NovelToon NovelToon
Sistem Penakluk Para Dewi Jilid 2

Sistem Penakluk Para Dewi Jilid 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Bad Boy / Fantasi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Lupakan apa yang kalian ketahui tentang Zhang Yuze yang lama. Di Jilid 2 ini, panggung kehidupan akan menjadi jauh lebih luas dan berbahaya.

​Bukan lagi sekadar urusan asmara di bangku sekolah, Zhang Yuze akan mulai melangkah ke dunia bisnis yang penuh intrik, berhadapan dengan tokoh dunia bawah tanah yang kuat, hingga terjebak di antara pesona selebritas papan atas yang memabukkan. Akankah Kitab Santo Cinta cukup untuk melindunginya saat kekuatan rahasia mulai mengincar dirinya? Ataukah godaan dari para wanita menawan di sekelilingnya justru akan menjadi bumerang bagi takdirnya?

​Persiapkan diri kalian. Ambisi yang lebih besar, romansa yang lebih membara, dan rahasia pusaka yang lebih dalam akan segera dimulai.

​Pastikan kalian berada di barisan terdepan saat langkah baru ini dimulai!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Setelah Yudha terbelenggu di kursi, polisi itu memberikan tatapan dingin terakhir sebelum keluar dan membanting pintu, seketika membuat ruangan itu tenggelam dalam kegelapan.

​Setelah para polisi itu pergi, pikiran Yudha tertuju pada Luna yang berada di luar. Namun, ia mencoba menenangkan diri; bagaimanapun ini adalah kantor polisi. Sekalipun Gerry sudah gila, dia pasti masih punya rasa segan untuk berbuat nekat di sini. Yudha menghela napas panjang, merasa sangat kecewa pada institusi kepolisian. Sebagai pelindung masyarakat, mereka justru bertindak sebagai kaki tangan kejahatan—benar-benar sebuah tragedi!

​Kini, ia hanya bisa menunggu dan bertanya-tanya dalam hati: Bagaimana cara Bang Januar membereskan masalah ini?

......................

Januar tengah berendam di sebuah bak mandi raksasa—begitu besar hingga terasa seperti kolam pribadi. Air hangat mengepul tipis, memantulkan cahaya lampu yang lembut. Di sekelilingnya, belasan perempuan dengan paras menawan bercanda dan bermain air, tawa mereka ringan seperti riak kecil di permukaan.

Di tengah suasana itu, seorang gadis berwajah imut dengan pipi seperti bayi mendekat dari belakang. Tangannya yang halus mencubit pelan bahu Januar, tepat setelah pria itu menutup panggilan telepon.

“Bang Januar, siapa sih yang nelepon? Nggak nyangka ya, setelah lebih dari dua puluh tahun, masih ada teman lama yang bisa hubungi kamu di sini.”

Januar menghela napas pendek, lalu tersenyum kecut.

“Aku juga nggak nyangka. Anak itu malah tertangkap polisi, persis kayak aku dulu. Waktu itu, Kamu yang bantuin aku keluar. Tapi dia ini… relasinya payah banget, malah langsung cari aku. Hah… kayaknya adik seperguruanku makin hari makin apes.”

“Hmph!” Citra mendengus pelan, bersandar di tubuh Januar dengan sedikit kesal. “Kalau dulu aku tahu kamu bakal jadi ‘perusak hati’ sebanyak ini, harusnya mereka aku kurung sepuluh tahun dulu baru dilepas. Biar nggak sebanyak ini perempuan yang jadi korban kamu sekarang.”

Januar terkekeh, senyum jahil tersungging di bibirnya.

“Kalau aku dikurung, berapa banyak yang bakal patah hati, coba?”

Citra memutar mata, tapi tak benar-benar menjauh.

Sebenarnya, ada hal yang diam-diam mengganjal di hati Januar. Dulu, saat mereka semua masih belum genap dua puluh tahun, ia pernah memberikan ramuan khusus—sesuatu yang membuat usia mereka seakan berhenti. Sejak saat itu, baik Shinta, Gita, Wulan, Hana, maupun Mila… semuanya tetap berada di fase remaja mereka, tak pernah benar-benar bertambah dewasa.

Para gadis itu sendiri tak tahu harus merasa beruntung atau justru terjebak. Namun bagi Januar, setiap kali melihat wajah-wajah mereka yang tak berubah, ada kehangatan aneh yang muncul di dadanya—seolah waktu terbaik dalam hidupnya tak pernah benar-benar berlalu.

Tiba-tiba, dua lengan lembut melingkar dari belakang, membuat Januar sedikit terkejut.

“Shinta…” gumamnya pelan, setengah bercanda. “Kamu kayaknya makin…”

“Ih, apaan sih!” Shinta memukul pelan bahunya, pipinya merona.

Lalu ia menatap Januar dengan rasa ingin tahu.

“Yang tadi nelepon itu… anak yang minta bantuan, ya?”

Januar mengangguk pelan, lalu menghela napas.

“Kalau kamu nggak ingetin, aku hampir lupa. Tapi pejabat-pejabat korup itu memang perlu dikasih pelajaran. Masalahnya… aku nggak punya koneksi di Bandung atau Jawa Barat. Kayaknya harus merepotkan kakakmu.”

Ia lalu menyerahkan ponsel ke gadis berwajah imut di sampingnya.

“Sarah, telepon kakakmu. Aku yang ‘culik’ adiknya, masa aku yang harus hubungi dia lagi.”

Sarah tertawa kecil, menjulurkan lidahnya nakal.

“Bang Januar juga bisa malu, ya?”

Namun ia tetap mengambil ponsel itu dan menekan nomor dengan patuh.

......................

Markas Kodam Wilayah Jawa Barat

Di sebuah ruangan kantor yang rapi namun terasa dingin, seorang pria berusia empat puluhan duduk dengan santai—terlalu santai untuk ukuran seorang perwira tinggi. Kakinya disilangkan di atas meja, seragamnya terbuka sedikit di bagian leher.

Namanya Letnan Jenderal Fajar Pratama.

Tiba-tiba, ponselnya berdering.

Begitu melihat nomor yang muncul, sorot matanya langsung berubah tajam. Ia segera mengangkat panggilan itu.

“Halo?”

“...Kakak?”

Suara di seberang membuat tubuhnya membeku sesaat.

“Ka–kamu… Sarah?” Suaranya bergetar, nyaris tak percaya.

Setengah jam kemudian, Fajar menutup telepon dengan wajah yang sudah berubah dingin.

“Brengsek…” gumamnya pelan, lalu menoleh ke ajudannya.

“Hubungkan saya ke kantor wali kota Bandung. Sekarang.”

Di sisi lain kota, Yudha—yang masih mendekam di ruang tahanan—mulai kehilangan kesabaran.

“Jangan-jangan si Januar juga omong kosong…” gumamnya kesal. “Udah lama begini, nggak ada yang datang nolong…”

Sebagai kawasan ekonomi khusus, Bandung dipimpin oleh pejabat dengan wewenang tinggi. Di ruang rapat utama kantor pemerintahan, suasana terasa tegang dan formal.

Wali Kota Sutrisno sedang memimpin rapat penting bersama jajaran pejabat.

Biasanya, ia tak pernah mengangkat telepon saat rapat berlangsung—bahkan dari keluarganya sendiri. Namun hari itu berbeda.

Ponsel khususnya berdering.

Wajahnya langsung berubah.

Ia memberi isyarat agar rapat dihentikan sejenak, lalu berjalan ke sudut ruangan dan menjawab panggilan.

“Jenderal Fajar… ada perintah?”

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, suara menggelegar dari seberang.

“Orang-orangmu berani-beraninya menangkap adik orang dekat saya?! Kamu sudah tidak mau kerja lagi, ya?!”

Tubuh Sutrisno langsung menegang. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.

“Sa–saya… akan segera tangani, Jenderal!”

Ia tahu betul—ini bukan ancaman kosong.

Keluarga Fajar punya pengaruh besar. Jika mereka ingin mencopot jabatannya, itu bukan hal yang sulit.

Setelah panggilan berakhir, wajah Sutrisno mengeras. Ia kembali ke ruang rapat, lalu menatap tajam ke arah seorang pejabat di bawahnya.

“Pak Imam,” katanya dingin kepada Kepala Kepolisian Kota, “saya mendapat laporan bahwa anak buah Anda melakukan penahanan ilegal terhadap warga sipil. Ini pelanggaran serius.”

Imam terkejut, masih belum sepenuhnya paham situasi.

“Anda segera ke Polsek. Hentikan semua tindakan itu. Kalau sampai ada konsekuensi besar, Anda yang bertanggung jawab.”

Nada suara itu tak memberi ruang bantahan.

Imam hanya bisa mengangguk cepat, jantungnya berdegup kencang.

Dalam hati, ia mengumpat.

“Siapa lagi yang bikin masalah kali ini…”

Tanpa sempat berpikir panjang, ia langsung bergegas keluar, memerintahkan sopirnya melaju secepat mungkin menuju kantor polisi sektor.

Situasi yang awalnya tampak sepele… kini berubah menjadi badai yang siap menggulung siapa saja yang terlibat.

Ekspresi Pak Sutrisno sedikit melunak saat melihat AKP Imam bergegas datang tanpa menunda waktu. Namun, mengingat nada bicara sosok penting di telepon tadi, hatinya tetap tidak tenang. Demi menjaga jabatannya tetap aman, ia memutuskan untuk turun tangan sendiri. Siapa tahu, ini justru menjadi jalan baginya untuk menjalin koneksi dengan keluarga konglomerat yang sangat berpengaruh itu.

1
Tri Rahayu Amoorea
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!