" Dua puluh tahun terkurung. Sebuah pernikahan tanpa suara. Dan seorang pria yang lebih memilih diam dari pada berjuang.
Arumi mengira ia akan mekar setelah menikah. Ternyata , ia hanya berpindah ke sangkar yg lebih dingin. Ketika kehidupan hidup mulai mencekik dan suaminya tetap membatu, Arumi menyadari satu hal : Untuk bisa bernafas lagi, ia harus merelakan segalanya. Termasuk status yg selama ini di anggap suci."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miss tiii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meja Makan yg Membatu
Satu minggu telah berlalu sejak Arumi sah menjadi istri Baskara. Rumah kontrakan mereka kecil, terletak di gang sempit yang jarang tersentuh matahari. Di sini tidak ada Ayah yang membentak, tapi juga tidak ada suara sama sekali.
Arumi menatap tudung saji plastik yang sudah retak di pinggirnya. Di bawahnya hanya ada sepotong tempe goreng yang sudah dingin dan sisa sambal kemarin. Uang belanja yang diberikan Baskara di hari pertama sudah habis untuk membayar tunggakan air yang belum lunas sejak bulan lalu.
Baskara pulang tepat pukul lima sore. Ia meletakkan kunci motor di atas meja kayu dengan bunyi klotak yang menggema.
"Mas sudah pulang?" Arumi menghampiri, mencoba mengambil tangan suaminya untuk dicium.
Baskara memberikan tangannya dengan lemas. Ia tidak menolak, tapi juga tidak membalas genggaman Arumi. Matanya lurus menatap dinding kusam di depan mereka.
"Mas... mau mandi dulu atau makan?" tanya Arumi lagi, suaranya berusaha ceria meski perutnya sendiri terasa perih karena seharian hanya makan sekali.
Baskara tidak menjawab. Ia duduk di kursi plastik, melepas kaos kakinya yang sudah bolong di bagian jempol, lalu melemparkannya begitu saja ke sudut ruangan.
"Mas?" Arumi memanggil lebih keras, sedikit gemetar. "Uang belanja... sudah habis. Beras juga tinggal satu cup lagi. Apa Mas ada uang tambahan?"
Baskara menoleh perlahan. Wajahnya yang berusia tiga puluh sembilan tahun itu tampak lelah, tapi bukan lelah karena bekerja keras, melainkan lelah yang kosong.
"Tidak ada," jawabnya singkat. Datar. Tanpa rasa bersalah.
"Tapi besok kita makan apa, Mas? Tagihan listrik juga sudah datang..."
Baskara hanya menghela napas panjang. Ia bangkit berdiri, berjalan menuju dapur, dan menuang air putih ke gelas plastik. Ia meminumnya sampai habis, lalu meletakkan gelas itu dengan bunyi dentuman kecil.
"Dicukup-cukupkan saja," gumamnya tanpa menoleh pada Arumi.
"Gimana caranya mencukupkan yang tidak ada, Mas?" Suara Arumi mulai meninggi, emosinya yang selama ini terpendam di rumah orang tuanya mulai merembes keluar. "Mas nggak mau usaha cari kerja sampingan? Atau bicara sama pemilik kontrakan?"
Baskara berhenti di ambang pintu kamar. Ia membalikkan badan, menatap Arumi dengan tatapan yang sulit diartikan—antara malas dan tidak peduli.
"Aku sudah kerja semampuku. Kalau tidak cukup, ya sudah."
"Ya sudah?" Arumi tertawa getir, matanya mulai memanas. "Maksud Mas, kita tunggu sampai lapar membunuh kita di sini? Mas, aku keluar dari rumah Ayah bukan untuk mati pelan-pelan di sini!"
Baskara tidak membalas teriakan itu. Ia tidak marah, tidak juga membela diri. Ia hanya masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya rapat-rapat.
Klik.
Suara kunci pintu itu terasa seperti vonis bagi Arumi. Ia jatuh terduduk di lantai dapur yang dingin, menatap piring kosong di atas meja. Di rumah ayahnya, ia terkekang tapi perutnya kenyang. Di sini, ia "bebas" tapi ia merasa seperti hantu yang kelaparan di rumah seorang pria yang sudah menyerah pada hidup.
Arumi menyadari satu hal: ia belum sempat mewangi, tapi akarnya sudah mulai membusuk di tanah yang kering ini.