Aneska (25 tahun) berada dalam situasi darurat: menikah dalam seminggu atau dijodohkan dengan "om-om" pilihan Papanya yang bernama Argani Sebasta. Demi kebebasan, Aneska nekat mencari pacar sewaan lewat bantuan sahabatnya.
Namun, kecerobohan berbuah petaka—atau mungkin keberuntungan. Di sebuah kafe, Aneska salah mendatangi meja. Bukannya bertemu pria dari aplikasi kencan, ia justru mengajak kencan seorang pria asing yang tampak dewasa dan sangat tampan.
Aneska tidak tahu bahwa pria itu adalah Argani Sebasta, calon tunangan yang sangat ia hindari. Arga yang menyadari kesalahan Aneska justru merasa tertarik dan memilih menyamar menjadi "Gani" si pria biasa.
Permainan menjadi serius saat Arga tiba-tiba mengajukan syarat gila: "Jangan cuma pacaran, ayo langsung menikah saja."
Terdesak waktu dan terpesona pada ketampanan "Gani", Aneska setuju. Akankah Aneska tetap bahagia saat tahu bahwa suami yang ia pilih sendiri sebenarnya adalah pria yang paling ingin ia tolak sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Teritorial Sang Iblis
Malam di Jakarta diguyur hujan deras, namun atmosfer di dalam rumah besar Sebasta justru terasa sangat panas, meski dengan alasan yang berbeda. Aneska, yang merasa bebas tugas sebagai istri selama seminggu ini, sedang dalam mode "bar-bar" maksimal. Ia tengkurap di sofa ruang tamu yang luas, rambutnya dicepol asal-asalan, dengan sebungkus besar keripik pedas dan ponsel yang miring di tangannya.
"SATRIA! BALIK WOI! JANGAN OFFSIDE!" teriak Aneska histeris. Jempolnya menari lincah di atas layar. "Aduh, Satria! Lo jagain gue dong, gue kan Marksman-nya! Nah, gitu! Nice! Sikat terus, Satria! Gue sayang banget sama tank kayak lo!"
Aneska tertawa puas, tidak menyadari bahwa di balik pintu utama yang terbuka perlahan, sosok pria dengan jas panjang hitam yang basah sedang mematung. Arga Sebasta, yang baru saja menempuh perjalanan belasan jam dari London, berdiri dengan rahang mengeras.
Koper besarnya dibiarkan tergeletak begitu saja. Niat hati ingin memberikan kejutan romantis karena rindu yang tak tertahankan, kini berubah menjadi api cemburu yang membakar ubun-ubun saat telinganya menangkap nama "Satria" disebut dengan nada penuh semangat—bahkan kata "sayang" sempat terlontar.
"Satu minggu gue pergi, dan lo udah punya 'sayang' yang baru, Aneska?"
Suara bariton yang berat dan dingin itu membelah kebisingan suara game dari ponsel Aneska. Aneska tersentak, jantungnya hampir copot. Ia menoleh dengan patah-patah.
"M-Mas Arga?! Kok... kok udah di sini?" Aneska bangkit duduk dengan kikuk, ponselnya masih mengeluarkan suara Victory! yang nyaring.
Arga melangkah mendekat. Setiap derap langkah pantofelnya di atas lantai marmer terdengar seperti lonceng kematian bagi ketenangan Aneska. Arga melepas jas panjangnya, melemparkannya ke sembarang arah, lalu melonggarkan dasinya dengan tatapan yang tidak lepas dari mata Aneska.
"Kenapa? Gue pulang kecepetan? Takut ketahuan lagi asyik sama Satria-mu itu?" tanya Arga, suaranya rendah namun penuh ancaman.
"Bentar, Mas! Lo salah paham! Satria itu cuma—"
Tanpa aba-aba, Arga menyambar ponsel dari tangan Aneska. Ia melihat layar yang menampilkan daftar pemain. Matanya berkilat saat melihat nama akun 'Satria_Ganteng' di sana. Tanpa berkata-kata, Arga menekan tombol power lama hingga ponsel itu mati, lalu melemparnya ke ujung sofa yang jauh.
"Arga! Game gue belum selesai push rank!" protes Aneska, sisi bar-barnya mencoba melawan meski ia gemetar melihat aura predator suaminya.
"Persetan sama rank-mu," desis Arga. Ia mencengkeram kedua bahu Aneska, mendorongnya hingga punggung gadis itu membentur sandaran sofa. Arga mengunci tubuh Aneska dengan kedua lengannya, menunduk hingga hidung mereka bersentuhan. "Siapa Satria? Jawab sebelum gue beneran cari tahu rumahnya dan gue ratakan sama tanah malam ini juga."
Aneska menelan ludah. Ia bisa merasakan aroma parfum woody bercampur dinginnya air hujan dari tubuh Arga yang kini menempel pada tubuhnya. "Dia... dia cuma random player yang gue temuin di grup mabar, Mas! Gue bahkan nggak tahu mukanya kayak gimana! Tadi itu cuma istilah dalam game!"
"Tapi lo bilang sayang. Gue denger sendiri pake telinga gue, Aneska," Arga mengecup rahang Aneska dengan kasar, membuat Aneska mendesah kaget. "Gue di sana nyaris gila karena nahan rindu. Gue nggak bisa tidur karena terbiasa ada lo di pelukan gue. Dan pas gue balik, istri gue malah asyik memuja cowok lain?"
"Mas... ahh... jangan di sini, Bi Sumi nanti liat..." Aneska mencoba mendorong dada Arga, namun kekuatannya tidak sebanding dengan Arga yang sedang dalam mode "Alpha" maksimal.
"Bi Sumi nggak akan berani keluar. Seluruh orang di rumah ini tahu kalau singanya lagi lapar," Arga menarik dagu Aneska, memaksanya menatap mata yang penuh obsesi itu. "Gue mau lo hapus nama itu dari otak lo sekarang juga. Cuma ada gue. Argani Sebasta. Pemilik lo, suami lo, dan satu-satunya orang yang berhak dapet kata sayang dari bibir nakal ini."
Arga langsung membungkam bibir Aneska dengan ciuman yang sangat dalam dan menuntut. Tidak ada kelembutan di sana, yang ada hanyalah luapan rindu yang berubah menjadi kepemilikan mutlak. Aneska yang awalnya ingin protes, perlahan luluh. Tangan mungilnya merambat naik, meremas kemeja Arga yang terasa lembap.
"Ampun, Mas... gue... gue cuma kangen main game," cicit Aneska di sela ciuman mereka yang memburu.
"Hukuman lo karena bikin gue cemburu itu berat, Anes," Arga mengangkat tubuh Aneska, mendudukkannya di atas meja konsol kayu jati di ruang tamu yang dingin. Ia membelah kaki Aneska, masuk ke tengah-tengahnya tanpa memberikan celah untuk bernapas. "Gue bakal bikin lo nggak punya tenaga buat pegang HP lagi selama tiga hari ke depan. Lo mau mandiri, kan? Oke, tapi malam ini lo harus tunduk total di bawah kekuasaan gue."
"Arga... lo gila... ini di ruang tamu!" seru Aneska dengan wajah merah padam saat tangan Arga mulai menjelajahi area sensitifnya dengan sangat ahli.
"Biarin. Biar rumah ini tahu siapa ratunya, dan biar lo inget kalau setiap sudut rumah ini adalah wilayah kekuasaan gue, termasuk lo," Arga menyeringai gelap, ia melepaskan kancing kemejanya satu per satu dengan gerakan dominan yang sangat seksi. "Gue mau denger lo teriak, Nes. Tapi bukan manggil Satria. Panggil nama suami lo sampe suara lo abis."
Malam itu, ruang tamu yang biasanya sunyi menjadi saksi bisu kembalinya sang predator. Arga mengeksekusi kerinduannya dengan cara yang paling beringas, membuktikan bahwa meski Aneska adalah wanita mandiri dan bar-bar, di hadapan Argani Sebasta, ia hanyalah milik mutlak yang tak akan pernah bisa lari.
Aneska menjerit, mendesah, dan akhirnya hanya bisa memohon ampun saat Arga menagih "pajak seminggu" dengan intensitas yang berkali-kali lipat lebih dahsyat dari biasanya. Sisi hyper Arga benar-benar tak tertandingi malam itu, membuat Aneska sadar bahwa bermain-main dengan api cemburu Arga adalah cara tercepat untuk membuat lambungnya—dan seluruh tubuhnya—kembali mati rasa.