Bagi dunia luar, Reihan Arta Wiguna adalah sosok "Ice King" di lantai bursa—dingin, tak tersentuh, dan selalu kalkulatif. Namun, di balik kemewahan hidupnya, ia terikat oleh janji konyol kakeknya puluhan tahun silam. Ia dipaksa menikahi Laluna Wijaya, seorang gadis yang ia anggap hanya sebagai "beban" tambahan dalam hidupnya yang sudah sibuk.
Laluna sendiri tidak punya pilihan. Menikah dengan Reihan adalah satu-satunya cara untuk melindungi apa yang tersisa dari nama baik keluarganya. Mereka sepakat pada satu aturan main: Pernikahan ini harus menjadi rahasia. Tidak ada cinta, tidak ada kemesraan di depan publik, dan tidak ada campur tangan dalam urusan pribadi masing-masing.
Namun, tinggal di bawah satu atap perlahan meruntuhkan tembok yang dibangun Reihan. Laluna bukan sekadar gadis penurut yang ia bayangkan; ia adalah api yang hangat di tengah musim dingin Reihan. Saat satu per satu rahasia keluarga dan pengkhianatan bisnis mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: DEKLARASI DI BALIK GAUN SUTRA
Malam itu, Jakarta diguyur hujan rintik yang membuat aspal jalanan berkilau di bawah lampu-lampu kota.
Di dalam penthouse, suasana terasa lebih sunyi dari biasanya, namun bukan kesunyian yang dingin. Ada desah kegelisahan yang memacu adrenalin.
Laluna berdiri di depan cermin besar, menatap sosok yang hampir tidak ia kenali.
Ia mengenakan gaun sutra berwarna midnight blue dengan potongan off-shoulder yang mengekspos garis lehernya yang jenjang. Tidak ada perhiasan yang berlebihan, hanya kalung berlian tipis dan yang paling utama cincin warisan Arta Wiguna yang kini tersemat gagah di jari manisnya. Ia tidak lagi menyembunyikannya.
Pintu kamar terbuka.
Reihan melangkah masuk, sudah siap dengan tuksedo hitam yang dijahit sempurna. Langkah kakinya terhenti saat melihat Laluna.
Pria itu terdiam cukup lama, matanya menyusuri setiap inci penampilan istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kau siap?" tanya Reihan, suaranya sedikit lebih rendah dari biasanya.
Laluna menarik napas panjang, mencoba meredakan gemetar di tangannya. "Jika aku bilang tidak, apakah kita akan tetap pergi?"
Reihan mendekat, berdiri tepat di belakang Laluna sehingga bayangan mereka menyatu di cermin.
Ia meletakkan tangannya di bahu Laluna, merasakan kulit hangat gadis itu.
"Kita akan masuk ke sana sebagai satu unit, Laluna.
Jangan lepaskan lenganku, apa pun yang terjadi. Biarkan aku yang menghadapi badainya, kau cukup menjadi pusat ketenanganku."
Laluna menoleh, menatap mata elang itu. "Kau juga pusat ketenanganku, Reihan."
Gedung serbaguna Arta Wiguna sudah dipadati oleh jajaran direksi, pemegang saham, dan sosialita papan atas.
Musik klasik mengalun lembut, bercampur dengan denting gelas sampanye. Danu berdiri di tengah kerumunan, memegang gelasnya dengan senyum penuh kemenangan, menunggu saat yang tepat untuk menjatuhkan bom informasinya.
Namun, suasana tiba-tiba berubah saat pintu aula utama terbuka lebar.
Lampu sorot seolah secara alami mengikuti langkah sepasang manusia yang baru saja masuk. Reihan Arta Wiguna berjalan dengan langkah tegap, dan di lengannya, seorang wanita cantik bersandar dengan keanggunan yang memukau.
Bisikan-bisikan mulai menjalar seperti api di atas jerami kering.
"Siapa wanita itu?"
"Bukankah itu gadis yang fotonya sempat beredar di gosip murahan kemarin?"
"Kenapa Reihan membawanya ke acara sepenting ini?"
Reihan tidak berhenti. Ia menuntun Laluna langsung menuju panggung utama, tempat kakek Surya duduk di kursi kehormatannya. Danu, yang berada di dekat sana, tampak mematung.
Wajahnya berubah dari merah menjadi pucat pasi.
Rencananya untuk membocorkan foto itu hancur berantakan karena Reihan telah melakukannya lebih dulu secara fisik dan nyata.
Reihan mengambil mikrofon dari atas podium. Suaranya menggema, memenuhi setiap sudut ruangan, mematikan semua bisikan.
"Selamat malam, rekan-rekan dan keluarga besar Arta Wiguna," ucap Reihan dengan wibawa yang tak tergoyahkan.
"Malam ini adalah perayaan pencapaian perusahaan kita. Namun, secara pribadi, malam ini juga merupakan momen penting bagi saya. Banyak spekulasi yang beredar mengenai kehidupan pribadi saya akhir-akhir ini."
Reihan menoleh ke arah Laluna, lalu menggenggam tangannya di depan semua orang.
"Izinkan saya memperkenalkan secara resmi. Ini adalah Laluna Arta Wiguna. Istri saya."
Keheningan total menyergap.
Detik berikutnya, suara riuh rendah pecah. Kakek Surya mengangguk pelan dengan senyum tipis yang penuh rahasia, sementara Danu meremas gelasnya hingga hampir pecah.
"Kami telah menikah beberapa waktu lalu dalam sebuah upacara privat," lanjut Reihan, matanya menatap tajam ke arah Danu yang berada di barisan depan.
"Laluna adalah kekuatan di balik layar saya, dan mulai malam ini, ia tidak akan lagi berada di balik layar."
Setelah pengumuman itu, kerumunan langsung mengepung mereka. Laluna menghadapi rentetan pertanyaan dengan ketenangan yang luar biasa, berkat pelatihan singkat yang diberikan Reihan di mobil tadi.
Ia menjawab tentang "Khay Bakery" dengan bangga, memposisikan dirinya bukan hanya sebagai istri pajangan, tapi sebagai wanita pengusaha yang mandiri.
Namun, di tengah keriuhan itu, Danu berhasil mendekati mereka saat Reihan sedang ditarik oleh salah satu investor utama.
"Langkah yang berani, Reihan," bisik Danu dengan nada berbisa.
"Kau pikir dengan mengumumkannya sekarang, kau aman? Kau baru saja membuka pintu menuju masa lalu yang seharusnya tetap terkunci."
Laluna menatap Danu dengan berani.
"Kau sudah kalah, Danu. Gertakanmu tidak mempan."
Danu tertawa rendah, sebuah suara yang membuat bulu kuduk Laluna merinding.
"Kalah? Aku baru saja mulai. Tanyakan pada suamimu yang agung itu, Laluna... tanyakan padanya tentang kecelakaan mobil ayahnya dua puluh tahun lalu. Tanyakan siapa pemilik truk yang menabrak mobil itu hingga ayahnya tewas di tempat."
Wajah Laluna mengerut bingung. "Apa hubungannya dengan-"
"Pemilik truk itu adalah kakekmu, Laluna. Wijaya Senior,"
Danu menyeringai puas saat melihat perubahan ekspresi di wajah Laluna.
"Ayah Reihan tewas karena kelalaian keluarga Wijaya. Dan sekarang, putra dari pria yang tewas itu menikahi putri dari keluarga yang membunuhnya.
Bukankah itu sebuah ironi yang sangat lezat?"
Laluna merasa dunianya runtuh seketika. Kepalanya berputar, dan rasa mual menyerang perutnya. Ia mencari sosok Reihan di tengah kerumunan, namun pria itu sedang tertawa bersama para investor, tidak menyadari bahwa bom waktu yang sesungguhnya baru saja meledak di tangan istrinya.
Laluna melepaskan pegangannya pada gelas minumannya. Gelas itu jatuh ke lantai marmer, pecah berkeping-keping persis seperti hatinya saat itu.
"Laluna? Kau baik-baik saja?" Reihan menyadari ada yang salah dan segera menghampirinya.
Laluna menatap Reihan dengan mata yang penuh ketakutan dan luka.
"Reihan... apakah benar? Tentang ayahmu... dan kakekku?"
Senyum di wajah Reihan perlahan memudar, digantikan oleh bayangan kelam yang seolah sudah lama ia sembunyikan rapat-rapat.
Kesunyian di antara mereka di tengah pesta yang meriah itu adalah jawaban yang paling menyakitkan bagi Laluna.