Di bawah rindangnya pohon sakura yang menghiasi jalan setapak kampus, Alana menyimpan sebuah rahasia besar. Dari kejauhan, ia menyaksikan Raka, sosok pria yang selalu sibuk dengan sketsa-sketsa arsitekturnya. Kekaguman Alana tumbuh dalam diam, seperti bunga yang mekar di sudut perpustakaan yang paling sunyi. Setiap langkah Raka adalah sebuah melodi bagi hati Alana yang pemalu, sebuah lagu yang tak pernah ia berani nyanyikan dengan suara keras.
Namun, segalanya berubah saat Alana dan Raka terpaksa berada dalam satu kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN). Jarak yang selama ini memisahkan mereka tiba-tiba menghilang. Kini, Alana tidak hanya mengamati dari jauh, tapi harus bekerja bahu-membahu dengan pria yang ia kagumi. Setiap interaksi minimal-seperti sentuhan jari saat bertukar nomor telepon atau nama Alana yang terucap dari bibir Raka-menjadi ledakan listrik yang menyesakkan dada Alana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GETAR YANG TERPERANGKAP
Pagi itu, langit di atas kampus tampak suram, dengan kabut kelabu menggantung rendah seolah-olah sengaja berarak untuk mencerminkan kegelisahan yang tengah berkecamuk di hati Alana. Ia berdiri mematung di depan sebuah papan pengumuman besar yang menghiasi lobi Fakultas Sastra, memandang tajam pada selembar kertas putih yang baru saja ditempel oleh sekretaris dekanat, seakan-akan dokumen itu menyimpan jawaban atas nasibnya selama sebulan ke depan. Udara di sekitarnya terasa berat, membawa aroma hujan yang menggantung di antara waktu.
Tulisan tebal pada lembaran tersebut menangkap perhatiannya tanpa ampun. "Pengumuman: Daftar Peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) Terpadu - Kelompok 14." Jemari Alana perlahan menyusuri deretan nama yang tertera rapi berdasarkan urutan abjad, sementara matanya mengelus setiap huruf dengan cermat.
Nama pertama cukup familiar baginya:
*Alana Shafira – Sastra Indonesia.
Ia menarik napas tipis sebelum melanjutkan. Lalu ada Bramasta Putra – Hukum,diikuti
Citra Lestari – Kedokteran Gigi,
nama-nama lainnya terus berderet hingga pandangannya berhenti mendadak di urutan ketujuh. Saat membaca nama itu, jantungnya terasa seolah melesat keluar dari tempatnya dan berhenti sesaat sebelum kembali berdetak lebih cepat dari biasanya.
Raka Ardiansyah – Arsitektur.
Dunia di sekitar Alana tiba-tiba menjadi sunyi, riuhnya suara puluhan mahasiswa yang mengerumuni pengumuman itu seperti lenyap menjadi dengungan samar yang jauh. Kelompok 14. Desa Sukamaju. Satu bulan penuh. Dan Raka akan berada di sana—bersama dirinya. Pikiran Alana berputar tanpa arah, memunculkan gugusan kenangan yang tak diinginkannya, menjelma beban yang entah bagaimana, harus ia pikul.
Tiba-tiba sebuah tepukan keras mengejutkan dan mengembalikannya ke dunia nyata. Bahunya terasa sedikit nyeri akibat hantaman semangat seorang teman yang begitu dikenal dekat. Dinda, sahabat karibnya, muncul dengan wajah cerah penuh antusiasme yang mengimbangi sorot mata Alana yang buram.
"Gila banget, Lan! Liatan dong! Kita masuk satu kelompok KKN, bisa sebulan barengan di desa! Seru banget, kan?" seruan Dinda terdengar penuh semangat, tampaknya ia lebih sibuk melihat sisi terang dari kenyataan ini daripada menyadari badai kecil yang menggelayuti pikiran sahabatnya. Untuk sesaat, Alana hanya bisa memandang Dinda tanpa berkata apa-apa, mencoba mengendalikan kepanikan batinnya yang perlahan merayap ke permukaan.
* Raka Ardiansyah – Arsitektur
Dunia di sekitar Alana mendadak senyap. Suara riuh mahasiswa lain yang juga sedang berdesakan melihat pengumuman itu seolah tersaring menjadi dengungan lebah yang jauh. Kelompok 14. Desa Sukamaju. Satu bulan penuh. Dan Raka ada di sana.
"Gila, Lan! Kita sekelompok!" sebuah tepukan keras di bahu membuyarkan lamunannya. Itu Dinda, sahabatnya yang beruntung (atau sialnya) juga masuk di kelompok yang sama.
"I-iya, Din," jawab Alana terbata, berusaha menyembunyikan getar di suaranya.
"Lihat tuh, ada cowok ganteng dari Arsitektur juga. Siapa tuh? Raka? Katanya dia pinter banget, tapi irit ngomong," cerocos Dinda tanpa henti.
Alana hanya mengangguk kaku. Dalam hati, ia berperang antara rasa syukur yang membuncah karena akhirnya memiliki alasan sah untuk berada di dekat Raka, dan ketakutan yang melumpuhkan bahwa rahasia yang ia simpan rapat-rapat selama tiga tahun ini akan bocor di bawah terik matahari desa KKN
Sore harinya, pertemuan pertama Kelompok 14 diadakan di gazebo belakang perpustakaan tempat yang ironisnya sangat dekat dengan "wilayah perburuan" Alana biasanya.
Alana datang sepuluh menit lebih awal, duduk di pojok gazebo dengan buku catatan di pangkuannya. Ia mencoba terlihat sibuk, meski matanya terus mencuri pandang ke arah jalan setapak. Satu per satu anggota kelompok berdatangan. Bram yang berisik, Citra yang tampak sangat rapi, dan beberapa orang lainnya.
Lalu, sosok itu muncul.
Raka berjalan dengan langkah santai, mengenakan kaus hitam polos dan celana jins belel. Ia membawa sebuah tabung gambar di punggungnya, menandakan ia baru saja keluar dari studio. Sinar matahari senja menyentuh helai rambutnya, menciptakan aura yang membuat Alana harus menelan ludah berkali-kali hanya untuk memastikan ia masih bisa bernapas.
"Sori telat, tadi ada asistensi sebentar," suara Raka terdengar. Berat, tenang, dan sangat maskulin.
Raka mengedarkan pandangan mencari tempat duduk yang tersisa. Gazebo itu penuh, dan satu-satunya ruang kosong adalah di sebelah... Alana.
"Kosong?" tanya Raka pendek sambil menunjuk tempat di sisi Alana.
Alana mendongak. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, jarak antara wajah mereka kurang dari lima puluh sentimeter. Ia bisa melihat warna cokelat gelap di iris mata Raka, dan sebuah tahi lalat kecil di dekat telinga kirinya. Detail-detail yang selama ini hanya ia bayangkan dari kejauhan kini terpampang nyata.
"I-iya, kosong kok," jawab Alana, suaranya nyaris berupa bisikan.
Raka duduk. Aroma kayu cendana itu kembali menyerbu indra penciuman Alana, kali ini lebih pekat dan memabukkan. Alana merasa seperti sebuah radio yang frekuensinya sedang terganggu; ada distorsi di kepalanya, ada gemuruh di dadanya.
Diskusi yang Menyesakkan
"Oke, karena semua sudah kumpul, kita bagi tugas ya," Bram membuka suara sebagai ketua kelompok yang ditunjuk secara sepihak. "Kita butuh program kerja unggulan. Raka, dari Arsitektur, mungkin bisa bantu renovasi balai desa atau buat taman?"
Raka mengangguk pelan. "Bisa. Tapi aku butuh orang untuk bagian dokumentasi dan pembuatan narasi proposalnya. Siapa yang dari Sastra?"
Semua mata tertuju pada Alana.
Alana merasa seolah-olah seluruh oksigen di gazebo itu disedot keluar. Ia menatap Raka, dan pria itu juga sedang menatapnya, menunggu jawaban.
"Alana dari Sastra, Ris," celetuk Dinda sambil menyenggol lengan Alana. "Dia jago banget nulis. Puisi saja bisa bikin nangis, apalagi cuma proposal taman."
Raka menaikkan sebelah alisnya, sedikit tertarik. "Bisa bantu, Alana?"
Nama itu. Raka menyebut namanya. Alana. Bunyinya terdengar seperti melodi paling indah yang pernah didengar gadis itu.
"Bisa, Raka. Nanti kasih tahu saja data apa yang perlu aku tulis," jawab Alana, kali ini dengan keberanian yang ia kumpulkan dari sisa-sisa harga dirinya.
"Oke, kalau begitu kita tukaran nomor telepon? Supaya gampang koordinasinya," kata Raka sambil menyodorkan ponselnya yang layarnya sedikit retak di bagian sudut.
Tangan Alana gemetar saat menerima ponsel itu. Ia mengetikkan nomornya dengan sangat hati-hati, seolah-olah satu kesalahan ketik akan menghancurkan seluruh masa depannya. Saat mengembalikan ponsel itu, ujung jari mereka bersentuhan.
Hanya sekilas. Mungkin tak sampai setengah detik. Tapi bagi Alana, itu adalah sebuah ledakan listrik yang merambat dari ujung jari langsung ke jantungnya. Raka tidak tampak terpengaruh, ia hanya menerima ponselnya, mengangguk, lalu kembali fokus pada penjelasan Bram.
Setelah pertemuan selesai, Alana tidak langsung pulang. Ia kembali ke tempat favoritnya: meja nomor 15 di perpustakaan. Namun kali ini, meja nomor 12 di depannya kosong. Raka sudah pergi bersama teman-teman tekniknya.
Alana membuka buku catatannya. Ia tidak menulis draf esai. Ia menulis satu baris kalimat yang menggambarkan harinya:
> "Hari ini, jarak kita bukan lagi tiga baris rak buku. Hari ini, bahuku nyaris bersentuhan dengan bahumu. Aku menemukan bahwa suaramu lebih hangat dari yang kubayangkan, dan namaku terdengar berbeda saat kau yang mengucapkannya."
> Ia tahu, satu bulan ke depan akan menjadi ujian terberat baginya. Berada di dekat Raka tanpa boleh menyentuhnya. Berbicara dengannya tanpa boleh membisikkan perasaan yang sebenarnya. Berbagi ruang tanpa pernah bisa berbagi hati.
Alana menutup bukunya dengan helaan napas panjang. Di luar, hujan mulai turun membasahi bumi, persis seperti perasaannya yang mulai meluap, tak terbendung lagi oleh bendungan keheningan yang ia bangun selama ini.
Ia tidak tahu apakah KKN ini akan menjadi awal dari sebuah cerita baru, atau justru akhir yang menyakitkan dari sebuah kekaguman yang terlalu lama dipendam. Namun satu hal yang pasti: Alana tidak bisa lagi bersembunyi di balik rak buku. Permainan bayangan ini sudah berakhir, dan cahaya matahari mulai memaksa rahasianya untuk menampakkan diri.
jadi nostalgia😍
cerita yang bagus