Ning Moza yang mendapatkan biasiswa sampai ke jenjang atas dan semuanya terasa tiba tiba ketika Gus Alvaro hadir mengkhitbahnya dan menghalalkan dalam ikatan sakral. Dan masalah seketika menjadi ombak dalam iktan sakral, dengan hadir nya masa lalu keduanya. Gus Alvaro dan Ning Moza.
Bagaimanakah kisah tentang Ning Moza dan Gus Alvaro?!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue_era, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2 dan 3
"Mbak Diana".panggil Gus Syafiq saat mbak Diana akan ke kamar Ning Moza mengantarkan cemilan untuk Ning Moza karena cemilan dikamar Ning Moza tinggal sedikit.
"Njihh Gus, wonten nopo?".
"Mbak Diana mau antar cemilan ke Ning Moza?".Tanya Gus Syafiq
"Njih Gus".
"Wes biar kulo wae, Mbak Diana bantu masak mawon".kata Gus Syafiq
" njih mpun Gus kalo gitu"kata mbak Diana
"niki Gus" dengan menyerahkan nampan yang berisi cemilan cemilan untuk Ning Moza.
"Iya mbak". Dengan menerima nampan dari mbak Diana.
Setelah kepergiann mbak Diana Gus Syafiq masuk ke kamar Ning Moza
"Assalamualaikum". Ucap Gus Syafiq dengan mengetuk pintu
"Waalaikumsalam". Jawab Ning Moza
" kenapa Abang kesini?".Tanya Ning Moza dengan raut wajah tidak suka.
"Kenapa?memang nggak boleh?".kata Gus syafiq dan Ning Moza hanya diam.
"Itu cemilan nya".
"Kenapa bang Syafiq yang_"
"Memang nya kenapa?".potong Gus Syafiq
"yaaa aneh aja"
"Umik yang ngutus" alibinya Gus syafiq. Semoga saja Ning Moza tidak curiga ya kannn.
"Umik?".
"Iya.udah Abang mau ngomong sama kamu" kata Gus syafiq dengan duduk di sofa kamar Ning Moza
"penting nggak?".
"Abang.minta maaf soal kemarin, Abang nggak bermaksud marah sama kamu. Apalagi Sampe buat kamu nangis". Jelasnya Gus Syafiq
"lah siapa yang nangis?"Tak terimanya Ning Moza
"Kalo nggak nangis terus ngapain? Pake nggak ikut makan malam segala lagi".
" ya kan Moza dah kenyang". Alibinya Ning Moza
"Kenyang?terus jam 12 ada yg ke dapur itu siapa? Kuntilanak kali ya".Godanya Gus Syafiq membuat Ning Moza menatap tajam Pada Gus Syafiq.
"ya nggak tau, udah Bang Syafiq kesini mau ngapain?"juteknya Ning Moza
"Cuman ngeterke iki"Balas nya Gus Syafiq tak kalah jutek dengan meletakkan cemilan diatas meja.
"Just like that's?!".
" iya. Lah emang mau ngapain to?".
"Ya udah kalo gitu keluar".Usirnya Ning Moza
"Dimaafinkan?".
"Apanya yang dimaafin loh?".
"Lah tadi Abang minta maaf".
"Mana Abang minta maaf?".
"Nggh mpun terserah e sampeyan lah".kata Gus Syafiq dengan berdiri dari duduknya
"iya2, Moza maafin".
*****
"Sampun baikan nggih Ning kalih Gus Syafiq? ".Tanya mbak Dania saat membantu Ning Moza sedang memasak
Awalnya mbak Diana tidak membolehkan Ning Moza Untuk memasak sendiri, namun dengan kukuh nya Ning Moza memaksa mbak Dania untuk dirinya lah yang memasak.
"ya gitu mbak. Mau minta maaf wae gengsi ne gede bangettt". Jawabnya Ning Moza kesal sendiri ketika sekelebat memori mengingatkan pikiran Ning Moza.
"Tapi kulo teh salut bener kalehan Gus Syafiq, Ning".
"salut? Maksutnya?".
"Jadi itu begini loh Ning waktu Ning nggak ikut makan malam kemarin Gus Syafiq seperti gimana gitu raut mukanya. Terus waktu makan malam selesai Gus Syafiq teh tanya ke kulo tentang Ning Moza kenapa ndak ikut makan malam. Sampai-sampai nih nggh Ning, Gus Syafiq mau nganterin makanan buat Ning Moza".
"segitunya?".
"Nggih Ning, saestu kulo".
"halah itu mungkin cuman biar keliatan gantle mbak".
"Mboten Ning Saestu kulo".
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mozayyanah Qotrunnada Az zahra Al khariri
Hari ini adalah hari dimana aku terakhir di Semarang, karena besok pagi aku harus leave kota kelahiran ku. Kini aku sedang berdiri di balkon kamar yang besoknya tak kutempti lagi aku pasti akan rindu dengan tempat favorit ku. Dan pastinya aku akan rindu dengan Abah Umik Mas Haidar Bang Syafiq mbak Dania dan santri2 nya Abah.
"Ning" Panggilnya Mbak Dania dari depan pintu
"masuk aja mbak" kata ku.
"Ada apa mbak?"Tanyaku ketika Mbak Dania sudah berdiri di samping ku
"Di utus Umik mantap Ning, buat makan malam". Soapnya Mbak Dania
"nggh Mbak. Sebentar nanti Moza turun".kata ku dengan tersenyum.
"Nggh mpun Ning. Mbak ke bawah dulu" pamitnya Mbak Dania
" iya Mbak. Terimakasih".
*****
Sampainya di ruang makan aku duduk di samping kanan Bang Syafiq. Namun ada yang aneh, sebentar siapa yang di samping kiri Bang Syafiq? Kenapa aku baru melihatnya.
"Ngapain aja kok lama banget?" tanya Bang Raffi membuat ku tersadar dari lamunan.
"Hah, apa Bang? ".tanya ku karena aku tidak mendengar dengan jelas.
"Ngapain ko lama banget? "Ulangnya Bang Raffi
"ouh. Kangen-kangenan dulu sama balkon kamaar, soalnya besok malam udah gak bisa". Jawabku jujur.
Benarkan besok malam aku sudah tidak bisa menghirup angin malam di balkon kamarku. Karena besok pagi aku berangkat ke Jakarta.
"Bisa aja kamu" kata Abah mengundang tawa Umik Mas Haidar Bang Raffi dan Bang Syafiq. Berbeda dengan orang yang duduk di samping Bang Syafiq, Dia hanya tersenyum tipis.
"Loh iya kan Bah,pasti Moza akan merindukan itu semua. Apalagi harus jauh dari keluarga, pasti Moza bakalan merindukan Abah Umik Mas Haidar, Bang Raffi, Bang syafiq Mbak Dania dan Mbak Sari" kataku dengan mencoba tetap tersenyum.
" itu sudah menjadi pilihan mu. Jangan merasa bimbnag kamu Ning" kata Bang Syafiq dengan menyikut tangan ku.
"Iya Bang syafiq Moza tahu" kataku
"Ndak papa nanti kan Mas Haidar bisa kesana" kata Mas Haidar dengan tersenyum kearahku.
Áku pasti akan merindukan senyum Mas Haidar. Dan pastinya aku akan merindukan Abah dan Umik yang selalu memberiku nasihat nasihat dan yang selalu mensupport aku. Abah memang memberikan kebebasan kepada putra putri nya untuk memilih meneruskan pendidikan dimanapun dan sejauh apapun. Oleh karena itu Mas Haidar menimba ilmu di Mesir yang sekarang telah menyandang gelar S3 nya. Dan Bang Raffi akan meneruskan s2 nya di Jerman. Dan bahkan Abah juga memberikan kebebasan kepadaku untuk menimba ilmu di manapun. Dan akhirnya aku memilih di Jakarta karena beasiswa yang tidak bisa aku sia sisakan begitu saja. Bukankah itu kesempatan emas untukku?. Namun lain halnya untuk Bang syafiq, ia lebih memilih meneruskan di Semarang. Dan Abah pun juga tidak melarang atau bahkan memaksa Bang Syafiq.