Sepupu menghina, anggota klan memandang rendah, tiga tahun tanpa kemajuan. Lin Han tahu rasa pahit berada di dasar. Namun ia tidak pernah membenci jalan keabadian. Sebaliknya, ia justru semakin keras mengejarnya. Dunia Hunyuan perlahan membuka topengnya. Di balik kemuliaan keabadian tersimpan kenyataan bahwa para pendekar bisa berubah menjadi binatang, sekte suci bisa menjadi sarang ular. Lin Han pun menyadari bahwa satu satunya jalan untuk selamat adalah menjadi lebih kejam daripada mereka. Ia memutuskan untuk tidak lagi mencari pengakuan, melainkan kekuatan absolut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan
"Lin Han, ini perintah terakhir ayah. Besok kau harus menikahi janda dari Klan Liu itu. Jika kau tidak mau... ayah yang akan berkorban menikahi janda itu!"
Suara berat Lin Feng menggema di seluruh ruang utama kediaman keluarga kecil itu.
Lin Han yang duduk bersila di sudut ruangan hanya mendongak, wajahnya tanpa ekspresi berarti.
Tiba-tiba tamparan pun dilayangkan.
Plak!
Tamparan itu keras, terdengar sampai ke halaman belakang.
Ji Lianyue berdiri dengan tangan kanan masih terangkat tinggi, matanya membulat penuh amarah yang tersisa.
"Lin Feng! Berani sekali kau berpikir untuk menikah lagi, sementara aku masih berdiri di sini sebagai istrimu!"
Lin Feng tidak membalas. Ia hanya diam mematung, pipi kirinya memerah dengan cepat dan mulai membengkak.
Ji Lianyue mencondongkan tubuhnya ke depan, kedua tangannya kini bertumpu di pinggang.
"Kau tidur di dalam sumur malam ini. Jangan harap aku membukakan pintu."
Lin Feng mengusap pipinya yang sudah mulai kebas. Matanya melirik ke arah Lin Han sejenak sebelum kembali menatap istrinya.
"Istriku, maaf. Aku hanya bercanda soal menikah lagi tadi." Suaranya berubah menjadi rendah dan sedikit memelas.
Ji Lianyue hanya diam kesal, dadanya masih naik turun menahan emosi.
Melihat istrinya tidak lagi meledak, Lin Feng memberanikan diri berbicara lebih lanjut.
"Istriku, tolong pikirkan nasib Lin Han. Anak kita ini sudah delapan belas tahun dan masih terhenti di Qi Condensation lapis sembilan. Apa kamu mau dia jadi sampah klan selamanya?"
Kalimat itu menusuk tajam. Bukan untuk Ji Lianyue saja, tapi lebih dalam lagi bagi Lin Han sendiri. Pemuda itu menunduk dalam diam, rambut hitamnya menutupi sebagian besar wajahnya yang pucat.
Ji Lianyue memegang dagunya. Kemarahannya perlahan mereda, digantikan oleh kekhawatiran yang sama terhadap anak semata wayang mereka. Ia menatap Lin Han yang masih tertunduk, lalu kembali menatap suaminya.
"Apa hubungannya menikahi janda dari Klan Liu dengan kultivasi anak kita? Jangan kau pikir aku tidak tahu, janda itu sudah tiga kali menikah dan tiga kali ditinggal mati suaminya. Ada rumor menyebutnya Janda Pembawa Sial."
Lin Feng menegakkan duduknya, melipat kedua kakinya dengan posisi yang lebih mantap.
"Sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kultivasi secara langsung. Tapi..." Suaranya berubah menjadi lebih pelan. "Ini kesempatan bagus untuk Lin Han. Mendapatkan wanita seperti janda itu bukanlah perkara mudah."
Ji Lianyue mengernyitkan dahinya semakin dalam, membentuk garis tegas di antara kedua alisnya.
"Coba bicara yang jelas. Aku tidak suka kau berputar putar seperti ular kelaparan. Biar aku bisa memutuskan dengan kepala dingin."
Lin Feng membuat isyarat dengan tangannya, meminta istrinya mendekat.
Ji Lianyue mendengus pelan, tapi ia tetap melangkah dan mencondongkan telinganya ke arah suaminya. Lin Feng mulai berbisik.
Lin Han hanya menatap sekilas ke arah kedua orang tuanya, lalu menghela napas panjang.
Bisik bisik itu berlangsung selama waktu yang cukup lama. Ekspresi Ji Lianyue berubah beberapa kali. Dari tidak percaya, berubah menjadi terkejut, lalu berubah lagi menjadi serius. Ketika akhirnya Lin Feng selesai berbicara dan menjauhkan kepalanya, Ji Lianyue langsung memutar tubuhnya dan menatap Lin Han dengan sorot mata yang berbeda.
"Nak, ikuti kata ayahmu kali ini. Percayalah, semua ini demi dirimu."
Lin Han tetap diam.
Ji Lianyue melanjutkan, suaranya kini lebih lembut namun tetap menusuk.
"Jika kau tidak menikah dengannya... Ibu tidak yakin, gadis di Kota Bilou ini ada yang mau melirikmu. Statusmu di klan sudah seperti ini. Jangan tambah beban pikiran ayah dan ibumu."
Lin Han mengangguk perlahan. Tidak ada bantahan. Tidak ada pertanyaan. Ia lalu berdiri, punggungnya tegak meskipun matanya tetap redup.
"Aku selalu menuruti perkataan ayah dan ibu. Sampai kapanpun." Suaranya datar tanpa gelombang emosi apapun. "Jadi... Lin Han akan ikuti arahan ayah."
Lin Feng dan Ji Lianyue saling berpandangan sejenak, lalu mengangguk bersamaan. Wajah Lin Feng yang tadi tegang kini berubah menjadi puas.
"Bagus. Anak ayah memang paling bisa mengerti."
Ji Lianyue menambahkan sambil menyibak rambut di dahinya.
"Anak ibu tidak mengecewakan."
Lin Han tersenyum tipis. Senyum itu hanya gerakan bibir, tidak sampai ke matanya.
"Terima kasih, Ayah, Ibu. Kalau begitu, Lin Han pamit dulu."
Kedua orang tuanya mengangguk.
Lin Han melangkah keluar dari ruang utama. Kakinya yang ringan hampir tidak bersuara di atas lantai kayu tua. Ia mendorong pintu depan dan melangkah ke halaman. Cahaya rembulan mulai naik di ufuk timur, memantulkan warna perak pucat di atas batu batu halaman.
Belum sampai ia menyentuh gerbang kecil menuju halaman belakang, sebuah suara melengking terdengar dari samping.
"Hei, sampah! Apa kau mau ke halaman belakang lagi untuk memainkan pedang kayumu itu? Buang buang waktu saja!"
Lin Dan berdiri dengan tangan terlipat di depan dada, senyum mengejek tersungging lebar di wajahnya yang berminyak. Di belakangnya, dua orang pemuda klan Lin lainnya ikut terkekeh.
Lin Han terus berjalan tanpa meladeni. Kata kata Lin Dan masuk ke telinga kirinya dan langsung keluar dari telinga kanannya, tanpa meninggalkan bekas sedikit pun. Sudah terlalu sering ia mendengar hinaan serupa.
Halaman belakang kediaman mereka sepi. Hanya ada sebuah sumur tua di sudut, sebatang pohon beringin kecil yang meranggas, dan tumpukan kayu bakar di sisi lainnya. Di tengah halaman itu, tersandar di dinding batu, sebuah pedang kayu sederhana menunggunya.
Lin Han mengambil pedang kayu itu. Genggamannya longgar, tidak ada kekuatan berarti di jari jemarinya. Pedang ini biasanya ia gunakan untuk berlatih teknik dasar pedang murni, gerakan tanpa kultivasi. Tanpa Qi, hanya otot dan hafalan jurus.
Dia sangat bagus dalam hal itu. Gerakannya presisi, posisi kakinya sempurna, dan ayunannya bersih. Tapi semua orang di dunia kultivasi tahu, teknik pedang tanpa Qi hanyalah tarian kosong. Indah dilihat, tak berguna di medan pertarungan sejati.
Lin Han menghela napas sambil mendongak menatap langit malam yang kini bertabur bintang. Rembulan menggantung rendah, cahayanya dingin menimpa wajahnya yang pucat.
"Sudah tiga tahun meridianku tersumbat tanpa sebab," gumamnya pelan, hanya untuk dirinya sendiri.
Begitu banyak pil telah ia telan. Begitu banyak artefak telah ayahnya beli dari pedagang keliling. Semua untuk menghancurkan sumbatan misterius di jalur kultivasinya. Tapi tidak ada yang berhasil. Sumbatan itu seperti benteng tak terlihat, menghalangi setiap aliran Qi yang mencoba menembus ke Dantiannya.
Lin Han memegang dahinya dengan tangan kirinya yang dingin. Pedang kayu di tangan kanannya menggantung lemas di sisi tubuh.
"Apa aku akan seperti ini sampai kematian tiba?"
Tidak ada jawaban.
Ia terkekeh. Suara tawa kecil yang keluar dari tenggorokannya terdengar lebih mirip hembusan napas putus asa. Tidak ada humor di dalamnya. Hanya penerimaan pahit.
"Takdir kejam."
Angin malam berhembus pelan, menggoyang ranting pohon beringin yang meranggas. Lin Han menurunkan tangannya dari dahi, menatap pedang kayu di genggamannya. Besok ia akan menikahi seorang janda dari Klan Liu. Janda yang katanya membawa sial. Janda yang mungkin bahkan lebih tidak menginginkan pernikahan ini daripada dirinya sendiri.
Tapi apa bedanya?
Sampah klan dan janda pembawa sial. Mungkin memang sudah seharusnya mereka disatukan oleh takdir yang sama kejamnya.