Kisah cinta Kapten John Christo Nagasaki Lantang seorang perwira angkatan laut yang berjanji menjadi pengawal bagi seorang perempuan yang dia temui di sebuah club malam. Ternyata perempuan itu adalah seorang dokter bedah bernama Pamela Christine Giardini.
Bagaimana Cinta bisa hadir diantara dua orang yang memiliki kepribadian keras dan cenderung introvert ini???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jodoh Tidak Kemana
Pagi subuh Pamella Christine Giardini sudah tiba di Papua, tepatnya di kota Biak. Ya perempuan berdarah Sulawesi Ambon ini lahir dan dibesarkan di kota Biak. Setelah hampir delapan tahun belajar dia kembali ke kota kelahirannya.
Sebagai anak dari seorang pegawai negeri, yang hidup berkecukupan, papa dan mamanya bangga anak satu - satunya bisa sekolah kedokteran sampai tahap ini. Hari ini Ella akan beristirahat. Lusa baru dia akan bertemu dokter bedah di rumah sakit umum. Enam bulan, Ella akan mengabdi.
Sementara John baru saja bangun. Semalam dia tidak bisa tidur. Memikirkan Ella kekasihnya.
"Jodoh itu tidak akan ketukar dek."
"Kaka juga sih, kenapa mau foto dengan anaknya om Barata."
"Bagaimana mau nolak dede. Kan itu dulu tetangga kita."
"Mana fotonya gini lagi. Kalau dede jadi kak Ella bukan hanya blokir langsung minta putus."
Papi dan maminya hanya tersenyum. Melihat tingkah anak - anak mereka, meskipun sudah dewasa mereka masih menghormati dan mendengar nasehat orang tua mereka.
"Kak Ella semalam masih balas chat dede, bantu jelasin tugas dede."
"Berarti hanya John yang di blokir. Kaka dan dede tidak."
"Mami coba kirim pesan kepada Ella, pasti dia sudah sampai Papua."
Maminya John pun mengirim kabar menanyakan kabar Ella. Ella yang baru selesai mandi, mau tidur lagi melihat ada notifikasi pesan masuk langsung membuka dan membaca pesan itu. Ternyata pesan dari mamanya John.
"Kabar baik tante. Ella mohon maaf, kemarin berangkat ke Papua ngak pamit sama om dan tante. Ella enam bulan akan praktek di kota ini tante. Kota kelahiran Ella. Sekarang Ella sudah di rumah Ella tante."
"Sukses ya nak. Salam buat orang tuamu."
"Terima kasih tante."
Mami John tersenyum melihat ke arah anak laki - lakinya, yang termenung.
"Hanya John yang di blokir."
John tahu, Papua mana Ella di besarkan. Karena Ella sudah bercerita kepadanya. Tiba - tiba dia mendapat notifikasi pesan, untuk kembali ke kapal karena mereka akan berlayar ke Papua mengantar pasukan tepatnya di kota Biak atau pulau Biak. John tersenyum.
"Jodoh tidak akan kemana - mana. Betul kata papi."
Semua kaget dan melihat ke arah John yang murung tiba - tiba menjadi sukacita.
"Kamu kenapa nak??"
"Mami doai adek, biar bisa jelasin salah paham ini kepada Ella."
"Kenapa??"
"Ade mau berlayar ke Biak Papua."
Semua kaget dan tersenyum. Papinya menepuk bahunya.
Sudah empat hari John berlayar, dan diperkirakan akan sampai di pulau Biak enam jam lagi. Sementara Ella sudah empat hari dia bekerja di rumah sakit umum yang ada di kota Biak sebagai asisten dokter bedahnya dokter Steven.
Kapal perang tempat John bekerja, baru pertama kali sandar di Pelabuhan di kota Biak. Kapal perang ini di jadwalkan akan ada di Biak selama dua minggu. Mereka akan mempersilahkan anak- anak sekolah dan masyarakat umum, untuk melihat alat - alat perang yang ada di kapal cangih ini.
Tentu antuasias masyarkat besar sekali. Ella di ajak teman - teman sekolahnya untuk juga kesana. Ella tidak tahu, bahwa kapal yang sandar di pelabuhan adalah kapal dimana kekasihnya bekerja. Dengan di jemput Lusi temannya mereka menuju ke pelabuhan. Ella, Lusi, Rin dan Cila ketiga teman sekolah Ella ini sudah ada di pelabuhan. Sebenarnya Ella tidak mau kesana karena panas - panasan.
John yang berada di anjungan teratas, dia melihat sosok yang dia rindu sedang berjalan ke arah kapal. Dia tersenyum. John langsung menyuruh anggota untuk berjaga disini dia menunggu Ella di pintu masuk.
Waktu Ella masuk. John langsung memeluk dan membekap mulut Ella. John sudah melihat Ella waktu naik ke kapal. Dan situasi memungkinkan John menangkap kekasihnya. Dan dia arahkan ke kamar - kamar perwira. John menutup mulut Ella namun mukanya di lihat oleh Ella. Kaget, bahagia, dan marah yang dirasakan oleh Ella saat itu. Teman - temannya tidak tahu Ella sudah terpisah dengan mereka.
Sekarang Ella dan John sudah ada di ruangannya John. Tekat John, hanya menyelesaikan salah paham ini.
"Kamu mau mengindar bagaimana pun. Tuhan sudah takdirkan kita berjodoh sayang."
"Sok tahu." Judesnya Ella terlihat. John tersenyum.
"Kamu yang datang ke aku sayang."
"Aku ngak tahu ini kapal tempat kamu bekerja, kalau tahu aku tidak akan kesini."
"Resiko kamu, siapa suruh kamu ngak hafal kapal tempat calon suamimu bekerja."
"Jangan sok ngaku - ngaku ya."
"Emang iya. Kamu itu jodohku. Aku sudah meminta sama Tuhan."
"Bagaimana cewek kamu yang di media sosial."
John langsung menjelaskan semua kepada Ella, dia tidak mau Ella berprasangka tidak baik lagi. Setelah dijelaskan Ella mengerti dan John berusaha meyakinkan Ella bahwa hanya dia sorang di hatinya. Telepon Ella berdering, karena hampir satu jam dia terpisah dari kawan - kawannya. Mereka sudah berkeliling sampai turun ke dermaga Ella belum bertemu dengan mereka.
"Ko dimana sis??"
"Sa ketemu teman. Sudah pulang duluan ngak betah."
John tersenyum, karena melihat pacarnya membohongi teman - temanya. John langsung memberi ciuman ke kening Ella.
"Kenapa sih, ngak bilang sama pacar kamu."
"iiihhh mana ada, nanti mereka pada kepo." Ella langsung memukul John dan di balas dengan pelukan.
"Kamu tahu, kangen tahu aku nih. Pulang perang pacar kabur."
"Siapa yang salah??"
"Iya aku yang salah."
Kamar John di kapal, hanya ada foto Ella dan keluarganya. Foto bersama waktu Jefry dan John ulang tahun. Foto keluarga di mana ada Ella.
"Mau minum apa sayang??"
"Kak ada apa saja sih di kulkas??"
"Banyak tahu, lihat aja. Ambil sendiri ya. Kaka mandi dulu."
Ella sudah menikmati minuman dingin, sementara John sedang mandi. Ella selesai itu dia berbaring di kasur kekasihnya. Tidak lama John kelaur dengan badan telanjang.
"Sayang porno aksi itu."
"Sudah perna lihat saja. Atau sekarang tanam benih saja ya. Biar jangan blokir nomorku."
"Enak aja. Kamu sudah janji sama aku kan??"
"Iya. Janji sampai sah."
"Awas kamu setor benihmu kelain - lain orang."
"Aku ngak berani sayang. Kamu sendiri tahu kan. bagaimana cara aku." Ella tersenyum.
"Ayo mobilnya sudah siap. Kita mampir pos lanal dulu, baru ke rumah."
John sudah berpakaian preman. Dia mengandeng tangan Ella turun dari kapal. Masih banyak pengunjung. Namun John melindungi kekasihnya sampai ke lantai pelabuhan.
"Sayang arahin aku ya."
"Iya."
Mereka keluar dari pos langsung ke arah kiri menuju markas lanal. Dia harus lapor di pos, bukan hanya di petugas piket di kapal dan komandannya.
"Dan, perlu supir??"
"Saya sama kekasih saya."
"Kaka Ella."
"Selamat siang om."
"Kenapa sayang??"
"Habislah satu kompleks tahu."
"Kenapa?? Ngak masalah kan?? Lagian kan tidak tinggal di kompleks ini juga."
"Aku gereja di kompleks ini. Opaku dulu pensiunan pegawai negeri di angkatan laut."