Dari: Renata]
_Malam, Pak. Ini CV calon asisten pengganti saya. Anaknya pinter, cekatan, dan bisa langsung mulai Senin depan. Namanya Harumi Nara. Saya jamin, Bapak nggak akan kecewa.
Devan mengangkat satu alisnya, merasa tidak asing dengan nama yang disebutkan oleh Renata. Tanpa ekspektasi apa pun, ia mengklik lampiran file dan kembali memindahkan pandangannya ke layar laptop.
Detik berikutnya, napasnya tercekat.
Matanya terbelalak, menatap foto 3x4 di pojok kanan CV itu. Jantungnya yang lima tahun ini berdetak datar seperti mesin yang teratur ritmenya, tiba-tiba bergejolak hebat menghantam sampai tulang rusuknya keras-keras.
Tangannya mengepal di atas meja, buku-buku jarinya memutih. Dia mengerjap, sekali, dua kali, mencoba meyakinkan bahwa matanya tidak salah lihat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wanudya dahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KOPI PAHIT, KAMU MANIS
Kafe senja itu sepi setiap jam 2 siang, cuma ada suara mesin espresso yang beradu sama lagu Payung Teduh yang muter pelan.
_Tak terasa gelap pun jatuh
Diujung malam menuju pagi yang dingin
Hanya ada sedikit bintang malam ini
Mungkin karena kau sedang cantik cantiknya
Lalu mataku merasa malu
Semakin dalam ia malu kali ini
Kadang juga ia takut
Tak kala harus berpapasan ditengah pelariannya_
Dan tentu saja di tempat ini cuma ada aku, Aksa, barista yang jago bikin latte art tapi nggak jago buka obrolan.
Dan di sana selalu ada dia. Cewek manis, rambut hitam sebahu yang duduk di pojokan. Datang tiap hari, pesan Americano tanpa gula. Namanya Aluna. Seorang Penulis. Laptopnya selalu kebuka, tapi lebih sering natap hujan dan melamun.
Hari ke-30, aku nekat bertanya.
"Kenapa nggak pake gula?" tanyaku pas nganter kopinya.
Aluna ngangkat muka. Matanya bengkak. "Soalnya hidup udah kemanisan, Mas. Ditikung sahabat, naskah ditolak penerbit. Kalo kopi manis juga, aku takut muntah."
Aku ketawa garing. Nggak tau mau bales ngomong apa. Akhirnya cuma bilang, "Oh." Terus balik ke bar.
Tapi besoknya, Aluna dateng lagi. Jam 2 siang, pas hujan. Pesan Americano tanpa gula. Lagi.
Bedanya, kali ini di note pesanannya ada tulisan tangan: _Tanpa gula, tapi pake cerita dikit boleh dong?"_
Sejak itu, tiap aku nganter kopinya, aku selipin satu kalimat.
Hari ke-31: "Hari ini biji kopinya dari Gayo. Pahitnya jujur."
Hari ke-40: "Tadi mesin espresso ngambek. Kayak aku kalo nggak ada yang ngajak ngobrol."
Hari ke-55: "Mbak, bikin latte art hati pecah itu susah. Tapi bikin hati yang utuh lebih susah lagi."
Hari ke-60, Aluna nggak langsung buka laptop. Dia dorong cangkir kosongnya ke arahku. Di taplak meja kertas, ada tulisan: _Mas Aksa, makasih. 60 hari, 60 kopi pait, perlahan hatiku sembuh.
Dia berdiri, terus senyum. Pertama kali.
"Mas Aksa," katanya, "kamu tau rasanya naskah ditolak 27 kali?"
"Nggak," jawabku. "Tapi aku tau rasanya bikin 27 gelas kopi, nggak ada yang bilang enak."
Aluna ketawa. Pelan.
Sejak itu, dia nambah catatan di pesanannya: _Tanpa gula, pake cerita._
Hari berikutnya. Hujan deras. Kafe mau tutup. Aluna belum pulang.
"Mas," katanya, "naskahku diterima. Penerbit mau terbitin."
Aku kaget sekaligus merasa ikut senang, "Selamat. Berarti besok kopinya pake gula?"
Dia geleng. Naruh amplop coklat di meja. "Ini naskah terakhirku. Judulnya Kopi Pahit, Kamu Manis. Tokohnya barista pendiem yang nyelametin penulis gagal."
Aku baca halaman pertama. Nama tokohnya: Aksa.
"Loh?"
Aluna berdiri, pake jaket. "Aku pindah ke Jogja besok, Mas. Mau fokus nulis. Ke sini cuma mau bilang makasih.Latte art hati kamu yang pecah itu... udah berhasil nyambungin hatiku yang pecah."
Jantungku berhenti. 60 hari, 60 gelas kopi, baru berani suka. Sekarang dia pergi.
"Terus... kopiku gimana?" tanyaku bodoh.
Aluna jalan ke pintu. Terus balik badan.
"Kopinya tetep pait, Mas. Tapi gara-gara ada kamu, paitnya jadi candu. Sama kayak kamu. Pendiem, tapi bikin kangen."
Dia ngeluarin pulpen, nulis di taplak meja: _Aksa, kalo kangen, bikin latte art hati. Yang utuh. Kirim fotonya ke aku. Nanti aku bales pake bab baru._
Terus dia pergi tanpa noleh lagi. Ninggalin hujan, ninggalin kopi dingin, ninggalin aku.
Besoknya, kafe sepi. Nggak ada Americano tanpa gula.
Tapi di HP aku ada pesan masuk:
Bab 1: Barista Itu Bernama Aksa. [Foto naskah]_
Aku bikin latte art hati. Utuh. Foto. Kirim.
Dibales cepet: Bab 2: Dan Penulis Itu Jatuh Cinta._
Kopi aku pahit. Hidup aku manis.
END