NovelToon NovelToon
Takdir Tiga Darah Volume 1: Deru Di Balik Kabut

Takdir Tiga Darah Volume 1: Deru Di Balik Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Kutukan / Misteri
Popularitas:419
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Dara Kirana terpaksa meninggalkan gemerlap kota untuk menetap di kaki Gunung Marapi yang selalu diselimuti kabut misterius, namun kepindahannya justru menyeretnya ke tengah pusaran rahasia kuno yang mematikan. Saat nyawanya terancam oleh insiden tak wajar di tengah hutan hujan yang lebat, sesosok pemuda dingin dan tertutup bernama Indra Bagaskara muncul menyelamatkannya dengan kekuatan yang melampaui logika manusia. Di tengah aroma tanah basah dan desas-desus tentang legenda manusia harimau yang mulai menjadi nyata, Dara menyadari bahwa ketertarikannya pada Indra bukan sekadar romansa biasa, melainkan awal dari kebangkitan darah "Pawang" dalam dirinya yang ditakdirkan untuk menjinakkan sang penguasa rimba sebelum sisi binatangnya mengambil alih kesadaran manusianya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Jejak Raksasa di Tanah Basah

​Pagi turun di Lembah Marapi bukan dengan sinar matahari yang menyilaukan, melainkan dengan pendar kelabu yang perlahan merembes melalui celah-celah kabut.

​Dara Kirana terbangun dengan leher yang kaku dan rasa sakit yang menjalar di sekujur punggungnya. Gadis itu mengerjap, pandangannya masih kabur. Butuh beberapa detik baginya untuk menyadari bahwa ia tidak terbangun di atas kasur kapuk yang empuk, melainkan di atas lantai kayu kamarnya, dengan posisi bersandar pada dinding tepat di bawah jendela.

​Ingatan tentang apa yang terjadi semalam langsung menghantam kepalanya bagaikan godam.

​Jam dua pagi. Geraman yang menggetarkan tulang rusuk. Mata keemasan yang menyala di balik kabut. Dan entitas raksasa yang menatapnya dari batas hutan.

​Dara buru-buru merangkak menjauhi jendela, napasnya kembali memburu. Ia menoleh ke arah jam beker di atas nakas. Pukul 06.15 pagi. Malam jahanam itu telah berlalu. Namun, ketakutan yang ditinggalkannya masih mengendap di dasar perut Dara, dingin dan melilit.

​Itu cuma mimpi buruk, Dara mencoba meyakinkan dirinya sendiri sambil memijat pelipisnya yang berdenyut. Ya, itu pasti halusinasi akibat panic attack. Obat penenang dari dokter di Jakarta mungkin sudah mulai kehilangan efeknya.

​Ia berdiri dengan susah payah. Kakinya terasa seperti jeli. Saat ia memberanikan diri menyingkap sedikit tirai beludru merah marun itu, ia melihat halaman belakang rumah Kakek Danu yang kosong. Hanya ada rumput liar yang basah oleh embun dan deretan pohon pinus yang berdiri bisu di batas hutan. Tidak ada monster bermata emas. Tidak ada monster setinggi dua meter.

​Dara mengembuskan napas panjang, mengusap wajahnya yang kuyu. Ia selamat dari pesawat yang jatuh dari ketinggian tiga puluh ribu kaki; ia tidak akan membiarkan otaknya sendiri membunuhnya dengan halusinasi tentang monster di hari pertamanya tinggal di desa.

​Setelah membasuh wajahnya dengan air keran yang sedingin air es di kamar mandi, Dara mengganti piyama flanelnya dengan kaus panjang dan celana training. Ia keluar dari kamarnya, menyusuri lorong rumah yang masih remang-remang.

​Aroma kopi bubuk yang diseduh dengan air mendidih menyerbak di udara, bercampur dengan wangi samar kayu bakar. Dara melangkah menuju dapur yang terletak di bagian belakang rumah. Di sana, Kakek Danu sedang duduk di kursi rotan menghadap meja kayu panjang. Pria tua itu mengenakan kaus oblong putih dan sarung kotak-kotak, tengah membaca sebuah buku tebal dengan sampul kulit yang sudah mengelupas. Sebuah cangkir seng berisi kopi hitam mengepul di dekat sikunya.

​"Pagi, Nduk," sapa Kakek Danu tanpa mengalihkan pandangannya dari halaman buku. Suaranya serak namun dalam, menggemakan ketenangan yang kontras dengan badai di kepala Dara.

​"Pagi, Kek," balas Dara pelan. Ia menarik kursi di seberang kakeknya dan duduk.

​"Tidurnya nyenyak?" Kakek Danu akhirnya mengangkat wajah. Mata cokelat gelapnya yang tajam menelisik wajah Dara.

​Dara menelan ludah. Ia ingin menceritakan tentang mata emas itu, tentang geraman yang membuat kaca jendela bergetar, dan tentang peringatan kakeknya yang terbukti nyata. Namun, jika ia bercerita, Kakek Danu mungkin akan menganggapnya gila, atau lebih buruk lagi—membenarkan bahwa ada monster sungguhan di luar sana. Dara belum siap menerima kenyataan yang kedua.

​"Lumayan, Kek. Udaranya... sangat dingin," Dara memilih berbohong, memaksakan sebuah senyum tipis.

​Kakek Danu menatapnya selama beberapa detik ekstra. Pria tua itu jelas tahu ada sesuatu yang disembunyikan cucunya, tetapi ia tidak mendesak. Ia menutup buku kulit tebalnya. Dara sempat melirik sekilas ke arah buku itu. Huruf-huruf di halamannya tampak aneh, bukan aksara Latin, melainkan sesuatu yang menyerupai aksara Pallawa atau huruf keraton kuno yang meliuk-liuk tajam.

​"Di atas kompor ada nasi goreng kampung dan telur dadar. Makanlah. Kakek tahu semalam kau hampir tidak menyentuh sup iganya," kata Kakek Danu seraya menyesap kopinya. "Hari ini Kakek harus pergi ke balai desa sampai sore. Ada urusan pembagian bibit kopi dengan warga. Kau tidak apa-apa Kakek tinggal sendirian?"

​"Dara nggak apa-apa, Kek. Dara mau beres-beres koper sekalian nyiapin seragam buat besok."

​Besok adalah hari Senin. Kakek Danu telah mengurus kepindahannya dari SMA elite di Jakarta ke SMA Nusantara Lereng Marapi, satu-satunya sekolah menengah atas yang ada di wilayah kecamatan ini.

​"Baguslah," Kakek Danu mengangguk. "Jangan lupa, jam empat sore nanti Bu Mirna akan mengantarkan sayuran ke mari. Tolong bukakan pintu untuknya. Selain itu..." Kakek Danu menjeda kalimatnya, meletakkan cangkir sengnya dengan bunyi klak yang cukup keras. "...jangan pergi melewati batas halaman belakang. Jangan masuk ke dalam hutan. Meskipun cuaca sedang terang."

​Dara terdiam. Tenggorokannya mendadak kering. "Memangnya ada binatang buas apa di sana, Kek? Harimau?"

​"Sesuatu yang lebih tua dari harimau," jawab Kakek Danu datar. "Hutan Marapi ini bernapas, Dara. Ia memiliki ingatan yang panjang. Dan bagi makhluk-makhluk yang bersemayam di dalamnya, darah manusia kota sepertimu berbau sangat tajam. Bau ketakutan."

​Kakek Danu bangkit berdiri. Ia berjalan ke arah pintu dapur, mengambil sebilah parang panjang bersarung kayu yang tergantung di dinding, dan menyelipkannya ke pinggang. "Ingat pesan Kakek. Tetap di dalam rumah atau di halaman depan saja."

​Setelah pria tua itu pergi meninggalkan rumah, kesunyian kembali mengklaim tempat itu. Dara menatap nasi goreng di atas piringnya tanpa selera. Peringatan Kakek Danu terus terngiang di telinganya. Sesuatu yang lebih tua dari harimau.

​Rasa penasaran yang selama ini menjadi sifat dasar Dara di masa lalu perlahan mulai merayap naik, mencoba mengalahkan traumanya. Ia menatap ke arah pintu belakang dapur yang terbuat dari kayu jati tebal. Di balik pintu itu adalah halaman belakang, dan setelahnya... hutan.

​Dara bangkit dari kursinya. Ia memutar kunci pintu belakang, menimbulkan bunyi klik yang keras di tengah keheningan, lalu menarik gagangnya.

​Udara pagi yang lembap dan berbau tanah basah langsung menerpanya. Halaman belakang rumah Kakek Danu cukup luas, ditumbuhi rumput gajah yang dipangkas rapi. Namun, sejauh sepuluh meter dari teras dapur, rerumputan itu tiba-tiba berubah menjadi semak belukar liar yang menandakan batas dimulainya hutan pinus yang gelap dan purba.

​Dara melangkah turun ke tanah tanpa alas kaki. Dinginnya tanah basah menusuk telapak kakinya, membuat saraf-sarafnya terjaga sepenuhnya.

​Ia berjalan pelan, menyusuri dinding luar rumahnya sendiri, menuju ke arah jendela kamarnya yang terletak di sayap kiri bangunan. Jantungnya mulai berdegup lebih cepat seiring dengan setiap langkah yang ia ambil.

​Aku hanya ingin membuktikan bahwa semalam itu cuma halusinasi, batinnya keras kepala.

​Begitu ia tiba di bawah jendela kamarnya, Dara menghentikan langkah. Napasnya tercekat di tenggorokan.

​Di atas tanah berlumpur yang tepat berada di bawah jendelanya—titik di mana batas hutan dan halaman rumah bertemu—terdapat jejak.

​Itu bukan sekadar jejak anjing liar, atau bahkan harimau dewasa biasa. Itu adalah jejak kaki berukuran masif, hampir sebesar piring makan. Empat bantalan jari yang dalam menekan lumpur, dengan ujung-ujung yang merobek tanah secara agresif, seolah makhluk itu memiliki cakar yang tidak bisa ditarik masuk.

​Dara berjongkok dengan lutut gemetar. Ia mendekatkan tangannya ke jejak lumpur itu tanpa berani menyentuhnya. Jejak itu sangat nyata. Lekukan tanahnya jelas. Artinya, entitas bermata emas semalam bukanlah hasil imajinasi dari otaknya yang rusak akibat trauma. Monster itu benar-benar ada. Monster itu berdiri di sini, menatapnya dari balik kaca.

​Namun, ada satu hal lagi yang membuat nalar Dara nyaris putus asa.

​Rumput-rumput liar yang berada di sekitar jejak kaki raksasa itu... layu dan menghitam. Seolah-olah makhluk yang menginjaknya tidak hanya memiliki bobot yang mengerikan, tetapi juga memancarkan suhu panas yang ekstrem hingga mampu memanggang dedaunan yang berembun dalam hitungan detik.

​Dara teringat hawa panas gaib yang menembus kaca jendelanya semalam. Hawa panas yang, anehnya, justru menenangkan serangan paniknya.

​Tiba-tiba, sebuah suara derak ranting patah terdengar dari dalam hutan yang gelap. KRAK.

​Dara tersentak mundur, jatuh terduduk di atas tanah basah. Matanya menatap horor ke arah rimbunnya pohon pinus yang diselimuti kabut kelabu. Di antara pilar-pilar batang pohon yang rapat, ia merasa melihat sebuah bayangan bergerak cepat. Begitu cepat hingga mata manusia tidak mungkin bisa mengikutinya dengan jelas.

​Insting bertahan hidup yang meneriakinya untuk segera lari dan masuk ke dalam rumah dikalahkan oleh sensasi aneh yang kembali mengaliri pembuluh darahnya. Sensasi yang sama seperti semalam. Rasa familier yang purba. Tanpa sadar, alih-alih berteriak ketakutan, Dara justru memanjangkan lehernya, mencoba melihat lebih jelas ke dalam kegelapan hutan.

​Sesuatu di dalam dirinya—sesuatu yang diturunkan melalui darah ibunya yang selama ini tertidur—seolah merespons panggilan dari balik pepohonan itu.

​Syiuuut. Seekor burung gagak tiba-tiba melesat keluar dari semak belukar, terbang rendah melewati kepala Dara sambil berkaok keras.

​Dara menjerit tertahan, menutupi kepalanya dengan kedua tangan. Ilusi magnetis itu langsung hancur berkeping-keping. Realitas kembali menamparnya. Ia hanya seorang gadis manusia yang sendirian di pinggir hutan misterius, dan ia baru saja melanggar aturan utama kakeknya.

​Gadis itu bangkit berdiri secepat kilat dan berlari masuk ke dalam rumah melalui pintu dapur, menguncinya rapat-rapat dengan tangan gemetar, lalu menyandarkan punggungnya pada daun pintu yang tebal. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat.

​Ya Tuhan. Tempat apa ini sebenarnya? batinnya ngeri. Ia menatap telapak kakinya yang kotor oleh lumpur. Lumpur dari jejak yang sama yang ditinggalkan oleh monster itu.

​Sisa hari itu dihabiskan Dara dengan mengurung diri di dalam rumah. Ia memastikan seluruh pintu dan jendela terkunci. Ketika Bu Mirna datang pada jam empat sore membawa sekeranjang sayuran kol dan wortel, Dara hanya membuka pintu depan setengah, menerimanya dengan cepat, dan kembali mengunci pintu. Bu Mirna sempat menatapnya dengan raut wajah kebingungan melihat pucatnya wajah Dara, namun Dara beralasan ia sedang masuk angin.

​Malam harinya, Kakek Danu kembali. Mereka makan malam dalam keheningan yang nyaman. Kakek Danu tidak menanyakan apakah Dara melanggar aturannya atau tidak, dan Dara pun memilih untuk menyimpan penemuannya rapat-rapat. Ia tahu Kakek Danu menyembunyikan banyak hal, dan Dara merasa ia harus mencari tahu sendiri apa yang sebenarnya terjadi di desa ini tanpa terlihat panik.

​Pukul sembilan malam, Dara kembali ke kamarnya. Ia telah menyiapkan seragam putih abunya. Seragam itu terlihat sangat baru, kaku, dan tidak memiliki lipatan yang familier. Sebuah lambang bertuliskan SMA Nusantara Lereng Marapi terjahit rapi di lengan kirinya.

​Dara duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya. Besok adalah hari pertamanya berinteraksi dengan orang-orang di desa ini selain Kakek Danu dan Bu Mirna. Ia merindukan Jakarta. Ia merindukan kebisingan lalu lintas Sudirman, kafe-kafe yang buka 24 jam dengan lampu benderang, dan keamanan semu dari kota metropolitan di mana hal paling menakutkan hanyalah begal atau penjambret.

​Di sini, di Lembah Marapi, kegelapan terasa memiliki mata. Dan kabut memiliki gigi.

​Dara menoleh ke arah jendela kamarnya yang tertutup tirai merah marun. Ia melirik jam beker. Pukul 21.30. Masih jauh dari jam dua pagi. Namun entah kenapa, atmosfer di dalam kamarnya terasa sangat berat.

​Didorong oleh keberanian yang entah datang dari mana, Dara bangkit dari ranjang, berjalan ke arah jendela, dan menyingkap sedikit tirainya.

​Halaman belakang masih sama. Gelap, berkabut, dan kosong. Cahaya bulan malam ini tertutup awan mendung, membuat jarak pandang ke arah hutan nyaris nol. Namun, ingatan tentang jejak kaki raksasa itu membuat bulu kuduk Dara meremang.

​Aku tidak akan mati di sini, bisik Dara pada dirinya sendiri. Tangannya mencengkeram kain tirai kuat-kuat. Pesawat itu tidak membunuhku. Ayah dan Ibu mengorbankan tubuh mereka sebagai tameng agar aku selamat dari benturan. Aku tidak akan membiarkan hidupku berakhir dimangsa binatang buas atau menjadi gila karena halusinasi.

​Dara menarik napas dalam-dalam, sebuah tekad baru mulai terbentuk di balik sepasang mata cokelat terangnya. Mulai besok, ia tidak akan menjadi korban yang terus bersembunyi. Jika desa ini memiliki rahasia, ia akan membongkarnya. Jika kakeknya menolak berbicara, ia akan mencari jawaban dari luar. Dari sekolah barunya. Dari buku-buku perpustakaan. Dari mana saja.

​Gadis itu menutup tirai jendela rapat-rapat, mematikan lampu kamarnya, dan membenamkan diri di bawah selimut tebal.

​Namun, di luar sana, jauh di dalam rimbunnya hutan pinus yang tak tertembus cahaya, sesuatu tengah mengawasinya. Bukan dari tanah, melainkan dari dahan tertinggi sebuah pohon damar purba.

​Sesosok pemuda dengan tubuh tegap dan kulit pucat berjongkok di atas dahan pohon dalam posisi yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia normal. Rambut hitamnya sedikit gondrong dan berantakan, menutupi sebagian wajahnya. Namun, di antara helaian rambut itu, sepasang mata keemasan memancarkan cahaya redup dalam kegelapan.

​Pemuda itu memejamkan mata, menarik napas panjang melalui hidungnya yang mancung. Udara malam membawa berbagai macam aroma: aroma getah pinus, aroma tanah basah, dan bau busuk bangkai rubah di kejauhan. Namun, melampaui semua aroma itu, hidungnya menangkap satu aroma spesifik yang sangat manis, hangat, dan... memabukkan.

​Aroma darah yang berasal dari kamar berselimut tirai merah marun di rumah kayu tersebut.

​Darah seorang Pawang Rimba.

​Tangan pemuda itu mencengkeram kulit kayu pohon damar dengan kuat. Kuku-kukunya memanjang, menebal, dan berubah menjadi warna hitam pekat seperti obsidian dalam hitungan detik. Kuku-kuku itu merobek kulit kayu setebal dua sentimeter itu seolah sedang membelah mentega, meninggalkan bekas luka yang dalam pada pohon tersebut.

​Pemuda itu menggeram pelan, suara rendah yang bergetar di tenggorokannya. Suhu udara di sekitarnya mendadak memanas, membuat kabut yang menyentuh kulitnya langsung menguap menjadi titik-titik air.

​Napasnya memburu saat ia berusaha mati-matian menekan insting liar yang meronta di dalam dadanya. Insting yang meneriakinya untuk melompat turun, menjebol jendela kayu itu, dan mengklaim gadis di dalamnya.

​Belum, batin pemuda itu, giginya gemeretak menahan sakit akibat transformasi yang ia paksa berhenti di tengah jalan. Belum waktunya.

​Dengan satu tolakan kaki yang sangat kuat, pemuda bermata emas itu melesat menghilang ke dalam kegelapan hutan, meninggalkan jejak panas yang meranggas pada dahan yang diinjaknya. Meninggalkan sang gadis yang tertidur lelap tanpa menyadari bahwa keberadaannya baru saja memicu pergerakan roda takdir yang akan mengubah sejarah Lembah Marapi selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!