Juni 2026
----
Aktivitas matahari menurun drastis. Zona es meluas dari kutub hingga mencapai Indonesia. Jakarta membeku dalam suhu minus belasan derajat, hukum dan negara runtuh, dan manusia saling berburu untuk bertahan hidup. Di tengah kiamat Es itulah Arka, seorang pemuda jenius tapi pemalas , mati dikhianati tunangannya sendiri. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terbangun satu tahun sebelum bencana, dengan ingatan penuh akan enam bulan neraka yang telah ia lalui. Kini, dengan memanfaatkan pengetahuannya tentang masa depan, bisakah arka bertahan hidup di dunia tanpa hukum, di mana siapa kuat dia berkuasa saat ini ? ...
----
~ Jika waktu bisa mundur 1 tahun dari saat ini, Apa yg akan kamu lakukan? ~
----
@ThinkzIam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thinkziam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Arka sampai di kafe lebih awal. Dia memilih meja di pojok, dekat jendela, tempat yang dulu menjadi favorit mereka berdua karena bisa melihat jalan sambil ngobrol. Dari sini, dia bisa melihat siapa yang datang dan pergi.
Dia memesan kopi hitam. Dulu dia selalu pesan kopi susu dengan gula tambahan, manis, persis seperti yang disukai Sari. Tapi hari ini dia tidak butuh manis. Dia butuh pahit.
Kopi itu datang dalam cangkir putih polos. Arka menyesapnya perlahan. Pahit. Tapi tidak sepahit ingatan yang masih membekas di kepalanya.
Jam di dinding menunjukkan pukul tiga kurang sepuluh menit. Sari belum datang. Arka menatap pintu kaca di depan, membayangkan bagaimana dia akan menyapa nanti. Haruskah dia tersenyum seperti biasa? Haruskah dia bersikap normal? Atau akankah wajahnya berubah ketika melihat Sari, seperti ada bayangan peluru yang melintas di antara mereka?
Dia tidak tahu.
Pintu kaca terbuka. Sari masuk dengan jaket jeans biru, rambut diikat kuda, tas selempang cokelat yang selalu dia bawa kemana-mana. Wajahnya segar, senyumnya lebar, matanya langsung mencari ke arah meja pojok.
“Ark!” Dia melambai, lalu berjalan cepat ke arah Arka.
Arka berdiri. Tersenyum. Senyum yang sama seperti dulu. Dia berusaha membuat senyum itu terasa nyata.
“Maaf telat, Ark. Macet banget di Bundaran. Ada demo atau apa, aku nggak tahu.” Sari duduk di kursi hadapan Arka, meletakkan tasnya di samping, lalu menarik napas lega. “Kamu pesen apa?”
“Kopi hitam.”
Sari mengerjap. “Kopi hitam? Kamu? Bukannya kamu nggak suka pahit?”
“Lagi pengen aja,” jawab Arka.
Sari mengangkat bahu, tidak terlalu memikirkan. Dia memanggil pelayan dan memesan kopi susu dengan gula tambahan, sama seperti biasanya.
Arka menatapnya. Wajah ini. Senyum ini. Suara ini. Semua masih sama seperti yang dia ingat. Sari di dunia ini belum melakukan apa-apa. Dia belum memberi teh jahe. Belum memegang tangan Toni. Belum berbisik “Aku sayang kamu” sambil menatap Arka yang berlumuran darah.
Sari masih Sari yang dulu. Yang dia cintai.
Tapi Arka tahu apa yang akan terjadi. Dia tahu persis.
“Kamu kok diem aja?” Sari menatapnya sambil menyandarkan dagu di telapak tangan. “Ada yang dipikirin?”
“Enggak. Cuma capek.”
“Capek? Kerja? Kamu kan cuma ngantor duduk-duduk.”
Arka tertawa kecil. Dulu dia selalu tertawa mendengar ledekan ini. Sekarang dia masih tertawa, tapi ada sesuatu yang berbeda di dalamnya.
“Iya. Capek duduk.”
Sari ikut tertawa. Tawanya masih sama, ringan dan mudah. Tawa yang dulu bisa membuat Arka lupa segala masalah.
Mereka ngobrol tentang hal-hal biasa. Sari bercerita tentang kuliahnya yang sebentar lagi ujian akhir. Tentang temannya yang baru putus karena pacarnya selingkuh. Tentang ibunya yang mulai sering bertanya kapan dia akan dilamar.
“Ibu kamu nanyain kapan?” tanya Arka, berusaha terdengar biasa.
Sari tersenyum malu. “Iya, dia suka ngomong, ‘Sari, kamu udah pacaran tiga tahun, kapan dilanjutin?’ Gitu deh pokoknya.”
Arka mengangguk. Tiga tahun. Tiga tahun dia menjalin hubungan dengan wanita di hadapannya ini. Tiga tahun dia membangun mimpi tentang masa depan bersama. Dan mimpi itu hancur dalam dua tembakan di apartemen lantai 12.
“Ark, kamu serius nggak ada apa-apa?” Sari menatapnya dengan mata cemas. “Dari tadi kamu kayak melamun terus.”
“Enggak,” jawab Arka. “Mungkin kurang tidur aja.”
Sari mengangguk. “Kamu jangan begadang terus. Nggak baik.”
“Iya.”
Kopi susu Sari sudah hampir habis. Dia mengaduk sisa gula yang mengendap di dasar cangkir, lalu menatap Arka dengan senyum yang agak canggung.
“Ark, besok kamu libur kan?”
“Iya. Kenapa?”
“Aku mau... kamu temenin aku ke mall. Ada yang mau aku beli. Dan kita juga jarang jalan berdua akhir-akhir ini.”
Arka menatap Sari. Di kehidupan pertama, dia akan langsung mengiyakan. Dia akan senang karena Sari mengajak jalan. Dia akan menghabiskan waktu seharian menemani Sari berkeliling mall, membawakan tas belanjaan, makan di food court, pulang dengan perasaan lelah tapi bahagia.
Sekarang dia hanya bisa membayangkan bagaimana Sari akan berdiri di sampingnya saat tubuhnya berlumuran darah.
“Ok,” kata Arka. “Jam berapa?”
Sari tersenyum lega. “Jam sepuluh aja. Jemput aku di rumah.”
“Ok.”
Mereka berdua berdiri. Sari mengambil tasnya, menggantungkannya di bahu, lalu meraih tangan Arka.
“Ark, aku sayang kamu.”
Arka menatap tangan Sari yang menggenggam tangannya. Tangan yang hangat. Tangan yang dulu membuatnya merasa aman. Tangan yang nanti akan memegang tangan Toni saat pistol diarahkan ke kepalanya.
“Aku juga,” jawabnya.
Suaranya datar, tapi Sari tidak menyadari. Dia tersenyum, lalu berjalan keluar kafe. Arka melihat bayangannya menghilang di balik pintu kaca.
Dia duduk kembali. Kopi hitamnya masih tersisa setengah, sudah dingin. Dia menyesapnya lagi. Pahit. Sepahit kenyataan yang harus dia hadapi.
Arka memilih berjalan kaki pulang. Jalanan Jakarta sore itu macet seperti biasa. Mobil dan motor saling bersahutan di lampu merah. Pedagang asongan menawarkan minuman dan camilan di sela-sela kendaraan yang berhenti. Seorang ibu-ibu dengan keranjang belanjaan menyeberang dengan hati-hati di tengah kemacetan.
Semua masih normal. Semua masih berjalan seperti seharusnya.
Arka berjalan perlahan. Di kepalanya, suara Sari masih terngiang. “Ark, aku sayang kamu.”
Dulu kalimat itu membuatnya merasa menjadi orang paling beruntung di dunia. Sekarang kalimat itu terasa seperti pisau yang menekan pelan-pelan di dadanya.
Dia tahu Sari belum bersalah. Sari di dunia ini belum melakukan apa pun. Tapi dia juga tahu bahwa Sari akan berubah. Cepat atau lambat, ketika rasa lapar mulai menggigit, ketika stok makanan menipis, ketika Andre dan Toni mulai membisikkan rencana di telinganya, Sari akan memilih perutnya di atas segalanya.
Dan Arka harus siap.
Malam harinya, Arka duduk di kamar. Laptop bekasnya menyala, menampilkan grafik saham yang tidak benar-benar dia perhatikan. Pikirannya masih di kafe tadi sore. Masih di tangan Sari yang menggenggam tangannya. Masih di kalimat “Aku sayang kamu” yang keluar dari mulut yang sama yang nanti akan memerintahkan Toni untuk menembak kepalanya.
Dia menutup laptop. Meletakkannya di meja.
Ponsel di sampingnya bergetar. Sari.
“Ark, makasih ya hari ini. Aku seneng banget.”
Arka menatap layar. Jari-jarinya bergerak lambat.
“Iya. Aku juga.”
Dia mengirim balasan itu, lalu mematikan ponsel.
Dia berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit. Retak rambut di pojok kanan yang sama. Kipas angin di atas yang berputar dengan suara berdecit yang sama. Semuanya sama. Tapi dia tidak lagi sama.
Dia ingat kata-kata yang dia ucapkan di pagi hari setelah shalat. “Aku juga nggak akan jadi korban lagi.”
Itu janji. Dan dia akan menepatinya.
Pukul lima pagi, alarm di ponselnya berbunyi.
Arka membuka mata. Di luar, langit masih gelap. Suara azan subuh mulai terdengar dari masjid di ujung gang, menggema di antara rumah-rumah yang masih tertidur.
Dulu dia selalu mematikan alarm ini dan kembali tidur. Tapi hari ini dia bangun. Dia duduk di tepi tempat tidur, mengucek mata, lalu berdiri.
Dia mengambil sajadah di sudut ruangan. Shalat subuh. Bukan karena tiba-tiba rajin. Tapi karena ini adalah satu-satunya hal yang masih terasa benar di tengah semua kebisingan di kepalanya.
Setelah salam, dia mengganti pakaian. Kaos oblong. Celana pendek. Sepatu lari hitam yang dia beli kemarin.
Dia keluar kamar dengan langkah pelan. Gang depan kos-kosan masih sepi. Lampu jalan menyala redup. Udara pagi masih segar, belum tercemar panas dan polusi siang hari.
Bu Sum belum keluar menyiram tanaman. Warung Bu Atun masih tutup. Yang terdengar hanya suara azan yang mulai reda dan beberapa ekor burung gereja yang mulai ribut di atas kabel listrik.
Arka mulai berlari.
Langkah pertama terasa kaku. Tubuhnya belum terbiasa. Di kehidupan pertama, dia baru mulai latihan setelah es tiba, dan itu pun karena terpaksa. Sekarang dia punya waktu.
Dia berlari pelan di sepanjang gang, lalu belok ke jalan raya yang masih lengang. Beberapa ojol sudah mulai beroperasi, motor-motor mereka diparkir di pinggir jalan sambil menunggu order pertama. Seorang bapak-bapak dengan sarung sedang menyapu halaman rumah. Seorang ibu-ibu membuka warung nasi uduk, aroma bawang goreng mulai tercium.
Arka terus berlari. Dadanya mulai terasa terbakar. Kaki kanannya yang dulu patah di kehidupan pertama terasa baik-baik saja, tapi bayangan rasa sakit itu masih membekas di ingatannya.
Dia tidak memaksakan diri. Lima belas menit. Cukup untuk hari pertama.
Ketika dia kembali ke kos-kosan, langit mulai terang. Peluh membasahi kaosnya. Napasnya tersengal-sengal, tapi ada kepuasan aneh yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
Bu Sum sudah keluar, menyiram tanaman dengan selang plastik biru.
“Lho, Mas Arka? Baru lari?” Bu Sum menatapnya dengan mata membulat.
“Iya, Bu.”
“Wah, jarang. Biasanya jam segini masih tidur.”
Arka tersenyum. “Pengen hidup sehat, Bu.”
Bu Sum tertawa. “Bagus, Mas. Istri nanti senang kalau suaminya sehat.”
Arka tidak menjawab. Dia hanya tersenyum, lalu masuk ke kamarnya.
Di kamar, dia duduk di kursi plastik, membuka ponsel. Pesan dari Sari masuk tadi malam. Dia belum membalas.
“Ark, besok jangan lupa ya. Jam sepuluh.”
Arka mengetik balasan.
“Ok. Aku jemput.”
Dia meletakkan ponsel, lalu menatap map cokelat di atas meja. Besok dia akan menemani Sari ke mall. Lusa, dia akan mulai mengurus dokumen di notaris. Pekan depan, dia akan mulai main saham.
Satu per satu. Perlahan. Tidak terburu-buru.
Dia sudah punya waktu. Dan dia tidak akan menyia-nyiakannya.
Sudahlah... Siapa yang tau jalan pemikiran sang Author??? 😁