NovelToon NovelToon
God Killer

God Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:770
Nilai: 5
Nama Author: Franzzz

Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.

Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.

Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.

Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.

Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:

Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.

Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-

Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(ARC 1) Chapter 12: Meninggalkan Rumah

Pagi itu tidak seperti biasanya.

Tidak ada suara benturan kayu.

Tidak ada latihan.

Tidak ada meditasi di tepi sungai.

Hanya keheningan pagi yang menggantung di antara pepohonan, ditemani kabut tipis dan cahaya matahari yang baru mulai menyentuh hutan.

Di depan gubuk—

Grachius berdiri dengan tenang.

Tatapannya mengarah ke hutan.

Ke dunia luar.

Ke tempat-tempat yang selama ini hanya ia ketahui dari cerita singkat Purus… dan kini harus ia lihat sendiri.

Angin bergerak pelan melewati rambut putih panjangnya yang terikat ke belakang. Pakaiannya sederhana, namun tubuhnya kini membawa kehadiran yang berbeda.

Bukan lagi anak yang mencari jawaban.

Melainkan seseorang yang telah memilih jalannya sendiri.

Pintu gubuk terbuka perlahan.

Purus keluar tanpa suara.

Di tangannya terdapat sebuah pedang bersarung hitam sederhana.

Tidak mewah.

Tidak dihiasi emas ataupun ukiran rumit.

Namun bahkan sebelum melihatnya dengan jelas—

Grachius bisa merasakan sesuatu darinya.

Purus berhenti di sampingnya.

Lalu mengulurkan pedang itu.

“Bawalah.”

Grachius menerimanya perlahan.

Dan saat tangannya menyentuh gagang pedang—

sesuatu terasa berbeda.

Stabil.

Tidak liar.

Tidak berat.

Melainkan… seimbang.

Seperti air tenang yang tidak terganggu angin.

Grachius sedikit menyipitkan matanya.

“...pedang ini.”

“Namanya Enjin.”

Suara Purus tetap datar seperti biasa.

Grachius menarik pedang itu perlahan dari sarungnya.

Bilahnya berwarna perak pucat, bersih tanpa ornamen berlebihan. Cahaya matahari pagi memantul tipis di permukaannya.

Tidak luar biasa.

Namun tidak terasa biasa.

“Senjata memiliki tingkatan.”

Purus melanjutkan.

“Rare Grade.”

Ujung pedang sedikit bergerak mengikuti cahaya pagi.

“Unique Grade.”

Angin tipis melewati bilahnya.

“Legendary Grade.”

Tatapan Purus perlahan mengarah jauh ke langit.

“Dan Mythical Grade.”

Hening beberapa detik.

Grachius memperhatikan Enjin lagi.

“Ini Rare Grade?”

Purus mengangguk kecil.

“Ya.”

Grachius terdiam sesaat.

Lalu tersenyum tipis.

“Berarti bukan senjata hebat.”

“Tidak.”

Jawaban Purus datang tanpa ragu.

Namun ia melanjutkan—

“Namun cukup.”

Grachius menatap pedang itu lebih lama.

Lalu perlahan memasukkannya kembali ke sarung.

Ia mengerti.

Tidak semua hal harus luar biasa sejak awal.

Purus kemudian mengeluarkan sebuah kantong kecil dari balik jubahnya.

Sederhana.

Terbuat dari kain gelap.

Ia menyerahkannya tanpa penjelasan.

Grachius menerima kantong itu dan sedikit mengernyit.

“Isinya?”

“Berguna.”

Jawaban itu membuat Grachius menghela napas kecil.

“Jawabanmu tetap sama.”

“Dan kau masih tetap bertanya.”

Untuk sesaat—

suasana terasa seperti dulu.

Ringan.

Tenang.

Namun keduanya tahu—

hari ini berbeda.

Grachius mengikat kantong kecil itu di pinggangnya.

Lalu mengangkat pandangannya.

“Aku akan pergi.”

Tidak ada keraguan dalam suaranya.

Purus mengangguk pelan.

Tidak menahan.

Tidak memberi ceramah panjang.

Karena ia tahu—

tidak ada lagi yang perlu dikatakan untuk mengubah keputusan itu.

Dan tepat saat keheningan kembali turun—

seekor burung hitam mendarat di atas batu dekat mereka.

Grachius langsung menoleh.

Matanya sedikit menyipit.

“...itu bukan burung biasa.”

Burung itu memiringkan kepala.

Lalu suara wanita terdengar pelan.

“Kau mulai terbiasa memperhatikan.”

Grachius mengenali suara itu seketika.

“Vita.”

Cahaya lembut muncul tipis di mata burung tersebut, membuat kehadirannya terasa aneh namun hidup.

Burung itu melompat kecil ke depan.

Lalu menjatuhkan sebuah gulungan kecil di dekat kaki Grachius.

Grachius mengambilnya dan membukanya perlahan.

Matanya sedikit melebar.

Sebuah peta.

Luas.

Jauh lebih luas dari yang pernah ia bayangkan.

Gunung-gunung besar.

Polis.

Lautan yang membentang tanpa akhir.

Dan wilayah-wilayah yang bahkan tidak memiliki nama.

Untuk pertama kalinya—

dunia terasa benar-benar besar.

Sebuah tanda kecil bercahaya muncul di salah satu wilayah pegunungan tinggi di bagian utara.

“Dataran Tinggi Aetherion.”

Suara Vita terdengar melalui burung itu.

“Wilayah kekuasaan Sagitta.”

Angin pagi bergerak lebih dingin.

Grachius memperhatikan titik itu beberapa detik.

“Dia tidak bersembunyi?”

“Tidak.”

Nada suara Vita tenang.

“Sagitta tidak pernah melarikan diri dari siapa pun.”

Tatapan Grachius perlahan berubah lebih tajam.

“Bagus.”

Burung itu mengepakkan sayap pelan.

“Jangan meremehkannya.”

Cahaya tipis di mata burung sedikit meredup.

“Para dewa pejuang tidak mempertahankan wilayah mereka hanya dengan nama.”

Grachius menggulung kembali peta itu perlahan.

“Aku tidak pernah menganggap ini mudah.”

Jawabannya tenang.

Namun cukup untuk menunjukkan bahwa ia benar-benar serius.

Beberapa detik hening berlalu.

Lalu burung itu melompat mundur sedikit.

“Kalau begitu pergilah.”

Suara Vita terdengar lebih pelan sekarang.

“Dan tetap hidup.”

Burung itu mengepakkan sayapnya.

Cahaya lembut muncul sesaat—

lalu menghilang bersama terbangnya burung itu ke langit pagi.

Keheningan kembali.

Namun kali ini—

terasa seperti awal.

Grachius menyimpan peta itu di dalam pakaiannya.

Lalu menatap Purus.

Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.

Hanya suara angin pagi dan dedaunan yang bergerak pelan.

“Aku pergi.”

Sederhana.

Namun berat.

Purus menatap muridnya lama.

Lalu—

untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun—

ia melangkah maju dan memeluk Grachius.

Pelukan itu tidak lama.

Tidak dramatis.

Namun cukup untuk membuat waktu terasa berhenti sesaat.

“Selama hidupku…”

Suara Purus rendah.

“…aku hanya memiliki satu murid.”

Grachius diam.

“Dan itu kau.”

Angin bergerak pelan melewati mereka.

Purus perlahan melepaskan pelukan itu.

Tatapannya tetap tenang.

Namun lebih dalam dari biasanya.

“Jangan mati sia-sia.”

Grachius mengangguk kecil.

“Tidak akan.”

Lalu—

ia berbalik.

Dan mulai berjalan meninggalkan gubuk.

Tidak menoleh.

Tidak berhenti.

Langkahnya tenang, stabil, dan pasti.

Menuju hutan.

Menuju dunia luar.

Menuju perang yang bahkan belum benar-benar dimulai.

Purus berdiri diam di depan gubuk, memperhatikan punggung itu semakin jauh di antara pepohonan.

Sampai akhirnya menghilang.

Angin pagi kembali berhembus pelan.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama—

gubuk itu terasa kosong.

Purus menatap ke arah hutan dalam diam.

Lalu bergumam pelan—

“Jangan kembali…”

Tatapannya perlahan menjadi lebih berat.

“…sebagai sesuatu yang bahkan aku tidak bisa hentikan.”

...—...

Langkah Grachius terus berlanjut.

Tenang.

Stabil.

Tidak terlalu cepat, namun tidak pernah berhenti.

Hutan yang selama ini menjadi seluruh dunianya perlahan mulai berubah di belakangnya. Jalur tanah yang ia lewati semakin asing, pepohonan semakin berbeda, dan suara sungai yang biasa ia dengar kini sudah tidak terdengar lagi.

Sesekali, angin membawa aroma kayu dan tanah yang familiar.

Namun itu perlahan memudar.

Grachius tidak menoleh ke belakang.

Bahkan ketika gubuk itu akhirnya benar-benar hilang dari pandangan—

ia tetap berjalan.

Dan untuk pertama kalinya sejak lahir—

tidak ada lagi tempat yang bisa ia sebut rumah.

Langit pagi mulai berubah lebih terang di atas pepohonan. Cahaya matahari jatuh di antara cabang-cabang tinggi, membentuk garis-garis emas tipis di jalur yang ia lalui.

Pedang Enjin di pinggangnya bergerak pelan mengikuti langkahnya.

Tidak berat.

Namun kehadirannya terasa nyata.

Grachius mengeluarkan gulungan peta dari dalam pakaiannya sambil tetap berjalan.

Ia membukanya perlahan.

Dan sekali lagi—

dunia terasa terlalu luas.

Tatapannya bergerak mengikuti garis-garis besar yang tergambar di atas kertas tua itu.

Pegunungan.

Lautan.

Polis.

Wilayah tanpa nama.

Dan dua daratan besar yang paling mencolok.

Mainland.

Dan—

Forbidden Zone.

Tatapan Grachius berhenti lebih lama pada nama kedua.

Bahkan hanya dari tulisan dan bentuk wilayahnya saja, tempat itu terasa… berbeda.

Lebih gelap.

Lebih jauh.

Lebih sunyi.

Tidak banyak penanda di sana. Sebagian besar wilayahnya bahkan tidak memiliki nama yang jelas, seolah tempat itu memang tidak dimaksudkan untuk dijelajahi.

Tujuan akhirnya ada di sana.

Grachius mengetahuinya tanpa perlu diberitahu.

Namun sekarang—

tempat itu terasa sangat jauh.

Sangat jauh.

Tatapannya bergerak kembali ke Mainland.

Daratan besar itu dipenuhi titik-titik polis, jalur perdagangan, wilayah para ras lain, dan daerah kekuasaan para dewa.

Dunia manusia.

Atau setidaknya—

dunia tempat kehidupan bergerak.

Grachius sedikit menyipitkan mata ketika melihat bagian timur Mainland.

Dataran Tinggi Aetherion berada jauh di sana.

Bahkan dengan berjalan tanpa berhenti, perjalanan itu akan memakan waktu yang sangat panjang.

Dan itu baru wilayah timur Mainland.

Belum Forbidden Zone.

Belum Kerajaan Langit.

Belum para dewa yang duduk di atas segalanya.

Grachius menutup peta itu perlahan.

Lalu mengangkat pandangannya ke hutan di depannya.

“…jadi bahkan sekarang…”

Suaranya rendah.

“…aku masih belum benar-benar keluar dari tempat kecil itu.”

Namun tidak ada rasa takut dalam suaranya.

Tidak ada keraguan.

Hanya kesadaran.

Jalannya memang panjang.

Dan memang seharusnya begitu.

Angin bergerak melewati pepohonan, membuat dedaunan berdesir pelan seperti bisikan yang mengikuti langkahnya.

Grachius kembali membuka peta.

Kali ini lebih detail.

Tatapannya bergerak ke wilayah terdekat dari posisinya sekarang.

Lalu berhenti pada sebuah nama.

Heimdall.

Sebuah Kota manusia.

Tidak terlalu besar dibanding polis-polis lain di Mainland, namun cukup dekat untuk menjadi tujuan pertama.

Grachius memperhatikan simbol kecil yang menandai kota itu.

Jalan-jalan utama menuju wilayah lain tampak terhubung dari sana.

Kalau ia ingin bergerak lebih jauh—

ia harus mulai dari situ.

“Heimdall…”

Ia mengingat nama itu pelan.

Dan tanpa sadar—

pikirannya mulai membayangkan sesuatu yang belum pernah benar-benar ia lihat.

Kota.

Bangunan besar.

Orang-orang yang berjalan memenuhi jalan.

Suara ramai.

Peradaban.

Selama hidupnya, dunia Grachius hanya terdiri dari hutan, sungai, dan gubuk kecil.

Ia pernah mendengar tentang manusia lain dari Purus.

Tentang perang.

Tentang polis.

Tentang keserakahan dan kehidupan.

Namun mendengar—

dan melihat sendiri—

adalah dua hal yang berbeda.

Anehnya, ia tidak terlalu penasaran.

Bukan karena tidak tertarik.

Namun karena pikirannya tetap tertuju pada satu arah.

Sagitta.

Nama itu masih terasa berat di dalam dirinya.

Seperti panah yang belum dilepaskan.

Grachius menyimpan kembali peta tersebut.

Langkahnya tidak berubah.

Tetap tenang.

Tetap stabil.

Hutan perlahan mulai berubah semakin liar di sekitarnya. Pohon-pohon menjadi lebih besar, jalur tanah semakin sempit, dan suara binatang terdengar lebih jelas dari kejauhan.

Namun Grachius terus berjalan tanpa terganggu.

Kadang ia memperhatikan arah angin.

Kadang langkahnya sedikit bergeser mengikuti insting yang bahkan tidak sepenuhnya ia sadari.

Ten’i Ryū.

Meditasi.

Qi.

Semua latihan itu kini bergerak bersamanya secara alami.

Tidak lagi terasa seperti teknik.

Melainkan bagian dari dirinya.

Matahari semakin tinggi.

Cahaya pagi berubah lebih hangat.

Dan di tengah perjalanan itu—

Grachius menyadari sesuatu.

Perjalanan besar…

selalu dimulai dengan langkah yang terlihat kecil.

Satu langkah meninggalkan gubuk.

Satu langkah memasuki hutan.

Satu langkah menuju kota yang belum pernah ia lihat.

Dan suatu hari nanti—

langkah-langkah itu akan membawanya menuju langit.

Menuju para dewa.

Grachius mengangkat sedikit kepalanya.

Tatapannya mengarah ke timur.

Ke arah Heimdall.

Lalu ia kembali berjalan.

Tidak tergesa.

Namun tidak berhenti.

Di belakangnya—

kehidupan lamanya perlahan menghilang bersama jarak.

Dan di hadapannya—

dunia yang luas, berbahaya, dan belum dikenal…

akhirnya mulai terbuka.

...A Novel By Franzzz...

1
Manusia Ikan 🫪
nih, aku kasih gift iklan biar semangat😎👍
Manusia Ikan 🫪
heh
Manusia Ikan 🫪
ini baru Nama yang keren v:
Manusia Ikan 🫪
:v kalau aku sih gk masalah
Manusia Ikan 🫪
Nama yang unik🧐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!