NovelToon NovelToon
Tiba-tiba Jadi Ibu!

Tiba-tiba Jadi Ibu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Single Mom / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:75.2k
Nilai: 5
Nama Author: Susiajaaa

"Aku Jadi Ibu?" Melisa Wulandari, seorang gadis desa yang bercita-cita menjadi pengacara, berjuang menempuh pendidikan hukum di kota demi melindungi tanah kelahirannya dari mafia tanah. Hidupnya sederhana, hanya ditemani dua sahabat setianya, Diana dan Riki. Namun, suatu malam yang seharusnya biasa berubah menjadi titik balik hidupnya. Di sebuah gang sepi, tangisan bayi menggema, menggiring Melisa pada pemandangan mengejutkan—dua bayi mungil tergeletak dalam sebuah kotak. Nalurinya mengatakan untuk menyerahkan mereka kepada pihak berwajib, tetapi dunia tidak seadil yang ia kira. Alih-alih mendapatkan keadilan, Melisa justru dituduh sebagai ibu bayi-bayi itu dan dianggap berniat membuang mereka. Tak ada jalan keluar. Nama baiknya tercoreng, keluarganya di desa tak boleh tahu, dan tak ada yang percaya bahwa dia hanyalah seorang mahasiswa yang kebetulan menemukan bayi-bayi malang itu. Dengan segala keterbatasan, Melisa mengambil keputusan gila—merawat bayi-bayi itu diam-diam bersama Diana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susiajaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab17

Keheningan kembali menyelimuti kamar kos kecil itu. Setelah lama terdiam, masing-masing tenggelam dalam pikiran tentang masa depan dua bayi mungil yang belum diketahui asal-usulnya, Diana kembali memecah sunyi dengan tatapan yang tertuju pada kedua bayi yang masih tertidur pulas.

“Namanya siapa, Mel? Lo udah ngasih nama? Atau udah ada namanya pas lo temuin?” tanya Diana pelan namun penasaran.

Melisa menggeleng pelan, wajahnya tampak kosong sejenak seolah baru tersadar kalau bayi-bayi itu bahkan belum punya identitas sekecil apa pun.

“Belum… Aku belum kepikiran sama sekali. Di dalam kotak juga nggak ada apa-apa, nggak ada tulisan nama, nggak ada secarik kertas pun,” ucapnya pelan. Ada nada bersalah di suaranya—bukan karena lalai, tapi karena ia menyadari betapa kosongnya awal hidup bayi-bayi itu.

“Ya udah, kita kasih nama sekarang aja, yuk!” Diana langsung duduk lebih dekat ke arah dua bayi itu, matanya berbinar penuh semangat. “Sayang banget kalau mereka nggak punya nama. Masa iya bayi lucu begini dibiarkan nggak punya identitas?”

Riki yang sejak tadi duduk menyandar santai, ikut mendekat, ikut-ikutan menatap penasaran.

“Nih ya,” katanya sambil memperhatikan salah satu bayi, “ini beneran bayi, kan? Bukan... jadi-jadian?”

Diana langsung menoleh tajam. “Lo ngaco banget sih, Ki. Jelas-jelas bentuknya manusia. Ada-ada aja!”

“Ya siapa tau kan,” ujar Riki, separuh bercanda. “Anak siluman gitu, muncul di gang tengah malam.”

“Siluman tuh lo!” jawab Diana cepat, malas menanggapi kekonyolan sahabatnya.

“Udah, udah…” Melisa langsung menengahi. “Jangan ribut di sini, nanti mereka kebangun. Lagian ini kosan aku sempit, jangan bikin suasana makin panas.”

Setelah suasana sedikit mereda, Melisa mengalihkan pandangan ke dua sahabatnya.

“Kalau gitu… kalian ada saran nama buat mereka?”

Riki langsung angkat tangan seperti anak sekolah. “Gue punya! Alexander. Biar kebule-bulean, gitu. Keren, kan?”

Diana melirik tajam, lalu mencibir. “Pasaran banget, Ki. Di IG isinya anak bayi namanya Alexander semua.”

Melisa menarik napas dalam-dalam. “Kalau kalian mau ribut lagi, keluar aja deh. Sumpah, aku udah capek banget hari ini.”

Ancaman halus dari tuan rumah itu cukup ampuh untuk membuat keduanya diam sejenak dan mulai berpikir serius. Diana menatap salah satu bayi lalu berkata, “Kalau menurut gue… Aditya bagus. Klasik, tapi tetap bermakna.”

“Terus, yang satunya siapa? Udintya?” timpal Riki, masih setengah-serius.

Melisa menahan tawa kecil, sementara Diana memukul lengan Riki pelan. “Jangan ganggu, napa sih!”

“Kaiden!” kata Riki tiba-tiba, kali ini nada suaranya cukup meyakinkan. “Nama anak zaman sekarang. Keren, modern, dan bisa dipanggil Kai.”

Melisa mengangguk-angguk kecil, mulai mempertimbangkan.

“Aditya itu nama sejuta umat, Mel. Percaya sama gue, Kaiden itu lebih cocok,” bujuk Riki lagi. “Biar nanti pas udah gede mereka sekeren gue.”

“Ya ampun…” Diana memutar bola mata dan langsung pura-pura muntah. “Pede-nya nyampe langit ketujuh.”

“Udah deh,” kata Melisa akhirnya, mencoba menengahi lagi. “Kita gabungin aja dua-duanya. Biar adil dan nggak ada yang berantem. Pake nama Kaiden dan Aditya, dua-duanya.”

Riki dan Diana akhirnya setuju dalam diam, menunggu apa keputusan akhir Melisa.

Setelah terdiam beberapa detik, Melisa menatap kedua bayi itu dengan sorot mata yang lembut. Ada kehangatan, ada keterikatan yang mulai tumbuh—meski ia belum tahu apa arti semua ini, namun memberi nama seperti sebuah pernyataan diam: aku peduli.

“Yang ini…” ujarnya sambil menunjuk bayi yang berada di sebelah kiri, “namanya Ethanio Kaiden Aditya.”

Ia lalu menoleh ke bayi satunya. “Dan yang ini… Evandra Kaiden Aditya.”

Diana tersenyum tipis, lalu mengangguk pelan.

“Ethanio dan Evandra. Keren. Kedengeran kayak nama anak penting.”

“Yoi, kayak anak sultan,” timpal Riki setengah bercanda, tapi kali ini tanpa nada mengejek.

Melisa menatap mereka berdua. Dalam hati ia bersyukur—karena di tengah kebingungan dan ketakutan, ia tak benar-benar sendiri.

“Eh iya, Mel…” suara Riki tiba-tiba memecah keheningan. Ia memandang Melisa dengan serius, sesuatu yang cukup langka darinya. “Kalau lo beneran niat ngurusin mereka… terus kuliah lo gimana? Lo nggak mungkin berhenti, kan?”

Melisa terdiam. Pertanyaan itu menghantam tepat di bagian yang sedang ia pikirkan juga. Ia menunduk, menatap dua bayi yang kini mulai mengeluarkan suara pelan dalam tidurnya. Wajahnya diliputi kebingungan dan kecemasan.

“Aku juga bingung, Ki. Nggak mungkin aku tinggalin mereka di kosan sendirian pas aku kuliah,” ujarnya lirih. “Tapi kalau aku ajak, aku pasti nggak bisa fokus. Aku juga nggak mau kuliahku berantakan…”

Kamar kembali hening. Kali ini hening yang lebih berat—penuh pikiran, penuh beban yang tiba-tiba terasa nyata bagi mereka bertiga.

Diana menatap langit-langit sebentar, lalu menoleh ke arah Melisa. “Gimana kalau dititipin ke tempat penitipan anak aja? Nanti pas lo pulang kuliah, lo jemput. Setidaknya mereka aman, nggak sendiri, dan ada yang ngawasin.”

Usulan itu masuk akal. Tapi Melisa tetap tak langsung menanggapi. Wajahnya masih terlihat ragu. Ia tahu, penitipan anak berarti biaya tambahan—dan untuk bertahan hidup saja, ia sudah harus menghitung uang receh.

Melisa menggigit bibir bawahnya pelan.

Riki, yang memperhatikan ekspresinya, langsung menepuk ringan bahunya. “Tenang aja, Mel. Kalau soal biaya, gue bantu. Serius.”

“Iya, Mel. Lo nggak usah mikir sendirian. Kita bantu bareng-bareng,” tambah Diana dengan nada tegas namun hangat.

Melisa menatap mereka berdua, ada air yang mulai menggenang di sudut matanya. Ia menggeleng pelan.

“Tapi aku… aku nggak enak. Rasanya nyusahin kalian terus. Aku cuma pengen jaga mereka, tapi aku juga nggak mau ganggu hidup kalian…”

Diana langsung bangkit dari duduknya dan berdiri di depan Melisa, menatapnya dalam-dalam. “Melisa Wulandari, denger ya. Kita temen. Dan temen itu udah semestinya saling bantu. Apalagi lo udah ngelakuin hal besar dengan nyelametin dua bayi. Itu bukan hal kecil, Mel. Itu luar biasa.”

“Iya,” Riki mengangguk. “Dan lo harus ingat, lo nggak sendirian. Kita di sini bukan cuma buat ketawa bareng, tapi juga buat jalanin hal berat bareng. Jadi, jangan pernah mikir lo ganggu kita.”

Melisa tertunduk. Air matanya menetes perlahan, namun bibirnya mengulas senyum kecil.

“Terima kasih… Aku beneran nggak tahu harus gimana kalau nggak ada kalian. Kalian… lebih dari sekadar sahabat,” ucapnya dengan suara parau.

Diana mendekat dan memeluknya erat. “Kita ini keluarga, Mel. Keluarga yang dipilih, bukan ditentukan dari darah.”

Riki yang tak mau kalah, ikut melingkarkan lengannya di punggung keduanya. “Udah, yuk pelukan bertiga. Tapi jangan lama-lama, nanti gue baper.”

Melisa tertawa di sela tangisnya. Tangis yang tak lagi penuh cemas, tapi hangat—karena ia tahu, ia tak harus menghadapi semuanya sendirian.

1
kiu kiu
terlalu singkat thor...banyakin updatenya dong thor...
kiu kiu
wahh..semangat betul adriàn mengejar wanitanya.😍😍
kiu kiu
update yg banyak thor..biar yg nunggu nggk galau...🤭🤭sebenernya kpn sih..ingatan melisa kembali.gimna reaksinya jika mengingat kejahatan adrian padanya.
kiu kiu
semangat adrian..turunkan gengsimu demi melisa.semoga berhasil...💪💪💪🤭🤭
kiu kiu
jgn jgn melisa langsung jatuh hati sama adrian. kan harus proses dulu thor...si adrian juga harus terima saat ingatan melisa kembali.apa melisa masih mau bersamanya.
Nunung Elasari
ahhh melisa jadi mau 😍🤭
kiu kiu
thor klu sampai ingatan meli kembali...apakah meli bisa menerima adrian thor.padahal adrian dulu pernah menyuruhnya menjauh dari keluarganya.dan melisa di paksa utk menandatangani surat perjanjian dg adrian.
Nunung Elasari
luaaaaarrr byiasaaaaahhh....
Nunung Elasari
Dan bagi aku ini cerita yg ditunggu 🤭
kiu kiu
lanjut thor
Nunung Elasari
jadi pengen jadi melisa, diapit 2 cowok ganteng 🤭🤭🤭🤭
Evi Lusiana
akhirny mnsia es mulai cair,tar lg auto bucin
kiu kiu
behhh..si adrian tukang maksa...emang dunia ini bisa kamu beli.maksa ank org segitunya.hmmm... jgn sampai kau menyakitinya ya...ada evan dan ethan yg akan memarahimu.tp klupun mereka menikah.apa dong panggilan ethan pada melisa.kan udah terbiasa thor...jgn sampai merubah panggilan kesayangan mereka thor ...ank ank kesayangan melisa.
Nunung Elasari
wahhh adrian ini memang sesuatu 🤣🤣🤣🤣🤣
Evi Lusiana
dr awal aku udh gk suka dgn sikap adrian,melisa udh bertahun2 merawat adikny mlh srh pergi dr kehidupan ethan dn evan
kiu kiu
mommy ethan tidak pernah menjenguk melisa.tidak pernah mengjhawatirkan melisa.yg di kawatirkan anaknya sendiri thor.ak pengen marah dg keluarga mereka.hmmm...yg bikin cerita juga udah maksimal mikirnya ya...🤭🤭🤭
wasiah miska nartim
adrian ternyata ada udang di balik adonan🤭🤭🤭
kiu kiu
updatenya jgn terlalu lama thor... kita lagi kangen kebersamaan melisa dan anak anaknya thor.pertemuan yg mengharukan...kerinduan anak yg begitu dalam seolah tk mampu terlepas dari ibu yg telah merawatnya hingga 13 thn lamanya. ethan pasti menyimpan amarah yg besar pada kakaknya.leonard dn rangga tk bertanggung jawab.
Criminal007
lagi thor😭😭😭
Evi Lusiana
kapok lo adrian,d skak mati sm adekmu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!