NovelToon NovelToon
KEY

KEY

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:360
Nilai: 5
Nama Author: DAN DM

AKU ADALAH KEY.
AKU HIDUP BERSAMA TUKANG KAYU DARI PENJAG KUIL

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DAN DM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JEJAK GIOK DI KOTA

Matahari baru saja mengintip malu-malu dari balik punggung bukit, menyebarkan cahaya keemasan yang perlahan membangunkan alam. Embun masih menetes dari daun-daun pohon raksasa yang mengelilingi kompleks kuil, menciptakan suara tik... tik... tik... yang ritmis.

Hari ini bukan hari kerja biasa. Udara terasa berbeda, penuh dengan semangat petualangan.

"Deon! Cepet mandi dan siap-siap! Matahari udah nyampe pundak, lho!" teriak Kakek Genpo dari halaman depan. Ia sudah siap dengan pakaian terbaiknya—kemeja batik lusuh tapi bersih, sarung tenun, dan topi caping lebar untuk menahan terik.

Deon keluar dari gubuk dengan langkah malas tapi mata berbinar. "Iyaa... siap Komandan. Mau ke kota besar ya hari ini?"

"Betul. Kita ke Kota Alengka," jawab Genpo sambil memeriksa tali pengikat keranjang di punggungnya. "Kayu yang kita tebang kemaren itu bagus banget seratnya. Kakek mau bikin lemari khusus buat simpan buku-bukumu. Tapi butuh bahan pewarna dan pemanis alami yang khusus biar warnanya jadi hitam legam mengkilap kayak batu bara tapi berkarat emas. Di sini nggak ada, harus beli di pasar kota."

"Wah, proyek mewah nih!" Deon bersorak. "Oke deh, ayo jalan. Aku juga pengen lihat orang-orang kota."

 

Perjalanan Menuju Alengka

Perjalanan dari reruntuhan kuil menuju Kota Alengka memakan waktu sekitar dua jam berjalan kaki, atau lebih tepatnya... berjalan sambil ngobrol.

Awalnya mereka melewati jalan setapak yang tersembunyi di antara pepohonan tinggi. Suasana di sini masih sangat alami, sepi, dan sejuk. Angin berdesir lembut membelai wajah, membawa aroma tanah hutan yang segar.

Setelah keluar dari area hutan keramat itu, pemandangan berubah. Mereka mulai berjalan menyusuri jalan tanah merah yang cukup lebar. Di kanan-kiri terbentang sawah-sawah hijau yang luas, airnya tenang memantulkan langit biru. Sesekali mereka berpapasan dengan petani yang sedang membajak atau pedagang keliling dengan pikulan.

"Lihat itu Deon," tunjuk Genpo ke arah kejauhan. "Itu menara gerbang kota."

Di kejauhan, mulai terlihat siluet bangunan-bangunan tinggi dengan arsitektur unik, atap-atapnya melengkung khas, dan tembok kota yang kokoh berwarna kecokelatan. Semakin dekat, suara hiruk pikuk mulai terdengar. Suara teriakan pedagang, derap kaki kuda, dan bunyi gerobak bergema semakin keras.

Kota Alengka adalah pusat perdagangan yang unik. Bangunannya memadukan gaya kuno yang megah dengan kesibukan modern yang padat. Dinding-dindingnya terbuat dari batu bata merah yang kuat, dan di setiap sudut jalan terdapat patung-patung kecil serta ornamen ukir yang indah.

 

Kedai Batu Eyrod

Mereka berjalan menyusuri pasar utama, lalu berbelok ke sebuah gang kecil yang lebih tenang namun terlihat eksklusif. Di sana, berdiri sebuah toko yang tidak menjual sayur atau kain, melainkan... tumpukan batu.

Toko itu bernama "Kedai Batu Eyrod".

Di luar toko, berbagai jenis batu alam tersusun rapi. Ada yang berwarna hitam pekat, merah darah, hingga yang bening seperti kristal. Di dalam, pencahayaannya dibuat redup agar kilau batu-batu mulia semakin terlihat mempesona.

"Waduh... ini toko batu atau museum?" gumam Deon takjub, matanya mengamati setiap sudut.

"Shh... jangan banyak bicara. Ini tempatnya orang-orang paham barang," bisik Genpo.

Seorang pria paruh baya dengan perut buncit, jenggot tipis, dan mata yang tajam keluar dari balik tumpukan batu. Ia mengenakan rompi kulit tebal. Itu adalah Eyrod, pemilik toko.

"Woi! Genpo! Tua banget kau masih kuat jalan jauh!" sapa Eyrod keras-keras tapi ramah, suaranya berat dan bergema.

"Hahaha! Selama masih ada kayu yang perlu dipotong dan batu yang perlu dilihat, kaki ini masih kuat berjalan, Eyrod!" balas Genpo santai. Mereka berdua bersalaman dengan erat, tampak sudah berteman lama.

Eyrod menoleh ke arah Deon. "Dan ini... pasti si jenius cucumu ya? Besar sekali dia sekarang. Matanya tajam kayak elang."

Deon tersenyum sopan tapi sedikit malu. "Sore, Paman Eyrod."

"Duduk, duduk!" Eyrod mempersilakan mereka duduk di bangku kayu keras di tengah toko. "Mau cari apa? Mau beli batu buat tatah atau cari bahan obat kayu lagi?"

"Bahan obat kayu, Rod. Aku butuh getah pohon hitam dan serbuk mineral khusus buat finishing," jawab Genpo. "Kayu yang aku dapat kali ini kualitas dewa, sayang kalau dirawat sembarangan."

Sambil Eyrod pergi mengambilkan barang-barang yang diminta, matanya yang licik tiba-tiba menyipit, seolah teringat berita besar.

"Ngomong-ngomong Gen... kau beruntung sekali datang hari ini," kata Eyrod pelan, nada suaranya berubah menjadi lebih serius dan penuh misteri.

"Kenapa? Ada apa?" tanya Genpo penasaran.

Eyrod mendekat, lalu berbisik meski tidak ada orang lain di sana.

"Satu minggu yang lalu... ada kiriman luar biasa di pasar lokal sini. Bukan dari tambang biasa. Ini barang langka, kelas tinggi banget."

"Batu apa?"

"Batu Giok Zamrud," jawab Eyrod dengan napas tertahan. "Tapi bukan zamrud biasa. Warnanya hijau dalam, pekat tapi bening kayak air laut dalam. Dan yang bikin heboh... bobotnya utuh 3 Kilogram!"

Glek. Deon menelan ludah. Ia tahu persis berapa harga batu sebesar itu. Itu bukan sekadar batu, itu bisa membeli satu rumah besar di pinggir kota!

"Wah... 3 kg? Gila!" Genpo terbelalak, tangannya otomatis mengambil rokok dan menyalakannya. "Asli kah itu? Biasanya zamrud sebesar itu sudah dipecah-pecah buat perhiasan putri raja."

"Asli seratus persen! Aku sudah cek sendiri," Eyrod mengangguk mantap, matanya berkilat bangga. "Penemunya adalah penambang tua dari kaki gunung. Katanya dia dapat di celah bebatuan yang baru longsor. Warnanya itu lho... hijau zamrudnya hidup banget. Kalau dipotong dan diasah, bisa jadi permata termahal di seluruh wilayah Alengka."

Deon yang dari tadi diam mendengarkan, tiba-tiba angkat bicara dengan logika jeniusnya.

"Paman Eyrod... kalau batu sebesar itu dan sebersih itu, strukturnya pasti sangat padat kan? Artinya umur batu itu mungkin sudah jutaan tahun. Apa tidak sayang kalau dipotong-potong jadi cincin atau kalung? Mending dijadikan satu patung utuh atau hiasan istana."

Eyrod menatap Deon dengan kaget, lalu tertawa keras. "Hahahaha! Anak pintar! Betul sekali! Itulah kenapa batu ini masih utuh sampai sekarang. Pembeli dari kota besar sudah pada ngantri, tapi harganya dipasang setinggi langit. Pemiliknya nggak mau sembarangan jual."

Genpo tersenyum lebar, menepuk punggung Eyrod. "Kau memang raja batu, Rod. Berita macam ini saja kau dapat duluan. Sayang sekali kami cuma orang miskin yang mau beli cat kayu, ya kan Deon?"

"Hahaha! Memang begitu Kek," sahut Deon ikut bercanda. "Tapi melihat dan mendengarkan ceritanya saja sudah cukup buat nambah wawasan. Giok Zamrud 3 kg... luar biasa."

"Nah, ini bahan pewarnanya," Eyrod menyerahkan sebuah kotak kayu kecil berisi serbuk hitam dan botol berisi cairan kental berbau tajam tapi wangi. "Ini spesial campuran ekstrak kulit kayu manis dan mineral besi. Oleskan tipis-tipis, lalu jemur di angin. Warnanya bakal keluar sendiri jadi hitam berkarat yang elegan."

Mereka pun melakukan transaksi dengan akrab. Suasana di Kedai Batu Eyrod sore itu hangat, penuh cerita tentang harta karun, kekayaan alam, dan persahabatan lama.

Saat berjalan keluar meninggalkan toko menuju pasar yang ramai lagi, Deon masih terbayang-bayang dengan cerita batu giok itu.

"Kek... 3 kg ya... bayangin aja beratnya sama dengan satu karung beras, tapi isinya permata murni," kata Deon masih takjub.

"Dunia ini luas, Deon. Ada yang harganya dihitung pakai emas, ada yang harganya tak ternilai karena sejarahnya," jawab Genpo santai sambil membetulkan topinya. "Sekarang ayo pulang. Kayu kita sudah menunggu untuk dihias."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!