NovelToon NovelToon
Tiba-tiba Cinta

Tiba-tiba Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: nisa_prafour

Aruna Prameswari tidak pernah tahu bagaimana hidupnya berubah menjadi runyam. Semenjak Kedatangan sosok Liam Noah Rajasa, Atlet bola sekaligus Pengusaha ibukota. Hidupnya dibuat kacau balau sejak laki-laki itu selalu merecoki harinya yang gitu-gitu aja. Kerja, lembur, nongkrong, dan pulang.

Laki-laki itu semakin gencar mendekati dirinya ketika tahu kalau dirinya baru saja putus dari pacarnya, padahal Aruna masih belum begitu move on. Namun Liam dengan segala usahanya hingga membuat dirinya menyerah dan cinta itu datang tiba-tiba.

akankah Cinta Aruna yang datang tiba-tiba berakhir dengan indah atau malah sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nisa_prafour, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14

Terik matahari tidak dapat di hindari. Panas meradang hingga mampu membakar kulit siapapun yang berada diluar ruangan tanpa pelindung.

Angin yang berhembus pun tidak cukup mampu untuk meredakan betapa panasnya sinar matahari siang ini. Sepertinya bumi sedang tidak baik-baik saja atau mungkin ini memang sudah waktunya? Waktunya musim panas, tapi baru kemarin hujan kan? Atau pikiran Aruna benar kalau kiamat akan datang?

Aaaakhhhh pikiran Aruna mulai melatur sekarang, Dan ini semua gara-gara bossnya yang sialan itu. Cuaca panas, dirinya belum sarapan, ditambah lagi partner kerja yang tidak membantu sama sekali. Rasanya Aruna ingin berteriak kencang.

"Run aku sebenarnya disuruh ngapain sih ikut kamu kayak gini? Nggak nyambung banget sumpah bangsat. Mana ini atlet bola nya belum Dateng lagi. Kita kayak anak sekolah teladan tau nggak"

"Tanya sana ke bos kamu. Emang sinting tuh orang. Masa iya humas pemasaran disuruh ikut jobdesk designer sih. Goblok tuh emang bos kamu"

"Dia ngambek kali sama kamu Run"

"Gila banget! Hubungannya apaan aneh kamu James!"

"Kamu aja yang nggak peka! Semua kantor tahu kali kalau Axcel demen sama kamu. Maka dari itu dia ngambek karena habis kamu tinggal cuti dadakan. Jadi gini deh semua isi kantor kena getahnya"

"Iih ngawur semua tuh anak-anak. Mana mungkin berlian kayak dia mau sama tai kucing kayak aku, Sadar diri aja lah aku. Dan jangan hubungin cutiku sama jobdesk dadakan kamu ini ya, Emang dasarnya aja Axcel gila!"

"Heh aku kasih tahu ya ke kamu, Tapi jangan percaya diri dulu. Ini cuma pandangan ku aja sebagai laki-laki ke kamu. Kamu tuh cantik, Sebelas dua belas sama Zhao lusi"

"Zhao siapa?!"

"Artis cina"

"Jangan-jangan kamu suka juga ya James sama aku? Makanya kamu ngomong gitu"

"Najis! Amit-amit aku suka modelan kayak kamu. Kamu cantik tapi bukan tipe ku"

"Udah ah James jangan bahas Axcel lagi. Males jadinya, kamu nggak mau apa beliin aku minum gitu panas banget ini"

"Suruh anak magang aja. Enak aja kamu, aku juga capek ya"

"Dia aku suruh ambil sampel desain di mobil"

"Yaudah kalau gitu kamu tunggu disini biar aku beliin minum dulu"

"Oke"

James pun pergi meninggalkan Aruna seorang diri, Membiarkan gadis itu duduk ditepi lapangan sambil menunggu para rombongan atlet datang. Dan yah, 5 menit setelah kepergian James, kasak-kusuk mulai terdengar. Kepala Aruna bergerak untuk melihat ke sumber keramaian.

Bibirnya sontak tersenyum saat laki-laki setengah abad yang ia temui tempo hari sudah berdiri didepannya.

"Pak Ramos gimana kabarnya?"

"Miss Runa. Baik. Saya dan team sangat baik. Miss sendirian?"

"Oh nggak pak. Kebetulan teman-teman saya sedang ambil perlengkapan yang tertinggal "

"Kalau gitu Miss Runa lanjutkan saja bagaimana soal produknya untuk para atlet ya Miss. Maaf saya masih ada obrolan yang belum usai dengan pelatih "

"Iya pak. Silahkan, Nanti bagaimana pendapat para atlet saya konsultasi lagi dengan bapak "

"Oke Miss. Saya tinggal dulu ya. GUYS!! COME HERE!! Tunggu di banch sini ini Aruna mau jelasin tentang baju kalian. Setelah itu berikan pendapat kalian jangan sungkan oke?"

Dan beberapa pemain  bola pun melingkar mengelilingi Aruna. Menunggu gadis itu menjelaskan tentang kebutuhan team mereka, Lalu kemudian sosok gadis mungil datang dengan nafas terengah menghampiri Aruna. Gadis itu dengan tiga paper bag berukuran sedang terlihat mengatur nafasnya.

"Kak sorry ya lama. Aku muter dulu lupa jalan kesini"

"Langsung bagiin bajunya satu-satu ke pemain. Dan guys-- ini seragam pertama dari aku kalian pakai dulu. Nanti gimana dan apa yang kalian rasakan soal baju ini kalian bisa komplain langsung sama aku oke? Termasuk bahannya, pokoknya apapun yang menurut kalian kurang, kalian bisa langsung diskusikan ini sama aku"

"Runa?"

"Iya?"

Suara panggilan itu membuat Aruna menolehkan atensinya, Kedua matanya menatap laki-laki tinggi tepat didepannya itu. Sang kakak. Ckck! Kalau dia tidak bertanya seputar kerjaan awas aja!

"Kamu yakin kita pakai ini nantinya?" Rehan mengangkat sampel Jersey yang berada ditangannya untuk diperlihatkan pada sang adik. Jujur saja, ini bukan seperti hasil musyawarah kemarin soal Jersey ini.

"Maksudnya?"

"Coba kamu lihat ini bahannya hyget balon. Dan setahu ku kita udah sepakat buat nggak menggunakan bahan itu lagi buat Jersey match"

Mata Aruna memicing, Lalu tangannya mengambil ahli kaos Jersey itu dari tangan kakaknya. Dan benar saja setelah diteliti lebih dalam, Ini bukan sampel yang seharusnya disini, Ini adalah sampel yang ia buat beberapa waktu lalu yang salah bahan. Tapi kenapa sampel ini bisa disini sekarang?

Dengan cepat, Aruna menoleh kesamping. Menatap Farah sang anak magang yang kini terlihat menundukkan kepalanya.

"Far, kamu bisa jelasin soal sampel salah ini?"

"A-aku ngambil sesuai instruksi kakak. Di penyimpanan kakak biasanya"

"Kamu ambil di penyimpanan mana?"

"Di gudang mbak"

Menahan nafasnya dan menekan emosinya kuat-kuat, Aruna semakin menajamkan pandangannya pada Farah. Namun sebelum itu ia menatap para atlet satu persatu meminta maaf dan berakhir ia yang berjalan kembali ke banch diikuti Farah dibelakangnya.

.

.

.

.

.

"Kak Runa!!! Ya ampun!!!"

Semua pasang mata yang berada di lapangan tak terkecuali para Atlet yang latihannya hampir selesai itu menolehkan kepalanya ke ujung lapangan. Tepatnya di banch.

Keributan itu memancing para penghuni lapangan di stadion, Terutama para atlet.

Fokus mereka yang hendak bubar latihan dikejutkan dengan suara teriakan milik Farah.

"Re, it looks like your sister fainted?"

Rehan yang kala itu juga memperhatikan, dengan cepat berlari kencang kearah banch. Dan benar saja detik berikutnya kedua matanya melebar sempurna. Ia berjongkok seketika. Membawa adiknya kedalam rengkuhannya.

Aruna, yang terduduk sambil mencengkram perutnya terlihat mengerang beberapa kali dengan dahi yang berkerut.

"Run!! Run kamu kenapa?"

"Eunggh perutku sakit"

"Kamu belum makan sama sekali?!"

"Sakit banget"

Alih-alih menjawab pertanyaan sang kakak, Aruna terus meracau kesakitan. Tidak dipungkiri memang rasa sakit yang begitu besar tiba-tiba menyerang perutnya. Bahkan kepalanya berdenyut keras.

"Run, maag mu kambuh? Ya ampun Run kamu--"

"Kenapa Han?"

Rehan mendapati dokter yang bertugas sebagai team medis di team nya, Dokter tersebut sudah ikut jongkok untuk sekedar melihat kondisi Aruna.

"Maag nya kambuh sepertinya dok"

"Kalian udah selesai latihan kan?"

"Iya dok"

"Bawa aja adikmu duduk di bench saya ambilkan obat sebentar "

"Iya dok. Makasih ya"

Dan dengan sekali sentakan, Aruna sudah berada didalam gendongan sang kakak. Rehan membawa Aruna sesuai dengan instruksi dokter barusan,bAruna didudukkan di atas kursi bench bersamaan dengan itu, beberapa anggota team juga datang bergerombol untuk melihat kondisi Aruna.

"Run you okay? where is the pain?"

Dengan kesadaran yang masih tersisa, mata Aruna memicing tajam. Mencoba mendapatkan suara yang baru saja memanggilnya. Aruna pun mendapatkannya, sosok Noah, Marinos, Nial, Liam dan dua orang lainnya berdiri dengan sedikit melingkar didepannya.

Mereka sama-sama menatapnya dengan tatapan khawatir, Namun Aruna tidak memperdulikannya. Yang terpenting adalah saat ini kondisi perutnya benar-benar sulit dikendalikan. Ditambah lagi sakit kepala yang terus menerus menderanya tanpa henti dan entahlah hal selanjutnya yang Aruna rasakan hanya beberapa teriakan serta tubuhnya yang melayang.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!