NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN VAMPIR TERKUAT DARI TIDUR PANJANG

KEBANGKITAN VAMPIR TERKUAT DARI TIDUR PANJANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:220
Nilai: 5
Nama Author: Arafi Arif Dwi Firmansyah

Kurza adalah vampir terkuat dimasa lalu, entah apa yang ada dipikiranya sehingga dia memutuskan untuk beristirhat/tidur di dalam sebuah goa . sebelum Putri Kerajaan Alabas tanpa sengaja membangunkan Kurza dari tidurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arafi Arif Dwi Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8. Panggilan Dari Raja

‎"Tugas Miyuki, selain menjadi pertarung dia adalah pelayan pribadiku.... dan memastikan setiap kebutuhanku terpenuhi sebelum aku sempat memintanya," pungkas Kurza dengan nada suara yang merendah, seolah mengenang kembali momen-momen tersebut.

‎Khiya terdiam sejenak, matanya sedikit menyipit saat mencerna kejujuran Kurza. "Pelayan pribadi yang lembut, ya?" gumamnya pelan. Ada nada yang sulit diartikan dalam suaranya mungkin sedikit kagum, atau mungkin rasa penasaran yang terusik. "Tampaknya dia bukan sekadar pelayan  bagimu tuan?." tanyanya lagi, ada rasa yang lebih dalam yang Khiya tau dari cerita Kurza. Kurza hanya memberikan senyum tipis yang penuh makna sebagai jawaban, membiarkan keheningan mengisi ruang di dalam gua di antara mereka untuk sesaat.

‎pertanyaan Khiya membawa Kurza kembali ke masa lalu. Ketika Miyuki menjadi gadis elf yang sangat cantik dan menjadi pelayan pribadi Kurza di dalam Kastel. Setiap malam menghabiskan malam berdua, mengadu kasih, "Miy.. ayo kita tidur, pakailah baju tidur yang sudah aku beli untukmu!" perintah Kurza. Miyuki hanya mengangguk. dan melangkah untuk memakai baju tidur itu. Mata Kurza tak berhenti menatap Miyuki yang sudah memakai baju tidur yang dia pesan dari penjahit.

‎Baju tidur itu terbuat dari sutra tipis berwarna putih tulang yang jatuh dengan sempurna di lekuk tubuh Miyuki. Cahaya lilin di dalam kamar kastel memberikan efek yang eksotis pada kulit pucat khas bangsa elf-nya, membuatnya tampak hampir transparan dan sangat rapuh. ‎Miyuki berdiri di depan Kurza, jemari lentiknya sesekali merapikan pinggiran kain yang menempel di pahanya. Dia menunduk malu, namun ada senyum simpul yang menghiasi bibir merah mudanya.

‎"Apakah... ini sesuai dengan keinginanmu, Tuan Kurza?" bisik Miyuki lembut, suaranya semerdu denting kecapi. Kurza merasa tenggorokannya kering. "Penjahit itu benar-benar melakukan tugasnya dengan luar biasa, tapi kecantikan alami Miyuki lah yang menghidupkan pakaian itu" gumam Kurza di dalam hati. Di dalam kastel yang dingin dan sunyi, Miyuki adalah satu-satunya kehangatan yang ia miliki. Setiap inci dari tatapan Kurza seolah mengagumi karya seni hidup yang kini berada tepat di hadapannya, siap untuk melewati malam panjang yang tenang bersamanya.

‎Kurza merebahkan tubuhnya di atas ranjang besar yang dilapisi bulu lembut, lalu menepuk ruang kosong di sisinya. Miyuki mendekat dengan langkah ringan, hampir tak bersuara, sebelum akhirnya merayap masuk ke dalam dekapan Kurza. Aroma yang segar has dari tubuh Miyuki segera memenuhi indra penciuman Kurza, menenangkan saraf - sarafnya yang tegang.

‎Miyuki menyandarkan kepalanya di dada bidang Kurza, membiarkan jemari pria itu bermain di sela - sela rambut putihnya yang panjang. "Miy," bisik Kurza, suaranya parau oleh rasa kasih. "Apa kamu tertekan dengan posisimu sekarang? Menjadi pelayan pribadiku dan kelak bertarung bersamaku." Tanya Kurza sembari memastikan tidak ada tekanan untuk Miyuki.

‎Miyuki mendongak, menatap mata Kurza dengan binar yang tulus. "Di luar sana, di pertempuran aku adalah pedangmu, Tuan. Tapi di kamar ini, aku hanyalah milikmu. Aku tidak butuh kekuatan jika aku berada di pelukanmu, aku tidak tau nasibku jika tuan tidak membeliku dulu." jawab Miyuki dengan lembut.

Kurza menarik selimut tebal untuk membungkus mereka berdua, lalu mengecup kening Miyuki lama. Tangannya mulai mengusap lembut punggung Miyuki yang terbalut sutra tipis, merasakan dinginya kulit sang elf yang menyatu dengan miliknya.

‎"Tetaplah seperti ini, Miy. Jangan pernah jauh dariku," gumam Kurza sambil memeluknya lebih erat. Miyuki memejamkan mata, membalas pelukan itu dengan melingkarkan lengannya di pinggang Kurza. "Selama detak jantungku masih ada, aku tidak akan pergi ke mana pun." jawab Miyuki tanpa keraguan.

Malam itu, di bawah remang cahaya lilin, kastel yang  terasa begitu hangat. Mereka menghabiskan waktu dengan saling berbisik. ‎Keheningan malam di dalam kamar kastel itu semakin terasa pekat, hanya menyisakan suara napas mereka yang saling bersahutan. Tatapan Miyuki yang dalam dan penuh pengabdian membuat Kurza tak mampu lagi menahan gejolak di dadanya. Dengan gerakan lembut namun pasti, Kurza membalikkan posisi, merayap di atas tubuh Miyuki sembari menatap wajah cantiknya yang merona di bawah cahaya lilin.

‎"Malam ini, biarkan waktu berhenti sejenak agar aku bisa meyakini bahwa kau benar-benar ada di sini," bisik Kurza, suaranya terdengar lembut namun penuh ketulusan. Miyuki tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya melingkarkan lengannya di leher Kurza, menarik pria itu semakin dekat hingga dahi mereka bersentuhan. Kehangatan yang menjalar di antara mereka bukan lagi sekadar tentang hasrat, melainkan tentang pengabdian dan kepercayaan yang mendalam setelah sekian lama melewati badai bersama.

Dalam keheningan itu, mereka saling berbagi janji yang tak terucapkan, hanya melalui tatapan mata yang saling mengunci. Waktu seolah melambat saat mereka berdua tenggelam dalam perasaan tenang dan aman di pelukan satu sama lain. Keheningan kamar kastel itu menjadi saksi bisu betapa kuatnya ikatan yang telah terjalin di antara tuan dan pelayan setianya itu. Perlahan, bayangan indah itu mulai memudar seiring dengan kesadaran yang kembali merayap.

‎"Miy,,, bolehkah aku merasakan tubuhmu? bisik pelan Kurza yang sudah terbawa suasana. Miyuki terdiam sejenak, matanya menatap dalam ke arah Kurza. Tidak ada keraguan di sana, hanya ada kepasrahan total. Ia memberikan senyum kecil yang paling tulus, lalu perlahan membimbing tangan Kurza untuk menyentuh pipinya yang hangat. "Tubuhku, jiwaku, dan hidupku... semuanya adalah milikmu, Tuan Kurza," bisik Miyuki dengan suara yang bergetar lembut. "Lakukanlah apa yang membuatmu bahagia. Aku ada di sini sepenuhnya untukmu." suara pelan Miyuki dengan kecupan lembut di bibir Kurza.

‎Kurza merasakan detak jantungnya berpacu lebih kencang. Ia mengusap lembut garis rahang Miyuki sebelum jemarinya turun perlahan, merasakan tekstur halus dari baju tidur sutra yang mereka bicarakan tadi. Atmosfer di dalam kamar itu berubah menjadi sangat intim; udara seolah dipenuhi oleh percikan emosi yang meluap. Dengan penuh kehati-hatian, seolah sedang menyentuh pusaka yang paling berharga di dunia, Kurza mulai mendekatkan wajahnya. Ia mencium aroma wangi yang menguar dari leher Miyuki, sementara sang elf mendesah pelan, memejamkan mata, dan menyerahkan seluruh keberadaannya pada sentuhan pria yang paling ia hormati. Malam itu, di balik dinding kastel yang kokoh, mereka berdua larut dalam penyatuan yang bukan hanya sekadar fisik, tapi juga penggabungan dua jiwa yang sudah terikat oleh nasib.

‎Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah jendela kastel, menyinari sosok Kurza dan Miyuki yang masih terlelap dalam posisi saling berpelukan tanpa busana. Selimut bulu tebal membungkus dan menutupi tubuh mereka, . Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Dari kejauhan, suara derap kaki kuda yang berpacu kencang memecah kesunyian hutan di sekitar kastel. Tak-tok-tak-tok! Suara itu semakin keras hingga akhirnya berhenti tepat di depan gerbang utama.

‎"Tuan Kurza! Pesan mendesak dari Yang Mulia Raja!" teriak seorang utusan dari bawah, suaranya parau karena kelelahan. Miyuki adalah yang pertama terjaga. Telinga elf-nya yang sensitif menangkap kegaduhan itu seketika. Ia membuka mata, menatap wajah Kurza yang masih tenang, lalu dengan lembut ia mencium pipi tuannya untuk membangunkannya. "Tuan... bangunlah. Ada utusan di depan gerbang," bisik Miyuki lembut, suaranya masih serak khas orang baru bangun tidur.

‎Kurza mengerang pelan, lalu membuka matanya. Belum sempat ia mengumpulkan kesadaran sepenuhnya, suara utusan itu kembali terdengar, lebih mendesak dari sebelumnya. "Iblis telah menembus perbatasan selatan! Raja memanggil Tuan Kurza segera ke ibu kota!" Mendengar kata "Iblis", kantuk Kurza hilang seketika. Ia langsung terduduk tegak, otot-otot tubuhnya menegang. Romansa semalam harus segera berganti ke arah yang lebih serius.

‎Miyuki tanpa perlu diperintah langsung turun dari ranjang, mengambil pakaian Kurza dan membantu tuannya bersiap dengan cekatan. "Waktu istirahat kita telah habis, Tuan," ujar Miyuki dengan tatapan yang kini berubah tajam dan penuh tekad petarung. Miyuki pun memakai baju yang sudah dibelikan oleh Kurza. bergegas Miyuki keluar kamar untuk menyiapkan kuda.

‎"Tuan,, kuda sudah siap" teriak Miyuki dari luar Kastel, Kurza melompat dari jendela kamar dan langsung menaiki kuda disusul oleh Miyuki. mereka pun pergi untuk menerima panggilan dari Raja.

Bersambung. . . .

1
T28J
hadiir kakak 🙏
Arafi Arif Dwi Firmansyah: Terima kasih bosku.
total 1 replies
putri kurnia
lanjutannya dooong, penasaran bgt ini 😍
putri kurnia
bikin penasaran kelanjutannya
Arafi Arif Dwi Firmansyah: sabar ya. malam ini bab 4 selesai.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!