Di usia 23 tahun, Laras harus memikul beban berat sebagai istri Kepala Desa yang disegani. Di balik potret keluarga harmonis, ia berjuang sendirian mengurus rumah dan dua balita yang masih menyusu, sementara perutnya kian membesar dengan anak ketiga.
Sebagai anak tunggal, sang suami menuntut Laras terus melahirkan demi garis keturunan, tanpa peduli pada raga Laras yang remuk karena kelelahan. Di siang hari ia menjadi pengabdi warga, dan di malam hari ia dipaksa tetap "siaga" melayani suami. Laras terjebak dalam pengabdian yang membunuh perlahan: antara cinta, tuntutan tradisi, dan batas akhir kekuatannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 33
***
Seminggu telah berlalu sejak badai dan tangisan pertama Arshaka memecah kesunyian rumah dinas Sukamaju. Suasana rumah kini jauh lebih tenang, meski kesibukan baru mulai merayap di setiap sudut ruangan. Bau minyak telon, bedak bayi, dan aroma jamu persalinan menjadi penghuni baru di udara. Laras mulai bisa duduk dengan lebih nyaman, meski gerakannya masih terbatas dan pelan. Bagas, sang Kepala Desa, benar-benar membuktikan janjinya; ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, mendelegasikan tugas-tugas lapangan kepada perangkat desanya demi menjaga "kerajaan" kecilnya yang baru saja pulih.
Namun, di tengah kebahagiaan itu, sebuah dinamika baru muncul dari anggota keluarga yang paling mungil sebelumnya—Arka.
Pagi itu, sinar matahari masuk dengan hangat ke dalam kamar. Laras sedang duduk bersandar di kepala ranjang, berusaha menyusui Shaka yang sedang kehausan. Bagas duduk di sampingnya, memegangi bantal menyusui dan sesekali mengusap keringat di dahi Laras.
Arka berdiri di samping ranjang, tangannya memegang sebuah robot plastik merah kesayangannya. Matanya yang bulat menatap tajam ke arah bayi yang sedang mendekap di dada Mamahnya. Wajahnya ditekuk, bibirnya maju beberapa senti.
"Bapak... gendong Acka," rengek Arka sambil menarik-narik ujung sarung Bagas.
Bagas menoleh, tersenyum kecil melihat tingkah putra keduanya. "Sabar ya, jagoan. Bapak lagi bantu Mamah dulu. Adek Shaka lagi mimi susu, nanti kalau sudah selesai, Bapak gendong Arka."
Arka tidak terima. Ia merasa perhatian dunia yang biasanya berputar di sekelilingnya kini tersedot habis oleh makhluk kecil yang hanya bisa tidur dan menangis itu.
"Nggak mau nanti! Maunya sekalang! Bapak nggak sayang Acka lagi?" suara Arka mulai meninggi, tanda-tanda badai tangisan akan segera datang.
Laras menatap Arka dengan tatapan iba. Ia tahu, bagi bocah berusia tiga tahun, kehadiran adik baru adalah sebuah "ancaman" bagi takhta bungsunya. "Sayang... sini dekat Mamah. Arka kenapa? Sini sayang, lihat Adek Shaka pinter banget miminya."
"Nggak mau lihat adek! Adek jelek! Adek bobo telus!" seru Arka sambil menghentakkan kakinya ke lantai. Ia membalikkan badan, lalu duduk di pojok kamar sambil membelakangi semua orang. Robot merahnya dilempar pelan ke atas karpet.
Bagas menghela napas panjang. Ia melirik Laras yang tampak lelah namun tersenyum maklum. Bagas kemudian bangkit berdiri, menghampiri Arka yang sedang merajuk. Ia berjongkok di belakang anaknya.
"Wah, robotnya kasihan ini sendirian di lantai," ucap Bagas mencoba memancing perhatian.
"Mas Arka beneran nggak mau main sama Bapak? Padahal Bapak mau ajak Mas Arka lihat burung di pohon mangga."
Arka tetap diam, bahunya naik turun tanda ia sedang menahan isak tangis.
"Mas Arka..." Bagas membalikkan tubuh mungil itu dengan lembut. "Mas Arka merasa Bapak sama Mamah sayang adek aja ya?"
Arka akhirnya menatap Bapaknya dengan mata yang sudah basah. "Bapak bobo sama adek telus. Mamah cium adek telus. Acka ditinggal... Acka nggak punya teman main."
Bagas merasakan hatinya berdenyut perih. Ia segera menggendong Arka, mendekapnya erat ke dada bidangnya. "Dengar Bapak. Mas Arka itu pahlawan di rumah ini. Dulu pas Mamah sakit perut mau lahirin adek, siapa yang pegang tangan Mamah? Mas Arka, kan? Bapak sayang banget sama Mas Arka. Mamah juga. Sayangnya Bapak nggak akan berkurang, malah makin banyak buat Mas Arka."
Bagas membawa Arka dalam gendongannya menuju tepi ranjang, duduk tepat di samping Laras. Shaka rupanya sudah selesai menyusu dan kini sedang dalam posisi tertidur lelap, dibungkus kain bedung birunya yang hangat.
"Sini, Dek Arka. Coba lihat muka adek. Mirip siapa ayo?" ajak Laras lembut.
Arka masih cemberut dalam pelukan Bagas, namun rasa penasarannya mulai mengalahkan egonya. Ia melirik ke arah bayi merah itu.
"Lihat tuh, tangannya adek keluar dari kain," tunjuk Bagas pada jemari mungil Shaka yang bergerak-gerak di udara, mencari sesuatu untuk digenggam. "Coba Mas Arka kasih telunjuknya ke tangan adek. Mas Arka kan kuat, adek butuh pelindung kayak Mas Arka."
Arka ragu-sejenak. Ia menatap telunjuknya sendiri, lalu menatap tangan mungil adiknya. Perlahan, dengan gerakan yang sangat ragu, ia menjulurkan jari telunjuknya yang mungil ke arah telapak tangan Shaka.
Seketika itu juga, seolah memiliki magnet, jemari Shaka yang halus dan mungil langsung melingkar, menggenggam erat telunjuk Arka. Genggaman yang kuat untuk bayi seusianya.
Mata Arka membulat. Ia tertegun. Rasa hangat dari kulit adiknya menjalar ke hatinya.
"Bapak! Lihat! Bapak!" seru Arka dengan suara bisikan yang bersemangat. "Tangan adek pegang Acka! Kencang banget, Pak!"
"Iya, Dek. Adek Shaka tahu kalau ini abangnya. Adek Shaka bilang, 'Mas Arka, jangan marah ya, jagain aku ya'," goda Bagas sambil mengedipkan mata pada Laras.
Wajah Arka yang tadinya mendung seketika berubah menjadi cerah ceria. Sebuah senyum lebar menghiasi bibirnya yang mungil. Ia tidak lagi berusaha menarik tangannya, justru ia mendekatkan wajahnya ke arah Shaka.
"Adek sayang Acka ya, Pak? Adek tahu ya kalau Acka yang jagain tadi?" tanya Arka dengan binar mata yang penuh kebanggaan.
"Tentu saja tahu. Adek Shaka kan pinter, dia tahu Mas Arka itu abang yang hebat," sahut Laras sambil mengelus pipi Arka.
"Mamah... adek halus banget tangannya. Wangi lagi," gumam Arka. Ia kemudian mencium tangan mungil adiknya itu dengan sangat hati-hati. "Adek Shaka... jangan nangis ya. Nanti Acka kasih pinjam lobot melah Acka buat adek. Tapi adek jangan gigit ya."
Gelak tawa pecah di kamar itu. Bagas tertawa lebar hingga matanya menyipit, sementara Laras menyandarkan kepalanya di bahu Bagas dengan perasaan lega yang tak terkira. Ketegangan persalinan, rasa lelah begadang, dan konflik-konflik masa lalu seolah menguap begitu saja melihat keharmonisan ketiga putranya.
"Terima kasih ya, Mas," bisik Laras di telinga Bagas.
Bagas mengecup kening Laras, lalu merangkul Arka yang masih asyik bermain dengan jari adiknya. "Terima kasih juga, Ras. Kamu sudah kasih Mas kebahagiaan yang lengkap ini. Mas janji, nggak akan ada yang merasa ditinggal di rumah ini lagi."
Pagi itu di Sukamaju, matahari bersinar lebih terang. Cemburu si bungsu telah kalah oleh genggaman kecil si bayi. Dan bagi Bagas serta Laras, suara tawa Arka dan heningnya tidur Shaka adalah bukti bahwa badai telah benar-benar berganti dengan pelangi yang abadi.
Bersambung
ibu kepala desa hrse gk cm lahiran dirumah saja, hrse punya peran PKK, posyandu, trus ngajak ibu ibu kegiatan positive biar desa tambah Maju.