NovelToon NovelToon
Berhenti Mengejar Tuan Dingin

Berhenti Mengejar Tuan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:19.7k
Nilai: 5
Nama Author: GABRIELA POSENTIA NAHAK

Selama tiga tahun, Kinara mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk mengejar cinta Arlan—seorang CEO dingin yang tak pernah menganggapnya ada. Bagi Arlan, Kinara hanyalah gangguan yang tidak berarti dan bayangan yang membosankan.
​Hingga suatu hari, sebuah rahasia menyakitkan membuat Kinara sadar bahwa cintanya telah mati. 'Cukup, Arlan. Mulai hari ini, aku berhenti mengejarmu. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal.'
​Kinara pergi, menghilang tanpa jejak. Namun, saat Kinara muncul kembali sebagai wanita sukses yang mandiri dan tak lagi meliriknya, Arlan justru mulai kehilangan akal. Arlan yang dulu dingin, kini justru berlutut memohon maaf di bawah hujan.
​'Kenapa kau tidak menatapku lagi, Kinara? Aku mohon... kembali mengejarku.'
​Sayangnya, bagi Kinara, pintu itu sudah tertutup rapat. Penyesalan Arlan hanyalah angin lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GABRIELA POSENTIA NAHAK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 : Istana Di Atas Awan

Pagi setelah insiden "kontraksi palsu" yang menghebohkan seluruh penghuni mansion, suasana rumah berubah total.

Arlan tidak hanya memindahkan kantornya ke rumah, ia seolah-olah memindahkan seluruh peradaban ke dalam kamar Kinara.

​Sejak pukul tujuh pagi, Arlan sudah sibuk memerintahkan para pelayan untuk memasang karpet bulu yang lebih tebal di setiap sudut lantai yang mungkin dilewati Kinara.

Ia bahkan meminta teknisi untuk memeriksa ulang suhu pendingin ruangan agar tidak terlalu dingin bagi istrinya.

​"Arlan, ini sudah berlebihan. Aku hanya perlu istirahat, bukan harus hidup di dalam gelembung," protes Kinara saat melihat Arlan sedang sibuk memasang penyangga sudut meja yang tumpul agar tidak melukai perut Kinara jika ia tak sengaja menyenggolnya.

​Arlan tidak menoleh, ia masih fokus dengan pekerjaannya.

"Tidak ada yang berlebihan untuk keselamatanmu, Kin. Kemalam aku belajar satu hal: aku tidak sanggup melihatmu kesakitan. Jadi, selama aku bisa mencegah risiko sekecil apa pun, akan aku lakukan."

​Arlan kemudian menghampiri Kinara yang duduk di tepi ranjang. Ia berlutut di depan istrinya, lalu memijat lembut pergelangan kaki Kinara yang mulai membengkak.

Gerakannya sangat telaten, seolah tangan yang biasanya menandatangani kontrak triliunan rupiah itu kini memang diciptakan khusus hanya untuk melayani Kinara.

​"Kamu mau makan apa siang ini? Aku sudah meminta koki menyiapkan salmon segar atau sup tulang sumsum untuk menambah tenagamu," tanya Arlan sambil menatap Kinara dengan tatapan yang sangat memuja.

​Kinara menghela napas, namun sudut bibirnya tak bisa menahan senyum.

"Aku ingin masakan sederhana saja, Arlan. Aku ingin sayur bening dan sambal yang tidak terlalu pedas."

​"Apapun untukmu, Sayang," Arlan mengecup punggung tangan Kinara.

​Siang harinya, kejutan Arlan tidak berhenti di situ. Ia membimbing Kinara menuju ruang menulis baru yang kemarin ia tunjukkan.

Ternyata, ruangan itu sudah terisi penuh dengan aroma bunga lily putih kegemaran Kinara.

Di atas meja tulis kayu jati yang elegan, sudah terletak sebuah laptop keluaran terbaru dan sebuah buku catatan dengan sampul kulit bertuliskan: "Kisah Cinta Kinara & Arlan".

​"Aku ingin kamu menulis di sini. Saat kamu merasa lelah, kamu bisa melihat ke luar jendela," Arlan menunjuk ke arah taman yang kini sudah dipenuhi dengan bunga-bunga berwarna-warni yang baru ditanam tadi pagi.

​Kinara terpaku.

Ia berjalan perlahan menyusuri ruangan itu. Setiap detailnya menunjukkan betapa Arlan memperhatikannya.

Dari kursi yang sangat ergonomis untuk ibu hamil, hingga rak buku yang berisi referensi-referensi sastra yang pernah Kinara sebutkan dulu di Yogyakarta.

​"Arlan... terima kasih," bisik Kinara. Ia membalikkan badan dan memeluk suaminya erat.

​"Jangan berterima kasih, Kin. Ini adalah penebusan atas waktu-waktu di mana aku pernah menghancurkan mimpimu. Sekarang, aku ingin menjadi orang pertama yang mendukung setiap kata yang kamu tulis," Arlan membalas pelukan itu, menyandarkan dagunya di puncak kepala Kinara.

​Namun, di tengah momen manis itu, ponsel Arlan bergetar hebat. Itu dari dewan direksi.

Arlan sempat mengabaikannya, namun Kinara melepaskan pelukannya.

​"Angkatlah, Arlan. Jangan karena aku, perusahaanmu jadi kacau. Aku sudah merasa jauh lebih baik sekarang."

​Arlan menghela napas gusar, namun akhirnya mengangkat telepon itu. Ia berbicara dengan nada dingin dan tegas, kembali ke mode CEO yang ditakuti.

"Saya tidak peduli dengan kerugian satu persen itu! Fokus pada pengamanan aset. Saya sedang sibuk dengan urusan hidup dan mati! Jangan hubungi saya kecuali gedung itu terbakar!"

​Arlan mematikan telepon dengan kasar. Kinara tertawa kecil melihat tingkah suaminya.

"Hidup dan mati? Kamu hanya sedang menemaniku makan siang, Arlan."

​"Bagiku, memastikan kamu makan dengan tenang adalah urusan hidup dan mati, Kin," jawab Arlan tanpa keraguan sedikit pun.

​Sore itu, mereka menghabiskan waktu di taman. Arlan membimbing Kinara berjalan santai—sesuai saran dokter untuk membantu posisi bayi.

Setiap satu langkah Kinara, Arlan selalu bersiap menyangga pinggang istrinya.

Mereka berbicara tentang nama bayi, tentang impian mereka untuk membawa anak itu ke Yogyakarta suatu hari nanti, dan tentang bagaimana mereka akan mendidik anak itu agar tidak sekeras kepala ayahnya.

​"Dia harus selembut ibunya, tapi punya keberanian seperti ayahnya," ucap Arlan sambil mengelus perut Kinara yang bergerak.

​Malam harinya, Arlan kembali menunjukkan sisi romantisnya yang "lebay".

Ia membacakan dongeng untuk bayi di perut Kinara sampai Kinara sendiri yang tertidur pulas. Arlan tidak beranjak.

Ia tetap terjaga, menatap wajah tidur Kinara dengan rasa syukur yang tak terhingga.

​Ia menyadari, istana megah ini baru terasa seperti rumah sejak ia membiarkan Kinara menjadi ratunya.

Penyesalan Arlan bukan lagi sebuah beban, melainkan bahan bakar untuk mencintai Kinara lebih gila lagi setiap harinya.

​Catatan Penulis (Author's Note):

​Siapa yang nggak meleleh lihat Arlan mode 'Bucin Level Max' begini? 😭 Dari CEO dingin jadi suami yang sibuk pasang pengaman sudut meja. Menurut kalian, Arlan ini sudah layak dimaafkan 100% atau masih perlu diuji lagi nih? Tulis pendapat kalian di kolom komentar ya! Terima kasih sudah membaca Bab 35 'Penyesalan Arlan'. Love you all! ✨

gayssssss ikuti aku terus yah😻 lopyouuu🤏🤍

1
Ma Em
Akhirnya Kinara mau memaafkan Arlan karena Arlan memang tdk salah cuma salah sangka saja , semoga Arlan dgn Kinara selalu rukun dan bahagia bersama anaknya nanti setelah lahir semakin bertambah bahagia dan tdk akan terpisahkan .
riela_nahak: halloooooo kkkk😻 semogaaaa yah ka ih💐 btwwww tunggu partai selanjutnya yah kk lvyouuuuui🤍🤍💐😻
total 1 replies
Anonim
maso..,,...,...kis
riela_nahak: hallooo kakakakakakakk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!