Kesalahpahaman membuat dua remaja seperti Tom & Jery ini terpaksa menikah di usia 18 tahun. Qanita Langit Zoe adalah gadis nakal dengan sejuta ide. Baginya membuat ulah adalah sebuah hobi. Sejak awal sekolah dia dipertemukan dengan Mahendra Ghabumi Adelard, salah seorang bad boy yang hobi membuatnya emosi.
Langit menyukai Albiru, dokter magang tampan yang tinggal tepat di sebelah rumahnya. Namun bagaimana jadinya jika kesalahanpahaman malah membuatnya harus menikah diam-diam dengan Bumi, bukan dengan pria yang dia sukai.
Apalagi begitu menikah Bumi mempunyai sejuta rahasia yang baru Langit ketahui.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28
[28] Dighibahin Satu Sekolah
"Buumii!!"
"Buum. Jadi siapa cewek yang lo posting kemarin?"
"Iya Bum. Bilang dong. Dia gak pacar lo kan?"
Bumi merasa jadi artis yang dikerbuni wartawan kala motornya parkir di parkiran bersama Alden, Hugo dan Liam. Belum juga buka helm, para gadis sekolahnya sudah teramat mendesak jawaban.
"Hoho ladies. Kasih Bumi nafas dulu."
Hugo sudah bagai bodyguard yang menyuruh mereka mundur.
"Hugo, lo tahu cewek yang lagi dekat sama Bumi?"
"Kasih tahu dong. Kami gak tenang nih."
"Iya." Walaupun masih pagi. Mungkin sudah ada sekitar 15 cewek yang memenuhi area motor mereka.
"Fans lo gak terima Bum." Liam terkekeh seraya membuka helmnya.
Bumi berdecak. Dia melirik mereka lalu juga membuka helm full facenya. Dia menyugar rambut depannya yang malah membuat para gadis itu memekik.
"Kita aja gak tahu. Itu rahasia Bumi." Hugo memberi pengertian. "Woi mundur elah."
"Bumiii itu gak pacar lo kan?"
"Ayo dong Bum bilang dia siapa?"
Males dengar mereka berisik. Bumi turun dari motornya setelah menaruh helm. Dia lalu berdiri seraya mengantung satu tali tas di pundak kanannya. Netranya menatap mereka.
"Pacar gue." Hanya itu ucapannya. Bumi lalu mengambil jalan lain dan pergi dari sana.
Mereka menatap kecewa.
"Dia anak sekolah ini gak Bumi?"
"Iya bilang dia siapa berani ambil lo dari gue?"
"Duh apaan sih Bumi gak punya lo."
"Bumi itu masa depan gue. Gak ada yang boleh jadi pacar dia."
Sementara mereka ribut. Alden dan Liam lekas beranjak juga nyusul Bumi. Hugo kemudian setelah memastikan gadis itu gak ngikut.
Percuma mereka malah berlari mengejar Bumi.
"Aigo fans gue keknya gak sebanyak ini," gumam Hugo menghela nafas.
Melewati lorong sekolah, para gadis yang sudah datang juga mendatangi mereka. Kali ini tidak hanya Bumi yang dicerca banyak pertanyaan. Tapi juga Alden.
Pertanyaan mereka, apa Alden jadian sama Langit?
Hari senin sekolah sudah heboh karena dua anggota geng Xigrous itu. Yang satu buat gempar karena posting tangan sama cewek, yang satu karena ulang tahun Alden semalam. Di sana juga banyak anak kelas mereka, ya gimana gak makin meluas.
Alden memakai earphone-nya karena
Merasa berisik. Bumi melirik sahabatnya. Dibanding pertanyaan mereka yang kepo mengenai cewek yang dia maksud pacar, telinganya tidak nyaman akan pertanyaan, "Alden juga jadian ya sama Langit?"
Cih? Jadian?
Di sisi lain Langit yang baru datang diantar Ezhar sudah dapat tatapan tidak suka dari pengemar Alden. Langit mengabaikan saja. Ia terus berjalan di koridor sekolah walau beberapa bisikan kerap sampai ke telinganya.
Bisikan tentang acara semalam.
Kalau bisa kabur di atas panggung, dia juga sudah kabur.
Tidak hanya Alden dan dia yang jadi topik.
Tapi obrolan mereka yang juga kepo akan cewek yang Bumi posting.
Apa mereka harus sekepo itu?
Langit tidak bisa bayangkan jika mereka tahu itu adalah dia. Saat melangkah menuju tangga, tiga orang cewek mecegat langkahnya.
"Kita mau ngomong sama lo."
Langit menatap ketiganya bergantian.
Wajah yang tidak bersahabat jelas menunjukan mereka juga penggemar Alden.
"Lo sama Alden pacaran?" tanya seorang cewek berambut sebahu dengan kipas kecil di tangannya.
Kening Langit mengernyit. "Pacaran? Ya gaklah."
"Kenapa semalam lo bisa ditarik Tante Elna kalau bukan pacar Alden?"
"Ya gue juga gak tahu. Gue aja baru kenal Tante Elna."
"Tapi lo diajak kenalan sama Alden ke orang tuanya," ucap cewek berambut dikucir kuda. Dia melipat tangannya.
"Bukan gue aja kan yang dikenalin?"
"Gue teman sekolah Alden sejak SMP. Gue aja gak pernah dikenalin tuh." Cewek bermata sedikit besar dengan bando biru membuka suara.
Langit terdiam.
"Langit dengar ini ya. Orang tua gue sama
Alden itu sahabat. Gue sama Alden bakal dijodohin. Gue gak suka ya kalau lo dekatin Alden. Selama ini gue diem karena lo belajar sama Alden. Di kantin, perpus bahkan di kelas. Kalau lo sampai rebut dia dari gue. Gue gak bakal toleransi." Suara Gadis, nama cewek yang berambut sebahu itu meninggi.
"Rebut apaan. Orang sama Alden teman," kesalnya. Malah disudutkan.
"Pokoknya lo gue tandain." Setelahnya Gadis berjalan pergi dan menabrak bahunya.
Kedua teman Gadis meliriknya sinis lalu pergi begitu saja.
Langit berdecak menatap mereka.
"Dasar. Siapa juga yang mau rebut Alden. Orang udah punya Bumi," cebiknya. "Dasar cewek-cewek kurang kerjaan. Masih senin pagi udah bikin bad mood." Dia lalu berbalik badan dan melangkah menuju kelas.
***
Ada yang aneh hari ini. Bina yang duduk di sebelahnya bersikap lebih dingin. Langit sejak tadi bahkan dicueki. Saat upacara, Bina
Pindah ke depan dan ngobrol sama Tasya. Giliran di kelas dia sibuk nonton dan dengerin musik.
Bel bunyi Bina langsung berdiri dan ngajak Tasya ke kantin. Dia ditinggal. Langit jadi kesal. Salahnya apa dicueki tiba-tiba?
Dia memperhatikan keduanya yang ke luar kelas meninggalkannya sendiri. Langit lalu menengok sekitar. Bumi juga sudah pergi sama ketiga temannya.
Pada akhirnya Langit melangkah ke luar kelas seorang diri. Tatapan tidak suka masih tertuju padanya dari pengemar Alden. Sedang yang tidak terlalu peduli hanya bersikap cuek.
Sudah dia bilang Alden, Bumi, Hugo dan Liam itu anggota Xigrous, gang motot terkenal yang gak bisa dimasuki begitu aja. Ada aturan khusus bisa masuk. Anggotanya tidak banyak.
Mungkin sekitar 20 orang. Karena itu mereka disegani.
Wajah yang tampan juga membuat mereka kian disukai kaum hawa. Baik area sekolah maupun luar. Keempat cowok itu juga punya pesona masing-masing. Alden yang
Pinter, Bumi yang ramah, Liam sang ketua basket dan Hugo yang ketua futsal.
Luar biasa.
Kantin sudah ramai saat dia masuk.
Beberapa mata juga menatapnya. Langit hanya berjalan lurus ke meja prasmanan untuk ambil jatah makan siangnya.
Hah kalau gini untuk sementara dia mesti jauh-jauh dulu ya sama Alden.
Tapi apa salahnya? Langit juga gak menduga tante Elna bakal narik dia ke atas panggung.
Setelah mengambil makan siangnya. Dia mengedarkan pandang mencari meja kosong. Dia melihat meja Bumi dan ketiga temannya. Daripada makin heboh di sana ada Alden juga, ia memilih ke meja Bina, Tasya dan juga Vanessa yang berada di sisi kirinya.
"Parah sih gue ditinggal gitu aja." Langit melempar candaan saat duduk di depan Bina dan Tasya. Di sampingnya Vanessa.
Bina yang tadi asik ngobrol langsung diam dan sibuk makan. Sedang Tasya tertawa,
"sorry deh Ngit. Bina asik banget cerita. Eh btw lo iya jadian sama Alden?"
Langit memutar bola matanya. "Ya gak dong Tasya. Sejak kapan gue dekat sama Alden?"
"Kalian langit sering belajar bareng. Les juga bareng. Bisa jadi pdkt abis itu kan?" Vanessa di sampingnya menimpali.
Langit mengambil sendok untuk mulai makan. "Pdkt apaan sih? Gue temenan sama Alden. Kalian tahu sendiri Alden pinter, ya harus belajar dari yang pro biar gue pinter dikit."
"Jadi yang semalam gimana Ngit?" Tasya mencondongkan badannya. Dia amat kepo.
"Gue juga gak tahu. Kenal mama Alden juga baru. Tiba-tiba ditarik. Kan bingung."
"Itu artinya nyokap Alden suka sama lo."
Bina berujar dingin.
"Kalau mama dia suka gue. Apa itu artinya gue jadian sama Alden? Ya enggak kan? Alden bukan tipe gue walaupun dia rajin."
"Hem gue juga gak tahu ya. Untung gue bukan fans nya Alden. Jadi gak terlalu peduli kalau lo jadian sama dia."
"Gue gak suka Alden. Gak pacaran," jelas Langit lagi jadi capek.
"Iya kita percaya deh. Lo kan entar kejebak perasaan sama Bumi. saling benci tapi jatuh cinta ya gak?" Tasya terkekeh.
Langit hanya menanggapi seadanya. Dia mulai makan, tai netranya pada Bina yang banyak diam. Perkiraannya Bina marah juga karena semalam. Dia jadi teringat Bina bilang suka salah satu di antara mereka.
Apa itu Alden?
***
Keluar dari bilik toilet. Tatapan Langit tertuju pada Bina yang tengah mencuci tangan di wastafel. Dia lakas mendekat. Berdiri di sebelah Bina dan mencuci tangan.
"Lo bilang lo suka salah satu di antara mereka. Dia Alden kan?" Dia menatap Bina dari balik cermin. Aktifitas Bina terhenti sesaat sebelum lanjut.
"Gue cukup tahu lo hari ini beda. Lo bukan Bina yang biasanya," ujarnya lagi.
Bina mengeringkan tangannya dengan tisu. Lalu membuang sampahnya ke tempat sampah dekat sana.
"Kalau lo mikir gue sama Alden ada apa-apa. Itu gak benar Bina." Langit menghadap Bina seutuhnya. Bina juga dengan tersenyum sinis.
"Lo yakin lo gak suka Alden?"
"Yakin. Gue sama Alden teman."
"Kenapa kemarin lo kelihatan spesial bagi keluarga Alden. Beberapa hari terakhir ini gue juga perhatian kalian dekat."
"Soal semalam gue juga gak duga itu Bin. Soal dekat sama Alden, lo tau sendiri gue minta ajarin Alden. Kami satu les juga. Gue kan sukanya kak Biru. "
"Kayaknya lo bisa minta ajarin yang lain kan? Harus Alden?"
"Bin. Gue minta maaf. Suwer deh kalau gue tahu lo suka Alden gue juga bakal gak
Minta tolong sama dia."
Bina tidak menanggapi. Cewek itu malah berlalu begitu saja. Langit menghela nafas.
Kenapa jadi gini sih?
Dia mana pernah tahu Bina suka Alden dan entah sejak kapan? Kemarin Bina masih ngobrol dengannya. Sekarang hanya karena semalam.
Jika waktu bisa diundur Langit tidak akan datang ke pesta Alden kalau gitu. Dia tidak mau berantem dengan sahabatnya hanya karena cowok.
Dunia ini bukan tentang cowok saja.
Setelah mengeringkan tangannya, Langit melangkah kembali ke kelas. Istirahat belum habis. Saat lihat Bumi melintas, dia hendak memanggil tapi Vioni keduluan datangin Bumi. Mereka terlihat ngobrol sepanjang lorong hingga hilang dari pandangan.
"Yah."
Langit berjalan tidak semangat. Karena masih ada 10 menit lagi sebelum bel, dia memilih duduk di taman belakang saja. Lebih
Baik duduk menikmati angin sepoi-sepoi ketimbang merasa sedih akan sikap Bina padanya.
Repot ya
Tapi rencana Langit sepertinya tidak berjalan mulus. Panggilan dari arah kanannya membuat perhatiannya beralih pada Alden yang ternyata memanggil.
Aduh ini kenapa lagi Alden datangin dia?
Langit melihat sekitar mencari alasan kabur. Tapi Alden sudah berdiri di depannya dan tersenyum.
"Eh Alden. Ada apa?"
"Gue bisa minta bantuan?"
Dua alis Langit naik. "Barusan gak sengaja ketemu Pak Rio. Beliau nyuruh ambil buku cetak di perpus buat pelajaran nanti."
"Tapi gue mau ke-"
"Yuk!" Alden melangkah duluan. Sebuah earphone mengantung di leher cowok itu. Mau tidak mau langit ngikutin Alden.
Kali ini Langit banyak diam saja.
"Langit?"
"Hm ya?"
"Sorry ya. Gue gak tahu mama bakal narik lo ke depan."
Langit memberi anggukan kecil.
"Mereka gak ganggu lo kan?" Alden menghentikan langkah. Dia menghadap lurus pada Langit.
"Enggak kok. Repot aja penggemar lo pada kesal." Dia terkekeh. "Susah nih temanan sama orang ganteng di sekolah."
"Mereka gak usah ditanggepin."
Langit hanya memberikan senyum tipis.
Keduanya melanjutkan langkah. Saat melangkah beberapa siswi lirik mereka. Langit jaga jarak sikit biar mereka gak dibilang pacaran.
Langit lekas berjalan cepat dengan alasan, "yuk Alden keburu bel." Dia hanya ingin cepat mengambil buku dan kembali ke kelas. Menaruhnya di atas meja.
"Eh bentar Langit. Masih ada sepuluh menit lagi. Bisa temenin gue ke kantin bentar?"
"Eh? Kan udah makan?"
"Gue cuman beli minum. Tiba-tiba serek."
"Loh Alden. Padahal tadi di kantin."
Alden tertawa. "Ya gimana. Mau kan temenin?"
"Gimana gue aja yang ambil bukunya terus lo beli dulu minum? Gue tunggu deh di perpus." Langit lagi berusaha menghindar dulu.
"Jangan. Kan gue yang disuruh. Kita bareng aja. Bentar aja Langit. Hm?"
Langit mengigit bibirnya menimbang.
"Ehem. Gue benar-benar serek." Alden menyentuh lehernya.
Langit lalu mengangguk saja. Senyum Alden mengembang. Mereka kembali berputar ke kantin. Alden terus mengajaknya ngobrol. Padahal biasanya cowok itu lebih banyak diam dan Langit nanggepin seadanya.
"Semalam lo sampai rumah jam berapa?"
"Dua belas lewat."
"Bumi anter lo sampai depan rumah kan?"
Dia mengangguk.
"Oh ya Langit. Gimana kalau nanti kita pergi lebih cepat ke tempat les?"
"Eh kenapa gitu?"
"Gue mau traktir lo makan dulu di kafe depan les. Tempat Bumi kerja."
"Gak usah Alden. Lagian traktir dalam rangka apa?"
"Karena hadiahnya. Gue suka hadiah yang lo kasih kemarin."
Langit mengerjap. Padahal dia cuman kasih hodie. Kenapa malah ditraktir? "Itu kan hadiah lo ulang tahun. Kok malah gue yang ditraktir?"
"Biasanya yang ulang tahun traktir kan?" Alden terkekeh.
"Sama siapa aja?"
"Lo aja."
"Kenapa gue aja? Teman-teman lo? Bina gimana?"
"Nanti. Sekarang lo dulu."
"Tapi Alden, kayaknya-"
"Langit!" Panggilan dari suara yang tidak asing itu membuatnya menoleh cepat. Bumi. Cowok itu berjalan mendekat. Dia menatap Alden sesaat lalu pada Langit.
"Lo dicariin Pak Ego."
"Pak Ego?"
Bumi mengangguk.
"Kenapa Pak Ego cari gue? Kayaknya gue udah tata aja sekarang."
"Ya gue mana tahu Munah. Kan disuruh nyari lo akan ke ruang BK."
Langit nemenin gue dulu Bro." Alden menimpali.
"Pak Ego nyuruh sekarang. Kalau gak ke sana, ya entar malah makin kena. Lo mau ngapain? Gue aja gantiin Langit biar dia ke Bk
Dulu."
"Ah ide bagus." Langit menjetikkan jarinya. "Alden sorry ya. Ntar Bumi aja yang bantu bawa buku. Pak Ego kangen gue. Daaah-" Langit melambai dan berlari ke arah ruangan BK.
"Eh Lang-"
"Udah. Sama gue aja. Yok Bro." Bumi menarik Alden. Dia melirik ke belakang sesaat. Dipanggil Pak Ego? Itu hanya alibi Bumi karena melihat mereka berdua.
Lagipula dia males mendengar bisikan yang juga tertuju pada langit. Tatapan mereka juga. Suami mana yang suka istrinya di gibahin satu sekolah?
Sementara itu, Langit yang sudah sampai BK menongolkan kepalanya semangat di pintu putih tersebut. Entah kenapa dia senang dipanggil Pak Ego.
"Pak Egoo. Assalamu'alaikum... Kangen Langit ya?" Eh yang dipanggil lagi makan sama guru BK lain.
Langit memberikan cengiran.
"Aduh Langit ganggu. Maaf Pak Ego dan Ibu Rita." Dia masuk ke dalam. Wangi makanan tercium.
"Siapa yang kangen sama kamu? Ngapain kamu ke ruangan saya? Habis bikin masalah lagi?" Pak Ego menyipit.
"Ih enggak. Langit mah udah insyaf Pak Ego." Dia mengibaskan tangan dengan senyum lebar. "Lagipula yang nyuruh ke sini kan Pak Ego?"
"Sejak kapan saya manggil kamu?"
Langit mengernyit. "Loh Bumi bilang Pak Ego manggil?"
"Gak ada."
"Langit? Sekalian kamu di sini. Tolong kasih berkas ini ke TU ya?" Buk Dinda. Guru BK kelas 11 IPA menyerahkan sebuah map.
Langit memberi anggukan. Di sepanjang jalan dia jadi bertanya-tanya. Jika Pak Ego gak manggil, apa tadi Bumi sengaja karena lihat dia bareng Alden?