NovelToon NovelToon
TELAHIR SAKTI

TELAHIR SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi
Popularitas:652
Nilai: 5
Nama Author: Abas Putra

TELAHIR SAKTI: "Pencarian Pusaka Primordial"

Dunia yang damai ternyata hanyalah lembaran kertas di mata para dewa.

Pahlawan legendaris bernama Raka mengorbankan jiwa dan raganya yang merupakan tetesan "Tinta Primordial" untuk membebaskan dunia dari belenggu Naskah Takdir. Pengorbanannya memberikan kehendak bebas bagi seluruh penduduk fana. Namun, di dimensi kosmik yang jauh lebih tinggi, sebuah tempat bernama Ruang Redaksi, kebebasan ini dianggap sebagai "Kecacatan Cerita" yang harus segera dihapus."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abas Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

B 15: Istana Kristal

Penyatuan di Tengah Bayang

Wuuush!

Erebus melepaskan gelombang kegelapan yang menyelimuti seluruh lorong.

Cahaya istana seketika padam. Raka merasakan kekuatannya tersedot, dan rasa dingin yang luar biasa mulai merayap di kakinya.

"Pegang aku, Raka!" seru Vanya.

Mereka terjebak di dalam "Dimensi Bayangan" milik Erebus. Di dalam kegelapan mutlak ini, satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan menyatukan dua kutub energi: Cahaya Asal Raka dan Kehampaan Vanya.

Di saat itu Vanya langsung menarik Raka ke dalam pelukannya, Di tengah kepungan bayangan yang lapar." Mereka harus membangkitkan panas yang cukup untuk menembus dimensi ini."

Vanya membuka sebagian pakaiannya sendiri, membiarkan kulitnya yang dingin bersentuhan langsung dengan kulit Raka yang mulai membara karena tekanan Matahari Kesepuluh.

Raka memeluknya Vanya dengan sangat erat.

Raka bisa merasakan gairah dan ketakutan Vanya bersatu. Ia mencium Vanya, memberikan energi matahari langsung ke pembuluh darahnya.

Tangan Raka memegang lekuk tubuh Vanya yang gemetar, menciptakan percikan api emas di setiap sentuhannya. Di dalam kegelapan itu, penyatuan mereka menjadi satu-satunya sumber cahaya.

Raka saat ia merasakan energi Vanya membantu menstabilkan Matahari Kesepuluh yang liar. Rasa nikmat yang membakar menyelimuti mereka berdua, sebuah yang harus dipaksakan oleh situasi keadaan namun terasa begitu nyata.

Getaran dari penyatuan raga mereka menciptakan gelombang panas yang mulai meretakkan kegelapan Erebus."

Zringgg!

Cahaya ungu keemasan meledak dari tubuh mereka berdua, menghancurkan dimensi bayangan tersebut dan mengembalikan mereka ke lorong istana."

Melawan Sang Penguasa Bayangan

Erebus berdiri dari takhtanya, wajahnya yang tadinya tenang kini dipenuhi amarah.

"Beraninya kalian bercinta di dalam dimensiku terang-terangan, apa kalian tidak malu?!" Kalian sudah berani rasakan...."

Erebus melesat maju, tangannya berubah menjadi belati bayangan yang panjangnya dua meter.

Syuuuuutttt!

Raka tidak menghindar. Ia berdiri tegak, auranya kini tenang namun mematikan. Saat belati Erebus nyaris menyentuh dadanya, Raka hanya menjentikkan jarinya.

Shuuut!

Sebuah ledakan energi putih menghancurkan belati bayangan tersebut. Raka kemudian melesat, kecepatannya kini benar-benar tidak bisa diikuti oleh mata dewa sekalipun.

Bugh!

Satu pukulan mendarat di rahang Erebus.

Krakkk! Suara bergema di lorong kristal. Erebus terlempar menghantam dinding hingga hancur.

"Kau... bagaimana manusia sepertimu bisa memiliki kekuatan Asal sekuat ini?" Erebus terbatuk, darah hitam keluar dari mulutnya.

Raka berjalan mendekat, setiap langkahnya membuat lantai kristal meleleh. "Kekuatan ini bukan milikku, Erebus. Ini adalah kemarahan dari semua bintang yang kau padamkan."

Raka mengangkat tangannya ke atas. Sebuah bola cahaya hitam dengan inti putih terbentuk di telapak tangannya. Matahari Asal Tahap Kedua: Gerhana Kosmik."

"Jangan! Ampuni aku!" teriak Erebus ngeri.

BOOOMMMM!

Raka melepaskan bola cahaya itu. Ledakannya tidak bersuara, namun seluruh tubuh Erebus perlahan-lahan tersedot ke dalam lubang hitam kecil yang diciptakan Raka, hingga ia lenyap tanpa sisa. Bahkan sukmanya pun tidak tersisa untuk bereinkarnasi.

Hening kembali melanda istana. Vanya mendekati Raka, napasnya masih tersengal. Pakaiannya yang acak-acakan menambah kesan liar pada penampilannya.

"Satu Leluhur jatuh... sisa sebelas lagi," bisik Vanya sambil menatap Raka dengan tatapan yang penuh pemujaan."

Tidak lamakemudian, tiba-tiba, dari arah aula utama istana, terdengar suara tepuk tangan yang lambat.

Pruk... pruk...

"Luar biasa! Bisa mengalahkan Erebus, ia memang yang terlemah, tapi mengalahkannya dengan begitu mudah... kau benar-benar cucu dari orang tua sialan itu."

Muncul tiga Leluhur sekaligus: Leluhur Api, Leluhur Guntur, dan Leluhur Tanah.

Mereka berdiri sejajar, memancarkan tekanan energi yang membuat seluruh Wilayah Daulat bergetar.

"Raka, kau baru saja memasuki pintu kematianmu yang sesungguhnya," ucap Leluhur Guntur sambil mengangkat tangannya yang dikelilingi petir biru raksasa.

Raka mengepalkan tinjunya, menatap ketiga Leluhur itu dengan senyum tipis yang mematikan.

"Bagus. ucap Raka," Aku tidak suka membuang waktu, mencari kalian satu per satu." Pertempuran tiga lawan satu yang akan menentukan nasib di alam semesta ini."

Udara di aula Istana Kristal mendadak menjadi medan perang molekuler. Di sebelah kiri, Leluhur Api menghentakkan kakinya, mengubah lantai kristal menjadi aliran lava yang membara.

Sssss...

Uap panas menyengat memenuhi ruangan. Di sebelah kanan, Leluhur Tanah mengangkat tangannya, membuat gravitasi di sekitar Raka meningkat seribu kali lipat hingga lantai di bawah kaki Raka retak sedalam satu meter.

Krakkk!

Dan tepat di depan, Leluhur Guntur melayang dengan bola petir biru raksasa di kedua tangannya."

"Kau pikir kau bisa menang melawan hukum alam, Bocah?" gertak Leluhur Guntur. "Kami adalah api yang membakar duniamu, tanah yang mengubur jasadmu, dan kilat yang menghapus sukmamu!"

Raka menycoba menyerang tetapi seranganya tidak bisa, hanya napas terengah-engah. Tekanan dari tiga Leluhur sekaligus membuatnya berlutut. Darah emas menetes dari sudut bibirnya, menguap sebelum menyentuh lava di bawahnya.

Sembilan matahari di punggungnya berputar kacau, mencoba menahan serangan gabungan yang tak masuk akal ini.

"Raka! Kau tidak bisa menahan mereka secara terpisah!" Vanya berteriak dari balik pilar pelindung. Ia melihat zirah cahaya Raka mulai retak berkeping-keping.

Leluhur Api melepaskan naga magma raksasa, sementara Leluhur Guntur mengirimkan tombak petir menyerang Raka.

"Raka terlempar ke dinding belakang, tubuhnya tertimbun reruntuhan kristal.

Vanya melesat menembus badai energi, memeluk Raka di tengah puing-puing yang membara.

"Raka, lihat aku!" Vanya mencengkeram wajah Raka. Mata ungu Vanya kini bersinar dengan keputusasaan.

"Energi Matahari Asal-mu sedang mencoba menghancurkan dirimu sendiri karena tidak ada pusat yang menahannya. Gunakan aku sebagai pusatmu... sekarang!"

Vanya menarik Raka ke dalam pelukannya yang dingin namun membara oleh gairah. Di bawah hujan reruntuhan dan kilat yang menyambar, Vanya membuka pakaiannya, menekan tubuhnya yang mulus dan berkeringat ke dada Raka yang panas.

Vanya, saat energi liar Raka mulai merambat ke dalam tubuhnya.

Raka, dalam kondisi setengah sadar dan didorong oleh insting bertahan hidup yang paling purba, membalas pelukan Vanya dengan liar. Ia mencium bibir Vanya dengan kasar, menghisap energi kehampaan dari wanita itu untuk mendinginkan inti mataharinya.

Tangan kekar Raka menyentuh Vanya, mengangkatnya hingga mereka bersatu dalam ritme yang sangat intens di tengah medan perang yang hancur.

Sensasi yang luar biasa meledak di tengah rasa sakit. Perpaduan antara yang memuncak dan ancaman kematian menciptakan sebuah harmoni energi yang belum pernah ada sebelumnya.

Tanda naga di dada Raka berhenti berdenyut liar, ia mulai bersinar dengan cahaya putih yang sangat stabil dan pekat. Di puncak penyatuan mereka, Raka merasakan pikirannya meluas menembus batas istana, menembus galaksi, menuju titik nol penciptaan."

"Terima kasih... Vanya, kamu sudah membantuku." bisik Raka dengan suara yang kini terdengar seperti dentuman lonceng kosmik.

Matahari Asal Tahap Ketiga: Singularitas Abadi

Raka berdiri dari pelukan Vanya. Tubuhnya kini tidak lagi memancarkan cahaya yang menyilaukan.

Sebaliknya, ia tampak seperti "lubang hitam" yang berbentuk manusia. Cahaya di sekitarnya tersedot masuk ke dalam tubuhnya. Semua suara mendadak hilang. Hening yang memekakkan telinga.

Inilah Matahari Asal Tahap Ketiga: Singularitas Abadi.

"Apa ini?! Mana apiku?!" Leluhur Api berteriak panik saat naga magmanya tiba-tiba padam dan berubah menjadi abu dingin hanya karena Raka menoleh ke arahnya.

Leluhur Guntur mencoba melepaskan petir terkuatnya.

Duar!

Namun, petir itu justru berbelok arah dan tertelan masuk ke dalam telapak tangan Raka seolah-olah hanya cemilan kecil.

"Giliran kalian untuk menghilang," ucap Raka datar.

Raka menjentikkan jarinya. Sebuah gelombang kejut transparan menyebar ke seluruh aula."

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!