Kenzo Arkana adalah definisi hidup dari kekejaman. Sebagai raja penyelundup barang terlarang, ia memerintah dunianya dengan tangan besi dan hati yang membeku. Baginya, wanita hanyalah gangguan tak berguna hingga malam itu, di sudut remang kelab eksklusifnya, seorang wanita lancang bernama Aara datang mengusik ketenangannya.
Aara bukan wanita biasa. Di balik gaun merah yang menggoda dan sikap centilnya, ia adalah agen rahasia elit yang sedang menjalankan misi mustahil: menjatuhkan kekaisaran Kenzo. Ia harus memikat sang "Monster" untuk mencuri rahasia terdalamnya.
Namun, di dunia di mana pengkhianatan dibayar dengan nyawa, siapa yang akan terjatuh lebih dulu? Apakah Aara berhasil menuntaskan misinya, atau justru ia yang terjerat dalam kegelapan Kenzo yang mematikan?
Satu rayuan. Satu misi. Satu taruhan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dansa di Atas Belati
Cengkeraman tangan kokoh milik Kenzo yang membalut leher Aara perlahan melonggar, meski tak sepenuhnya terlepas. Ibu jarinya kini bergerak dengan perlahan di sepanjang garis rahang Aara, memberikan tekanan yang seolah mengintimidasi sekaligus memperingatkan. Mata gelap miliknya tajam, seperti pisau yang mencoba menguliti setiap lapisan kemungkinan kebohongan yang mungkin tersimpan dalam diri wanita itu. Namun, sorot tajamnya hanya disambut oleh tatapan lembut penuh teka-teki dari Aara—sesuatu yang memancarkan kombinasi memabukkan antara keberanian yang sembrono dan godaan yang nyaris memikat.
Kau terlalu banyak bicara untuk seorang wanita yang sedang berjalan di atas batas tipis antara hidup dan mati, ujar Kenzo dengan nada rendah dan datar, dingin seperti hujan di malam tak berbintang. Ia akhirnya melepaskan leher Aara dengan sentakan kecil, sebuah gerakan yang seolah memberi jeda pada ketegangan namun juga menyiratkan bahwa ia selalu memegang kendali. Tubuh tegapnya kemudian kembali bersandar penuh di sofa mewahnya, seolah drama barusan hanyalah selingan minor dalam hari panjangnya yang penuh rutinitas monoton.
Namun, Aara tidak membiarkan situasi itu berlalu begitu saja. Tanpa ragu, ia memanfaatkan momen tersebut dan menggeser tubuhnya dengan gerakan licin yang hampir mustahil dideteksi, hingga ia kini mendarat dengan sempurna di pangkuan Kenzo. Gaun sutranya yang tipis menciptakan sensasi lembut yang kontras dengan otot paha pria itu yang terasa sekeras baja. Keadaan mendadak berubah tegang, bahkan para pengawal Kenzo yang telah berdiri siaga di berbagai sudut ruangan menegang serentak. Tangan mereka bergerak ke balik jas—siap mencabut senjata kapan saja jika tanda atau isyarat halus keluar dari pria yang mereka layani. Tapi bukan perintah itu yang datang. Kenzo hanya mengangkat sebelah tangannya dengan elegan, gestur kecil namun jelas untuk meminta mereka menahan diri. Hening kembali menyelimuti ruangan, menyisakan ketegangan menggantung di udara.
"Tuan Arkana," suara Aara memecah keheningan, lirih namun sarat akan keberanian menggoda. Tangannya melingkar mesra di leher Kenzo saat ia bermain dengan helai-helai rambut pendek di tengkuk pria itu, seperti seorang seniman yang melukis ketegangan di kanvas antisipasi. "Kau tahu... biasanya pria pendiam seperti dirimu menyimpan rahasia-rahasia besar—rahasia yang cukup menarik untuk membangkitkan rasa penasaran liar." Ia mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat, bibirnya melengkung dalam senyuman penuh misteri. "Dan aku selalu suka mengungkap rahasia-rahasia semacam itu."
Aara melepaskan tawa kecil yang renyah, mengalun seperti bunyi lonceng angin yang lembut dan menenangkan. Suara itu bergema samar di ruangan dan menjadi kontras sempurna dengan atmosfer berbahaya yang menyelimuti mereka. Ia menyandarkan kepalanya di dada Kenzo, pura-pura mendengarkan detak jantung pria yang tenang seperti permukaan sungai tanpa riak. Tetapi Aara punya agenda lain. Dengan kehalusan sekelas penari bayangan, jemarinya mulai menyelinap, merayapi saku bagian dalam jas mahal Kenzo.
Sedikit lagi... hanya sedikit lagi... pikir Aara dalam hati seraya menahan napas, sementara adrenalinnya memuncak. Detik demi detik berlalu perlahan, menjelma menjadi tarian kematian antara kenekatan dan ketelitian seorang penipu ulung.
"Detak jantungmu sangat tenang. Seperti orang yang baru saja membunuh tanpa penyesalan," bisik Aara sambil mendongak, menatap Kenzo dengan binar mata yang dibuat seolah ia sangat memuja pria kejam ini.
Kenzo tidak terpengaruh oleh kontak fisik itu. Ia justru meraih tangan Aara yang sedang berada di dalam jasnya. Ia menarik tangan itu keluar dengan paksa, lalu menggenggam jemari lentik Aara hingga wanita itu sedikit meringis.
"Mencari sesuatu, Cherry?" tanya Kenzo dengan senyum miring yang lebih mirip seringai pemangsa.
Jantung Aara mencelos, namun wajahnya tetap tenang bahkan ia memberikan ekspresi cemberut yang sangat manja. "Aku hanya mencari korek api, Sayang. Aku ingin menyalakan cerutumu, tapi kau sangat pelit bahkan untuk berbagi saku."
Aara menarik tangannya kembali, lalu dengan gerakan cepat yang tak terduga, ia mengecup sudut bibir Kenzo. Kecupan itu singkat, manis, namun sarat dengan provokasi.
"Kau sangat membosankan jika hanya bicara soal kematian. Bagaimana kalau kita bicara soal harga?" Aara mengedipkan matanya dengan centil. "Aku tidak murah, Tuan Arkana. Tapi aku menjamin kau tidak akan bisa melupakan malam ini seumur hidupmu."
Kenzo menatap bibir merah Aara, lalu kembali ke matanya. "Aku tidak membeli wanita. Aku memiliki apa pun yang aku inginkan tanpa perlu membayar."
"Oh, jadi kau tipe pria yang suka... memaksa?" Aara berpura-pura terkejut, menutupi mulutnya dengan tangan, lalu tertawa renyah. "Kedengarannya sangat liar. Aku suka."
Kenzo berdiri tiba-tiba, membuat Aara terpaksa ikut berdiri agar tidak terjatuh. Pria itu jauh lebih tinggi darinya, bayangannya menelan tubuh mungil Aara di bawah cahaya merah. Ia merogoh saku jasnya sendiri, mengeluarkan sebuah kartu akses emas, dan menyelipkannya ke dalam belahan dada gaun Aara yang rendah. Sentuhan jemari kasarnya di kulit sensitif itu membuat Aara sedikit tersentak, namun ia tetap mempertahankan aktingnya.
"Lantai 40. Kamar *Presidential Suite*. Tunggu aku di sana dalam sepuluh menit," perintah Kenzo. "Jika kau terlambat satu detik, jangan harap kau bisa keluar dari gedung ini dengan kaki yang utuh."
Aara tersenyum lebar, menunjukkan deretan giginya yang rapi. Ia mengambil kartu itu dengan dua jari, menciumnya, lalu menyelipkannya kembali ke tempat semula dengan gerakan menggoda.
"Sepuluh menit? Aku bahkan bisa sampai di sana dalam lima menit jika itu artinya aku bisa segera melepaskan gaun yang menyesakkan ini untukmu, Kenzo," ucap Aara dengan nada yang sangat sugestif.
Aara berbalik dan berjalan menjauh, memberikan goyangan pinggul paling mematikan yang pernah ia pelajari. Ia tahu mata Kenzo dan mata seluruh pria di ruangan itu sedang tertuju padanya. Namun, begitu ia membelakangi kerumunan dan memasuki lift, ekspresi centil di wajahnya hilang seketika.
Matanya berubah menjadi tajam dan waspada. Ia menyentuh anting-antingnya yang sebenarnya adalah alat komunikasi mini.
"Target terpancing. Aku akan masuk ke sarangnya di lantai 40," lapor Aara dengan suara dingin dan profesional, sangat jauh dari karakter 'Cherry' yang baru saja ia mainkan. "Siapkan tim ekstraksi. Jika dalam dua jam aku tidak memberi sinyal hijau, bakar seluruh tempat ini."
Lift berdenting. Pintu terbuka ke sebuah koridor mewah yang sunyi. Aara tahu, di balik kemewahan ini, ia sedang melangkah masuk ke dalam mulut harimau. Kenzo Arkana bukan pria yang mudah tertipu oleh sekadar rayuan wanita penghibur. Ada kemungkinan besar pria itu sedang menjebaknya.
Namun, Aara adalah agen terbaik. Dan malam ini, ia akan membuktikan bahwa kecantikan dan kelincahan bisa menjadi senjata yang lebih mematikan daripada peluru kaliber terbesar sekalipun.
Ia menghela napas panjang, memasang kembali topeng 'Cherry'-nya, dan melangkah menuju kamar 4001 dengan tawa kecil yang dipaksakan, siap menghadapi sang monster di kandangnya.