NovelToon NovelToon
Anomali Rasa

Anomali Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Romantis
Popularitas:656
Nilai: 5
Nama Author: USR

Pertemuan kembali di koridor universitas seharusnya menjadi momen nostalgia yang manis, namun bagi Wahyu dan Riani, itu adalah awal dari sebuah interaksi yang panjang dan penuh tembok penghalang.
Namun, hubungan mereka tidak berjalan semudah bayangan. Ada penyangkalan yang kuat, kecanggungan yang berlarut-larut, hingga cara berkomunikasi yang sering kali menemui jalan buntu.

Nantikan Perjalanan Kedua nya.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8

POV: WAHYU

Wahyu menutup pintu kamar kostnya dengan sedikit lebih keras dari biasanya. Kantong plastik belanjaan dari minimarket dia lempar ke sudut kamar, lalu dia merebahkan tubuh di kasur tanpa melepas sepatu.

Napasnya terengah-engah—bukan karena lelah fisik, tapi karena... emosi yang berkecamuk di dada.

Kenapa Riani tidak bisa mengerti?

Kenapa dia tidak bisa membiarkan Wahyu sendiri?

Wahyu menatap langit-langit kamar yang retak. Otaknya memutar ulang kejadian di minimarket tadi.

Senyum Riani yang terlalu... tulus.

Pertanyaan-pertanyaannya yang terdengar innocent tapi terlalu personal.

Dan cara dia menatap Wahyu—seperti dia bisa melihat sesuatu yang Wahyu sembunyikan.

Itu menakutkan.

Wahyu tidak suka diperhatikan. Tidak suka jadi pusat perhatian seseorang. Karena perhatian itu... selalu datang dengan harga.

Dulu, di SMA pertama, ada beberapa orang yang juga "perhatian" padanya. Mereka tersenyum, mereka ramah, mereka pura-pura peduli.

Sampai mereka tahu tentang kasus ayahnya.

Lalu semuanya berubah.

Senyum hilang. Ramah diganti dengan jarak. Peduli berganti dengan bisikan dan tatapan jijik.

Dan Wahyu belajar: jangan pernah percaya pada orang yang terlalu cepat peduli.

Karena mereka pasti punya agenda.

Wahyu bangkit dari kasur, melepas sepatu, lalu berjalan ke meja belajar. Dia menyalakan laptop—layar menyala dengan cahaya biru pucat yang menerangi wajahnya yang lelah.

Email masuk: tiga notifikasi baru.

Pertama, konfirmasi pembayaran dari klien kemarin. Delapan puluh dolar sudah masuk ke akun PayPal-nya. Bagus. Dia bisa withdraw besok.

Kedua, tawaran project baru dari klien lama—sepuluh halaman dokumen legal, bahasa Inggris ke Indonesia, deadline seminggu, bayaran enam puluh dolar.

Wahyu menghitung cepat. Enam puluh dolar, kurs lima belas ribu, berarti sembilan ratus ribu rupiah. Lumayan untuk tambahan biaya hidup bulan ini.

Dia reply email: "Accept. Please send the document. Will finish within 5 days."

Ketiga, email dari dosen Hukum Pidana—reminder bahwa ujian tengah semester akan diadakan Jumat depan. Materi: delik-delik dalam KUHP, unsur pidana, pertanggungjawaban pidana.

Wahyu membuka kalender di ponselnya. Hari ini Minggu. Berarti dia punya lima hari untuk belajar sambil mengerjakan translation project.

Ketat, tapi bisa diatur.

Dia mulai membuat jadwal di notes:

Senin:

06.00 - 07.00: Belajar Hukum Pidana (Bab 1-2)

07.30 - 11.00: Kuliah

12.00 - 15.00: Translation project (target 3 halaman)

15.30 - 17.00: Meeting BEM

18.00 - 20.00: Belajar Hukum Pidana (Bab 3-4)

20.30 - 22.00: Translation project (target 2 halaman)

Selasa:

06.00 - 07.00: Belajar Hukum Perdata

07.30 - 13.00: Kuliah

14.00 - 18.00: Translation project (target 5 halaman selesai)

19.00 - 21.00: Belajar Hukum Pidana (Bab 5-6)

Wahyu menatap jadwal itu. Padat. Hampir tidak ada waktu luang.

Tapi itulah hidupnya sekarang.

Padat. Terstruktur. Terkontrol.

Tidak ada ruang untuk... hal-hal lain. Tidak ada ruang untuk orang seperti Riani yang tiba-tiba muncul dan mencoba masuk ke dalam hidupnya.

Wahyu menutup laptop. Dia berdiri, berjalan ke sudut kamar, mengambil kantong belanjaan tadi. Mengeluarkan isinya satu per satu: mie instan—dua belas bungkus, beras dua kilogram, sekotak telur isi sepuluh, satu botol kecap.

Dia menyimpan semuanya di lemari kecil di samping meja belajar. Lalu mengambil dua bungkus mie instan untuk makan siang.

Tidak ada kompor di kamar. Jadi Wahyu turun ke dapur bersama di lantai satu. Dapur itu kecil, cukup untuk satu orang masak pada satu waktu. Ada kompor gas dua tungku, beberapa panci dan wajan komunal, serta wastafel kecil.

Untungnya tidak ada orang lain di sana.

Wahyu memasak mie instan dengan cepat—rebus air, masukkan mie dan bumbu, tunggu tiga menit, matikan api. Dia tidak menambahkan apa pun—tidak ada telur, tidak ada sayuran. Hanya mie dan kuah.

Sederhana. Cepat. Cukup untuk mengisi perut.

Dia membawa panci berisi mie kembali ke kamar, makan langsung dari panci sambil duduk di tepi kasur. Tidak ada meja makan. Tidak ada ritual makan yang proper. Hanya... bertahan hidup.

Sambil makan, pikirannya melayang ke sidang kemarin.

Kesaksian auditor yang menguntungkan ayahnya.

Harapan tipis bahwa kasus ini akan segera berakhir.

Tapi juga kenyataan bahwa "segera" berarti satu sampai dua tahun lagi.

Wahyu menelan mie dengan susah payah—tenggorokannya terasa kering.

Dua tahun lagi.

Berarti dia harus bertahan dua tahun lagi dengan kehidupan seperti ini.

Kuliah sambil kerja. Tidur minimal. Makan seadanya. Hidup dalam isolasi.

Dua tahun.

Apakah dia bisa?

Wahyu menggelengkan kepala. Jangan bertanya "apakah bisa". Pertanyaannya adalah "harus bisa".

Karena tidak ada pilihan lain.

Dia menghabiskan mie instan, mencuci panci di wastafel kamar dengan air dari galon, lalu menyimpan panci kembali ke sudut kamar.

Sekarang pukul dua siang.

Wahyu berbaring sebentar di kasur. Lima menit. Hanya lima menit untuk menutup mata dan mengistirahatkan pikiran.

Tapi lima menit berubah jadi dua puluh menit.

Saat Wahyu membuka mata, alarm di ponselnya berbunyi—reminder bahwa dia punya meeting BEM jam tiga sore.

"Sial," gumamnya. Dia bangun terburu-buru, mandi cepat, ganti baju, lalu keluar kamar.

Wahyu sampai di sekretariat BEM pukul tiga lewat sepuluh menit. Untungnya meeting belum dimulai—Ardi dan yang lain masih ngobrol santai sambil menunggu.

"Wahyu, lu telat," Ardi menyapa dengan nada bercanda.

"Maaf. Ada urusan tadi," jawab Wahyu sambil duduk di kursi kosong.

"Santai. Kita juga baru mau mulai kok." Ardi meluruskan duduknya. "Oke, langsung saja ya. Agenda hari ini: finalisasi rundown acara Donor Darah minggu depan. Wahyu, lu sudah kontak vendor konsumsi?"

Wahyu mengangguk. "Sudah. Mereka confirm bisa supply tiga ratus box nasi kotak. Harga per box dua puluh ribu. Total enam juta."

"Oke, masih dalam budget." Ardi mencatat. "Terus sound system?"

"Sudah sewa. Harga paket lima juta sudah termasuk operator dan teknisi."

"Bagus. Publikasi?"

Siska—bendahara BEM—angkat bicara. "Poster sudah disebar di media sosial. Reach-nya lumayan, hampir seribu engagement. Pendaftaran peserta donor darah sampai sekarang sudah dua ratus tiga puluh orang."

"Mantap. Berarti target tiga ratus bisa tercapai." Ardi tersenyum puas. "Wahyu, lu yakin bisa handle koordinasi lapangan sendirian? Gue bisa assign satu orang lagi buat bantuin."

Wahyu menggeleng. "Tidak perlu. Saya bisa."

"Lu yakin? Ini acara lumayan besar, Yu."

"Saya yakin."

Ardi menatap Wahyu beberapa detik, seperti sedang menimbang. Lalu mengangguk. "Oke. Gue percaya sama lu. Tapi kalau butuh bantuan, langsung bilang ya."

"Oke."

Meeting berlanjut satu jam lagi—membahas detail teknis, pembagian tugas, skenario worst-case jika ada yang tidak berjalan sesuai rencana. Wahyu mencatat semuanya dengan rapi di laptop, memastikan tidak ada yang terlewat.

Pukul empat sore, meeting selesai.

Ardi menepuk bahu Wahyu sebelum Wahyu keluar. "Yu, gue apresiasi banget kerja keras lu. Serius. Lu ini tulang punggung BEM."

Wahyu hanya mengangguk. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Pujian membuatnya... tidak nyaman.

"Tapi gue juga khawatir sama lu," Ardi melanjutkan. "Lu keliatan... capek banget akhir-akhir ini. Lu tidur cukup nggak?"

"Cukup," jawab Wahyu—bohong.

Ardi tidak terlihat yakin, tapi dia tidak memaksa. "Oke. Jaga kesehatan ya. Kalau lu sakit, siapa yang mau ngerjain semua ini?" Nada suaranya setengah bercanda, tapi ada ketulusan di sana.

Wahyu tersenyum tipis—senyum diplomatis. "Saya baik-baik saja."

Lalu dia keluar dari sekretariat.

Malam harinya, Wahyu duduk di meja belajar dengan dua buku terbuka di depannya: Hukum Pidana dan dokumen translation project yang baru dia terima dari klien.

Dia memutuskan untuk mengerjakan translation dulu—lebih urgent, deadline lebih ketat.

Dokumen itu adalah kontrak kerja antara perusahaan multinasional dengan perusahaan lokal. Bahasa Inggris legal, penuh dengan istilah teknis yang harus diterjemahkan dengan presisi tinggi.

Wahyu mulai mengetik.

Original:

"The parties hereby agree to enter into this agreement under the terms and conditions stipulated below, wherein the First Party shall provide services as specified in Appendix A, and the Second Party shall compensate the First Party in accordance with the payment schedule outlined in Appendix B."

Translation:

"Para pihak dengan ini setuju untuk mengikatkan diri dalam perjanjian ini berdasarkan syarat dan ketentuan yang tercantum di bawah ini, di mana Pihak Pertama akan menyediakan layanan sebagaimana dirinci dalam Lampiran A, dan Pihak Kedua akan memberikan kompensasi kepada Pihak Pertama sesuai dengan jadwal pembayaran yang diuraikan dalam Lampiran B."

Kata demi kata. Kalimat demi kalimat.

Wahyu bekerja dengan fokus penuh. Tangannya mengetik cepat, matanya bergerak dari layar laptop ke dokumen PDF bolak-balik.

Pukul delapan malam, perutnya berbunyi keras—lapar.

Wahyu berhenti sebentar. Dia turun ke dapur bersama lagi, memasak mie instan—kali ini ditambah satu butir telur. Sedikit upgrade dari makan siang.

Setelah makan, dia kembali ke kamar. Lanjut mengerjakan translation.

Pukul sepuluh malam, dia sudah menyelesaikan tiga halaman. Masih tujuh halaman lagi.

Target hari ini sebenarnya lima halaman, tapi tubuhnya mulai protes. Mata perih. Punggung pegal. Kepala pusing.

Wahyu menutup laptop. Dia berbaring di kasur, menatap langit-langit.

Lelah.

Tapi dia tidak bisa berhenti.

Karena begitu dia berhenti, semuanya akan runtuh.

Keuangan akan runtuh—tidak ada pemasukan, tidak bisa bayar kos, tidak bisa makan.

Kuliah akan runtuh—tidak lulus, tidak bisa jadi pengacara, tidak bisa membantu ayah.

Keluarga akan runtuh—ayah akan semakin tertekan, ibu akan semakin lelah, adik-adik akan bertanya-tanya kenapa kakaknya tidak pernah pulang.

Jadi dia harus terus bergerak.

Terus bekerja.

Terus bertahan.

Tidak peduli seberapa lelah.

Wahyu menutup mata. Berharap tidur datang dengan cepat.

Tapi yang datang adalah mimpi buruk.

Mimpi:

Wahyu berdiri di koridor SMA pertamanya. Sepi. Gelap. Hanya lampu neon yang berkelap-kelip.

Lalu dia mendengar suara—bisikan.

"Anak koruptor."

Wahyu menoleh. Tidak ada siapa-siapa.

"Nggak pantas sekolah di sini."

Suara itu semakin keras. Wahyu mulai berjalan—cepat, mencoba mencari jalan keluar.

Tapi koridor itu tidak ada ujungnya.

"Uang SPM-nya pasti hasil curian."

Wahyu berlari sekarang. Napasnya terengah-engah.

Lalu tiba-tiba, seseorang menghadangnya.

Riani.

Dia berdiri di tengah koridor, tersenyum.

"Wahyu, kenapa kamu lari?"

Wahyu berhenti. "Pergi. Jangan ikuti aku."

"Aku cuma mau bantuin."

"Aku tidak butuh bantuanmu."

Riani melangkah mendekat. "Kamu terlihat kesepian."

"Aku tidak kesepian."

"Kamu terlihat lelah."

"Aku tidak lelah."

Riani mengulurkan tangan. "Biarkan aku membantu."

Wahyu mundur selangkah. "Kamu akan pergi juga. Sama seperti yang lain."

"Aku nggak akan—"

"SEMUA BILANG BEGITU!" Wahyu berteriak. "Dan semua akhirnya pergi!"

Lalu koridor itu runtuh.

Wahyu jatuh ke dalam kegelapan.

Wahyu terbangun dengan terengah-engah. Keringat membasahi dahinya. Jantungnya berdegup kencang.

Dia meraih ponsel—pukul tiga pagi.

Hanya tidur tiga jam.

Wahyu duduk di tepi kasur, menundukkan kepala, menarik napas panjang.

Mimpi buruk lagi.

Sudah lama dia tidak mimpi buruk seperti itu.

Kenapa sekarang?

Mungkin karena... Riani.

Mungkin karena kehadiran Riani memicu sesuatu di dalam dirinya—sesuatu yang sudah dia kubur dalam-dalam.

Ketakutan.

Ketakutan untuk percaya lagi.

Wahyu berdiri, berjalan ke kamar mandi kecil di dalam kamarnya. Membasuh wajah dengan air dingin. Menatap pantulan dirinya di cermin.

Wajah pucat. Kantung mata hitam. Rambut berantakan.

Dia terlihat... rapuh.

Tapi dia tidak boleh rapuh.

Dia harus kuat.

Untuk keluarga.

Untuk diri sendiri.

Wahyu kembali ke kasur. Berbaring. Menutup mata.

Tapi kali ini, dia tidak tidur.

Dia hanya berbaring sampai alarm berbunyi pukul enam pagi.

Lalu bangun.

Dan memulai hari yang baru.

Dengan beban yang sama.

Bersambung.....

1
YoMi
Lanjut kan kak
DemSat
Nice Story /Kiss/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!