Nata Prawira mati dalam kehancuran mental dan kemiskinan, meninggalkan kedua adiknya dalam penderitaan. Namun, takdir membawanya kembali ke tahun 2014, tepat di masa SMA-nya.
Berbekal memori masa depan dan kepribadiannya yang dingin serta kalkulatif, Nata bertekad menulis ulang nasib. Dari gang sempit yang kumuh, ia mulai merancang strategi investasi di dunia BitCore dan industri teknologi yang baru tumbuh. Bukan sekadar mencari kekayaan, Nata adalah seorang arsitek yang sedang membangun kekaisaran bisnis untuk melindungi Kirana yang lembut dan Arya yang penuh semangat. Di dunia yang kejam, ia akan membuktikan bahwa kecerdasan strategis adalah senjata paling mematikan untuk menjungkirbalikkan kasta sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: KANIBALISME FINANSIAL
Fajar baru saja menyingsing di Jakarta, namun bagi Nata, waktu seolah berhenti berputar. Ruko di Jakarta Barat masih dipenuhi oleh aroma mesiu yang samar dan sisa gas air mata yang terperangkap di sudut-sudut lorong. Namun, bagi dunia finansial, drama berdarah semalam tidak pernah terjadi. Yang mereka lihat hanyalah runtuhnya Chen International Bank (CIB) di Singapura—sebuah institusi yang selama puluhan tahun dianggap sebagai pilar kestabilan.
Nata duduk di depan deretan monitor yang kini menampilkan grafik harga saham CIB yang terjun bebas. Di sampingnya, Elena masih mengenakan jaket taktisnya, jemarinya bergerak dengan kecepatan yang menakutkan di atas keyboard.
"Bos, MAS (Monetary Authority of Singapore) baru saja mengeluarkan perintah pembekuan sementara terhadap operasional CIB. Mereka menyatakan bank tersebut berada dalam pengawasan ketat karena dugaan pencucian uang sistemik," lapor Elena. "Marcus Chen mencoba menghubungimu setiap lima menit. Dia histeris."
Nata menyesap kopi hitam pekatnya. "Biarkan dia menunggu. Kita tidak akan memungut sisa-sianya sebelum otoritas merasa cukup putus asa. Saat ini, MAS sedang mencoba mencari pembeli 'putih' untuk mengambil alih aset CIB guna mencegah krisis sistemik di bursa Singapura."
"Masalahnya, Bos, Tuan Lim dari ISD tidak tinggal diam," sela Yuda yang baru saja bergabung di ruangan setelah memastikan keamanan fisik ruko pulih. "Dia tahu bahwa keruntuhan CIB adalah akibat langsung dari data yang kita bocorkan. Dia sekarang bekerja sama dengan kurator dari MAS untuk memblokir setiap entitas yang terafiliasi dengan Prawira Global agar tidak bisa menyentuh aset lelang CIB."
Nata tersenyum tipis. Sebuah senyum yang menyimpan perhitungan dingin. "Lim bertindak secara emosional. Dia ingin menghukumku karena aku berhasil mempermalukannya di Singapura. Tapi dalam ekonomi, emosi adalah variabel yang merugikan. Kita tidak akan maju menggunakan nama Prawira Global."
Strategi yang disusun Nata kali ini adalah "Infiltrasi Multi-Lapis".
"Elena, aktifkan sepuluh perusahaan cangkang yang kita beli di Luksemburg dan Mauritius tahun lalu. Pastikan tidak ada satu pun dari perusahaan itu yang memiliki aliran dana langsung dari rekening utamaku," perintah Nata. "Gunakan yayasan sosial yang kita pakai untuk membeli ruko ini sebagai perantara lapis ketiga. Kita akan mengajukan penawaran untuk divisi Private Wealth Management dan Logistics Financing milik CIB."
"Tapi Bos, MAS pasti akan melakukan due diligence yang sangat ketat. Mereka akan melacak hingga ke pemegang saham pengendali terakhir," Elena mengingatkan.
"Itulah sebabnya kita akan menggunakan 'wajah' baru. Hubungi mantan Direktur Operasional CIB yang dipecat Arthur dua tahun lalu. Berikan dia modal untuk mendirikan konsorsium baru. Dia punya dendam pada Arthur dan dia punya reputasi bersih di mata MAS. Kita akan menjadi penyuntik dana di balik layarnya."
Nata sedang merancang sebuah skema di mana ia mengakuisisi musuhnya menggunakan orang dalam yang pernah dikhianati oleh musuh tersebut. Ini adalah bentuk kanibalisme finansial yang sangat rapi.
Sore harinya, Nata kembali ke Singapura menggunakan paspor diplomatiknya. Begitu ia menginjakkan kaki di bandara, Tuan Lim sudah menunggunya di depan gerbang kedatangan diplomatik. Kali ini, Lim tidak membawa surat perintah, namun tatapannya jauh lebih tajam dari sebelumnya.
"Kamu punya nyali besar untuk kembali secepat ini, Nata," ucap Lim, menghalangi jalan Nata.
"Saya memiliki urusan diplomatik yang harus diselesaikan, Tuan Lim. Sebagai Konsul Kehormatan, saya punya hak untuk bergerak bebas," balas Nata tanpa menghentikan langkahnya.
"Jangan pikir status itu akan melindungimu selamanya. Aku tahu konsorsium Linden Capital yang tiba-tiba muncul dan menawar aset CIB adalah milikmu. Kami sedang meninjau ulang regulasi anti-monopoli. Aku tidak akan membiarkan seorang 'hantu' sepertimu menguasai infrastruktur keuangan negara ini."
Nata berhenti sejenak, menatap Lim tepat di matanya. "Tuan Lim, jika CIB tidak segera mendapatkan pembeli, ribuan nasabah kecil di Singapura akan kehilangan uang mereka. Bursa akan panik. Apakah Anda lebih memilih melihat ekonomi Anda terguncang hanya karena ego pribadi Anda ingin menjatuhkan saya? Saya menawarkan solusi stabilitas. Anda menawarkan dendam."
Lim terdiam. Argumen Nata menghantam titik terlemah dari setiap pejabat otoritas: ketakutan akan ketidakstabilan publik.
"Kami akan membedah setiap sen yang masuk ke Linden Capital," desis Lim sebelum akhirnya menepi dan membiarkan Nata lewat.
Di kantor sementara Linden Capital di kawasan Central Business District (CBD) Singapura, Nata bertemu dengan Marcus Chen. Marcus tampak seperti mayat hidup. Ayahnya masih di rumah sakit, dan seluruh aset keluarganya disita untuk menutupi kerugian bank.
"Nata... tolong," Marcus memohon. "Otoritas ingin mengambil semuanya. Mereka ingin menghapus nama keluarga Chen dari sejarah finansial Asia."
Nata duduk di kursi kebesaran yang dulu milik Arthur Chen. "Dunia tidak peduli pada nama keluarga, Marcus. Dunia hanya peduli pada siapa yang bisa menjaga aliran uang tetap berjalan. Aku akan membeli divisi logistik ayahmu dengan harga pasar, dan sebagai gantinya, aku akan memastikan keluargamu tidak berakhir di penjara."
"Tapi itu adalah separuh dari nyawa bank ini!"
"Separuh yang sekarat, Marcus. Tanpa sistem enkripsi dan jalur logistikku, aset itu hanya tumpukan kertas tak berharga. Tanda tangani dokumen ini, dan aku akan memberikanmu posisi sebagai direktur minoritas di perusahaan baru itu. Kamu akan tetap kaya, tapi kamu tidak akan pernah lagi memiliki kekuasaan."
Dengan tangan gemetar, Marcus menandatangani dokumen tersebut. Pada saat itulah, secara teknis, Nata Prawira telah menelan separuh dari kekaisaran finansial yang dulu hampir menghancurkannya.
Namun, rintangan belum berakhir. Malam itu, Elena melaporkan bahwa MAS secara mendadak mengubah syarat akuisisi. Mereka mewajibkan pembeli untuk mendepositokan dana tunai sebesar satu miliar dolar Singapura dalam waktu 24 jam sebagai jaminan likuiditas—sebuah angka yang mustahil dikumpulkan oleh konsorsium baru seperti Linden Capital.
"Ini adalah langkah terakhir Lim," Nata bergumam. "Dia tahu kita punya aset digital yang besar, tapi dia bertaruh bahwa kita tidak bisa mencairkannya menjadi tunai sebanyak itu dalam waktu singkat tanpa memicu peringatan anti-pencucian uang."
Nata berdiri, berjalan menuju jendela yang menampilkan pemandangan Singapura yang gemerlap. "Elena, aktifkan jalur perdagangan over-the-counter (OTC) kita di Swiss. Hubungi para paus BitCore yang berhutang budi padaku sejak tahun 2012. Katakan pada mereka, ini saatnya membayar kembali."
Sepanjang malam, dunia digital bergejolak. Ribuan transaksi rahasia terjadi di seluruh dunia. Nata sedang mengonsolidasikan kekuatannya. Ia tidak hanya menggunakan uangnya sendiri, ia menggunakan kolektifitas dari mereka yang selama ini ia bantu di dunia bawah tanah finansial.
Tepat pukul 09.00 pagi waktu Singapura, Tuan Lim dan para petinggi MAS terbelalak melihat layar monitor mereka. Dana sebesar satu miliar dolar Singapura masuk ke rekening penampungan Linden Capital secara legal, bersih, dan melalui jalur korespondensi perbankan internasional yang sah dari berbagai bank besar di Eropa.
Nata Prawira baru saja membuktikan bahwa jaringannya lebih luas dari birokrasi negara mana pun.
"Sampaikan pada Tuan Lim," ucap Nata kepada Elena saat ia bersiap menghadiri konferensi pers akuisisi. "Bahwa hari ini, Naga Laut tidak hanya lewat. Dia baru saja membeli pelabuhannya."
Nata berjalan keluar dari gedung dengan langkah tegak. Akuisisi bank keluarga Chen bukan lagi sekadar balas dendam; itu adalah fondasi pertama dari imperium global yang sesungguhnya. Ia telah mengalahkan otoritas dengan aturan mereka sendiri, dan ia melakukannya tanpa harus melepaskan satu peluru pun.
Perjalanan ini masih panjang, namun di balik paspor diplomatiknya, Nata tahu bahwa mulai hari ini, tidak akan ada lagi yang berani memanggilnya sekadar 'mahasiswa jenius'. Ia adalah kekuatan baru yang harus diperhitungkan oleh dunia.
Bersambung.....