Tujuh belas tahun hidup sederhana, Haena mendadak mendapati dirinya adalah putri kandung yang tertukar dari Keluarga Dirgantara, dinasti konglomerat terkaya. Namun, kepulangannya ke istana megah itu justru disambut dingin oleh sang ibu, Nyonya Rosalind, serta intrik busuk dari Vanya, anak angkat yang takut posisinya tergusur.
Bukannya tumbang oleh intimidasi dunia elite, gadis jenius bermental baja ini justru menarik perhatian Kaelen Arkananta, pewaris tunggal yang terkenal dingin dan tak tersentuh. Bersama Kaelen, Haena tidak hanya menemukan cinta sejati, tetapi juga mulai membongkar konspirasi gelap masa lalu yang sengaja membuangnya saat bayi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haena_Llulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Strategi Pembalikan di Selat Malaka
Deru mesin ganda jet pribadi Arkananta Group terdengar konstan membelah keheningan malam di atas Selat. Di dalam kabin utama yang mewah, atmosfer ketegangan justru kian memadat seiring dengan jarum jam digital di pergelangan tangan kiri Haena yang terus bergerak mundur tanpa ampun: 21:14:02. Waktu dua puluh empat jam yang dipotong paksa oleh The Seven Elders memaksa seluruh tim taktis bekerja dalam kecepatan penuh tanpa jeda satu sekon pun.
Haena duduk tegak dengan posisi yang sangat anggun di kursi kulit eksekutifnya. Setelan blazer formal desainer berwarna hitam pekat yang dipadukan dengan kemeja sutra putih murni membungkus siluet tubuh tingginya yang memiliki proporsi hourglass figure sempurna. Dari balik kacamata dengan bingkai transparan yang bertumpu di hidung mancungnya, mata jernih Haena menatap dingin ke arah layar holografik yang memproyeksikan draf gugatan pembekuan aset dari konsorsium hukum Singapura. Jari telunjuk tangan kirinya mengetuk pelan tahi lalat kecil di bawah dagunya dengan ritme yang sangat teratur sebuah gestur mutlak yang menandakan sirkuit otaknya sedang menyusun panggung jebakan hukum internasional yang mematikan.
"Mereka mendaftarkan gugatan di bawah klausul darurat Injunction lewat Pengadilan Arbitrase Internasional Singapura (SIAC)," suara Haena terdengar sangat jernih, dingin, dan beraura tegas memecah kesunyian kabin.
"Tujuannya adalah membekukan operasional logistik maritim di Kupang sebelum fajar menyingsing. Pengacara The Seven Elders ingin mengikat tangan kita secara legal agar armada taktis kita tidak bisa bergerak menuju pulau buatan di Laut Cina Selatan."
Kaelen Arkananta yang berdiri bersandar pada dinding panel komando taktis terkekeh rendah—sebuah tawa karismatik yang memancarkan kepuasan mutlak terhadap mental baja aliansinya. Sepasang mata elangnya yang tajam berkilat penuh murka yang luar biasa masif, memancarkan aura seorang predator puncak yang siap mengoyak siapa saja yang berani mengusik ketenangan wilayahnya. Pemuda itu melangkah maju, meletakkan secangkir kopi hitam hangat di depan Haena, lalu menundukkan kepalanya dalam jarak yang cukup dekat dengan gadis berkacamata itu.
"Mereka membawa tiga puluh pengacara senior dari firma hukum papan atas London dan Manhattan untuk menghadapi seorang mahasiswi hukum dari Universitas Argiran," ucap Kaelen dengan suara baritonnya yang berat, rendah, dan sarat akan nada intim yang menantang.
"Mereka mengira kuantitas modal bisa membeli kedaulatan yurisdiksi kita, Haena."
Haena mendongak sedikit, menatap langsung ke dalam manik mata elang Kaelen tanpa ada riak keraguan sedikit pun.
"Dalam dunia hukum maritim internasional, Kaelen, jumlah kepala di barisan pengacara tidak menentukan kemenangan. Yang menentukan adalah siapa yang paling jeli memanfaatkan celah traktat bilateral. Clarissa, hubungi Pak Baskara di Jakarta."
"Siap, Nona Haena!" jawab Clarissa secepat kilat. Jemarinya bergerak lincah di atas papan ketik mekanis, membuka jalur komunikasi terenkripsi militer tingkat tinggi.
Layar monitor sekunder menampilkan wajah Pak Baskara yang berada di markas komando darat Jakarta. Wajah sekretaris senior itu tampak dipenuhi kecemasan yang mendalam, memegang setumpuk berkas legalitas dengan tangan yang sedikit bergetar.
"Lapor Nona Haena, Tuan Bramasta baru saja dipindahkan ke ruang perawatan VIP rumah sakit pusat di bawah penjagaan ketat tim satu. Beliau berpesan agar Anda tidak meremehkan agresi finansial di Singapura. Akun-akun hantu milik The Seven Elders telah menyuntikkan dana sebesar lima miliar dolar untuk menekan likuiditas bank mitra Dirgantara Corp."
"Pak Baskara, dengarkan instruksi saya dengan saksama," perintah Haena taktis, suaranya sarat akan otoritas mutlak seorang penguasa baru yang tak terbantahkan.
"Jangan lakukan intervensi pasar untuk menahan kejatuhan saham. Sebaliknya, gunakan seluruh sisa dana cadangan sirkuit Dirgantara Corp untuk membeli kembali (buyback) saham-saham yang dilepas oleh akun hantu tersebut pada titik terendah di bursa efek."
Pak Baskara terbelalak, menahan napasnya sesaat karena syok yang luar biasa.
"Tapi Nona... jika kita menggunakan dana cadangan dan pengadilan Singapura besok pagi memutuskan untuk membekukan aset kita, Dirgantara Corp akan dinyatakan pailit secara otomatis dalam waktu dua puluh empat jam!"
"Pengadilan Singapura tidak akan pernah bisa membekukan aset kita, Pak Baskara," sahut Haena dengan seulas senyuman sinis yang teramat menawan namun mematikan di bibir cantiknya.
"Karena malam ini, saya akan membalikkan tuduhan monopoli mereka menjadi tuntutan balik atas pelanggaran kedaulatan teritorial siber berdasarkan Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) Pasal 192."
Sementara itu, ribuan kilometer di balik jeruji besi ruang tahanan wanita Polda, Nyonya Rosalind duduk bersandar pada dinding beton yang lembap. Rambut sasakannya yang dulu anggun kini berantakan, mencerminkan kejatuhan total faksi lamanya. Namun, dari sudut bibirnya yang pecah, tawa melengking tinggi penuh kegilaan distorsi kebencian tiba-tiba kembali menggema mengerikan di koridor sel.
Vanya yang duduk bersimpuh di sudut sel sembari memeluk jaket denim longgarnya yang kusam menatap ibunya dengan pandangan ngeri.
"Ibu... berhentilah tertawa. Pengacara kita baru saja mengirim pesan bahwa seluruh banding kita ditolak. Kita akan membusuk di penjara ini!"
"Kamu bodoh, Vanya! Kamu tidak melihat bidak catur yang sedang bergerak di langit Singapura!" pekik Nyonya Rosalind dengan sepasang mata melotot tajam.
"Haena mengira dia bisa terbang bebas setelah menjebakku? Dia lupa bahwa The Seven Elders memiliki pengadilan Singapura di dalam saku mereka! Besok pagi, jalang kecil berkacamata itu akan diseret keluar dari ruang sidang tanpa membawa sepeser pun sisa harta Dirgantara Corp! Hahaha! Rasakan itu, Haena!"
Kembali ke dalam jet pribadi yang mulai menurunkan ketinggian bersiap mendarat di Bandara Changi, Gavin melangkah masuk ke kabin utama dengan memegang gawai taktisnya yang menyala terang.
"Tuan Kaelen, Nona Haena, tim intelijen darat kita di Singapura melaporkan bahwa delegasi hukum musuh dipimpin oleh Sir Archibald, pengacara legendaris yang memenangkan sengketa korporasi di Uni Eropa," ucap Gavin dengan nada patuh yang teramat dalam namun dipenuhi kesiagaan tempur.
"Mereka telah menyuap tiga media finansial global untuk menyiarkan secara langsung jalannya persidangan darurat ini guna menghancurkan reputasi Dirgantara Corp secara global."
"Bagus," balas Haena datar, berdiri dari kursi eksekutifnya dengan punggung yang sangat tegap.
Riasan wajahnya yang mengadopsi tren Douyin glass skin tampak berkilau sehat di bawah pendar lampu kabit jet, memancarkan pesona suci seorang dewi perang intelektual.
"Semakin besar panggung yang mereka buat, semakin hancur harga diri The Seven Elders saat jebakan hukum ini menutup di atas kepala mereka."
Haena berjalan mendekati meja konsol Clarissa.
"Clarissa, apakah kamu sudah mengekstrak metadata dari video ancaman bom paku magnetik di Bandara dari bab sebelumnya?"
"Sudah selesai, Nona Haena!" Clarissa mengangguk mantap.
"Metadata itu membuktikan secara absolut bahwa perintah enkripsi siber berasal dari server satelit komersial yang terdaftar atas nama firma hukum Sir Archibald di Singapura. Mereka menggunakan perlindungan hak imunitas hukum untuk menyembunyikan spionase militer!"
"Sempurna," ucap Haena, jari telunjuknya mengetuk tahi lalat di bawah dagunya untuk terakhir kali seiring dengan selesainya penyusunan kalkulasi taktis di dalam otaknya.
"Sir Archibald mengira dia datang ke pengadilan sebagai seorang penggugat. Dia tidak tahu bahwa dia sedang melangkah masuk ke dalam jebakan pidana internasional yang akan mengakhiri karier legendarisnya dalam waktu lima menit."
Kaelen Arkananta melangkah di samping Haena, memancarkan aura protektif yang sangat kental. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke arah lampu-lampu kota Singapura yang mulai terlihat di balik jendela kokpit.
"Roda pesawat kita akan menyentuh landasan Changi dalam tiga menit, Tuan Putri. Mari kita tunjukkan pada dunia bagaimana aliansi kita menghancurkan kesombongan para tetua."
Dengan langkah yang mantap, anggun, dan beraura kekuasaan mutlak yang tak tergoyahkan, Haena memimpin aliansi bayangannya menuju pintu keluar jet pribadi, siap mendeklarasikan perang hukum terdahsyat yang akan mengubah peta kekuatan korporasi global untuk selamanya.
(Cliffhanger)
"Tepat saat Haena melangkah turun di garbarata Bandara Changi, dua orang agen berseragam dinas Otoritas Keamanan Domestik Singapura mendadak menghadang jalannya. Mereka membawa sebuah surat perintah penahanan darurat berlambang burung fiks berlapis emas milik The Seven Elders, menuduh Haena membawa perangkat enkripsi siber ilegal yang mengancam keamanan nasional pulau tersebut, sementara hitung mundur di pergelangan tangannya terus berdetak menyisakan waktu 12:00:00 jam."