Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.
Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.
Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.
Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.
Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:
Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.
Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-
Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(ARC 1) Chapter 31: Gendut?!
Angin meraung.
Awan berlalu cepat.
Grachius meluncur di langit sambil menggendong Daji.
Di bawah mereka—
Kota Baldr perlahan mengecil.
Bangunan-bangunan batu yang sebelumnya tampak kokoh kini berubah menjadi titik-titik kecil. Cerobong asap bengkel yang terus menyala terlihat seperti garis tipis yang memudar di antara kabut pegunungan. Suara palu, tawa dwarf, dan hiruk pikuk kota itu sudah tidak lagi terdengar.
Hanya ada langit.
Angin.
Dan Daji yang panik.
“GRAAAACHIUS!”
Daji memprotes sambil memegangi pundaknya erat.
“Kau mengangkat ku tanpa bilang apa-apa!”
Grachius menatap lurus ke depan.
Wajahnya tenang.
Terlalu tenang untuk seseorang yang sedang terbang puluhan meter di atas tanah.
“Kalau kubilang dulu, kau akan bertanya terlalu banyak.”
“ITU BUKAN ALASAN!”
Angin menghantam wajah Daji tanpa ampun.
Rambutnya berantakan. Telinga rubahnya tertekan ke belakang. Matanya bahkan sulit terbuka karena kecepatan mereka cukup tinggi.
Grachius terbang sekitar enam puluh kilometer per jam.
Bukan kecepatan tertingginya.
Namun cukup membuat Daji merasa seperti sedang dilempar oleh raksasa tak terlihat.
“Pelankan!”
“Kenapa?”
“Karena wajahku hampir lepas!”
Grachius meliriknya sebentar.
Lalu, tanpa benar-benar memperlambat, ia mengangkat satu tangan.
Daji langsung panik.
“Kenapa kau melepas satu tangan?! Pegang aku yang benar!”
“Diam sebentar.”
Jari Grachius membentuk segel sederhana.
Qi mengalir dari tubuhnya, halus namun padat, lalu menyebar di sekitar mereka. Dalam beberapa detik, lapisan transparan terbentuk seperti kubah tipis yang mengikuti gerakan mereka.
Qi Barrier.
Suara angin langsung mereda.
Tekanan udara yang tadi menghantam wajah Daji menghilang. Rambutnya tidak lagi berkibar liar. Ia bisa membuka mata dengan lebih mudah.
Grachius menatapnya.
“Sekarang?”
Daji menarik napas panjang.
Lalu mengusap rambutnya yang sudah terlanjur kacau.
“Lumayan.”
“Bagus.”
“Jangan terdengar puas. Kau tetap salah.”
“Aku menyelesaikan masalah.”
“Kau yang menciptakan masalahnya.”
Grachius diam sebentar.
Lalu tertawa kecil.
Daji langsung menoleh.
“Kau tertawa?”
“Sedikit.”
“Kau menertawakanku?”
“Sedikit.”
“Grachius!”
Tawa Grachius terdengar lagi, kecil namun nyata.
Daji memelototinya, tetapi amarahnya tidak sepenuhnya sampai. Ada sesuatu yang berbeda ketika melihat Grachius tertawa seperti itu.
Biasanya pria itu terlalu tenang.
Terlalu datar.
Terlalu jauh.
Namun sejak meninggalkan Baldr, ia tampak sedikit lebih ringan. Tidak banyak, tetapi cukup untuk terlihat oleh Daji.
Dan entah kenapa—
Daji merasa senang.
Lalu Grachius berkata santai, “Kau berat.”
Wajah Daji langsung berubah.
“…apa?”
“Kau berat.”
Daji menunjuk dirinya sendiri.
“Kau menyebutku gendut?”
Grachius mengerutkan kening.
“Tidak. Aku bilang berat.”
“Itu sama saja!”
“Tidak sama.”
“Sama!”
“Berat berarti massa tubuh. Gendut berarti—”
“Jangan lanjutkan kalimat itu kalau kau masih ingin punya wajah.”
Grachius menatapnya beberapa detik.
Lalu tertawa kecil lagi.
Daji menggeram.
“Kau semakin menyebalkan setelah meditasi.”
“Mungkin.”
“Jangan jawab mungkin!”
Namun meski ia protes, tangannya tetap menggenggam pundak Grachius erat.
Grachius menatap ke depan lagi.
“Berpegangan lebih erat.”
Daji berhenti menggerutu.
“Kenapa?”
“Aku tidak ingin kau jatuh.”
Kalimat itu sederhana.
Sangat sederhana.
Namun Daji terdiam.
Angin mengalir lembut di luar Qi Barrier, sementara langit terbuka luas di sekitar mereka. Grachius mengatakannya tanpa nada berlebihan, tanpa maksud menggoda, tanpa sadar bahwa kalimat itu membuat sesuatu di dada Daji bergerak aneh.
Perlahan, Daji memeluk pundak Grachius lebih erat.
Tubuh mereka menjadi lebih dekat.
Wajah Daji kini tidak jauh dari wajah Grachius. Ia bisa melihat mata kuning kemerahan itu dengan jelas—tenang, fokus, namun tidak sedingin dulu. Napas Grachius stabil, hangat, dan dekat.
Terlalu dekat.
Daji segera memalingkan wajah.
Pipinya memerah samar.
Grachius tidak menyadarinya.
Tentu saja.
Ia hanya terus terbang seolah tidak terjadi apa-apa.
Daji menggigit bibir kecil.
Dia benar-benar berbahaya.
Bukan karena api hitam.
Bukan karena Qi.
Bukan karena tinjunya yang bisa meretakkan batu.
Melainkan karena ia bisa membuat hati Daji kacau tanpa mencoba.
Beberapa waktu berlalu.
Kota Baldr sudah tidak terlihat lagi.
Pegunungan mulai tertinggal di belakang. Di bawah mereka, dunia terbuka luas seperti lukisan yang bergerak.
Padang rumput membentang hijau keemasan.
Hutan-hutan kecil tersebar seperti pulau di tengah daratan.
Sungai panjang berkilau terkena cahaya matahari, mengalir seperti pita perak yang membelah bumi.
Jalan batu tampak seperti garis tipis.
Di atasnya, beberapa karavan bergerak pelan, begitu kecil hingga terlihat seperti semut yang membawa barang-barang di punggung mereka.
Grachius menunduk sedikit.
“Daji.”
“Hm?”
“Lihat.”
Daji mengikuti arah pandangnya.
Dan untuk sesaat—
ia terdiam.
Dari atas sini, dunia tampak berbeda.
Lebih luas.
Lebih tenang.
Lebih indah.
Skullcrack yang keras, Alfheim yang mengawasi, Baldr yang penuh api dan palu—semuanya hanyalah bagian kecil dari dunia yang jauh lebih besar.
Angin bergerak lembut di luar Qi Barrier.
Awan putih lewat di samping mereka.
Daji menatap sungai yang berkilau jauh di bawah.
“…indah.”
Suaranya pelan.
Tidak menggoda.
Tidak bercanda.
Hanya jujur.
Grachius meliriknya sebentar.
Lalu kembali menatap ke depan.
“Ya.”
Daji tersenyum kecil.
“Jadi ini sebabnya kau memilih terbang?”
“Karena cepat.”
“Merusak suasana sekali.”
“Dan pemandangannya bagus.”
Daji menoleh padanya.
Grachius tetap datar.
Namun kali ini, Daji tahu ia sengaja menambahkan itu.
Ia tertawa pelan.
“Lumayan. Kau mulai belajar.”
“Belajar apa?”
“Menjadi tidak terlalu kaku.”
“Aku tidak kaku.”
“Kau sangat kaku.”
Grachius diam.
Daji tersenyum puas.
Lalu ia mulai berbicara, kali ini dengan nada lebih santai.
“Saat bekerja di bar Helga, aku dengar beberapa hal tentang rute ini.”
Grachius mendengarkan.
“Jalur dari Baldr ke Frigg termasuk salah satu rute paling aman dan paling indah di timur Mainland.”
“Kenapa?”
“Pemerintah Baldr dan Frigg bekerja sama menjaga jalurnya. Hampir tidak ada bandit. Monster juga jarang muncul. Pedagang sering lewat sini karena lebih aman dibanding jalur utara.”
Grachius menatap ke bawah.
Benar saja.
Beberapa karavan tampak bergerak santai di jalan batu. Tidak ada formasi pertahanan berlebihan. Tidak ada kepanikan. Bahkan beberapa gerobak berjalan dengan jarak cukup jauh dari satu sama lain, tanda bahwa mereka tidak terlalu takut disergap.
“Hubungan Baldr dan Frigg baik,” kata Grachius.
“Sepertinya begitu.” Daji mengangguk. “Dwarf menghargai kerja keras. Frigg menghargai harmoni. Mungkin itu cocok.”
“Harmoni?”
Daji menatapnya.
“Helga bilang Frigg bisa menjadi kota aman karena ajaran kuil Sonne.”
Nama itu membuat Grachius sedikit diam.
Daji menyadarinya, lalu melanjutkan dengan lebih pelan.
“Sonne dikenal sebagai dewa yang baik. Pelindung. Adil. Tidak membeda-bedakan ras.”
Grachius tidak menjawab.
Namun perhatiannya sepenuhnya tertuju pada Daji.
“Karena ajaran itu, banyak ras bisa hidup berdampingan di sana. Manusia, beastfolk, dwarf, elf, bahkan ras campuran yang kadang ditolak di tempat lain.”
Angin berhembus lembut di luar barrier.
Mata Grachius sedikit menunduk.
Sonne.
Ayah yang tidak pernah ia kenal.
Selama ini, nama itu selalu muncul bersama kematian.
Pengkhianatan.
Dewa yang dijatuhkan.
Warisan yang dirampas.
Namun kini, untuk pertama kalinya, Grachius mendengar nama Sonne dari sisi lain.
Bukan sebagai korban.
Bukan sebagai alasan balas dendam.
Melainkan sebagai cahaya yang pernah melindungi orang lain.
Perlahan, senyum kecil muncul di wajahnya.
Hangat.
Bangga.
Daji melihatnya.
Dan ia tidak mengatakan apa-apa.
Karena ekspresi itu terlalu jarang untuk diganggu.
Di dalam dada Grachius, sesuatu terasa hangat.
Aneh.
Rapuh.
Namun nyata.
Ayahnya…
ternyata dikenang dengan baik.
Bukan karena kekuatan saja.
Tetapi karena kebaikan.
“Aku semakin penasaran,” kata Grachius pelan.
Daji memiringkan kepala.
“Tentang Frigg?”
“Ya.”
Ia menatap ke arah timur.
Ke arah yang belum terlihat oleh mata mereka, namun sudah terasa semakin dekat.
“Aku ingin bertemu ayahku.”
Daji terdiam.
Grachius melanjutkan, suaranya tetap tenang, tetapi lebih lembut dari biasanya.
“Bukan tubuhnya. Bukan wajahnya.”
Matanya menatap jauh.
“Aku ingin melihat apa yang ia tinggalkan.”
Sungai di bawah mereka berkilau panjang.
“Aku ingin tahu bagaimana orang-orang mengingatnya.”
Angin mendorong awan lewat di sisi mereka.
“Aku ingin memahami ajarannya.”
Daji menatap wajah Grachius.
Untuk sesaat, ia tidak melihat Pemburu Dewa.
Tidak melihat pemuda yang membakar Templar.
Tidak melihat pria yang mampu menutup Meridian petarung kuat tanpa berkedip.
Ia hanya melihat seseorang yang ingin mengenal ayahnya.
Seorang anak yang tumbuh tanpa wajah, tanpa suara, tanpa kenangan—namun tetap merindukan sesuatu yang belum pernah ia miliki.
Daji tersenyum kecil.
Bukan senyum menggoda.
Bukan senyum licik.
Hanya senyum lembut.
“Kalau begitu, kita harus sampai Frigg secepatnya.”
Grachius menoleh padanya.
“Kau tidak takut terbang lagi?”
Daji langsung memalingkan wajah.
“Aku tidak pernah takut.”
“Kau berteriak.”
“Itu reaksi wajar.”
“Keras sekali.”
“Aku bisa berteriak lagi kalau kau terus bicara.”
Grachius tertawa kecil.
Daji menatapnya dengan kesal palsu.
Namun kali ini ia tidak benar-benar marah.
Mereka terus meluncur ke timur.
Langit luas terbentang di depan.
Dunia di bawah bergerak tenang.
Kota Frigg menunggu di kejauhan, membawa jejak Sonne yang telah lama hilang dari hidup Grachius.
Namun semakin dekat Grachius pada cahaya ayahnya—
semakin dekat pula ia pada bayangan yang membunuhnya.
Aetherion masih menunggu.
Sagitta masih menggenggam Sunchaser.
Dan para dewa di langit masih tertawa, belum memahami bahwa nama yang mereka remehkan sedang terbang semakin dekat.
Di antara awan dan angin, Grachius membawa Daji menuju timur.
Menuju Frigg.
Menuju masa lalu Sonne.
Dan menuju perang yang perlahan semakin nyata.
...A Novel By Franzzz...