NovelToon NovelToon
Reality Bender

Reality Bender

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:274
Nilai: 5
Nama Author: Rendy_Tbr

Reality Bender – Sang Penguasa Kehampaan

"Di dunia di mana cahaya matahari adalah hukum, mampukah ketiadaan menjadi penyelamat?"
Dikhianati oleh kekaisaran yang ia bela dan diburu oleh takdir yang haus darah, Fang Han terbangun dengan kutukan yang mustahil: Inti Kehampaan. Kekuatan ini tidak hanya menghapus musuhnya, tetapi perlahan mengikis ingatan, emosi, dan kemanusiaannya sendiri. Setiap langkah menuju puncak kekuasaan adalah langkah menuju kegelapan abadi di mana ia terancam melupakan wajah orang-orang yang ia cintai.
Dari pelarian maut di Puncak Kun-Lun hingga menjadi tawanan di Benteng Obsidian yang mengerikan, Fang Han harus memilih: menjadi senjata pemusnah massal bagi musuhnya, atau menguasai Pedang Shatter-Fate untuk memutus rantai takdir dunia.
Ikuti perjalanan epik penuh pengorbanan, pengkhianatan politik, dan cinta yang melampaui dimensi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rendy_Tbr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEBANGKITAN SANG PENGUASA TAKDIR

Malam itu, aroma itik panggang yang dibawa Paman Fang Zhou seharusnya menjadi melodi penutup hari yang sempurna bagi Fang Han. Namun, di balik tawa renyah pamannya yang menceritakan petualangan berburu di perbatasan, hati Fang Han—jiwa Li Jun yang terjebak dalam raga asing—masih terasa seperti perahu retak yang terombang-ambing di tengah samudra kelam. Ada rasa syukur yang menyesakkan, namun juga ketakutan akan kehilangan kehangatan yang baru saja ia rasakan.

Setelah makan malam yang emosional, Fang Han duduk di teras kecil rumah kayu mereka. Langit desa Qinghe membentangkan permadani bintang yang luar biasa jernih, Namun, ketenangan surgawi itu pecah ketika derap langkah kaki yang angkuh mendekat, membelah kesunyian jalan setapak yang ditumbuhi rimbunnya bambu.

Seorang gadis muncul dari balik kegelapan. Ia mengenakan jubah sutra berwarna merah muda yang berkilau di bawah cahaya bulan, sebuah kemewahan yang tampak sangat kontras dan "berisik" untuk ukuran desa terpencil ini. Wajahnya cantik jelita, dengan mata berbentuk almond yang tajam dan bibir merah yang tipis. Namun, tidak ada setitik pun kehangatan di matanya saat ia menatap Fang Han. Ia menatap seolah-olah sedang melihat noda lumpur di sepatunya.

Ia adalah Lin Meili, putri tunggal kepala desa, gadis yang selama ini terikat janji suci sebagai tunangan Fang Han.

"Han-er, siapa itu yang datang malam-malam begini? Apakah itu tamu yang ingin berobat?" seru Paman Fang Zhou dari dalam rumah, suaranya penuh nada perhatian.

"Hanya teman lama, Paman! Aku akan bicara sebentar di luar agar tidak mengganggu istirahatmu," jawab Fang Han, suaranya sedikit bergetar bukan karena takut, melainkan karena gejolak memori pemilik tubuh ini yang mendadak bangkit menyerang batinnya.

Lin Meili berhenti tepat tiga langkah di depan Fang Han. Ia tidak menyapa, apalagi tersenyum. Matanya menyapu rumah kayu yang sederhana itu dengan tatapan jijik—sebuah tempat yang di matanya tak lebih dari gubuk rongsokan yang menghina martabatnya.

"Aku dengar kau hampir mati meledakkan kuali obat lagi hari ini. Benar-benar ceroboh dan memalukan," ucap Meili datar. Suaranya dingin, seperti bilah es yang sengaja digoreskan ke kulit.

"Itu hanya kecelakaan kecil karena kelelahan, Meili. Tapi takdir masih menginginkanku bernapas, dan aku sudah baik-baik saja sekarang," jawab Fang Han, mencoba memberikan senyum tipis yang tulus.

"Baik-baik saja?" Meili tertawa sinis, sebuah tawa yang menyayat keheningan malam. "Sampai kapan kau akan terus 'baik-baik saja' dalam kubangan kemiskinan ini, Fang Han? Lihatlah dirimu! Tanganmu penuh noda kunyit dan tubuhmu berbau belerang yang memuakkan. Kau hanyalah kacung seorang tabib tua yang bahkan tidak sanggup membelikan sepasang anting perak untuk tunangannya sendiri."

Fang Han tertegun. Ingatan asli pemilik tubuh ini tiba-tiba berdenyut menyakitkan di pelipisnya. Fang Han yang asli sangat memuja gadis ini; ia rela menahan lapar berhari-hari demi menabung sekeping koin perunggu untuk membelikan Meili pita rambut. Namun, Meili yang berdiri di depannya sekarang bukanlah gadis kecil yang dulu tertawa bersamanya di tepi sungai.

"Uang memang bisa membeli kemewahan, tapi ia tidak bisa membeli ketulusan. Paman Zhou dan aku hidup dengan kejujuran yang tidak ternilai. Bukankah kau dulu pernah berjanji bahwa kau mencintai kesederhanaan hidup di desa ini?" tanya Fang Han, mencoba mencari sisa-sisa nurani yang mungkin masih tertinggal di sudut hati gadis itu.

Meili melangkah maju, wajahnya kini hanya berjarak beberapa inci dari Fang Han, memancarkan aura kesombongan yang pekat. "Itu adalah kata-kata dari seorang gadis bodoh yang belum melihat dunia. Sekarang mataku sudah terbuka. Tuan Muda Zuo Chen dari Kota Prefektur telah datang melamarku. Dia memiliki kereta kuda berkuda empat, pelayan yang tak terhitung, dan yang paling penting... dia adalah seorang pendekar hebat di tahap Pembersihan Sumsum!"

Dengan gerakan merendahkan, ia melepas sebuah pita rambut kain yang sudah kusam dari pergelangan tangannya dan melemparkannya ke tanah, tepat di depan kaki Fang Han yang bertelanjang alas.

"Aku ke sini bukan untuk menjengukmu, apalagi mengasihanimu. Aku ke sini untuk memutuskan segala ikatan di antara kita. Jangan pernah lagi muncul di hadapanku. Kau lemah, kau miskin, dan kau tidak punya masa depan. Menikah denganmu hanya akan membuat hidupku membusuk di desa sialan ini!"

Hati Fang Han—jiwa Li Jun yang dulu pernah dihancurkan sebagai pelayan rendahan—mendadak terasa panas membara. Bukan karena ia mencintai Meili, tetapi karena ia sangat muak pada rasa direndahkan oleh mereka yang merasa di atas angin.

"Jadi, hanya karena aku seorang asisten tabib dan bukan putra bangsawan berdarah biru, semua sumpah dan janji yang pernah terucap kini tidak lebih berharga dari kotoran di jalanan?" suara Fang Han kini terdengar berat dan dalam, penuh wibawa yang membuat bulu kuduk merinding.

Meili sedikit tersentak oleh perubahan nada bicara itu, namun egonya yang setinggi langit segera membungkam rasa terkejutnya.

"Tepat sekali! Dunia ini adalah milik mereka yang kuat dan berkuasa, Fang Han. Dan kau... kau hanyalah debu yang ditakdirkan untuk terinjak oleh sepatu-sepatu mahal kami."

Tiba-tiba, dari balik bayangan pohon bambu yang bergoyang, muncul tiga orang pria. Salah satunya mengenakan pakaian tempur dari kulit binatang langka yang sangat elegan. Dialah Zuo Chen, putra pejabat militer kota yang sombong.

"Meili sayang, kenapa kau membuang-buang waktu bicaramu yang berharga dengan sampah tak berguna ini?" tanya Zuo Chen sambil merangkul bahu Meili dengan sangat posesif.

"Aku hanya ingin memastikan bahwa serangga ini tahu di mana tempatnya yang pantas, Tuan Muda," jawab Meili dengan suara yang mendadak berubah menjadi manja dan menjijikkan di telinga Fang Han.

Zuo Chen menatap Fang Han dengan tatapan penuh kebencian dan penghinaan. Ia melangkah maju dan dengan sengaja menginjak pita rambut kusam milik Fang Han, menekannya dalam-dalam ke dalam lumpur hitam yang becek.

"Aku dengar pamanmu, si Fang Zhou itu, hanyalah seorang mantan pengawal militer cacat yang sudah tidak berguna?" tanya Zuo Chen sambil menyeringai licik. "Sampaikan padanya, pajak perlindungan untuk gubuk ini akan kunaikkan tiga kali lipat mulai bulan depan. Jika kau tidak mampu membayar, mungkin rumah kayu ini akan 'tidak sengaja' dilalap api di tengah malam."

Rahang Fang Han mengeras. Di dalam dadanya, sesuatu yang purba mulai bergejolak. Itu bukan sekadar kemarahan manusia biasa, melainkan energi misterius yang tak diketahui darimana asalnya. Di sekelilingnya, butiran debu di tanah mulai bergetar samar, seakan alam semesta sedang menahan napas menanti perintahnya.

"Gunakanlah kekuasaanmu untuk melindungi, bukan untuk menindas. Karena singa yang sejati tidak akan pernah merendahkan dirinya dengan memangsa semut. Jangan pernah libatkan pamanku dalam urusan ini, Tuan Muda Zuo," kata Fang Han dengan nada yang tenang, namun setiap katanya mengandung tekanan mental yang membuat udara di sekitar mereka terasa sangat berat.

Zuo Chen tertawa terbahak-bahak seolah baru saja mendengar lelucon terkonyol abad ini. "Oh? Lihat si tikus kecil ini berani mengancam! Apa yang akan kau lakukan? Melemparku dengan ramuan obat pahitmu atau memukulku dengan kipas bambu?"

Zuo Chen mengangkat tangannya tinggi-tinggi, bersiap melayangkan tamparan keras untuk menghancurkan harga diri Fang Han di depan Meili. Meili hanya menonton dengan senyum kepuasan yang dingin.

Saat tangan Zuo Chen meluncur di udara, waktu seolah melambat secara drastis dalam penglihatan Fang Han. Ia tidak menghindar sedikit pun. Ia hanya mengunci pandangannya pada mata Zuo Chen dengan konsentrasi yang mematikan.

"Berhenti."

Seketika, tangan Zuo Chen membeku di udara, seolah-olah menabrak dinding baja yang tak terlihat. Zuo Chen membelalak tak percaya. Ia mencoba mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, namun tubuhnya terkunci rapat oleh rantai gaib yang tak kasat mata. Wajahnya memerah padam, urat-urat di lehernya menonjol, namun ia tidak bisa menggerakkan satu jari pun.

"Apa... sihir macam apa ini?! Apa yang kau lakukan padaku, brengsek!" teriak Zuo Chen dengan suara penuh ketakutan yang tak lagi bisa disembunyikan.

"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh setiap orang yang memiliki harga diri. Kau bicara tentang kekuatan dan kelemahan seolah kau adalah penguasa langit, tapi kau bahkan tidak tahu bahwa kekuatan sejati lahir dari penderitaan yang telah ditempa oleh api kesabaran," bisik Fang Han tepat di telinga Zuo Chen yang gemetar.

Fang Han mengibaskan tangannya dengan gerakan anggun namun bertenaga. Sebuah gelombang kejut yang tak terlihat menghantam dada Zuo Chen, membuatnya terpental jatuh ke tanah dengan posisi yang sangat memalukan.

Meili memekik kaget, menutup mulutnya dengan tangan yang gemetar. Ia tidak percaya melihat pendekar pilihannya yang hebat dijatuhkan hanya dengan satu tatapan oleh pria yang baru saja ia buang sebagai sampah.

"Pergi dari sini sekarang," kata Fang Han dengan nada dingin yang menusuk tulang. "Bawa sampahmu ini bersamamu. Jika kau atau kaki tanganmu berani mengusik ketenangan pamanku atau menyentuh satu kayu pun dari rumah ini lagi, aku akan memastikan kalian melupakan bagaimana cara untuk sekadar berdiri."

Zuo Chen segera bangkit dengan kaki yang goyah, wajahnya pucat pasi seolah baru saja melihat hantu dari neraka terdalam. Tanpa kata, ia menarik tangan Meili dan lari menghilang ke dalam kegelapan malam yang pekat. Meili sempat menoleh ke belakang sejenak; ada kilatan penyesalan dan ketakutan yang mendalam saat melihat Fang Han berdiri tegak di bawah cahaya bulan—tampak seperti seorang penguasa yang baru saja terbangun dari tidurnya yang panjang.

Keheningan kembali menyelimuti desa Qinghe. Fang Han menghela napas panjang, merasakan energinya terkuras hebat namun hatinya terasa jauh lebih lega. Ia berlutut, memungut pita rambut di tanah yang sudah kotor oleh lumpur.

Paman Fang Zhou keluar dari rumah, wajahnya penuh kekhawatiran. Ia telah menyaksikan semuanya dari balik jendela kayu.

"Han-er... apa yang baru saja terjadi? Sejak kapan kau memiliki kekuatan yang begitu dahsyat?" tanya Fang Zhou dengan suara serak.

"Aku pun tidak sepenuhnya mengerti, Paman. Mungkin saat aku 'mati' tadi siang, ada sesuatu yang tertidur jauh di dalam jiwaku terbangun karena panggilan takdir," jawab Fang Han jujur sambil menatap pamannya dengan mata yang kembali lembut. "Paman, maafkan aku. Aku telah mencari masalah dengan putra seorang pejabat yang berkuasa."

Fang Zhou terdiam sejenak, menatap keponakannya dalam-dalam, lalu ia melepaskan tawa kecil yang penuh dengan kebanggaan seorang ayah. Ia mendekat dan memeluk Fang Han dengan erat.

"Jangan pernah meminta maaf karena telah berdiri tegak demi kebenaran, Nak. Ingatlah, lebih baik mati sebagai harimau yang terhormat daripada hidup seribu tahun sebagai domba yang penakut. Selama Paman masih bisa menggenggam pedang, tidak ada satu orang pun yang boleh menyentuhmu."

Air mata Fang Han jatuh di pundak pamannya. Di kehidupan sebelumnya, ia mati dalam kesendirian yang membeku. Di sini, meski badai besar sedang bersiap untuk datang menghantam, ia tahu satu hal yang pasti.

Ia tidak lagi sendirian. Ia memiliki seseorang yang mencintainya tanpa syarat, dan kini ia memiliki kekuatan untuk melindungi cinta itu.

"Terima kasih, Paman. Aku berjanji, aku akan melindungi rumah ini. Aku akan melindungi setiap napas yang berharga bagi kita," bisik Fang Han dengan sumpah yang tertanam dalam di jiwanya.

Malam itu, di sebuah desa kecil yang terlupakan oleh dunia, seorang pelayan yang dulu hancur telah lahir kembali menjadi seorang penguasa takdir. Dan perjalanannya untuk menjadi tabib sekaligus pendekar teragung baru saja dimulai.

1
BlueHeaven
Cover novelnya mirip putra pria solo😭
Rendy Tbr: Hihihi.. 😄 Waahhh.. Mantap donk.. 👌
total 1 replies
anggita
visual gambarnya oke👌
Rendy Tbr: Terima kasih ka 👌😊
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!