NovelToon NovelToon
Dikhianati Tunanganku, Dinikahi CEO Dingin

Dikhianati Tunanganku, Dinikahi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Pernikahan Kilat / Selingkuh / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Puteri Bulan

Di atas karpet merah pertunangannya, Aeryn Valerine menyaksikan dunianya runtuh. Tunangannya berselingkuh dengan sang adik tiri, lengkap dengan rencana licik mencuri seluruh warisannya. Namun, Aeryn bukan wanita yang akan menangis di pojokan. Dengan gaun sutra yang memikat, ia melangkah tenang menghampiri Xavier Arkananta—sang CEO "Ice King" yang paling ditakuti.

"Nikahi aku, dan aku akan memberimu kekuasaan yang tak bisa dibeli uang," bisik Aeryn dingin.

Xavier menerima kesepakatan gila itu, tapi ia punya motif tersembunyi yang jauh lebih gelap. Saat dendam mulai terbalaskan secara elegan, Aeryn menyadari satu hal: Menikahi setan adalah cara terbaik untuk menghancurkan iblis. Tapi, bagaimana jika sang setan menginginkan lebih dari sekadar kontrak bisnis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puteri Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4

Bentley hitam itu meluncur mulus melewati jalanan setapak yang dinaungi pohon-pohon pinus tinggi, menuju jantung kediaman Arkananta. Mansion itu berdiri kokoh, sebuah mahakarya arsitektur gotik modern yang didominasi kaca gelap dan beton ekspos. Di bawah sinar rembulan, bangunan itu tampak seperti raksasa yang sedang mengawasi mangsanya.

Aeryn menatap pantulan dirinya di kaca mobil. Gaun sampanyenya kini tampak kontras dengan suasana gelap di sekelilingnya. Ia melirik Xavier. Pria itu masih diam, jemarinya mengetuk pelan di atas lutut, sebuah gerakan ritmis yang entah mengapa terasa seperti detak jam menuju bom waktu.

"Apa yang kau pikirkan?" suara Xavier memecah keheningan. Dingin dan tajam, seperti biasa.

"Berpikir apakah aku baru saja menandatangani kontrak dengan penyelamat atau dengan monster yang lebih besar," jawab Aeryn jujur.

Xavier menoleh perlahan. Sudut bibirnya terangkat sedikit. "Di dunia ini, perbedaan antara keduanya hanya terletak pada siapa yang memberimu makan. Turunlah."

Hugo membukakan pintu. Aeryn melangkah keluar, menghirup udara malam yang tajam. Mereka masuk ke dalam foyer luas dengan lantai marmer hitam yang mengkilap seperti cermin. Tidak ada pelayan yang menyambut secara berlebihan, hanya kesunyian yang elegan.

Xavier melepas tuksedonya dan menyerahkannya pada Hugo tanpa menoleh. "Ikut aku ke ruang kerja. Kita perlu menetapkan batasan."

Aeryn mengikuti langkah lebar Xavier menuju lantai dua. Ruang kerja pria itu luas, dipenuhi rak buku setinggi langit-langit dan meja kerja dari kayu ebony yang berat. Xavier menuangkan dua gelas air mineral, mendorong satu ke arah Aeryn.

"Peraturan pertama," Xavier memulai sambil melonggarkan dasinya. "Di depan publik, kau adalah istriku yang paling kucintai. Aku tidak suka terlihat lemah karena masalah domestik. Apa pun yang terjadi di antara kita, di luar sana kita adalah satu unit."

"Aku bisa melakukannya. Aku sudah terlatih bersandiwara seumur hidupku," sahut Aeryn dingin.

"Peraturan kedua. Jangan pernah mencampuri urusan bisnisku kecuali aku memintanya. Aku akan menghancurkan Kaelan untukmu, tapi jangan mencoba bermain di belakang punggungku dengan aset Arkananta."

Aeryn menyesap airnya. "Dan peraturan ketiga?"

Xavier terdiam sejenak. Ia berjalan ke jendela besar yang menghadap ke taman belakang yang gelap. "Jangan melewati batas privasiku. Ada area di rumah ini yang tidak boleh kau masuki. Jika kau mematuhi itu, kau akan mendapatkan apa pun yang kau inginkan. Berlian, kekuasaan, atau kepala Kaelan di atas piring perak."

Aeryn menatap punggung tegap itu. "Kenapa kau setuju, Xavier? Maksudku, alasan sebenarnya. Penawaran saham Dirgantara memang menggiurkan, tapi seorang Xavier Arkananta bisa mendapatkannya tanpa harus menikahi wanita yang baru saja membuat skandal nasional."

Xavier tidak langsung menjawab. Pikirannya melayang kembali ke sepuluh tahun yang lalu.

Flashback On

Sepuluh tahun yang lalu, di sebuah pemakaman kecil di pinggiran kota yang diguyur hujan deras.

Xavier muda, dengan pakaian hitam yang basah kuyup, berdiri di depan makam ibunya yang baru saja dikuburkan. Ia tidak punya siapa-siapa. Perusahaan ayahnya baru saja dihancurkan oleh spekulasi kejam dari aliansi Dirgantara dan Valerine. Ia adalah pecundang yang kehilangan segalanya dalam semalam.

Seorang gadis remaja dengan seragam sekolah mahal berdiri di bawah payung hitam tak jauh darinya. Gadis itu mendekat, wajahnya tampak sedih namun matanya memancarkan ketegasan yang aneh. Ia tidak mengenal Xavier, tapi ia melihat pria itu gemetar karena kedinginan dan amarah.

Gadis itu meletakkan payungnya di atas kepala Xavier, membiarkan dirinya sendiri basah kuyup. Ia mengeluarkan sebuah sapu tangan kecil bersulam inisial 'A.V' dan menyerahkannya.

"Jangan mati di sini," bisik gadis itu. "Jika kau ingin membalas dendam, hiduplah lebih lama dari mereka. Itu cara terbaik untuk menang."

Xavier menatap mata gadis itu. Gadis itu adalah Aeryn Valerine, putri dari pria yang baru saja menghancurkan hidupnya. Namun, di saat semua orang menghinanya, hanya musuhnya yang memberinya tempat berteduh.

Flashback Off

Xavier berbalik, kembali ke masa kini. Matanya menatap Aeryn dengan intensitas yang sulit dijelaskan. "Mari kita sebut ini sebagai investasi jangka panjang yang tertunda, Aeryn."

"Investasi?" Aeryn mengerutkan kening. "Kita bahkan tidak pernah bicara sebelumnya."

"Kau mungkin tidak mengingatnya, tapi aku ingat semuanya," sahut Xavier misterius. "Sekarang, pergilah istirahat. Hugo akan menunjukkan kamarmu di sayap kanan. Jangan berkeliaran."

Aeryn ingin bertanya lebih lanjut, namun tatapan Xavier memberitahunya bahwa percakapan telah berakhir. Ia keluar dari ruangan itu dengan perasaan janggal.

Kamarnya sangat mewah, namun terasa dingin. Aeryn mencoba memejamkan mata, namun bayangan video perselingkuhan Kaelan dan Bianca terus berputar di kepalanya. Amarah dan adrenalin membuatnya sulit tidur. Sekitar pukul dua pagi, tenggorokannya terasa sangat kering.

Ia memutuskan keluar untuk mencari dapur. Mansion itu sangat sunyi, hanya suara detak jam dinding yang terdengar. Aeryn berjalan melewati lorong-lorong panjang yang diterangi lampu temaram otomatis. Namun, karena belum terbiasa dengan denah rumah, ia justru salah mengambil tangga dan berakhir di lantai tiga.

Lantai tiga terasa berbeda. Udaranya lebih dingin dan pencahayaannya lebih redup. Lorong ini berakhir pada sebuah pintu kayu ek tua yang tampak sangat kontras dengan desain minimalis bagian rumah lainnya.

Langkah Aeryn terhenti.

Di depan pintu yang terkunci rapat itu, terdapat sebuah meja konsol kecil. Di atas meja itu, berdiri sebuah vas kristal berisi serangkaian bunga lili putih yang masih sangat segar. Tetesan air di kelopak bunganya menunjukkan bahwa seseorang baru saja mengganti airnya.

Jantung Aeryn berdegup kencang. Ia mengenal aroma ini. Ia mengenal jenis lili ini. Lilium candidum. Itu adalah bunga favorit ibunya, bunga yang selalu ada di kamar ibunya sebelum wanita itu meninggal secara misterius bertahun-tahun lalu. Ayahnya bahkan melarang bunga itu ada di rumah mereka sejak ibu tirinya masuk.

Mengapa ada bunga lili segar di depan kamar terkunci di rumah Xavier Arkananta?

Aeryn mendekat, jemarinya gemetar saat hendak menyentuh kelopak bunga itu. Namun, sebuah suara dingin dari kegelapan di belakangnya membuat darahnya membeku.

"Aku sudah bilang untuk tidak berkeliaran, Aeryn."

Aeryn berbalik cepat. Xavier berdiri di ujung lorong, wajahnya hampir tertutup bayangan, namun matanya berkilat penuh peringatan.

"Xavier... bunga ini..." suara Aeryn tercekat.

Xavier berjalan mendekat, langkahnya pelan namun mengintimidasi. Ia berdiri di antara Aeryn dan pintu itu, seolah-olah melindungi rahasia di baliknya. "Kembali ke kamarmu. Sekarang."

"Tapi bunga lili ini—"

"Jangan membuatku menyesali keputusanku malam ini," potong Xavier dengan nada yang sangat rendah dan mengancam. "Ada pintu yang jika dibuka, tidak akan pernah bisa ditutup lagi. Dan kau belum siap untuk apa yang ada di balik pintu ini."

Aeryn menatap pintu itu sekali lagi, lalu menatap Xavier. Ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar bisnis dan dendam di sini. Sesuatu yang menghubungkan mereka berdua dalam kegelapan masa lalu.

Tanpa kata, Aeryn berbalik dan berjalan pergi, namun ia tahu satu hal: ia tidak akan berhenti sampai ia tahu apa yang disembunyikan sang Ice King di balik bunga favorit ibunya.

Aeryn kembali ke kamarnya, namun ia tidak tidur. Ia membuka ponselnya dan mengetikkan pesan pada asisten rahasianya.

"Cari tahu semua aset Xavier Arkananta sepuluh tahun terakhir. Terutama hubungannya dengan ibuku."

Di lantai bawah, Xavier masih berdiri di depan pintu terkunci itu. Ia menyentuh bunga lili tersebut dengan lembut, lalu berbisik pada pintu yang membisu.

"Dia sudah di sini, Bu. Dan kali ini, tidak ada yang bisa menyakitinya lagi. Termasuk ayahnya sendiri."

1
Sinta Devi
bikin ketagihan bacanya 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!