"Empat tahun menikah, kau tak kunjung memberikanku keturunan! Sekarang lihatlah, aku memiliki anak dari wanita lain!" sentak sang suami sembari menunjuk wanita yang menghancurkan rumah tangganya.
Perpisahan keduanya, membuat Dinda benar-benar terpuruk. Terutama saat mengetahui suaminya selingkuh, hingga memiliki anak dari hubungan gelapnya.
"Titip putriku, Din. Tiga tahun lagi, aku bakal jemput dia," tutur mantan kekasihnya ditengah badai yang menandaskan rumah tangganya.
Kehidupan Dinda terfokus pada Glenka—bayi 18 bulan yang dititipkan padanya, dan melupakan pengkhianatan sang suami. Hingga pada akhirnya, ia telah menganggap bayi manis itu, selayaknya anak kandung.
Bagaimana kehidupan Dinda dan bayi mungil titipan mantannya? Akankah semua berakhir bahagia? Atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karita Ta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PTM | BAB 1
"Jalan flamboyan nomor lima," ucap seorang wanita kepada sopir taksi yang berada di depannya. Usai memberikan alamat rumahnya, ia kembali menatap layar ponselnya yang masih menyala.
Pesan yang ia kirimkan beberapa saat lalu untuk sang suami, belum juga mendapat balasan. Karena hal tersebut, membuat si wanita memutuskan untuk mendial nomor telepon suaminya.
"Mas Ervin kemana, sih?" heran si wanita lantaran sang suami tak kunjung mengangkat panggilannya. Bahkan berulang kali ia mencoba, semua hasilnya tetap nihil. Tak ada satupun panggilan yang dijawab oleh suaminya.
Netra teduh wanita itu, menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia paham betul, bahwasannya ini adalah jam-jam santai sang suami.
"Tumben banget, dia online tapi ngga bales chat," gumam si wanita sembari mematikan ponselnya. Tatapannya mengarah ke luar, melihat rintik hujan yang membasahi kotanya sore ini.
Selisih lima menit kemudian, sebuah panggilan masuk dari sang suami membuatnya sedikit terkejut. Tak ingin membuat suaminya menunggu terlalu lama, ia pun segera mengangkatnya.
"Kenapa telepon? Aku sibuk ngurus kerjaan," ucap si pria dengan nada dingin, begitu panggilan teleponnya mulai terhubung. Seutas senyum singkat, terbit dibibir tipis berwarna pink milik si wanita.
"Maaf, aku ganggu waktu kerja kamu. Hari ini aku pulang lebih awal, tadi mampir juga ke supermarket. Kamu mau dimasakin apa?" tanyanya dengan lembut. Terdengar jelas di telinganya, sang suami berdecak kesal meski dengan suara pelan.
"Apa aja lah, terserah. Aku ngikut kamu," sahut si pria dengan ketus, seolah tak ingin membuang banyak waktu. Hal itu pun, membuat si wanita sedikit merasa aneh.
Tak biasanya ia mendapat respon demikian dari suaminya. Menjalani pernikahan 4 tahun, membuatnya paham betul sifat sang suami.
"Malah diem. Mau ngomong apa lagi?" tanya dari seberang telepon, yang membuat si wanita langsung meremat kecil dress yang dikenakannya. Perubahan sikap suaminya, membuat si wanita semakin terkejut.
"Ya udah, kamu matikan aja teleponnya. See you nan--" Tanpa menunggu ucapannya selesai, sambungan telepon keduanya langsung terputus begitu saja.
Tanpa memikirkan bagaimana perasaan sang istri, pria bernama Ervin itu langsung mematikan panggilannya saat itu juga.
Dalam diamnya, Dinda merasakan sakit yang begitu luar biasa. Tadi pagi, ia rasa hubungannya dan sang suami masih baik-baik saja. Namun, entah mengapa sang suami langsung berubah drastis seperti ini.
"Sudah sampai, Mbak." Tanpa menunggu lama, ia segera membayarkan ongkos taksi yang ia tumpangi dari supermarket tadi. Dinda membawa tas berukuran sedang yang berisi belanjaannya, lalu bergegas turun.
Sebelum membuka pintu rumahnya yang terkunci, ia meletakkan tas besar tersebut di atas meja teras. Usai melepas flatshoes nya di rak sepatu, Dinda mulai memasuki rumah yang telah lama ditempatinya dengan Ervin.
Melihat suasana rumahnya yang sunyi, membuat perasaannya campur aduk. Dengan lemas, wanita itu terduduk sendirian di ruang keluarga.
Netranya mulai berkaca-kaca, menatap suasana rumahnya yang selalu hening. Pemandangan hampa ini, setiap hari ia saksikan dengan sang suami selama 4 tahun menjalani bahtera rumah tangga.
"Mungkin Mas Ervin udah mulai bosan dengan semua ini," lirih wanita tersebut dengan air mata yang menetes begitu saja dari pelupuk matanya.
Di telinganya kembali terputar dengan jelas, setiap perkataan dingin yang keluar dari bibir suaminya beberapa saat lalu. Hal tersebut yang membuatnya kembali menghela napas panjang.
"Ayolah, Din. Mungkin suamimu itu emosi, karena pengaruh kerjaan yang menumpuk."
Seolah tak mengizinkan pikirannya semakin berkelana, wanita itu dengan cepat mengusap pipinya yang sedikit basah. Dengan menatap langit-langit rumahnya, wanita itu berusaha agar air matanya tak semakin deras.
Tanpa menunggu lama, ia segera bangkit dari duduknya. Dengan membawa tas belanjaannya, Dinda berjalan ke arah dapur berniat untuk memasak. Jam menunjukkan pukul empat sore, dimana suaminya akan pulang setengah jam lagi.
"Ayam kecap aja lah, Mas Ervin suka banget dari dulu," ucapnya sembari membuka kulkas untuk melihat bahan persediaannya.
Tanpa menunggu lama, Dinda langsung membuatkan masakan favorit suaminya itu. Dengan sepenuh hati, ia berharap perasaan sang suami dapat berubah begitu tiba di rumah.
Tak sampai setengah jam, masakannya sudah terhidang rapi di atas meja makan. Setelah memastikan nasi di rice cooker matang, wanita itu segera mandi lantaran hari sudah semakin sore.
Sedangkan di lain tempat, sebuah mobil fortuner berwarna hitam sudah terparkir di garasi rumahnya. Di bangku pengemudi, seorang pria nampak kusut dengan pikiran kacaunya.
"Sial! Semuanya berantakan!" murka pria tersebut dengan memukul kuat setir mobilnya.
Tubuh kekar yang terbalut oleh jas hitam itu, tersandar lemah dengan kepala yang tertunduk. Tangannya menarik dasi yang terpasang rapi, dan membuangnya begitu saja ke arah samping.
"Aku nggak setega itu ke Dinda," racaunya dengan nada penyesalan yang begitu ketara.
Dia adalah Ervin, yang tak lain adalah suami Dinda. Pria berusia 30 tahun itu, berulang kali menjambak rambutnya dengan kasar. Perasaannya bergejolak, mengingat hal besar yang terjadi belakangan ini.
"Kau benar-benar bodoh, Vin!" makinya pada diri sendiri.
Begitu teringat bahwa istrinya telah pulang, membuat pria berwajah tampan itu segera turun dari mobil. Langkah kakinya yang terasa begitu berat, mulai mendekat ke arah pintu rumahnya.
Melihat sepatu milik sang istri sudah berada di rak, membuat Ervin merasa bimbang untuk masuk. Setelah beberapa saat menghentikan langkahnya, pria itu memasuki rumah sembari melepaskan jasnya.
"Sayang, kamu dimana?" panggilnya berusaha mencari keberadaan sang istri.
Tatapannya terpaku ke arah meja makan, yang nampak rapi oleh beberapa lauk yang terlihat masih hangat. Kakinya melangkah ke arah dapur, dan ia terpaku melihat semuanya.
Rasa bersalahnya semakin besar, begitu melihat sang istri benar-benar menyiapkan makanan kesukaannya. Bahkan, disela-sela kesibukan Dinda yang melelahkan, istrinya itu tetap melayaninya dengan baik.
"Maafkan aku, Sayang ..." Lagi dan lagi, Ervin merasa sangat menyesal karena kesalahannya sendiri.
Tubuh kekar nan atletis itu seketika membeku, ketika merasakan sebuah lengan yang memeluknya dari belakang. Dapat ia rasakan, kepala yang mulai bersandar di punggung kekarnya.
"Kenapa minta maaf, hm?" tanya seseorang tersebut, dengan nada yang terdengar lembut ditelinga si pria. Telapak tangan yang berukuran jauh lebih mungil itu, mengusap dadanya dengan lembut.
"Kamu dari mana aja, sih? Aku panggil-panggil nggak nyaut," sambut Ervin begitu menyadari kehadiran istrinya.
Dinda terkekeh geli, begitu mendengar protesan dari sang suami. Hal tersebut, yang akhirnya membuat si pria membalikkan badan hingga berhadapan dengannya.
Dapat Ervin lihat, istrinya itu baru saja selesai mandi. Rambut sebahunya yang basah, serta bathrobe putih masih membalut tubuh istrinya. Aroma vanila yang menyerbak dari sang istri, membuatnya merengkuh tubuh wanita tersebut.
"Hmm ... Aku suka wanginya," akunya seperti biasa. Dengan wajah yang berada di ceruk leher sang istri, membuatnya leluasa menghirup wangi yang sudah menjadi candunya.
"Are you oke?" celetuk Dinda yang masih terdiam di dalam pelukan suaminya. Entah indra penciumannya yang salah atau bukan, tapi ia dapat mencium bekas parfum yang terasa asing baginya.
"Loh, kamu ganti parfum?" desaknya melupakan pertanyaan semula. Kali ini, Dinda melepaskan pelukan sang suami di pinggangnya dan sedikit menjauh.
Ditatapnya wajah sang suami, yang kini nampak sedikit pucat dari sebelumnya. Begitu mendapati gelengan kepala dari suaminya, membuat Dinda mengangkat alis seolah menuntut jawaban.
"Mungkin hidung kamu bermasalah, Sayang. Daripada aneh-aneh, mending kamu ambil nasi buat aku," Seolah tak ingin sang istri bertanya lebih jauh, Ervin berujar demikian dengan nada tak suka.
Setelah terdiam sejenak, akhirnya wanita tersebut mulai berjalan ke arah meja makan, untuk menyiapkan piring mereka berdua. Saat tangannya sibuk mengambil lauk dan nasi, Dinda merasakan lengan kekar mulai memeluknya dari belakang.
"Kalau suatu saat aku ada salah besar, kamu bakal gimana?"