Gwen baru sadar bahwa menjadi dewasa itu tidak seasyik telenovela favoritnya. Tagihan menumpuk, kopi tidak pernah cukup, dan setiap pertemuan keluarga selalu berakhir dengan satu pertanyaan maut: “Kapan nikah?” Bisakah Gwen bertahan, menghindari pertanyaan itu, dan tetap mempertahankan kebebasannya—tanpa menyerah pada “dunia dewasa” yang penuh aturan absurd?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Honey Brezee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10 - Ruang Tanpa Ekspektasi
Gwen menghela napas panjang, tubuhnya lelah setelah membereskan seluruh kamar. Akhirnya selesai juga. Sebelum berangkat ke Bedugul, setidaknya ia ingin melihat kamarnya rapi—tanpa tumpukan buku, pakaian berserakan, atau sisa-sisa hari yang tertinggal di sudut. Kalau sudah rapi seperti ini, mungkin ia bisa melepas penat sebentar sebelum mandi.
Ia mengambil ponsel dari meja, lalu merebahkan tubuh di atas kasur. Layar menyala, menampilkan tulisan online yang ia unggah semalam. Beberapa komentar baru muncul. Senyum tipis muncul di bibirnya—hal kecil, tapi cukup membuatnya merasa hidup.
Tiba-tiba suara yang tajam menghentikan semua ketenangan.
“HP TERUS!”
Gwen tersentak. Ponselnya lepas dari genggaman, jatuh menimpa wajahnya. “Aduh!” ia meringis, menutup hidungnya sambil menatap ke arah pintu kamar. Ia melihat pintu kamarnya sudah terbuka dengan sang ibu yang berdiri di ambang pintu sambil bertolak pinggang.
“Ibu nih, bikin kaget aja deh,” protes Gwen sambil mengusap hidungnya yang jadi lahan pendaratan ponsel mendadak.
“Kirain lagi ngapain di kamar, gak keluar-keluar. Eh, ternyata lagi goleran di atas kasur,” omel Linda.
Gwen mengerjap, menatap sang ibu seolah mencari logika. Asli, ini tetap jadi misteri baginya. Kenapa, ya, setiap kali ia tidak sedang melakukan apa-apa, ibu tak pernah melihat. Tapi giliran ia santai main ponsel—pas banget! Selalu ketahuan. Aneh sekali semesta ini seolah - olah berkonspirasi untuk membuatnya mendapat ceramah harian dari sang ibu.
“Ayo, turun. Ada Aga nungguin di bawah,” ucap Linda dengan nada tegas.
“Aga?” Gwen menatap ibunya, masih setengah tak percaya.
“Pandji bilang kalian akan menginap di villa Aga di Bedugul,” Linda menambahkan, nadanya setengah memastikan, setengah menegur.
“Tapi…aku belum mandi, Bu,”
“Tuh kan, kalau main HP terus, jadinya lupa waktu,” hardik Linda, setegas biasanya, membuat Gwen mendesah pelan. Padahal kamarnya sudah rapi, jauh lebih tertata dari biasanya, tapi entah kenapa itu seolah luput dari pandangan ibunya.
“Sana mandi, kasian Aga sudah menunggu di bawah,” ucap Linda. “Ibu heran deh, kamu itu anak gadis, malesnya minta ampun. Kasian suami kamu nanti,” tambahnya sambil melangkah keluar kamar.
Gwen menghela napas pelan, lalu beranjak dari ranjang. Belum sempat kakinya menapak ke lantai, terdengar suara mengetuk pintu dari luar.
“Gwen, buruan! Jangan tidur-tiduran lagi!” seru Ibu dari balik pintu.
“Iya, Bu!” Gwen menjawab sambil meraih handuk, bersiap mandi. Selagi melangkah menuju kamar mandi, ketukan dari luar pintu kamar kembali terdengar. Ish, ibunya gak sabaran banget.
“Iya, Bu, iya, ini Gwen mau ma—”
Kalimatnya terhenti begitu matanya menangkap sosok di depan pintu. Bukan Ibu.
“Ayah?” serunya, suaranya penuh kaget sekaligus senang. Tanpa pikir panjang, ia langsung memeluknya.
“Ayah udah pulang? Dari kapan?”
"Dari semalam, tapi kamu sudah tidur. Ayah tungguin di bawah, tapi belum turun-turun juga. Jadi Ayah minta tolong Ibu panggilin kamu… eh, malah dua-duanya nggak turun-turun," ucap Cipto sambil mengelus rambut Gwen, senyum tipis menghiasi wajahnya.
Gwen tersenyum sambil mengurai pelukannya. “Abis beres-beres kamar, Yah,” jawabnya.
“Pandji bilang kalian mau menginap di villa Aga?” tanya Cipto, sedikit penasaran.
Gwen mengangguk pelan. “Iya, Yah. Aku dapat tantangan untuk membuat desain villa dari kantor tempat aku melamar kerja. Jadi, aku mau menginap di villa Aga selama tiga hari. Boleh, kan, Yah?”
Cipto menatap Gwen sebentar, lalu tersenyum tipis. “Boleh, Ayah izinkan. Tapi ada satu syarat.”
Gwen menatapnya penasaran. “Syarat apa, Yah?”
“Selama di sana, kamu harus bisa jaga diri,” ucap Cipto tegas. “Meskipun Pandji ikut, kamu tetap harus hati-hati, ya.”
Gwen mengangguk mantap. “Iya, Yah. Aku janji akan jaga diri.”
Cipto menghela napas lega. “Oke, kalau begitu, Ayah izinkan. Tapi ingat, kalau ada apa-apa, langsung hubungi Ayah atau Ibu. Jangan ragu-ragu.”
Gwen tersenyum, mengangkat tangan dan memberi hormat. “Siap, Yah.”
Cipto membelai rambut Gwen sebentar. “Baiklah… sekarang mandi dulu, kasian Aga udah nungguin dari tadi."
Gwen tersenyum kecil, menatap ayahnya. Izin sudah didapat, kepercayaan ayah memberinya keberanian untuk menghadapi tantangan baru dengan penuh semangat.
...___Kejar Tenggat___...
Gwen mandi dengan cepat, membiarkan air hangat menghilangkan sisa-sisa lelah dari beres-beres kamar. Setelah selesai, ia memilih pakaian sederhana: kaus lengan panjang berwarna krem dan celana jeans yang nyaman. Ia mengikat rambutnya menjadi kuncir kuda, lalu melirik cermin sekali lagi. Bukan karena ingin terlihat cantik—tapi karena ingin terlihat siap. Siap untuk bekerja. Siap untuk menghadapi tantangan.
Tas sudah ia siapkan sejak tadi malam: laptop, tablet gambar, beberapa buku referensi, dan pakaian ganti. Gwen menghela napas, mengambil tasnya, dan melangkah keluar kamar dengan langkah yang lebih ringan dari sebelumnya.
Di ruang tengah, Aga sedang duduk di sofa, menyesap kopi yang disajikan Ibu. Di sebelahnya, Pandji duduk dengan laptop terbuka, sesekali mengetik sambil mengunyah kue. Pria itu mengenakan kemeja flanel biru tua dan celana chinos, penampilan yang santai tapi rapi. Saat melihat Gwen turun, ia berdiri, meletakkan cangkir dengan senyum tipis.
"Sudah siap?" tanyanya, nada suaranya tenang.
Gwen mengangguk "Maaf membuatmu menunggu."
"Nggak apa-apa," Aga mengambil koper dan tas laptop Gwen, membawanya ke mobil yang sudah menunggu di depan. "Waktu adalah investasi. Aku hanya berinvestasi pada hal yang berharga."
Pandji menutup laptopnya, mengacak rambut dengan santai. "Aku juga siap, Mba. Bawa referensi banyak buat kamu."
Linda muncul dari dapur, membawa tiga kotak bekal. "Ini untuk di jalan. Jangan beli makanan sembarangan, nanti sakit perut."
Gwen menerima kotak itu, merasakan kehangatan yang menyelinap di balik sikap tegas ibunya. "Terima kasih, Bu."
Cipto berdiri di dekat pintu, tangan di saku celana. "Hati-hati, Nak. Ingat janji kamu."
"Iya, Yah." Gwen mendekat, mencium punggung tangan ayahnya. "Aku akan hubungi kalian kalau sudah sampai."
Mereka berangkat saat matahari mulai condong ke barat. Mobil Aga adalah Range Rover terbaru, model paling mewah, hitam mengkilap dengan interior kulit halus dan wangi. Gwen duduk di kursi penumpang, sementara Pandji duduk di belakang dengan laptop dan tumpukan buku di sampingnya
"Dek, kamu bawa apa aja?" tanya Gwen menoleh ke belakang.
"Referensi arsitektur vernakular Bali, jurnal tentang sustainable design, dan skripsi lama sahabatku tentang ruang meditatif," Pandji menghitung sambil tersenyum. "Siap membantu Mba menaklukkan ArtVia."
Gwen tersenyum, merasa lega punya adiknya di sana. "Terima kasih, Panji."
"Kamu tenang sekali," kata Aga, sesekali melirik ke arah Gwen.
"Karena di sini aku merasa... bebas," Gwen menjawab jujur. "Di rumah, ada terlalu banyak ekspektasi. Terlalu banyak yang ingin aku buktiin."
"Dan di villa?"
"Di villa, aku cuma harus membuktikan pada diriku sendiri."
Aga tidak menjawab, tapi senyumnya mengembang.
Di kursi belakang, Pandji sesekali mengeluh karena sinyal hilang. "Ga, di villa ada WiFi nya kan?" tanyanya pada Aga dengan wajah sedikit panik.
“Ada,” jawab Aga singkat, tapi senyum tipis tetap menghiasi sudut bibirnya. “Lo kayak baru pertama kali ke sana aja.”
“Gue kira udah diputus karena nggak ada yang nempatin,” kekeh Aga, lalu kembali fokus pada layarnya.
Mereka melewati jalan berliku yang menanjak, udara semakin sejuk saat ketinggian bertambah. Gwen menurunkan sedikit jendela, membiarkan angin pegunungan menerpa wajahnya. Bau tanah basah dan pinus memenuhi hidungnya, menciptakan sensasi yang menenangkan.
"Kamu pernah ke Bedugul sebelumnya?" tanya Aga.
"Waktu kecil. Tapi sudah lama sekali. Pandji sering kesana katanya?"
"Iya. Dia suka pinjam villa itu buat nulis skripsi. Bilangnya tempat itu membantu dia fokus."
Gwen terdiam sejenak. "Kalau kamu? Apa yang kamu lakukan di sana?"
Aga menatap jalan, jarinya menggenggam setir dengan santai. "Berpikir. Kadang baca. Kadang hanya duduk dan mendengarkan angin."
"Kedengarannya... sepi."
"Sepi itu bukan kekurangan, Gwen. Sepi itu ruang."
Gwen menatap pria itu, mencoba menangkap ekspresi yang tersembunyi di wajahnya. Ada sesuatu di matanya—sesuatu yang dalam, jarang terlihat oleh orang lain. Seperti lapisan demi lapisan yang perlahan terbuka.
Mereka tiba saat senja mulai menyelimuti. Villa itu berdiri megah di lereng bukit, dikelilingi pepohonan pinus yang menjulang. Bangunannya elegan dan mewah, dengan dinding batu halus berpadu dengan kayu berkualitas tinggi, jendela-jendela besar yang membiarkan cahaya masuk, dan teras luas yang menghadap lembah. Setiap detail—dari atap yang rapi hingga pencahayaan alami—dirancang untuk menyatu dengan alam, menghadirkan suasana tenang namun tetap mewah.
"Wow," bisik Gwen saat keluar dari mobil.
"Gokil," tambah Pandji, mengeluarkan ponselnya untuk mengambil foto. "Ga, sejak kapan villa nya di renov?"
"Satu tahun lalu," jawab Aga sambil membawa tas laptop dan koper Gwen.
Pandji mengikuti dari belakang dengan tas ransel besar yang penuh dengan buku dan laptopnya. "Aku ambil kamar yang paling dekat dengan router WiFi ya," ucapnya serius.
Aga menggeleng pelan. "Semua kamar ada koneksi yang sama, Panji. Tenang saja."
Mereka masuk ke dalam. Villa itu lebih hangat dari yang Gwen bayangkan. Ruang tengah dengan perapian batu yang elegan, sofa kulit yang empuk, dan jendela kaca dari lantai ke langit-langit yang menampilkan pemandangan matahari terbenam yang sedang berlangsung. Setiap sudut terasa rapi dan dirancang dengan presisi, memadukan kenyamanan dan kemewahan tanpa berlebihan.
"Kamar kamu di sebelah sana," Aga menunjuk ke koridor untuk Gwen. "Ada meja kerja menghadap jendela. View-nya ke taman belakang."
"Pandji di sebelah kiri koridor," tambahnya, menunjuk ke arah lain. "Dekat dengan dapur, kalau kamu lapar tengah malam."
"Pas banget," Pandji tertawa, sudah membuka laptopnya di meja ruang tengah. "Aku bawa kerjaan juga, jadi kita sama-sama fokus ya, Mba."
Gwen mengangguk dan berjalan ke kamar yang ditunjuk. Ruangan itu sederhana—tempat tidur kayu, lemari, dan memang, sebuah meja kerja besar di dekat jendela. Tapi yang membuatnya terpana adalah pemandangan di balik kaca: taman kecil dengan bunga-bunga liar, dan di kejauhan, danau yang memantulkan warna jingga dari langit senja.
"Ini sempurna," bisiknya.
Aga berdiri di ambang pintu, menatapnya. "Kamu mau istirahat dulu atau langsung kerja?"
Gwen meletakkan tasnya, merasakan energi baru mengalir di pembuluh darahnya. "Aku mau mulai sketsa. Sebentar saja. Baru istirahat."
"Jangan terlalu memaksa diri."
"Aku janji."
Aga mengangguk, berbalik untuk pergi, tapi berhenti sejenak. "Gwen."
"Iya?"
"Selamat datang. Dan... selamat berkarya."
Pintu tertutup pelan. Gwen berdiri sendiri di ruangan yang sunyi, menatap pemandangan luar yang semakin gelap. Ia membuka laptopnya, lalu tablet gambar. Tapi sebelum mulai menggambar, ia mengambil ponsel dan mengetik pesan.
Gwen : Sudah sampai, Yah. Tempatnya indah.
Ia menatap layar beberapa detik, lalu mengirimkan pada sang Ayah.
Gwen : Terima kasih untuk bekalnya, Bu. Aku akan buat Ibu bangga.
Gwen menahan napas sejenak, ragu, kemudian menekan kirim. Pesan pun terkirim.
Ia meletakkan ponselnya dengan lembut dan menatap kertas kosong di depannya. Tangan kanannya memegang stylus, melayang di atas layar tablet. Matanya fokus, pikirannya mulai merangkai garis dan bentuk, membiarkan ide-ide mengalir perlahan dari imajinasi ke layar. Ruangan sunyi—hanya terdengar detak jarum jam dan bisikan angin yang menembus jendela kaca.
Gwen menarik napas panjang, lalu menekan stylusnya ke layar. Garis pertama terbentuk. Dari garis itu, perlahan sebuah ruang baru mulai hidup: sebuah villa yang bukan sekadar proyek, tapi simbol harapan baru dan keberanian. Sebuah kesempatan untuk menunjukkan—pada dirinya sendiri, dan pada orang tuanya—bahwa ia masih bisa bersinar.
inilah inti perjalanan ke depan
good job thor
lanjuttt
ga berasa baca marathon dari bab 1 - 15 tiba2 habis... 👍