertingkah aneh lagi, atau mereka akan menganggap De Luca sudah melemah."
Begitu mereka masuk ke dalam ruang kerja pribadi Lorenzo yang sangat luas dan dipenuhi buku-buku tua serta botol-botol wine mahal, Bianca langsung mengunci pintu. Ia menjatuhkan dirinya ke kursi kebesaran Lorenzo dan berputar-putar seperti anak kecil.
"Gila! Kursi ini lebih empuk dari kasur kosan saya!" seru Bianca.
Lorenzo (dalam tubuh Bianca) berdiri di depan meja, berkacak pinggang. "Berhenti bermain-main! Sekarang, jelaskan padaku secara logis. Bagaimana cara kita menukar kembali jiwa ini? Aku tidak bisa memimpin organisasi ini dengan tubuh yang tingginya bahkan tidak sampai ke bahu asliku!"
Bianca berhenti berputar. Ia menatap Lorenzo dengan serius. "Mas, saya juga tidak tahu. Tadi itu gara-gara jidat kita kena artefak emas itu, kan? Mana barangnya?"
Lorenzo mengeluarkan artefak emas berbentuk mata itu dari kantong dasternya. "Ini. Benda ini adalah pusaka turun-temurun yang katanya memiliki kekuatan untuk 'melihat jiwa'. Aku pikir itu hanya metafora puitis, ternyata itu instruksi manual yang harfiah!"
Mereka mencoba berbagai cara. Pertama, mereka mencoba membenturkan dahi mereka lagi.
DUAK!
"Aduh! Sakit, gila!" Bianca mengaduh sambil memegang keningnya. "Bukannya tertukar, malah bisa gegar otak kita!"
Kedua, mereka mencoba berpegangan tangan sambil menutup mata, membayangkan jiwa mereka melompat kembali. Namun, setelah lima menit hening, yang terjadi hanyalah perut Lorenzo (di tubuh Bianca) berbunyi nyaring.
"Che imbarazzo... (Betapa memalukan)," gumam Lorenzo sambil memegang perutnya. "Kenapa tubuhmu ini sangat mudah lapar?"
"Ya iyalah! Tadi kan gelatunya tumpah di jas kamu! Saya belum makan siang!" balas Bianca. "Dengar ya, Mas Mafia. Karena kita tidak tahu cara baliknya, mending kita kerja sama dulu. Kamu ajari saya jadi kamu, saya ajari kamu jadi saya."
Lorenzo tampak muak. "Mengajarimu menjadi aku? Kau tahu apa tugas seorang Lorenzo De Luca? Aku harus mengawasi pengiriman senjata, mencuci uang di bank-bank Swiss, dan memutuskan siapa yang harus 'dilenyapkan' minggu ini. Kau bahkan tidak bisa berjalan dengan benar menggunakan kakiku!"
"Dan kamu?" Bianca menunjuk Lorenzo. "Kamu sekarang adalah Bianca, konten kreator magang yang punya cicilan paylater dan harus rajin balas pesan dari grup WhatsApp keluarga kalau tidak mau dikira hilang. Kamu tahu cara dandan? Tahu cara bicara sopan sama ibu kos?"
Lorenzo mendengus. "Aku bisa mempelajari apa saja. Aku adalah seorang De Luca."
"Oke, kalau begitu," Bianca berdiri, mencoba menyesuaikan wibawa tubuh Lorenzo. "Langkah pertama: Kita harus mandi. Kamu bau matahari, dan jas saya... eh, jas kamu ini penuh es krim pistachio."
Wajah Lorenzo mendadak memerah. "Mandi? Maksudmu... kau akan melihat tubuhku telanjang? Dan aku harus... menyentuh tubuhmu untuk membersihkannya?"
Bianca tertawa nakal. "Ya mau gimana lagi? Masa mau dibiarin jamuran? Anggap saja kita lagi simulasi jadi suami istri yang sangat, sangat intim."
"Vaffanculo! (Persetan!)" teriak Lorenzo, wajahnya yang cantik kini terlihat sangat garang.
Satu jam kemudian, Bianca keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melilit pinggangnya. Ia bercermin dan bersiul. "Buset... dadanya bidang banget. Kalau saya unggul foto shirtless begini di Instagram, pasti langsung centang biru."
Di sisi lain, di kamar mandi tamu, Lorenzo sedang mengalami krisis eksistensi. Ia menatap botol sabun cuci muka milik Bianca yang ia bawa di tas kecilnya.
"Apa ini? 'Glow and Lovely'? Apakah jika aku memakai ini, aku akan bersinar di kegelapan seperti lampu jalan?" gumamnya bingung. Dengan ragu, ia mulai membersihkan tubuh mungil Bianca. Ia merasa sangat aneh menyentuh kulit yang begitu halus dan lembut, sangat berbeda dengan kulitnya sendiri yang penuh bekas luka tembak dan sabetan pedang.
Setelah selesai, mereka bertemu kembali di ruang tengah. Bianca sudah mengenakan setelan jas baru berwarna biru tua, sementara Lorenzo terpaksa memakai baju ganti milik Bianca yang tersisa di tas: sebuah kaos bertuliskan "I Love Bali" dan celana kulot longgar.
"Kamu terlihat... eksotis," komentar Bianca sambil menahan tawa.
"Diam kau," desis Lorenzo. "Sekarang, dengarkan. Malam ini ada pertemuan dengan perwakilan klan rusia, klan Volkov. Mereka sangat berbahaya dan tajam. Kau harus duduk diam, jangan banyak bicara, dan cukup berikan tatapan mematikanmu. Jika mereka bertanya sesuatu, cukup katakan: 'Lo risolveremo.' (Kita akan menyelesaikannya)."
"Gampang! Lo risolveremo. Oke!" Bianca mempraktekkannya dengan suara yang dibuat seberat mungkin.
"Satu lagi," tambah Lorenzo. "Jangan pernah, sekali pun, kau mencoba untuk... apa itu namanya? Pargoy? Atau joget-joget aneh itu di depan mereka."
"Yah... padahal itu cara paling ampuh buat mencairkan suasana," keluh Bianca.
Tiba-tiba, pintu diketuk. Valerio masuk dengan wajah serius. "Lorenzo, tamu kita sudah sampai. Mereka menunggu di ruang perjamuan. Dan... kenapa asistenmu memakai baju bertuliskan 'Bali'? Apakah itu kode rahasia untuk intelijen?"
Bianca berdehem, mencoba terlihat sangar. "Bukan. Itu... itu seragam baru untuk divisi kreativitas kita. Sudahlah, ayo berangkat. Andiamo!"
Lorenzo mengikuti di belakang dengan langkah kesal. Ia harus memastikan Bianca tidak menghancurkan reputasi yang telah ia bangun selama sepuluh tahun hanya dalam satu malam. Namun, saat melihat Bianca berjalan dengan gaya sedikit "ngangkang" karena belum terbiasa dengan ukuran celana pria, Lorenzo tahu bahwa malam ini akan menjadi bencana internasional yang luar biasa.
Saat mereka berjalan menyusuri lorong Palazzo yang megah, Bianca berbisik pada Lorenzo, "Mas, kalau nanti saya salah ngomong, kamu kasih kode ya. Misalnya... pura-pura bersin atau pura-pura pingsan."
"Jika kau salah ngomong," balas Lorenzo tajam, "aku tidak akan pura-pura pingsan. Aku akan mencekikmu dengan tanganmu sendiri yang sekarang sedang aku gunakan ini."
Bianca hanya nyengir. "Galak banget sih, Neng. Hati-hati lho, nanti cepat keriput wajah cantik saya."
Pertemuan besar akan segera dimulai. Di balik pintu besar ruang perjamuan, para mafia Rusia yang kejam sudah menunggu. Mereka tidak tahu bahwa pria yang akan mereka hadapi bukanlah sang "Iblis dari Roma," melainkan seorang gadis semprul dari Jakarta yang otaknya hanya berisi recehan dan lirik lagu dangdut koplo.
Semoga Tuhan memberkati Italia malam ini, doa Lorenzo dalam hati, meskipun ia sendiri ragu Tuhan mau mendengarkan doa seorang mafia dalam tubuh gadis dasteran.