NovelToon NovelToon
Dosa Di Balik Jas Putih: Mempelai Terbuang Dan Skandal Malam Terlarang

Dosa Di Balik Jas Putih: Mempelai Terbuang Dan Skandal Malam Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Romansa Fantasi
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Briella hanyalah "sampah" di kediaman megah keluarganya—anak haram yang lahir dari perselingkuhan ibunya. Saat ia nyaris tewas disiksa oleh saudari tirinya, Prilly, sebuah pelarian berdarah membawanya ke pelukan pria asing di sebuah hotel remang-remang. Satu malam panas mengubah segalanya. Pria itu adalah Geovani, dokter bedah jenius berdarah dingin yang ternyata merupakan tunangan Prilly. Kini, Briella kembali bukan sebagai korban, melainkan sebagai wanita yang membawa benih sang dokter. Di bawah bayang-bayang balas dendam, Briella memulai permainan berbahaya: Merebut pria milik musuhnya, meski ia harus mempertaruhkan nyawa di atas meja operasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perlindungan Sang Iblis

Suasana di aula Grand-Etheria mendadak beku, seolah-olah pendingin ruangan raksasa baru saja menyemburkan es ke seluruh penjuru ruangan. Moncong senjata para pengawal Prilly masih tertuju lurus ke arah dada Briella, sementara lampu kilat dari kamera para jurnalis terus menyambar-nyambar seperti kilat di tengah badai. Briella bisa merasakan deru napasnya sendiri yang pendek dan gemetar, namun punggung tegap Geovani yang berdiri tepat di depannya memberikan rasa aman yang aneh sekaligus mengancam.

"Geovani! Apa-apaan ini? Singkirkan tanganmu dari jalang itu!" pekik Prilly dengan suara yang melengking hingga memecahkan keheningan. "Dia baru saja menghina martabatku di depan semua orang! Dia harus diseret ke penjara bawah tanah sekarang juga!"

Geovani tidak bergerak sedikit pun. Ia justru mengulurkan tangan kirinya ke belakang, menggenggam jemari Briella yang dingin dan meremasnya dengan tekanan yang posesif. Matanya yang tajam di balik kacamata frameless menyapu seluruh ruangan, menatap satu per satu pengawal yang mulai ragu-ragu untuk menarik pelatuk.

"Turunkan senjata kalian," ucap Geovani. Suaranya tidak keras, namun mengandung otoritas mutlak yang mampu membuat nyali siapa pun menciut. "Atau aku pastikan tidak akan ada rumah sakit di seluruh Etheria yang mau menjahit luka kalian malam ini."

"Sayang, apa kau sudah gila?" Prilly melangkah maju, wajahnya memerah padam karena malu. "Dia hanya sampah dari The Gutter! Dia mencoba merusak pertunangan kita dengan kebohongan menjijikkan itu!"

Geovani akhirnya menoleh ke arah Prilly. Tatapannya begitu dingin, seolah-olah ia sedang melihat jaringan tumor yang harus segera dibuang dari tubuh pasiennya. Ia menarik Briella hingga gadis itu berdiri tepat di sampingnya, lalu dengan sengaja melingkarkan lengannya di pinggang Briella, menariknya mendekat hingga tubuh mereka tidak memiliki jarak.

"Ini bukan kebohongan, Prilly," kata Geovani dengan nada datar yang mematikan. "Dan mengenai pertunangan ini... aku punya pengumuman penting untuk semua rekan media yang hadir."

Para wartawan segera merangsek maju, mikrofon-mikrofon terjulur seperti lidah ular yang haus akan skandal. Prilly terpaku di tempatnya, firasat buruk mulai merayap di tengkuknya saat ia melihat cara Geovani melindungi Briella.

"Mulai detik ini, pertunanganku dengan Prilly Adijaya secara resmi dibatalkan," ucap Geovani dengan lantang.

Suara gumaman kaget meledak di seluruh aula. Prilly terhuyung ke belakang, tangannya menutup mulutnya yang terbuka lebar. "Kau... kau bercanda, kan? Geovani, jangan lakukan ini padaku! Ayahku akan menghancurkanmu!"

Geovani tertawa rendah, sebuah suara yang terdengar sangat menyeramkan di tengah kekacauan itu. "Ayahmu tidak akan bisa melakukan apa pun saat dia menyadari bahwa aku memegang kendali atas seluruh pasokan medis keluarganya. Dan satu hal lagi, wanita di sampingku ini... dia bukan lagi urusan keluarga Adijaya."

"Dia adikku! Dia noda keluarga kami!" jerit Prilly dengan histeris.

"Bukan," sela Geovani dengan tajam. "Dia adalah objek penelitian pribadiku. Mulai malam ini, Briella akan tinggal di bawah pengawasanku secara eksklusif. Siapa pun yang berani menyentuhnya, berarti sedang mencari masalah dengan otoritas medis tertinggi di kota ini."

Briella menatap profil samping wajah Geovani dengan perasaan campur aduk. Ia tahu ini adalah bagian dari rencana perlindungan yang dijanjikan, namun istilah objek penelitian membuat bulu kuduknya meremang. Ia melihat para pengawal Prilly perlahan menurunkan senjata mereka karena takut akan pengaruh Geovani.

"Ayo pergi, Briella," bisik Geovani di telinganya. Napas hangat pria itu terasa kontras dengan dinginnya suasana di aula tersebut.

Geovani menuntun Briella membelah kerumunan tamu yang masih terpaku dalam keterkejutan. Prilly mencoba mengejar, namun langkahnya terhenti oleh barisan pengawal pribadi Geovani yang tiba-tiba muncul dari balik bayang-bayang aula untuk memblokir jalan.

"Kau akan menyesal, Geovani! Aku akan memastikan jalang itu mati!" kutuk Prilly dengan air mata yang merusak riasannya yang mahal.

Geovani tidak menoleh sedikit pun. Ia membukakan pintu mobil hitam legamnya untuk Briella, memastikan gadis itu duduk dengan nyaman sebelum ia sendiri masuk ke kursi pengemudi. Mobil itu meluncur membelah jalanan bersalju Etheria-Metropolis, meninggalkan kemegahan palsu Grand-Etheria di belakang mereka.

Di dalam mobil, keheningan terasa sangat mencekam. Briella meremas gaun sutranya, matanya terus menatap ke luar jendela melihat gedung-gedung neon yang berlalu cepat. Ia merasa seperti seorang tawanan yang baru saja berpindah dari satu penjara ke penjara lainnya.

"Kau berani sekali melakukan itu di depan media," suara Briella akhirnya memecah keheningan. "Prilly tidak akan tinggal diam. Dia akan memburuku seperti binatang."

Geovani tetap fokus pada jalanan di depannya, jemarinya mengetuk kemudi dengan irama yang tenang. "Biarkan dia mencoba. Dia tidak akan pernah bisa menembus dinding mansionku. Kau sekarang berada di bawah perlindungan mutlak seorang iblis, Briella. Bukankah itu yang kau inginkan?"

"Aku hanya ingin dia hancur, Dokter. Aku tidak menyangka kau akan membatalkan pertunangan itu secepat ini," sahut Briella dengan nada getir.

Geovani menepikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi, tepat di bawah lampu jalan yang berpijar pucat. Ia memutar tubuhnya, menatap Briella dengan intensitas yang membuat gadis itu menahan napas. Ia mengulurkan tangan, mengusap bibir Briella yang sedikit gemetar dengan ibu jarinya.

"Aku tidak suka berbagi barang milikku dengan siapa pun, termasuk dengan status pertunangan palsu itu," ucap Geovani. "Kau mengandung anakku, Briella. Secara medis, kau adalah spesimen paling berharga yang pernah aku miliki. Secara pribadi... kau adalah obsesi yang tidak akan aku lepaskan."

"Spesimen? Jadi kau benar-benar menganggapku hanya sebagai objek?" tanya Briella dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Geovani mendekatkan wajahnya, hingga hidung mereka bersentuhan. Aroma antiseptik dan tembakau mahal dari tubuh pria itu memenuhi paru-paru Briella. "Jangan naif. Di dunia ini, setiap orang memiliki label harga. Hargamu adalah keselamatanku, dan hargaku adalah kepatuhanmu yang tanpa syarat."

Geovani kembali memacu mobilnya mendaki perbukitan menuju puncak tertinggi Etheria, tempat di mana mansionnya berdiri tegak seperti benteng penguasa. Gerbang besi raksasa terbuka secara otomatis saat mendeteksi kendaraan Geovani.

Saat mobil berhenti di depan pintu utama yang megah, beberapa pelayan berseragam rapi sudah menunggu. Geovani turun dan mengitari mobil untuk menggendong Briella keluar. Briella mencoba menolak, namun cengkeraman tangan Geovani di pinggang dan lututnya begitu kuat.

"Lepaskan aku, aku bisa berjalan sendiri," protes Briella.

"Diamlah. Kau sedang terluka dan ada nyawa lain di dalam tubuhmu. Jangan membantah perintah doktermu," sahut Geovani dingin.

Pintu mansion tertutup dengan suara dentuman berat yang menggema di seluruh aula utama. Briella menatap sekeliling, melihat arsitektur minimalis yang serba putih dan perak, terlihat sangat dingin dan steril. Ia tahu bahwa mulai malam ini, identitasnya sebagai mahasiswi beasiswa yang terbuang telah berakhir. Ia telah resmi menjadi tawanan paling berharga di puncak Etheria.

Geovani membawanya ke sebuah kamar luas di lantai atas yang didominasi oleh kaca jendela besar yang menghadap ke seluruh kota. Ia merebahkan Briella di atas ranjang king size dengan sangat hati-hati, seolah-olah Briella terbuat dari kaca yang mudah pecah.

"Ini kamarmu. Segala kebutuhanmu akan disiapkan. Namun ingat satu hal, Briella," Geovani berdiri tegak, menatapnya dari ketinggian. "Jangan pernah mencoba mencari pintu keluar tanpa seizinku. Tempat ini adalah sangkar emasmu, dan aku adalah satu-satunya orang yang memegang kuncinya."

Briella menatap punggung Geovani yang berjalan menuju pintu. Ia meraba perutnya yang masih rata, merasakan denyut kehidupan yang menjadi alasan ia masih bernapas saat ini. Ia telah selamat dari kematian di gudang Adijaya, namun kini ia harus belajar bertahan hidup di bawah perlindungan seorang pria yang lebih berbahaya dari seribu linggis baja.

"Permainan baru saja dimulai, Dokter," gumam Briella pelan saat pintu kamar terkunci dari luar dengan suara klik elektronik yang final.

Ia memejamkan mata, membiarkan tubuhnya tenggelam dalam kelembutan kasur mewah yang terasa sangat asing. Di kejauhan, ia masih bisa mendengar suara sirine polisi dan bisingnya kota Etheria, namun di dalam kamar ini, hanya ada kesunyian yang mencekam dan aroma Geovani yang tertinggal di setiap sudut ruangan. Briella tahu, untuk menghancurkan keluarga Adijaya, ia harus rela menjadi bayangan di samping sang Iblis Jas Putih, meski itu berarti ia harus kehilangan kebebasannya selamanya.

1
𝐀⃝🥀Weny
secangkir kopi untuk mu thor
𝐀⃝🥀Weny: sama²🤗
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
kutunggu next episodenya thor
𝐀⃝🥀Weny
waah... kebetulan yang sangat bagus😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!