Sebuah kisah wanita cantik yang rela di ajak sang suami hidup di negeri perantauan, yaitu ke negeri Arab Saudi di Makkah dan ingin meninggal dunia disana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Santri Gadungan
Sidik benar-benar telah kehilangan akal sehatnya—atau mungkin, ia justru baru saja menemukan akal yang paling jernih. Bagi seorang ahli strategi tempur, jika sasaran tidak bisa didekati secara frontal, maka infiltrasi adalah jalan satu-satunya.
Maka, keesokan harinya, tenggok celengan tanah liatnya ia titipkan pada anak buahnya. Ia mengganti kaos oblongnya dengan baju koko putih yang agak kedodoran dan sarung tenun yang ia pinjam dari penduduk desa. Dengan langkah yang sengaja dibuat agak kikuk, ia mendatangi gerbang pesantren tempat Maryam mengaji.
"Kyai," ucap Rosyid sambil menunduk takzim di hadapan Kyai sepuh pengasuh pesantren. "Hamba ini orang bodoh yang ingin tobat. Tangan hamba sudah terlalu kotor oleh lumpur (dan tentu saja mesiu, batinnya). Hamba ingin ikut mengaji di sini, biar hati hamba yang keras ini bisa melembut seperti tanah liat."
Sang Kyai, yang memiliki mata batin tajam, hanya tersenyum simpul. Beliau tahu pria di depannya ini punya aura "singa" yang berusaha disembunyikan. Namun, melihat ketulusan di mata Rosyid, beliau mengangguk. "Duduklah, Rosyid. Di sini kita semua sama-sama belajar."
Jadilah Sodik resmi menjadi santri tertua di kelasnya. Ia duduk bersila di antara remaja-remaja belasan tahun. Saat mereka dengan lancar melantunkan Alif, Ba, Ta, Rosyid harus berjuang keras menahan lidahnya yang kaku.
*
Strateginya berhasil. Setiap sore, saat santri putra dan santri putri berpapasan di pelataran menuju masjid, Rosyid selalu memastikan dirinya berada di barisan paling pinggir—tepat di jalur yang dilewati Maryam.
Suatu hari, saat Maryam berjalan menunduk membawa kitab Safinah, ia melihat sepasang kaki bersarung yang sangat ia kenali. Ia mendongak dan matanya membelalak kaget melihat si tukang celengan kini duduk bersila dengan kitab di pangkuannya.
"Kang Rosyid? Akang... jadi santri?" bisik Maryam, berusaha menahan tawa yang hampir meledak.
Rosyid berdehem, mencoba terlihat berwibawa meski kitabnya terbalik. "Ternyata mengaji itu lebih berat daripada memikul satu ton tanah liat, Nduk. Tapi demi mencari 'nur' (cahaya), jalan terjal pun akan kudaki."
Maryam tersenyum tipis, ia tahu betul 'nur' mana yang dimaksud pria nekat ini. "Kalau begitu, belajar yang rajin, Kang. Jangan sampai tertidur saat Kyai membacakan kitab, nanti bisa-bisa Akang disuruh berdiri di depan kelas."
"Kalau berdirinya sambil memandangmu dari jauh, saya rela berdiri sampai subuh," jawab Rosyid cepat dengan rayuan mautnya.
Sementara...Anak buah Sidik yang mengintip dari balik pagar pesantren hanya bisa mengelus dada melihat komandan mereka yang biasanya garang kini sibuk menghafal doa-doa pendek dengan wajah serius.
"Komandan kita benar-benar sudah 'kena', ya?" bisik salah satu anak buahnya.
"Ssst! Jangan ganggu, itu namanya strategi pengepungan batin!" sahut yang lain.
***
Malam-malam di pesantren dihabiskan Sodik dengan sungguh-sungguh. Awalnya memang hanya demi Maryam, namun perlahan-lahan, ayat-ayat yang ia baca mulai meresap ke dalam jiwanya. Ia yang dulu sering merasa gelisah karena diburu fitnah, kini menemukan ketenangan di atas sajadah.
Cinta pada Maryam telah menjadi pintu gerbang bagi Sidik untuk menemukan kedamaian yang selama ini ia cari. Di sela-sela hafalannya, ia sering menuliskan bait puisi kecil di pinggiran kitabnya, berharap suatu saat Maryam akan membacanya.
Kulepaskan senjata, ku ganti dengan kalam,
Mencari tenang di sepertiga malam yang kelam.
Bukan karena aku takut pada dunia yang fana,
Tapi karena pesonamu membuat logikaku tak berdaya.
Aku belajar mengeja huruf-huruf suci,
Sambil menata hati yang dulu penuh benci.
Jika surga itu jauh, biarlah kau jadi tujuanku sebentar,
Agar langkahku yang tertatih tak lagi gemetar.
Nduk, biarlah aku jadi santri yang paling lambat menghafal,
Asalkan namamu sudah ku kunci di dalam akal.
Di pesantren ini, aku bukan lagi veteran yang dicari,
Aku hanyalah lelaki yang sedang menjemput takdirnya sendiri.
Mbah Sidik tertawa kecil saat menceritakan bagian ini pada Ahmad. "Itulah, Ahmad, kalau sudah cinta, gunung pun akan kau ratakan, apalagi cuma pura-pura jadi santri. Tapi ingat, dari pura-pura itulah Bapak jadi benar-benar jatuh cinta pada ilmu agama."
"Jadi, kapan Bapak melamar Ibu Maryam, Pak?" tanya Ahmad tak sabar.
Mbah Sidik tersenyum lebar. "Tunggu cerita berikutnya, Ahmad. Saat Bapak harus menghadapi ujian dari Bapaknya Maryam yang ternyata adalah seorang jawara silat!"
Mbah Sidik menghela napas panjang, mengenang momen paling mendebarkan dalam hidupnya. Bukan saat menghadapi meriam Portugis, tapi saat berdiri di hadapan Sang Kyai yang ternyata sudah membaca gerak-gerik hatinya.
*
Suatu sore, setelah jamaah Ashar, Kyai memanggil Rosyid (Sidik) ke serambi. Maryam mengintip dari balik tirai jendela pondok putri dengan jantung berdegup kencang.
"Rosyid," suara Kyai tenang namun berwibawa. "Aku tahu kau santri yang telat, tapi niatmu mengaji itu luhur. Namun, aku juga tahu ada 'magnet' lain yang membuatmu betah di sini. Daripada menjadi fitnah, lebih baik kau lamar Maryam secara jantan. Tapi ingat, Ayah Maryam bukan orang sembarangan. Beliau adalah Kyai Haji Mansur, seorang jawara silat yang disegani di lereng gunung."
Rosyid menelan ludah. Ia tahu, tugas ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan rayuan tanah liat.
*
Keesokan harinya, di sebuah lapangan tanah merah di belakang pesantren, sudah berkumpul anak buah kepercayaan KH Mansur. Mereka adalah pendekar-pendekar silat dengan otot kawat balung besi.
"Rosyid! Kalau kau ingin memetik bunga di taman ini, tunjukkan kau punya pagar yang kuat untuk menjaganya!" teriak KH Mansur sambil berdiri bersedekap. "Kalahkan tiga anak buahku, maka syarat pertama terpenuhi!"
Sidik melepaskan baju kokonya, menyisakan kaos dalam putih yang memperlihatkan bekas luka peluru di bahunya—sisa perang di Kalimantan. Ia tidak menggunakan senjata. Dengan kuda-kuda Cakar Elang yang ia pelajari di militer, dikombinasikan dengan kelincahan yang baru ia pelajari dari alam, Sidik bergerak.
Wush! Plak!
Gerakan Sidik bukan silat bunga yang indah, melainkan silat taktis veteran. Efisien dan mematikan. Dalam waktu singkat, ketiga pendekar itu terjungkal. Sidik tetap berdiri tegak tanpa napas tersengal, namun ia tetap membungkuk hormat kepada lawan-lawannya. KH Mansur mengangguk puas, "Ilmu fisikmu lulus. Tapi itu baru separuh jalan."
"Syarat kedua," suara KH Mansur memberat. "Putriku adalah penjaga kalam Tuhan. Aku tidak mau dia bersuami pria yang lidahnya kaku membaca Kitabullah. Hafalkan Al-Qur'an, setidaknya juz terakhir dan surat-surat pilihan, dalam waktu empat puluh hari!"
Dunia seolah runtuh bagi Sidik. Mengalahkan sepuluh pendekar ia sanggup, tapi menghafal ayat yang suci dengan otak veteran yang sudah penuh dengan koordinat perang adalah siksaan luar biasa.
Di sinilah Mbah Pupus kembali muncul secara gaib di dalam mimpinya. "Sidik, jangan hafal dengan otakmu, hafalkan dengan detak jantungmu. Setiap huruf adalah nafasmu."
***
Selama empat puluh hari, Sidik mengurung diri di pojok masjid. Ia tidak tidur, ia hanya makan seadanya. Air matanya menetes setiap kali ia kesulitan melafalkan ayat. Maryam diam-diam meletakkan segelas air doa di dekat tiang masjid setiap subuh untuk menguatkan ingatan kekasihnya.
Tangan ini lebih biasa memegang hulu keris,
Kini gemetar mengeja bait yang tertulis.
Pendekar telah kurubuhkan di tanah merah,
Namun di hadapan Al-Qur'an, aku nyaris menyerah.
Empat puluh malam aku bertarung dengan diri,
Mengejar cahaya di sela hari yang sunyi.
Bukan demi sombong atau sekadar meminang,
Tapi agar jiwaku layak bersanding dengan cahaya yang terang.
Nduk, doakan lidahku tak kelu saat menghadap bapakmu,
Sebab setiap ayat yang kuhafal, ada rindu yang kusemu.
Jika besi bisa kutaklukkan dengan tenaga,
Maka firman-Nya akan kutaklukkan dengan air mata.
Mbah Sidik tersenyum menatap Ahmad. "Hari ke-41, Ahmad... Bapak maju ke depan KH Mansur. Dengan suara yang menggetarkan tiang masjid, Bapak bacakan hafalan itu tanpa cela sedikitpun. Maryam menangis di balik tirai."
"Lalu, apa kata KH Mansur, Pak?" tanya Ahmad antusias.
Mbah Sidik tertawa. "Beliau memeluk Bapak dan bilang: 'Selamat datang di keluarga ini, wahai Pendekar Qur'an'. Tapi Ahmad, ada satu rahasia... saat itu Bapak sebenarnya gemetar luar biasa sampai hampir pingsan!"
thor q merinding sekaligus ke inget sama mbah mansyur (Kh.Tubagus Mansyur) yg d ceritain sama guru aku
q berasa kaya lagi ngaji thor
siapa kah sebenarnya kang sidik ?