Satu malam kelam menumbuhkan benih kehidupan dalam diri Miranda. Namun naasnya, hubungan terlarang itu di ketahui sang Majikan, yang tak lain Ibu dari kekasihnya~Ezar Angkasa.
Merasa tidak terima atas hubungan itu, Majikanya memfitnah Miranda secara keji, dan mengharuskan gadis malang itu angkat kaki dari rumah dalam keadaan berbadan dua.
5 tahun berlalu~
Miranda mencoba bangkit. Melamar kerja pada sebuah perusahaan ternama di kotanya. Namun siapa sangka, Bos barunya itu.....? Dia adalah Ezar Angkasa, mantan kekasihnya 5 tahun yang lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Pelayan bernama Bik Siti itu mengedarkan pandangan keseluruh ruang, namun Tuan Mudanya itu menghilang entah kemana.
"Duh... Ini Den Dewa kemana sih? Den Ezar juga sudah pergi." Bik Siti bergegas menghampiri Majikannya di kamar.
Sementara di dalam kamarnya, Pria tampan berusia 38 tahun itu berdiam dibawah ranjang, menyandarkan tubuhnya disana, memegang buku, namun tatapanya jauh ke depan.
Semenjak kematian ibunya, Dewa memang sempat terguncang, hingga mentalnya sedikit terganggu. Dan dampak itu di manfaatkan Ria, agar putranya lebih unggul. Dan nyatanya Ezar lah sekarang yang memimpin perusahaan.
Hanya berteman buku, Dewa dapat menggapai semua dunia yang tertutup oleh kekejian Ibunya. Hampir 10 tahun hidup dalam belenggu ruangan yang tertutup senyap. Tidak ada hal yang lebih indah selain berdiam diri didalam kamar dan menghabiskan beberapa buku dalam sehari.
Tapi bagi Ria, Dewa hanyalah penghalang. Dewa tak lebih parasit yang kapan saja dapat dirinya singkirkan.
Dewa membalik satu halaman lagi. Rupanya, didalam buku itu terselip selembar foto seorang wanita cantik. Senyum itu sangat pas melekuk pada wajah alami tanpa polesan make-up. Perlahan, Dewa tersenyum tipis.
"Mah... Mereka pikir aku gila! Mereka selalu memberiku obat yang kapan saja obat itu akan membantai tubuhku sendiri. Mah... Setelah Mamah tiada. Aku langsung bersyahadat, sesuai pesan Mamah pada saat itu. Di dalam kamar ini aku menunaikan sholat lima waktu tanpa sepengetahuan siapa pun! Mamah tenang saja. Diam ku bukan menghancurkan. Diam ku hanya menyiapkan kekuatan, suatu saat akan ku rebut semua yang menjadi miliku."
Tiba-tiba saja pintu tergebrak dari luar.
Brak!
Brak!
"Dewa... Buka pintunya! Sudah waktunya kamu minum obat! Mamah nggak mau marah, ya! Tolong jangan uji kesabaran Mamah, Dewa!"
Dewa menutup kembali bukunya. Pria itu menghela napas pelan, lalu bangkit menuju rak, disana hampir separuh kamarnya adalah perpustakaan.
Ceklek!
Ria mundur. Wajahnya berusaha untuk meyakinkan.
"Dewa... Kamu harus minum obat tanpa drama lagi! Mamah sudah muak setiap hari melihat kamu seperti anak kecil," geramnya.
Nampan yang berisikan obat itu sudah Ria sodorkan.
Dewa menatap sangat muak. Sekali hempas,
PYAR!
Ria syok, Bik Siti membekap mulutnya. Gelas tadi pecah berserakan, sementara sebotol obat itu terpental kemana-mana.
Selepas itu, pintu tertutup kembali.
Brak!
Dewa mebantingnya.
Sementara di luar, Bu Ria menahan napas, emosinya malam ini hampir meledak ruah. "Dasar pria gila!" geramnya. Dadanya sudah kembang kempis, lalu segera melenggang untuk menghubungi putranya~Ezar.
"Dia pasti mau minum obat kalau sama adiknya. Obat itu harus tertelan! Aku membelinya mahal-mahal, bagaimana bisa dia membuangnya begitu saja. Jika bukan karena aku mencintai Papahnya, sudah ku habisi sejak dulu. Hah!"
Bu Ria masih berusaha menghubungi Ezar, namun panggilan itu belum juga terjawab.
*****
Malam itu, semua hal yang Ezar ucapakan pada Ibunya hanyalah kebohongan.
Setelah mengetahui alamat perumahan Miranda, malam ini Ezar berniat untuk mencari tahu, dan mobil mewah itu sudah berhenti agak berjarak di depan rumah yang tak terlalu luas itu.
Ezar berdiam. Ia menatap keadaan rumah Miranda dibalik kaca mobilnya. Entah mengapa, rumah kecil itu menyuguhkan duka; menatap saja hati Ezar terasa teremat. Ada gejolak perih yang menyelinap masuk.
Di tengah lamunan itu, Ezar mendengar suara tangisan seorang bocah kecil pecah. Raungan itu mampu menguncang hati Ezar.
"Apa yang terjadi?"
"Bunda, huaaaa...."
Tangisan Tama pecah, sehabis pulang dari toko roti itu, Tama sempat tertidur sejenak. Bocah kecil itu mengigau, memanggil nama Ayahnya sejak tadi.
Dan setelah Miranda cek, rupanya suhu badan Tama sangat tinggi. Hanya tinggal berdua saja dengan putranya, Miranda bingung harus meminta bantuan kepada siapa.
Reflek, gerakan tubuh itu melebihi cara kerja otaknya. Ezar sudah ingin keluar, namun tanganya yang sudah memegang handle pintu mobil tetiba menggantung.
Disana, di dalam rumah itu. Miranda membuka pintu, keluar dalam keadaan panik sambil menggendong tubuh Tama dengan selendang. Miranda segera mengenakan helm, dan malam itu juga berniat mengajak Tama ke dokter.
Ezar masih memperhatikan. Melihat motor Miranda sudah mulai keluar, perlahan ia mengikuti motor itu.
Tubuh Tama menggigil. Dalam balutan jaket tebal, kepala yang sudah tertutup oleh topi, Miranda menjalankan motornya sambil menahan rasa sesak. Air matanya sudah menggenang, ia rasa, putranya tengah memikirkan sosok pria asing tadi sore yang sangat mirip dengan Ayahnya.
Air mata itu akhirnya luruh. Tama tak berhenti menyebut 'Ayah... Ayah' selama perjalanan.
Hati ibu mana yang tak akan perih. Begitu saja, jika berada di luar rumah, dirinya masih tak selamat dari mulut manusia. Malam ini ingin rasanya Miranda menjerit sekeras mungkin.
"Tama... Sabar ya, sayang! Sebentar lagi kita sampai tempatnya Bu Dokter. Tama kangen sama Ayah ya?! Maafkan Bunda ya...."
Seakan dunia sedang tak berpihak bagi orang-orang lemah seperti Miranda. Belum sampai tiba di klinik, tiba-tiba langit menunjukan atensinya.
Duar!
Bunyi kilatan itu membuat Tama semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh sang Bunda. Langit mendadak terang dalam hitungan detik. Namun setelah itu angin berhembus sangat dingin.
"Ya Allah... Jangan hujan dulu," Miranda menarik gas motornya sedikit kencang.
Tapi tiba-tiba hujan turun sangat deras.
Miranda kelimbungan. Tama dalam dekapannya sudah mulai menggigil. Di depan, ada sebuah ruko yang tutup. Miranda segera menepikan motornya di depan ruko tadi.
Meninggalkan motornya, lalu segera berteduh dengan putranya. Miranda mengelap wajah Tama yang tampak basah, dan mulai mengambil beberapa tisu untuk mengelap tangan dan kaki putranya.
"Tama... Maafkan Bunda ya Nak! Tama sabar, ya... Kita tunggu hujanya reda." Air mata sudah bercampur dengan basahnya air hujan. Miranda tak mempedulikan wajahnya lagi. Ia dekap tubuh putranya, menunggu seorang diri di tengah dinginya malam.
Mobil Ezar berhenti cukup jauh. Ia sejak tadi mencoba berdamai dengan rasa sakitnya. Ada dorongan dari hati kecilnya, menegaskan; bahwa ia harus segera menghampiri Ibu dan Anak di depan sana.
Gas mobil sudah ia mainkan, namun baru saja mobilnya akan bergerak, tiba-tiba di sebrang ada sebuah mobil yang menghampiri, berhenti tepat di depan ruko tadi.
Ezar mengernyit. Hatinya teremat. Seorang pria dengan penampilan cukup rapi dan langkah tegasnya, kini memakai payung, keluar untuk menghampiri Miranda.
"Maaf, sepertinya Anda wanita sore tadi?!"
Miranda tertegun. Wajah yang mirip suaminya itu sudah berdiri nyata di depanya. Menyadari itu, Miranda agak sedikit gugup.
"O-oh, iya benar!"
Pria bernama Afran itu menatap kearah bocah kecil yang tadi sore memanggilnya dengan sebutan_Ayah.
"Maaf, kalian mau kemana? Hujannya deras seperti ini. Kalian habis kehujanan?"
Miranda mengangguk. "Putra saya badanya panas. Rencananya saya mau bawa periksa ke Klinik. Tapi tiba-tiba hujanya deres. Jadi saya meneduh dulu."
Afran sedikit berpikir sejenak. "Sebentar! Kalian tunggu disini dulu," cegahnya. Pria tampan itu berbalik arah menuju mobilnya. Dan setelah sedikit bercengkrama dengan sopirnya. Dia kembali lagi dengan seorang pria muda.
Miranda terhelak. Bingung apa yang akan pria itu lakukan.